BOS Sombong Suamiku

BOS Sombong Suamiku
BAB 62. Harus operasi.


__ADS_3

APA!!


Ibu Erasa langsung lemas bersamaan bicara terkejut setelah mendengar penjelasan dari seseorang di dalam sambungan telepon rumah. Mungkin akan langsung ambruk ke lantai apa bila tidak Ayah Ciko yang menahan tubuh Ibu Erasa.


"Bu ada apa, Bu?" tanya Ayah Ciko panik saat tiba-tiba melihat istrinya syok.


"Rex ... Bunga," jawabnya lirih seperti kehilangan seluruh jiwanya, tidak lama kemudian Ibu Erasa tidak sadarkan diri, membuat Ayah Ciko semakin panik, bingung mau mengetahui sebabnya apa dari siapa, Ibu Erasa pingsan belum mengatakan apa yang terjadi.


Namun tiba-tiba seorang pelayan berlari tergopoh-gopoh ke arah Ayah Ciko yang saat ini berada di ruang keluarga sedang menahan tubuh Ibu Erasa yang pingsan.


"Tuan ... Ada mobil jatuh ke jurang saat mau menuju ke bandara, korbannya bernama-." ucapan pelayan itu terhenti saat tiba-tiba ponsel Ayah Ciko bunyi ternyata yang menelpon asistennya.


"Tuan, Tuan Muda Rex kecelakaan mobil, saat ini sedang dilarikan ke rumah sakit Galih Medical," ucap Asistennya di sambungan telepon.


Deg.


Hp Ayah Ciko langsung jatuh tanpa ia sadari, tubuhnya ikut limbung dan ambruk ke lantai sembari memeluk istrinya.


Air matanya tiba-tiba mengalir begitu saja dengan beras, dunianya seolah seketika berubah gelap mendapat kabar putranya kecelakaan.


Apa lagi saat mengingat di dalam mobil tersebut tidak hanya Rex sendiri, ada Bunga yang saat ini sedang hamil besar, Ayah Ciko semakin merasa sesak.


Pelayan yang berdiri tadi jadi bingung mendapati dua majikannya terpukul dengan kabar ini, bahkan pelayan tersebut juga ikutan merasa sesak dan ikutan menangis.


*


*


*


Ciiiiittttttt.



Suara monitor yang saat ini baru saja berubah lurus. Di ruang IGD ini seorang wanita hamil besar nyawanya sedang berusaha di selamatkan.


Para tim medis langsung sigap memegang bagian masing-masing. dokter menggesek-gesekkan alat pemacu detak jantung, meletakkan di atas dada wanita itu dan mengangkat alat itu berulang kali dilakukannya.


Sementara itu di ruang sebelah, seorang pria juga mengalami hal sama, banyak luka di tubuhnya juga luka di kepalanya, saat ini dalam keadaan tidak sadarkan diri, hanya saja tidak sampai kritis seperti korban wanita di sebelah ruangan.


Tim medis mulai membersihkan darah di tubuh pria itu.

__ADS_1


Sementara di ruangan yang lain, korban pria dan wanita dinyatakan meninggal dunia di tempat kejadian lokasi kecelakaan.


Di ruang IGD pertama, dokter terus berusaha menyelamatkan nyawa wanita yang sedang hamil besar itu.


"Bagaimana suster!" Dokter itu bertanya dengan suara tinggi sembari terus memacu jantung wanita itu dengan alat.


"Belum ada tanda-tanda, Dokter," jawab suster tersebut yang ditugaskan untuk mengawasi layar monitor.


Di alam bawah sadar wanita itu.


"Ibu ... Ayah?" Wanita hamil itu menangis bisa melihat sosok yang dirindukannya selama ini.


Pria paruh baya itu tersenyum. "Ayah dan Ibu bahagia, Nak? Bisa bertemu dengan kamu, jaga diri baik-baik di dunia. Ayah dan Ibu sayang sama kamu, Nak?"


Mereka bertiga saling berpelukan, peluk erat melepas rindu yang seolah tidak akan pernah bertemu lagi.


Ibunya melerai pelukannya. "Nak, kembalilah sekarang keluargamu di dunia mengkhawatirkan kamu, Ibu dan Ayah harus pergi sekarang."


Wanita hamil itu menggeleng. "Tidak, aku mau ikut Ibu dan Ayah."


Ibunya tersenyum, dan kemudian mengajak wanita hamil itu ikut bersamanya, wanita hamil itu senang saat tangannya di genggam oleh Ayah dan Ibunya.


Di dunia nyata.


Di ruang sebelah.


Pria yang tadi keadaannya stabil tiba-tiba menjadi kritis, garis monitor berganti lurus, para tim medis langsung bergerak cepat untuk segera menyelamatkan nyawa pria itu.


Di alam bawah sadar pria itu.


"Bunga kau mau kemana!" bentak Rex dengan marah seraya meraih tangan Bunga sampai terlepas dari genggaman tangan ayahnya.


"Kau mau pergi dan meninggalkan aku." Kali ini Rex bicara sembari menangis.


"Kak," ucap Bunga lirih ikut menangis juga, sungguh pilihan sulit, Bunga ingin ikut ke dua orang tuanya, tapi Bunga juga tidak bisa meninggalkan Rex.


Perlahan Ibunya melepas genggaman tangannya, dan berjalan pergi bersama suaminya.


"Ibu ... Ayah ..." teriak Bunga karena mereka milih meninggalkan dirinya.


"Jangan tinggalkan Bunga ..." teriaknya lagi dengan menangis, Bunga memberontak di pelukan Rex, minta dilepaskan mau mengejar ayah dan ibunya yang semakin berjalan menjauh.

__ADS_1


"Ibu ... Ayah ..." teriaknya lagi yang semakin lama suaranya semkin tenggelam.


Bunga dan Rex saling memeluk dan menangis bersamaan.


Di dunia nyata.


"Dokter!" teriak suster seraya menunjukan garis monitor yang kembali berfungsi, bertanda bahwa pasien wanita hamil itu kembali memberikan respon. Tim medis segera bertindak cepat untuk membuat keadaan wanita itu menjadi stabil.


Di luar ruang IGD.


Seluruh keluarga Rex dan Bunga berkumpul di depan sana, duduk di kursi tunggu untuk menunggu hasil dari pemeriksaan dokter yang di dalam sana masih menangani menantu dan anaknya.


Gea duduk di sebelah Ibu Erasa, menenangkan Ibu Erasa yang sedari tadi menangis tiada henti.


Gea sedih mendengar kabar Rex kecelakaan, tapi bahagia juga karena Bunga kecelakaan, malah hati kecilnya berdoa agar Bunga mati saja, cukup Rex saja yang selamat.


Semua orang yang menunggu di kursi tunggu, wajahnya tampak sedih semua, Rosi juga ikut menangis dan sedih. Ayu dan Bibi Eka juga ikutan menangis.


Ayu menangisi Rex karena pria tampan kasihan harus kecelakaan. Sementara ke Bunga hanya sedikit merasa iba, tapi berharap juga Bunga bisa selamat.


Bibi Eka sedih, jadi keingat perlakukan kasarnya dulu pada Bunga, bahkan kecelakaan ini mengingatkan dirinya akan kecelakaan Bunga bersama dua orang tuanya sampai menyebabkan dua orang tuanya meninggal dan hanya Bunga yang selamat.


Ya Allah semoga Bunga selama**t, doa Bibi Eka dalam hati.


Ahirnya yang ditunggu keluar juga, mereka semua langsung berdiri dan mendekati saat pintu terbuka dan dokter keluar dari dalam.


Dokter melihat wajah cemas campur kesedihan di wajah keluarga pasien.


"Untuk pasien bernama Bunga, kami harus segera mengoperasi pasien tersebut untuk menyelamatkan bayinya." Dokter tersebut menjelaskan.


"Lakukan dokter, lakukan yang terbaik dan selamatkan keduanya," ucap Ibu Erasa menggebu disertai menangis.


Gea berdecih saat yang diterima kabar dari Bunga, bukan kabar dari Rex.


Dokter tersebut mengangguk sebelum memerintahkan para tim medis untuk membawa pasien ke ruang operasi.


Sementara dari pintu ruang IGD sebelah itu terbuka, muncul dokter dari dalam.


"Keluarga pasien bernama Rex?"


"Kami dokter," ucap mereka semua serempak.

__ADS_1


__ADS_2