
Tepat pukul sepuluh malam, Rosi dan Bunga sampai di rumah.
"Bunga, kamu baik-baik saja?" Ibu Erasa langsung memeluk Bunga saat melihat menantunya memasuki Rumah.
Ibu Erasa sudah menunggu mereka berdua di ruang tamu, sejak Rosi memberi kabar sudah menemukan Bunga, Ibu Erasa senang seketika mendengar kabar dari Rosi.
Kekhawatirannya langsung hilang, bisa kembali tersenyum lagi. Sampai-sampai menunggu di ruang tamu seorang diri.
"Bunga baik-baik saja Ibu." Bunga mencium punggung tangan Ibu Erasa, setelah melerai pelukannya.
"Ibu khawatir ... kenapa tidak pulang-pulang, kamu kemana saja?" tanya Ibu Erasa dengan wajah sedih seraya mengusap rambut panjang Bunga.
"Maaf sudah membuat Ibu khawatir, maafkan Bunga." Bunga mau berlutut namun dengan segera Ibu Erasa menahannya.
"Jangan seperti ini, Ibu sudah memaafkan, sekarang istirahat lah sudah malam." Ibu Erasa mencium kening Bunga, sebelum menantunya pergi menuju kamar.
Setelah Bunga pergi, Ibu Erasa menarik tangan Rosi untuk duduk di sofa, Ibu Erasa mulai menanyakan dimana Rosi menemukan Bunga, karena tadi saat di telpon tidak sempat bertanya, karena sangking bahagianya malah Ibu Erasa tanpa sadar mematikannya sambungan telepon.
Dan sekarang tidak mau ketinggalan informasi lagi.
"Ayo jelaskan Rosi, jelaskan pada Ibu." Ibu Erasa bicara menggebu sudah tidak sabar mendengar cerita dari Rosi.
Rosi kemudian mulai menceritakan dari awal menghentikan mobil di pinggir jalan dekat taman, melihat wanita yang mirip Bunga, menemui dan memastikan bahwa itu Bunga, lalu mengajak Bunga bermain di pasar malam.
Plak!
"Jadi kamu sudah menemukan Bunga tapi malah lupa tidak mengabari Ibu, hah!"
Rosi hanya menyengir kuda terkena marah ibunya, seraya mengusap lengannya yang panas di pukul ibunya.
"Sini Ibu jewer karena sudah berani lupa tidak segera mengabari Ibu!" Tangan Ibu Erasa berusaha menjangkau telinga Rosi namun pria itu tahan.
"Ibu, Ibu jangan, Bu. Sakit Bu, sakit!"
Aww!
__ADS_1
"Biar tahu rasa kamu! lain kali tidak boleh lupa sama perintah Ibu!" ucap Ibu Erasa dengan tegas, namun di detik kemudian setelah marah-marah, Ibu Erasa memeluk Rosi dengan sayang.
Rosi hanya bisa menghela nafas panjang mendapati keanehan ibunya, seraya mengusap-usap telinganya yang terasa panas.
Malam ini sepertinya aku apes banget deh, di taman tadi aku di pukul lengan ku oleh Kakak Ipar, sekarang di rumah dipukul juga oleh Ibu, malah dapet bonus dijewer telingaku, batin Rosi yang meratapi nasibnya malam ini.
"Ayo tidurlah pasti kamu lelah kan," ucap Ibu Erasa setelah melerai pelukannya, menatap wajah putranya yang terlihat jelas ada guratan lelah.
Rosi mengangguk. "Iya tidur, kalo masih di sini bersama Ibu, aku takut di gigit setelah tadi dipukul dan dijewer, hahah." Rosi langsung berlari terbirit-birit sebelum ibunya berhasil menjangkau.
"Rosi ...."
Ibu Erasa geram campur tawa melihat tingkah putranya, yang selalu bisa membuat hati Ibu Erasa berwarna, karena Rosi bisa becanda, tentu beda dengan Rex, karena anak pertamanya itu pendiam dan dingin, tidak suka bergaul, tapi pintar di dunia bisnis.
Semua miliki kelebihan masing-masing, tidak perlu dibeda-bedakan karena semua adalah anak.
Ibu Erasa menyibak selimut yang saat ini sudah sampai di dalam kamar, untuk istirahat juga.
Sementara penghuni di kamar lain, ternyata saat ini belum tidur, penghuninya malah bersitatap tegang.
Kenapa lagi sih dia? kenapa suka sekali menatap aku seperti itu? apa tidak bisa sekali saja tidak menatap tajam padaku, batin Bunga yang ketakutan melihat wajah dingin Rex.
Bunga hanya bisa menunduk dengan kaki dan tangan yang kini sudah gemetar, rambutnya yang basah belum sempat ia keringkan, kini airnya menetes ke lantai, membuat lantai jadi basah.
"Jorok sekali."
Satu kata umpatan berhasil Bunga dengar yang lolos dari bibir Rex, Bunga tahu bila Rex suka kebersihan, lantai basah sedikit saja Rex tidak suka, jadi wajar bila saat ini pria itu mengatainya jorok.
Makanya pergilah dari hadapan aku sekarang supaya aku keringkan rambutku seraya aku lap lantainya, ucap Bunga hanya mampu dalam hati.
"Ingatnya aku tidak suka dengan yang namanya penghianatan."
Deg!
Jantung Bunga langsung berdegup kencang, mendengar ucapan Rex, tiba-tiba rasa takut semakin menjalar ke seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Rex mencengkram dagu Bunga, membawa wanita itu untuk menatapnya juga. "Termasuk kau tersenyum dan tertawa dengan Rosi, aku tidak suka!" Rex bicara tegas dengan penuh penekanan di setiap kata.
Bunga hanya mampu mengangguk pelan dengan susah payah, karena merasakan dagunya sakit di cekal kuat oleh Rex.
Rex melepas cengkeramannya seraya tersenyum menyeringai. Kemudian pergi dari ruangan tersebut, selama ini Rex tidak pernah tidur bersama Bunga, pria itu selalu menghabiskan waktu istirahatnya di ruang kerjanya, di sana juga ada kamar, walau tidak terlalu besar.
Ibu Erasa tidak tahu bila Rex pisah ranjang dengan Bunga, tapi Ayah Ciko tahu, hanya tidak ingin mencampuri urusan anak-anaknya, mereka sudah dewasa dan sudah bisa berpikir yang terbaik pikirnya, semua pelan-pelan, bila memang takdirnya jodoh pasti akan bersatu selamanya tidak akan pisah, begitulah cara pikir Ayah Ciko yang slow, makanya walau pemimpin perusahaan tapi tetap awet muda, karena tidak pernah dirinya buat ribet.
Semua kondisi tenang, semua penghuni rumah sudah tidur dengan pulas nya, lampu-lampu sudah mulai padam, hanya beberapa yang masih hidup untuk penerang. Malam mulai berlalu pagi merayap datang.
Bunga baru saja bangun tidur, setelah mencuci muka dan gosok gigi, Bunga menyiapkan pakaian kerja untuk Rex.
Meski pria itu begitu arogan dan sombong, tapi masih mau menerima pakaian kerja yang Bunga siapkan.
Sejak awal Bunga menjadi istrinya, mulai dirinya yang menyiapkan, sudah lama bekerja di bawah pimpinannya, membuat Bunga sedikit-sedikit tahu paduan seragam kerja yang biasa Rex gunakan.
Bunga juga pagi ini membuat sarapan, membantu bibi pelayan, meski sudah di larang, tapi tidak Bunga hiraukan.
Ibu Erasa menghampiri Bunga, juga melarang Bunga untuk tidak membantu pelayan yang lagi masak.
Tapi Bunga memberikan alasan, bahwa dirinya tiba-tiba ngidam pengen masak.
Ibu Erasa tidak bisa melarangnya lagi, dan ahirnya lebih memilih mengijinkan Bunga, kalo sudah bawa-bawa ngidam memang siapa sih yang berani menolak dan melawan, orang selalu menyebutnya bisa membuat bayinya nanti ileran bila tidak dituruti.
Setelah masakan untuk sarapan sudah siap, semua orang sudah mandi dan sudah berkumpul di meja makan, kini mulai sama-sama menyantap makanan.
Sekali suap, mengecap-ngecap rasa ada yang beda tidak seperti biasanya.
"Ini yang masak siapa?" tanya semua orang serempak, Rex, Rosi, dan Ayah Ciko.
Ibu Erasa tersenyum sembari melirik Bunga, Bunga yang di lirik mertuanya malah menunduk malu.
"Bunga, Ayah yang masak ... menantu kita hebat, kan?" ucap Ibu Erasa, yang langsung membuat anak muda di sampingnya terbatuk.
Uhuk-uhuk!
__ADS_1