BOS Sombong Suamiku

BOS Sombong Suamiku
BAB 12. Menemukan Bunga.


__ADS_3

Rosi melajukan mobilnya dengan lambat, menyusuri jalanan, dengan harapan bisa segera menemukan Bunga, dengan sesekali melirik arlojinya, waktu terus berputar, malam semakin naik, tapi mobil sudah berjalan selama tiga puluh menit, juga belum menemukan Bunga.


Kakak ipar kamu dimana? gumam Rosi yang terus melajukan mobilnya mencari Bunga. Sampai mobilnya kini tiba di tempat keramaian di sebuah taman, Rosi mengurangi lagi lajunya yang semakin lambat.


Melihat sekeliling jalan seraya menyetir mobil, menajamkan mata setiap melihat orang yang berlalu-lalang, sampai tiba pandangannya menangkap sosok yang sangat Rosi kenal.


Seperti kakak ipar, gumam Rosi seraya menghentikan mobilnya.


Rosi berjalan mendekati seseorang yang lagi duduk di bangku dengan memunggunginya. Semakin langkahnya mendekat, Rosi mendengar orang tersebut menangis.


Merinding juga Rosi rasanya, apa lagi ini di bawah pohon besar, sampai berpikir ini beneran orang atau setan, takut saat dilihat wajahnya malah menjadi menakutkan.


"Aku rindu sama ayah dan ibu."


Deg!


Suara itu suara kakak ipar, batin Rosi yakin, kini makin percaya diri untuk mendekat melihat dan memastikan kakak iparnya atau bukan.


"Kakak ipar."


Bunga yang sedang menangis seketika menghapus air matanya, saat mendengar suara Rosi.


"Ro-Rosi kamu ada di sini?" tanya Bunga dengan senyum yang dipaksakan, berusaha memposisikan duduknya supaya terlihat baik-baik saja.


Rosi mengangguk, kemudian duduk di samping Bunga. "Kakak ipar sedang apa di sini?"


"Em-em aku-."


"Jangan suka menyendiri nanti ada yang ganggu Kakak Ipar lho," terang Rosi seraya terkekeh.


Rosi tahu bila saat ini Bunga sedang bersedih, tadi sengaja bertanya namun saat mendengar suara Bunga gugup, Rosi lebih mengajaknya becanda.


Bunga tersenyum kecil mendengar ucapan Rosi, cuaca malam ini memang sangat terang, banyak bintang di langit yang bertaburan, yang biasanya setiap malam turun hujan, tapi beda untuk malam ini tidak turun hujan.


Angin yang terhembus sejuk begitu segar rasanya saat menerpa kulit.


"Kakak Ipar tidak merinding duduk di sini sejak tadi?" tanya Rosi seraya mengusap tengkuknya.


"Tidak, kan di sini banyak orang, lihatlah."


Rosi manggut-manggut. "Ya wajar sih bila Kakak tidak takut karena-."

__ADS_1


"Karena apa?" sambung Bunga.


"Kakak Ipar setannya."


Hahaha!


Plak!


"Tidak lucu," sahut Bunga dengan bibir mengerucut tajam, setelah memukul lengan Rosi.


"Ayo lah Kak tersenyum lah, supaya malam ini semakin cerah." Rosi meringis sampai memperlihatkan gigi putihnya yang rapi, namun karena suasana malam tetap tidak begitu jelas, apa lagi di tempat mereka duduk jauh dari lampu.


Bunga bibirnya tersenyum dan mengangguk kecil melihat ke arah Rosi, pria itu juga tersenyum ke arah Bunga yang kemudian beralih menatap ke pasar malam, yang saat ini begitu terlihat banyak orang di sana.


Rosi memberikan telapak tangannya, Bunga bingung belum tahu maksudnya.


"Pegang tanganku."


Kini Bunga baru paham apa maksud Rosi, namun Bunga tidak punya keberanian untuk memegang tangan Rosi, Bunga menggelengkan kepala.


Tapi Rosi tidak menerima penolakan, karena niat hatinya ingin menghibur Bunga. Tidak tega melihat seorang wanita bersedih.


"Rosi," ucap Bunga saat tiba-tiba tangannya di genggam Rosi membawanya menuju keramaian pasar malam.


Tanpa mereka sadari sejak tadi terus diperhatikan oleh seseorang.


Dan orang tersebut adalah Rex, pria itu ahirnya memutuskan untuk mencari Bunga, ternyata masih miliki sisi baik, namun saat mencari tiba-tiba melihat mobil Rosi yang berhenti di pinggiran taman.


Rex berusaha mencari keberadaan Rosi, sampai matanya menangkap sosok yang Rex kenal, sedang duduk berdua disertai canda tawa, memukul lengan, saling berpegangan tangan yang ahirnya berjalan menuju keramaian.


Semuanya Rex melihat, pria itu marah, terbakar api cemburu, tapi tidak mau mengakuinya, dan belum menyadari.


Hanya bisa menatap tidak suka ke arah mereka berdua yang saat ini berada di tengah-tengah banyaknya orang.


Rex mengepalkan tangan, dengan terus mengumpat kesal nama Bunga.


Sementara yang lagi di rumah utama, Ibu Erasa saat ini masih saja gelisah, belum bisa tidur, padahal suaminya yang tidur di sebelahnya kini sudah ngorok.


"Hah! laki-laki memang tidak miliki rasa khawatir," ucap Ibu Erasa seraya duduk di atas ranjang.


Mencoba menghubungi nomor Rosi, tapi tidak aktif, Ibu Erasa kembali kesal, hanya ingin tahu kabar Bunga saja susah batinnya.

__ADS_1


Ibu Erasa berbaring lagi, tidak nyaman lagi, memiringkan tubuhnya lagi, telapak tangannya digunakan untuk bantal.


Tuhan semoga cucu dan menantuku baik-baik saja di luar sana, doa Ibu Erasa dalam hati.


Bila Ibu Erasa hatinya terus cemas, hal yang sama juga dirasakan Rex saat ini.


Pria itu tidak cemas, tapi hatinya tidak rela melihat Bunga sekarang itu dengan Rosi, mau gimana pun Rosi adalah pria, dan Bunga sudah berdekatan dengan pria yang bukan suaminya.


Rex salah paham mengartikan kebaikan yang Rosi berikan untuk Bunga, yang sebenarnya hanya sebatas saudara yang peduli dengan kakak ipar nya yang lagi sedih, tapi Rex menganggap seolah Rosi akan mengambil Bunga dari tangannya.


Padahal yang salah jelas-jelas Rex, karena dari awal pria itu menolak kehadiran Bunga, dan juga menolak mencari Bunga, tapi saat melihat Bunga tertawa bersama pria lain, hatinya juga tidak rela.


Argh!


Argh!


Teriak Rex seraya memukul setir mobil, pikirannya mendadak terus memikirkan Bunga, mulai tidak waras memikirkan yang tidak-tidak, bila Rosi akan bertindak jauh pada Bunga.


"Aku lebih baik menyusul mereka," ucap Rex yang kemudian keluar mobil, namun baru beberapa langkah Rex berhenti.


Yakin mau menemui mereka apa kamu tidak malu sama Bunga, bisikan jahat hati Rex.


Sudah temui saja mereka lalu diajak pulang bersama, bisikan baik hati Rex.


Rex kembali melangkah mengikuti bisikan hati baiknya, namun saat sudah mau sampai Rex kembali berhenti.


Huh tidak tahu malu, bisikan jahat hati Rex mengejek.


Jangan dengarkan dia, teruskan langkahmu, bisikan baik hati Rex mensupport.


Arghhhh!


Rex mendadak frustasi, bingung harus mengikuti kata hati yang mana, ahirnya Rex memilih untuk pulang kembali ke mobilnya.


Hu menyerah, gitu aja marah, goda hati jahatnya.


Rex tidak peduli langsung tancap gas melajukan mobilnya dengan cepat.


Sementara Bunga dan Rosi saat ini sedang menikmati permainan, sedari tadi mereka berdua mencoba semua permainan, Rosi bahagia melihat Bunga tertawa terus sedari tadi, sekarang wajah sedihnya sudah tidak nampak.


Sangking serunya bermain mereka berdua sampai lupa, bahwa saat ini sudah ada yang menunggunya di rumah.

__ADS_1


Astaghfirullah, gumam Rosi setelah teringat ibunya pasti cemas memikirkan Bunga, tapi dirinya lupa tidak memberi kabar sejak tadi.


__ADS_2