BOS Sombong Suamiku

BOS Sombong Suamiku
BAB 30. Menolak ajakan makan malam Gea


__ADS_3

Setelah kepergian Rex, Bunga kembali masuk ke ruang makan, susu hamil belum Bunga minum, dan saat ini kembali duduk di sana sembari menghabiskan susu hamil.


Pelayan yang usianya sudah lima puluh tahun membereskan meja makan, bibirnya ikut tersenyum saat melihat Bunga senyum-senyum sendiri.


"Nyonya, Nyonya hari ini terlihat bahagia, bibi ikut senang," ucap pelayan itu melihat Bunga sekilas kemudian fokus lagi beresin meja makan.


"Iya, bibi. Bunga bahagia karena sekarang Kak Rex sudah bersikap baik dengan Bunga," Menatap bibi pelayan.


"Iya, Nyonya bibi juga melihat perubahan Tuan sekarang, bibi ikut bahagia."


Bunga tersenyum, meneguk sekali lagi susu hamil kemudian memberikan gelas kosongnya pada bibi pelayan.


Setelah membereskan meja makan, bibi pelayan pergi ke dapur, Bunga masih duduk di sana, masih senyum-senyum sendiri.


Wijaya Company.


Rex yang baru sampai di perusahaan, langsung disambut oleh Zee, sang sekretaris mengambil alih tas kerja yang Rex bawa, kemudian bersama-sama masuk ke dalam lift menuju lantai delapan belas, kemudian keluar dari sana.


Zee ikut masuk ke ruang kerja Rex, tidak lama kemudian Zee keluar lagi dari sana dengan membawa setumpuk file di tangannya.


Zee membawa file-file itu menuju ke ruang kerjanya, yang juga berada di lantai delapan belas, namun saat Zee mau membuka handel pintu tiba-tiba mendengar suaranya dipanggil.


"Sekertaris Zee."


Zee menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya, karena dari suaranya Zee tidak mengenali, dan setelah berbalik dan melihat orang itu, ternyata Gea, karyawan baru di Perusahaan ini.


Zee diam menunggu Gea bicara.


Gea berdiri tepat di hadapan Zee, matanya menatap remeh dengan kedua tangan melipat di dada. "Kamu cuma sekertaris, kan. Aku rasa kamu tidak perlu sedekat itu dengan Tuan Rex."


"Maaf, Anda sudah salah paham, karena kami memang tidak dekat, dan semua hanya karena pekerjaan," jelas Zee dengan suara dingin.


Berani wanita itu bicara ketus sama aku, belum tahu saja dia siapa aku, batin Gea semakin tidak suka dengan Zee.


"Tunggu!" Gea kembali menghalangi Zee saat wanita itu mau membuka pintu.

__ADS_1


Zee kembali mengurungkan niatnya dan membuang nafas berat seraya menoleh ke arah Gea. "Saya tidak miliki waktu yang sia-sia hanya bicara tidak penting dengan Anda, permisi."


Selesai bicara Zee langsung membuka pintu dan menguncinya, meninggalkan Gea yang mengumpat dan marah.


"Aku akan melaporkanmu dengan paman Ciko, supaya kau dipecat!" Menatap tajam ke arah pintu ruang kerja Zee. Gea tidak terima diperlakukan dengan tidak dihargai seperti tadi, seorang Gea yang biasanya setiap orang akan segan, tapi Zee malah melawan, Gea benar-benar marah.


"Aku harus membuat perhitungan untuk wanita itu!" ucapnya lagi dengan marah, kemudian mengetuk pintu ruang kerja Rex, memang ingin menemui Rex tujuannya datang ke lantai delapan belas, tapi malah tertunda saat melihat Zee keluar dari ruang kerja pria itu.


Setelah dipersilahkan masuk, Gea masuk ke dalam, wajahnya pura-pura sedih bahkan sudah akting menangis.


"Kak Rex ..." rengeknya yang tiba-tiba berdiri di samping Rex.


Rex menghela nafas panjang seraya menghentikan pekerjaannya, melihat Gea yang berdiri di sampingnya.


"Kenapa kamu menangis."


Gea senang saat Rex menanyakan alasan dia yang menangis, dengan begitu Gea akan bersandiwara.


"Kak, tadi kata-kata sekertaris Zee sangat menyakiti hati, kan aku masih karyawan baru jadi wajar bila pekerjaan aku masih banyak kekurangan, tapi dia malah marah-marah," ucapnya masih disertai akting menangis.


"Baiklah, nanti aku akan bicara dengan Zee, sekarang kamu boleh pergi, aku masih banyak pekerjaan," ucap Rex seraya menunjukan tumpukan berkas di meja kerjanya.


Gea melihat itu, dan mengerti bila Rex saat ini benar-benar masih sibuk. Tapi masih ada yang mau Gea bicarakan, mengenai yang membuat dirinya sampai datang menemui Rex.


Rex sudah mulai membaca lagi mengecek berkas yang ada di tangannya saat ini.


"Kak, nanti malam bisa tidak kita makan malam di luar bersama, kita sudah lama lho tidak makan malam bersama," ucap Gea, kini disertai senyum manis tidak menangis lagi.


Rex menjawab dengan malas, menatap Gea lagi. "Gea, aku sibuk. Nanti malam aku sepertinya akan lembur."


Gea kecewa mendengar jawaban Rex. "Beneran, Kak?" tanyanya masih berusaha memastikan.


Rex hanya mengangguk, kemudian fokus lagi dengan pekerjaannya.


Gea menghela nafas panjang, menelan kekecewaan tadinya sudah happy berpikir bila Rex tidak akan menolak, tapi hasilnya pria itu sibuk, meski Gea melihat sendiri yang memang banyak pekerjaan Rex saat ini, tapi tetap saja Gea kecewa.

__ADS_1


"Baiklah, Kak. Jika begitu Gea pamit."


Rex tidak menjawab ucapan Gea, tetap asyik dengan fokus kerja, Gea menoleh melihat Rex lagi sebelum membuka pintu.


Kak Rex, aku semakin tertarik denganmu, batinnya sebelum ahirnya membuka pintu dan keluar dari sana.


Pekerjaan yang banyak dan harus Rex selesaikan, membuatnya tidak terlalu mikirin Gea yang selalu mencari perhatiannya, bahkan sudah lupa yang Gea ucapkan, terus bekerja sampai lupa waktu makan siang, bila Zee tidak datang mengantar makan siang.


Rex hanya makan siang sedikit, kemudian lanjut kerja lagi, ingin segera selesai supaya bisa segera pulang.


Dan keinginan Rex terwujud tepat pukul empat sore, semua pekerjaan Rex ahirnya selesai, memanggil Zee untuk datang dan mengambil semua tumpukan file di atas meja kerjanya.


Rex keluar dari ruang kerjanya bersamaan Zee yang keluar juga dari sana dengan membawa setumpuk file.


Rex memang pulang lebih dulu, namun Zee masih berada di kantor.


Gea melihat Rex yang keluar dari lift lantai satu, Rex menuju pintu keluar masuk perusahaan. Gea tangannya mengepal merasa sudah dibohongi Rex, pagi tadi bilang lembur ternyata sekarang pulang.


Tidak lama kemudian melihat sekertaris Zee yang keluar juga dari lift.


"Kemana Tuanmu pergi!" Menegang lengan Zee untuk menghentikan langkah wanita itu.


"Bukan urusan saya, juga bukan hak Anda." Zee tersenyum miring seraya melepas tangan Gea. Kemudian berlalu dari tempat tersebut.


Gea semakin kesal dibuatnya, tidak Rex tidak Zee sama-sama menyebalkan pikirnya.


Rex yang saat ini sudah mengendarai mobil, ingin segera sampai di rumah, tapi di jalan terkena macet, alhasil waktu untuk segera tiba di rumah terulur.


Empat puluh menit, Rex sudah sampai di apartemen, segera masuk ke dalam dan menuju tempat lantai ruang apartemennya berada.


Setelah sampai di sana, Rex langsung tersenyum bahagia, ternyata Bunga sudah berdiri di ambang pintu penyambut dirinya pulang.


"Kamu tahu jika aku pulang sekarang?" tanya Rex sembari merapikan anak rambut Bunga yang menganggu di wajahnya.


"Feeling ku mengatakan," ucap Bunga seraya terkekeh.

__ADS_1


Keduanya tertawa bersama dengan saling memeluk.


__ADS_2