
Saat ini Bunga bersama Ibu Erasa dan Rosi, sedang berada di dalam toko baju.
"Coba deh, ini baju sangat cocok buat kamu." Ibu Erasa menempelkan baju ke tubuh Bunga. Kemudian masuk ke ranjang lagi, di dalam ranjang sudah ada lima stel baju dan itu semua baju untuk Bunga, Ibu Erasa yang memilihkan sedari tadi, sementara Bunga hanya diam mengikut saja.
"Wah ini juga bagus." Matanya melihat, tangannya langsung meraih lima stel baju yang kemudian satu per satu di tempelkan ke tubuh Bunga. "Tuh kan? kamu cantik semaki sayang ..."
Ibu sudah ya? Ini sudah banyak." Bunga menolak saat melihat Ibu Erasa memasukan baju lagi ke ranjang.
"His! banyak apa sih, baru juga sepuluh potong," ucap Ibu Erasa yang belum ingin berhenti masih ingin beli baju untuk Bunga.
Hah! Sepuluh potong di bilang baru, desah Bunga dengan kasar, baginya itu tentu sudah banyak, apa lagi dirinya selama ini hidup susah serba pas-pasan. Hah! orang kaya sih gampang mau beli berapa potong pun pikir Bunga, yang kini mengikuti langkah Ibu Erasa.
Sementara Rosi, pria itu hanya duduk di kursi tunggu yang ada di toko baju tersebut, capek kalo harus ikutan Ibunya yang jalan-jalan mencari baju, biasalah perempuan kalo nyari baju pintar milihnya, malah kadang lama memilihnya.
Setiap melihat baju bagus dan lucu bila di pakai Bunga yang tingginya hanya seratus lima puluh centi meter, Ibu Erasa langsung mengambilnya, ambil dan ambil lagi sampai kini ranjangnya penuh.
Hahah!
Ibu Erasa tertawa saat melihat ranjang penuh, yang entah berapa jumlah baju di dalam sana, main ambil-ambil saja sampai kepenuhan.
"Bu, sudah ya?"
"Iya sudah, ayo kita ke kasir." Ibu Erasa membantu Bunga mendorong keranjang isi baju.
Hari Minggu ini pembeli cukup ramai, Bunga dan Ibu Erasa harus mengantri saat mau membayar tagihan.
Bunga melihat isi keranjang sampai tidak enak hati, pasalnya itu semua baju untuknya, Ibu Erasa tidak membeli untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Setelah beberapa saat menunggu, ahirnya tagihan baju sudah terselesaikan, banyak sekali kantong belanjaan isi baju-baju Bunga, karena masih ada yang mau di beli, Ibu Erasa mengambil troli untuk meletakkan baju Bunga yang sudah terbungkus.
Kini berjalan menuju pakaian dalam, Ibu Erasa menyuruh Rosi untuk menunggu di luar, karena tidak ingin putranya itu melihatnya.
Di dalam toko ini, Ibu Erasa juga sama seperti tadi yang di lakukannya juga, mengambil banyak pakaian dalam untuk Bunga setelah tahu ukurannya.
Sehabis dari toko pakaian dalam, berjalan kembali menuju toko perhiasan, Ibu Erasa sedih melihat Bunga polosan tanpa ada perhiasan, cuma cincin satu yang melingkar di jari manisnya. Itu pun cincin pernikahan, dan harganya pun tidak begitu mahal, karena waktu itu saat pembeliannya buru-buru. Sebab pernikahan terjalin begitu cepat.
Bunga dibelikan gelang emas dan juga kalung, yang harganya sampai lima puluhan juta, Ibu Erasa saja membayarnya menggunakan black card.
Dan setelah semua barang di beli, kini semua belanjaan di masukkan ke dalam bagasi mobil.
"Kakak ipar awas nanti kepentok pintu kepalanya," ucap Rosi seraya meletakkan tangannya di atas ke pala Bunga yang mau masuk ke dalam mobil.
Pria itu selalu tersenyum sampai kadang membuat Bunga hanyut, hanya sebatas mengagumi tidak lebih.
Siang itu habis belanja banyak di mall, karena kelelahan setelah sampai di rumah Bunga tidur siang, dan bangun-bangun sudah sore hari.
Tanpa Bunga sadari, senyum-senyumnya itu tertangkap oleh Rex, ternyata pria itu saat ini sedang berdiri di ruang ganti, karena habis mandi, dan saat mau keluar melihat Bunga yang lagi senyum-senyum sendiri.
Hih! Dasar wanita murahan! umpat Rex dengan mata tajam.
"Ibu ... Rosi terimakasih, Ya. Sudah baik sama aku," ucap Bunga yang masih disertai senyum.
Rex yang mendengar ucapan Bunga langsung berdecih, muak sekaligus kesal. Rex masih belum bisa maafkan kesalahan Bunga, apa lagi setelah tahu bayi yang Bunga kandung bukan anaknya, Rex semakin kesal dan semakin sulit memaafkan Bunga, Rex sengaja belum memberitahu kedua orangtuanya, tapi dalam hati akan berencana untuk memberitahu orang tuanya setelah waktunya tepat.
Sungguh Rex ingin melihat Bunga segera di tendang keluar dari keluarganya, tidak sabar melihat wanita itu menangis tidak miliki siapa-siapa lagi, tapi Rex harus menunggu waktu yang tepat. Dengan seringai tipis Rex menatap ke arah Bunga.
__ADS_1
"Aku rasa kamu harus tahu diri, karena kamu hanya orang biasa yang di pungut jadi kaya." Rex bicara sembari keluar dari ruang ganti.
Deg!
Bunga terkejut saat tiba-tiba melihat Rex menyembul keluar dari ruang ganti.
Apa lagi ucapan pria itu tadi, sampai menusuk hati Bunga, kini hanya bisa menunduk menyembunyikan kesedihannya.
Bila aku orang kaya mana mau aku menjebak kamu sampai menjadi istri yang tidak kamu cintai, bisa tidak itu mulut diam saja tidak usah bicara sepedas itu, batin Bunga kesal.
Rex mendekati Bunga, kini tangannya mencekal rahang Bunga untuk menatap wajahnya. "Tidak usah sok jadi tuan putri, karena sampai kapan pun kamu tetap orang rendahan di mata aku."
Deg!
Sakit seketika hati Bunga, rasanya lebih sakit dari pada rahangnya yang di cekal kuat oleh Rex.
"Tahu diri!"
Setelah bicara menghina dengan bibir tersenyum iblis, Rex pergi dari kamar tersebut, meninggalkan Bunga yang seketika tangisnya tumpah.
"Jangan menangis Bunga! Jangan menangis!" Bunga berteriak kesal pada dirinya sendiri campur tangis, ingin sekali tidak mengisi setiap mendengar perkataan jahat Rex, tapi seolah air matanya tidak mau di ajak kompromi.
"Berhentilah! Berhentilah ..." Bunga kembali berteriak seraya mengusap air matanya, sungguh bunga tidak ingin di lihat lemah, tapi tetap saja air mata itu tidak bisa berhenti.
Bunga sampai kesal, karena ingin berhenti menangis, Bunga menuju kamar mandi membasuh wajahnya, hal itu tidak membuatnya langsung berhenti, namun lama-kelamaan ahirnya tangis Bunga berhenti juga.
Bunga menghela nafas lelah yang saat ini berdiri bersandar di dinding, ambil nafas Bunga keluarkan perlahan, setelah lebih tenang Bunga kembali ke atas ranjang.
__ADS_1
Bunga mengingat sesuatu di dalam laci, kemudian Bunga mengambilnya, sebuah foto USG bayinya, Bunga memeluk foto USG tersebut sembari menarik nafas dalam-dalam.
Nak? Mommy sangat sayang sama kamu, bantu Mommy kuat untuk tetap bersanding di sisi Daddy mu, ucap Bunga dalam hati dengan mata terpejam.