BOS Sombong Suamiku

BOS Sombong Suamiku
BAB 63. Mengetahui pelaku.


__ADS_3

Setelah mendengar penjelasan dokter, di sinilah mereka berada sekarang, di depan ruang rawat setelah Rex di pindahkan ke sana.


Di dalam ruang tersebut ada Ibu Erasa juga Ayah Ciko, yang saat ini melihat keadaan Rex lebih dulu.


Mereka berdua menangis melihat keadaan putra pertamanya, banyak luka di wajah juga tubuhnya, meski dokter mengatakan keadaan Rex baik-baik saja meski sempat harus melewati masa kritis.


Ibu Erasa mengusap rambut Rex ke belakang. "Nak, cepat siuman. Ibu ingin melihat senyummu. Kamu tahu? Saat ini istrimu sedang berjuang untuk melahirkan bayi kalian, ayo bangunlah sambut mereka. sayang?"


Setelah bicara, tangis Ibu Erasa tumpah, wajahnya menunduk tepat di atas dada Rex, sesak sekali melihat keadaan anaknya seperti ini, belum lagi keadaan menantunya, makin membuat Ibu Erasa menangis pilu.


Ayah Ciko mengusap punggung Ibu Erasa. "Tenang, Bu. Mereka pasti akan selamat, dokter sedang berusaha." Ayah Ciko berusaha menenangkan istrinya.


Ibu Erasa berganti memeluk suaminya, menangis pilu di pelukan suaminya. "Ibu takut Ayah, sangat takut," ucapnya lirih tercekat di tenggorokan.


Ayah Ciko juga tidak kalah sedih, karena mereka berdua sangat disayangi, dan kabar bahagia saat mendengar mereka mau baby moon tapi malah berubah kabar duka mereka yang kecelakaan.


Tapi Ayah Ciko sudah menyelidiki kasus ini, sebuah kecelakaan sengaja atau tidak disengaja, dan sedang menunggu hasilnya.


Tiba-tiba Ayah Ciko melihat jari telunjuk Rex bergerak, mata Ayah Ciko terbelalak haru melihat hal itu.


"Bu, Ibu? Lihat itu." Ayah Ciko menepuk punggung Ibu Erasa supaya segera melihat ke arah Rex.


Ibu Erasa langsung melerai pelukannya dan segera berbalik untuk melihat apa yang sedang suaminya lihat itu.


Ibu Erasa juga tidak kalah terkejut, bahkan sampai tidak percayanya karena terharu malah semakin menangis.


"Putraku Rex kau sudah sadar Nak." Bertepatan Ibu Erasa bicara seperti itu Rex perlahan membuka matanya dan menoleh ke arah Ayah dan Ibunya.


"Anakku Rex." Sangking bahagianya Ibu Erasa langsung memeluk Rex, menangis haru di sana.


Beberapa saat Rex diam belum memberi respon, potongan-potongan kecil kejadian kemarin Rex ingat kembali, sampai ahirnya ingatkan terakhirnya saat mobilnya di tabrak mobil lain sampai jatuh ke jurang.


Deg.

__ADS_1


Bunga, batinnya.


Ibu Erasa mengusap wajah Rex, melihatnya lekat-lekat. "Sayang, Ibu bahagia kamu telah sadar, Nak." Ibu Erasa mencium kening Rex, air matanya yang masih mengalir deras sampai menetesi kening Rex.


"Bu, aku mau bertemu dengan, Bunga. Antarkan aku bertemu dengan dia Bu?" mohon Rex saat ini sudah menangis seperti ibunya.


Ibu Erasa menghapus air mata Rex. "Bunga saat ini sedang di ruang operasi, Nak. Bunga sedang berjuang untuk melahirkan bayi kalian. Berdoa saja semoga mereka selamat."


Mendengar ucapan ibunya Rex semakin menangis, merasa tidak berguna menjadi suami karena tidak bisa melindungi Bunga dari bahaya maut itu.


Ibu Erasa kembali menghapus air mata Rex, Ibu Erasa tidak mau melihat putranya bersedih, Ibu Erasa menghujani ciuman di wajah Rex, sangat sayang, dan sangat bersyukur putranya masih selamat.


Tiba-tiba, mendengar suara pintu ruangan tersebut di ketuk, Ayah Ciko mempersilahkan masuk, ternyata orang suruhannya yang diperintahkan untuk menyelidiki kasus ini.


"Tuan?" sapa pria itu sembari menunduk hormat setelah berada di hadapan Ayah Ciko.


Ayah Ciko melihat ke arah Rex, anaknya itu memberi tatapan tanda tanya tentang siapa pria yang baru datang itu.


"Rex, dia orang suruhan Ayah untuk menyelidiki penyebab kamu kecelakaan."


Ayah Ciko menganggukkan kepala seraya menatap pria itu, bertanda pria itu harus bicara sekarang, menyampaikan hasil penyelidikannya.


Pria tersebut juga membalas anggukan kepala. "Dari hasil penyelidikan yang saya dapat Tuan, identitas dari pengemudi yang dinyatakan menabrak mobil taksi adalah saudari bernama Noumi."


Deg. Deg.


Jantung Rex seketika berdetak cepat pikirannya langsung tertuju dengan satu nama yaitu Noumi sampai tidak mendengar lagi apa ucapan pria itu selanjutnya, dan mampu mendengar lagi saat pria itu kembali bicara bahwa kecelakaan ini disengaja.


"Disengaja," ulang Rex dalam keterkejutannya.


"Benar Tuan, dan pelaku kini sudah meninggal," lanjut ucap pria itu.


Noumi, mengapa kamu lakukan ini? Padahal aku susah payah membantumu untuk kembali sehat, tapi kau malah mendekati mautmu, bahkan kau hampir mencelakai kami semua. Bunga bagaimana keadaan Bunga saat ini? Batin Rex, kini aura kesedihannya makin terpancar di wajahnya.

__ADS_1


Ibu Erasa mengusap lengan Rex menenangkan pria itu, supaya tidak banyak pikiran.


"Kamu harus tenang, jangan terlalu banyak pikiran, ingat masih ada Bunga yang butuh kamu," nasehat Ibu Erasa yang langsung mendapat anggukan kepala Rex.


Apa yang dikatakan ibunya itu benar, semua sudah terjadi, lagian Noumi sudah meninggal. Saat ini harus fokus sembuh dan berdoa untuk keselamatan Bunga dan bayinya.


"Sekarang, Ayah dan Ibu keluar dulu ya? Mungkin Rosi juga ingin bertemu denganmu," ucap Ibu Erasa sembari mengusap rambut Rex kebelakang.


Setelah Rex mengangguk, Ibu Erasa juga Ayah Ciko keluar dari sana.


Pintu kembali terbuka, kali ini yang masuk Gea dan Rosi. Gea langsung berjalan cepat untuk menemui Rex.


"Kak, kamu baik-baik saja kan? Aku sangat khawatir denganmu," ucap Gea seraya memegang tangan Rex, matanya melihat luka-luka di wajah Rex, hatinya terasa sakit saat melihat itu semua.


"Aku baik," jawab Rex lirih.


"Kak, kamu harus segera sehat. Kalau bukan Kakak siapa lagi yang akan menyemangati kakak ipar." Rosi tersenyum.


Malah bagus dia mati, batin Gea, tatapannya kesal ke arah Rosi karena meminta Rex untuk segera sehat demi Bunga.


"Terimakasih, kau benar aku harus sehat ," ucap Rex berusaha tersenyum juga walau hanya kecil.


Gea berdecih dalam hati, sangat tidak suka mendengar jawaban dari Rex.


Harusnya Kak Rex tidak menjawab seperti itu, batin Gea.


"Baiklah jika begitu kami keluar dulu, Kak Rex istirahat lah," ucap Rosi, tapi Gea menyela cepat. "Aku masih mau di sini Kak, mau nemenin Kak Rex."


"No, kita harus keluar." Rosi langsung menarik tangan Gea untuk diajaknya keluar dari dalam sana.


Gea hanya bisa mengikuti langkah Rosi dengan penuh umpatan dan rasa kekesalan.


Setelah mereka pergi, menyisakan Rex sendirian, dalam kesendirian Rex semakin teringat teriakan Bunga yang begitu kencang kala itu.

__ADS_1


Jika dirinya saja merasakan begitu sakit, bagaimana dengan Bunga dan bayinya. Mengingat itu Rex semkin merasa sesak.


Sayang, Bunga kau harus kuat dan bisa melewati semua ini, kamu dan bayi kita harus selamat, aku ingin segera bertemu kalian.


__ADS_2