
Sampai di dalam kamar, Ayu langsung terkejut setelah tahu bahwa kamarnya sangat sempit.
"Ibu! ini kamar atau gudang sih!" ucap Ayu yang begitu terkejut melihat kamarnya.
"Sudah tidak usah banyak bicara! sekarang letakkan tas kamu di sana," ucap Bibi Eka yang juga kesal mendengar Ayu yang malah mengomel.
Ayu menghentakkan kakinya. "Ibu, Ayu tidak bisa tidur di tempat sempit seperti ini!"
"Ayu, apa kamu pikir Ibu juga bisa tidur di tempat sempit ini! tapi Ibu terpaksa karena kita sudah tidak punya tempat tinggal lagi," sarkas cepat Bibi Eka untuk menyadarkan Ayu supaya mau menerima.
Ayu langsung menghela nafas kasar, apa yang dikatakan ibunya itu benar, karena memang sudah tidak miliki tempat tinggal lagi, bila tidak menerima tempat ini maka akan jadi gelandangan, Ayu bergidik ngeri membayangkan, Ayu tidak mau semakin lebih susah dari pada ini.
"Ini semua salah Ibu dan ayah yang tidak menjadi orang kaya jadi Ayu kena imbasnya juga!"
"Ayu! jaga bicara kamu!" bentak Bibi Eka, karena Ayu sudah berani kurang ajar padanya.
"Bibi Eka tolong bantuin masak," ucap Sri yang tiba-tiba berdiri di ambang pintu.
Bibi Eka ahirnya meninggalkan Ayu di kamar sendirian, Ayu langsung melempar tasnya sungguh kesal perasaannya.
"Punya saudara sepupu satu saja menyiksa sepupunya dengan memberikan kamar sempit seperti ini!" teriak Ayu sembari melempar bantal ke lantai.
Saat sore hari tiba, Ayu mendapat perintah Bibi Eka untuk mengelap meja di ruang tengah, dengan sangat terpaksa Ayu melakukannya.
Ayu yang saat ini sedang mengelap meja, hatinya merasa kesal saat melihat Bunga yang duduk di sofa sembari makan cemilan dan nonton televisi, sementara dirinya harus mengelap meja sudah seperti pembantu gerutunya dalam hati.
Bunga asyik saja nonton televisi, tidak menghiraukan Ayu yang sedang mengelap meja.
Ayu menggosokkan lap tersebut ke meja dengan kuat sampai kotornya membandel, kemudian melemparkan lap kotor tersebut ke wajah Bunga.
Bunga mengambil lap yang mendarat sempurna di wajahnya, Ayu tersenyum sinis ke arah Bunga.
"Apa yang kamu lakukan ayu!" suara Bunga terdengar marah.
Ayu berkacak pinggang. "Yang aku lakukan sudah benar, wajah kamu itu pantas mendapat lemparan lap kotor!"
Bunga melempar balik lap kotor itu ke Ayu.
__ADS_1
Sial! umpat Ayu saat lap itu mengenai bajunya.
Bunga berdiri dari duduknya berjalan mendekati Ayu. "Lalu siapa yang miliki rumah ini, jika dahulu aku diam dengan perbuatan jahat kamu! tidak dengan sekarang."
"Dan aku tidak peduli mau ini rumah kamu atau bukan, aku tetap menganggap kamu wanita rendahan!" sarkas cepat Ayu yang tidak kalah tinggi suaranya.
Bunga tersenyum sinis. "Baiklah jika begitu, aku cukup bilang kak Rex, minta kamu dan ibu kamu untuk diusir dari rumah ini."
"Kamu!" bentak Ayu sembari mengangkat tangannya siap mau menampar pipi Bunga, namun siapa sangka tangan Ayu hanya berhenti di udara karena Rex yang baru pulang kerja langsung menhan tangan Ayu.
Ayu terkejut saat melihat pria tampan yang tiba-tiba menahan tangannya yang mau menampar Bunga lalu menghempaskan tangannya.
"Jaga tangan kamu, jangan coba sekali-kali mau menampar istri saya."
Apa!
Ayu makin terkejut mendengar ucapan Rex barusan.
Ini benar-benar tidak adil, bunga mendapat suami tampan dan juga tajir, batin Ayu sembari gelengkan kepala.
Rex kemudian mengajak Bunga pergi dari tempat tersebut.
Ayu langsung duduk di sofa dengan lesu, sangat syok melihat kenyataan bahwa suami Bunga sangat tampan.
Ini pasti mimpi kan, gumam Ayu yang kemudian menampar pipinya sendiri, saat merasakan sakit, Ayu baru sadar bahwa semua ini nyata.
"Ayu!" teriak Bibi Eka yang tiba-tiba datang kemudian langsung marah-marah sama Ayu.
Bagaimana tidak marah, karena barusan ia di telpon Rex untuk mengajari Ayu supaya tahu diri, bila tidak akan di usir dari apartemen.
Seketika Bibi Eka langsung marah mendengar semua itu, ulah Ayu bisa membahayakan dirinya dan Ayu juga.
"Ibu, kenapa sih datang-datang langsung berteriak!" keluh Ayu dengan sengit.
Bibi Eka tidak menjawab pertanyaan Ayu dan langsung menarik tangan Ayu untuk dibawanya ke kamar.
Sampai di dalam kamar, Bibi Eka kembali memarahi Ayu, karena ketidak pekaan Ayu yang menjahili Bunga di saat keluarganya butuh bantuan Bunga.
__ADS_1
"Ingat Ayu, Ibu tidak mau sampai kamu mengulangi kejadian ini lagi! apa kamu mau kita sampai diusir, hah!" bentak Bibi Eka sangat marah.
Namun Ayu malah tertawa, merasa ibunya sedang membuat lelucon, Ayu mengibaskan tangannya. "Ibu sudahlah tidak mungkin kita akan di usir," ucap santai Ayu yang langsung mendapat pukulan Bibi Eka di lengannya.
"Ayu! sadar Yu! kita hanya numpang disini, kalo kita sampai di usir memang kamu tahu kita akan tinggal dimana!"
Ayu langsung terdiam, tampak sedang berpikir, mulai sedikit sadar bahwa perbuatannya tadi dapat merugikan dirinya sendiri.
"Jika kamu bikin ulah lagi, biar kamu saja yang di usir, Ibu tidak peduli!" ancam Bibi Eka dengan marah sebelum ahirnya pergi meninggalkan Ayu sendiri di dalam kamar.
Ayu masih oleng, ucapan ibunya benar-benar menampar Ayu, Ayu menggelengkan kepalanya tidak mau sampai diusir dan akan hidup susah di luaran sana.
Aaaa! Teriak Ayu dengan begitu kesal, kehidupannya sekarang terbalik, jika dahulu Ayu lah yang menjadi majikan dan Bunga yang suka Ayu jadikan pesuruh, namun kali ini Ayu lah yang harus melayani Bunga.
Jika melayani suaminya yang tampan itu, Ayu tidak keberatan, namun jika harus melayani Bunga, sungguh Ayu tidak mau.
"Hidup Bunga sekarang makmur, sementara aku," Ayu tidak melanjutkan ucapannya, Ayu tersenyum getir.
Sementara itu Bunga dan Rex yang berada di dalam kamar, mereka berdua baru saja habis selesai mandi plus-plus.
Rex saat ini sedang mengeringkan rambut Bunga. "Kamu harus selalu bicara sama aku jika mereka jahatin kamu."
"Seperti anak kecil dong suka ngadu," jawab Bunga sembari tertawa cekikikan.
"Tidak masalah karena aku tidak mau ada yang menyakiti istriku," ucap Rex jujur.
Meski dulu aku pernah menyakitimu, sungguh aku menyesal sekarang, batin Rex.
Bunga hatinya langsung berbunga-bunga mendengar ucapan Rex barusan, merasa benar-benar dijaga sama Rex.
"Terimakasih, Kak."
"Untuk?" Rex menghentikan sejenak kegiatannya.
"Terimakasih untuk semuanya, yang pasti terimakasih banyak sudah mau menerima aku." Selesai bicara Bunga menitikan air mata namun segera dihapusnya tidak mau sampai Rex melihatnya.
Rex memutar tubuh Bunga, kini mereka saling berhadapan. "Jangan ucapkan terimakasih padaku, justru aku yang harus katakan terimakasih padamu karena sudah mau bertahan sama aku selama ini."
__ADS_1
Rex mencium punggung tangan Bunga.