
Mobil yang Rex kendarai menuju rumah Ibu Erasa, Bunga ingin bermain ke rumah Ibu Erasa, dari pada pulang ke apartemennya yang hanya sepi.
Tiga puluh menit, mobil Rex sudah sampai di rumah ibunya. Rex dan Bunga sama-sama masuk ke dalam rumah.
Tidak lama setelah mereka masuk ke dalam rumah, Ibu Erasa datang dari arah pintu belakang.
"Kalian datang kemari mengapa tidak bilang-bilang," ucap Ibu Erasa menghampiri Bunga memeluk Bunga.
Kemudian bergantian memeluk Rex. Ibu Erasa juga mencium kening Rex, Rex membalas mencium pipi Ibunya.
"Ibu dan Kak Rex romantis," celetuk Bunga dengan tersenyum.
"Harus dong," jawab Ibu Erasa dengan terkekeh.
"Ibu, Rex mau berangkat ke kantor, Bunga tetap di sini, nanti sore Rex akan jemput Bunga."
"Baiklah, Nak. Hati-hati di jalan." Ibu Erasa menepuk pundak Rex, Rex mengangguk kemudian berlalu.
Setelah kepergian Rex, Ibu Erasa mengajak Bunga duduk di sofa.
"Tadi kamu dari mana?" tanya Ibu Erasa sembari menatap Bunga, yang kini pipinya makin chubby menggemaskan.
"Tadi Bunga baru periksa dari rumah sakit, Ibu?"
"Lalu bagaimana keadaannya?" tanya Ibu Erasa penasaran.
"Semua sehat, Ibu."
"Alhamdulillah, tadi kamu USG?" tanya Ibu Erasa makin ingin tahu.
"Iya, Ibu. Dan anak kami perempuan."
"Perempuan!" ulang Ibu Erasa dengan suara tinggi disertai wajahnya yang begitu bahagia.
Bunga mengangguk tersenyum.
"Ibu bahagia mendengarnya, Ibu tidak miliki anak perempuan, dan Ibu akan mendapat cucu perempuan, Ibu senang sekali, Nak." Ibu Erasa langsung memeluk Bunga penuh bahagia.
Setelah Ibu Erasa melepas pelukannya, Bunga jadi ingat sesuatu yang ingin Bunga tanyakan pada Ibu Erasa.
"Gea, dimana Ibu? mengapa aku tidak melihatnya?" Bunga melihat sekeliling ruangan, kemudian menatap Ibu Erasa.
__ADS_1
"Hari ini adalah pertama kalinya Gea bekerja di perusahaan ayah."
"Ayah," ulang Bunga dengan terkejut, bila begitu Gea bekerja satu perusahaan dengan Rex, karena Rex dan Ayah masih dalam satu perusahaan pikir Bunga.
Ibu Erasa memegang bahu Bunga. "Kenapa, Nak? apa ada sesuatu?"
Bunga menggeleng, hanya firasatnya yang buruk, dan Bunga tidak mungkin bercerita dengan Ibu Erasa.
"Apa orang tua Gea sudah meninggal, Bu?"
Bunga ingin mencari tahu soal Gea, mengapa wanita itu bisa tinggal bersama Ibu Erasa sejak kecil.
"Ya, kedua orang tuanya sudah meninggal saat Gea masih bayi, Ibu dan ibunya Gea masih saudara, tapi saudara jauh, karena kami tidak miliki anak perempuan, jadi Kamilah yang mengasuh Gea."
Bunga kini paham kronologinya, jika Gea bermanja dengan Rex karena sejak kecil mereka sering bersama, bisa jadi sudah dianggap kakak sendiri oleh Gea.
Aku harus berpikir positif jangan curiga, bisa saja perasaan buruk ini hanya perasaan aku saja, yang karena sedang hamil, batin Bunga menenangkan hatinya.
Kemudian setelah itu Ibu Erasa dan Bunga membicarakan hal lain.
Sementara itu, di perusahaan Wijaya Company.
Rex yang sedang sibuk di ruang kerjanya, sibuk dengan banyaknya berkas di depannya, yang harus segera Rex tandatangani.
"Kak Rex," sapa Gea. Wanita itu masuk lebih dalam kini berdiri tepat di depan meja kerja Rex.
Rex menatap Gea.
Gea tersenyum. "Kak Rex aku tidak bisa pembukuan ini, boleh minta tolong Kak Rex bantu?"
Rex kemudian berdiri menuju sofa, meninggalkan pekerjaannya yang banyak demi membantu Gea.
Gea ikut menyusul ke sofa, duduk di sana dengan anggun, Rex meminta berkas yang sedang Gea bawa, Gea memberikannya pada Rex.
Rex membukanya dan membacanya, sementara itu Gea hanya terus memperhatikan wajah tampan Rex.
Bila dilihat dari arah samping saat ini, hidung Rex makin terlihat mancung, rahang tegas, matanya sedalam lautan.
Gea bukan tidak bisa, tapi hanya pura-pura tidak bisa, supaya ada waktu untuk bersama Rex.
Rex sedikit menggeser duduknya menjadi lebih dekat dengan Gea, dari jarak sedekat ini aroma wangi parfum Rex makin jelas tercium, Gea menyukai aromanya.
__ADS_1
Rex mulai menjelaskan strukturnya pada Gea, wanita itu mendengarkan, tapi matanya melirik Rex, mencuri-curi pandang.
Rex tidak menyadari itu, karena fokusnya mengajari Gea, dan saat Rex bertanya paham, Gea tanpa sadar menjawab paham, namun setelah itu menyesal dalam hati karena sudah salah ucap, harusnya Gea berucap belum paham supaya waktu kebersamaannya dengan Rex lebih lama.
"Jika begitu keluarlah sekarang karena pekerjaanku masih banyak."
Setelah bicara Rex bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju kursi kerjanya lagi.
Tidak apa-apa lah aku harus keluar sekarang, yang penting hari ini sudah ada momen bersama Kak Rex, besok lagi akan memikirkan cara lagi untuk bisa berdekatan terus dengan Kak Rex, batin Gea dengan tersenyum licik.
Gea bangkit dari duduknya, menatap Rex yang sudah sibuk bekerja di sana. "Selamat bekerja, Kak."
Setelah itu Gea kemudian berjalan keluar dari ruangan tersebut, Gea yang berjalan menuju lift, bibirnya terus tersenyum, rasa bahagia hanya melihat wajah Rex.
Sampai lift membawa Bunga turun ke bawah, wanita itu masih saja tersenyum-senyum sendiri, tidak sadar bahwa dirinya sudah melewati lantai tempat ruangannya bekerja.
Tanpa sadar Gea malah berjalan menuju pintu keluar.
"Lho kenapa aku ada di sini!" ucap Gea dengan terkejut, padahal niat hati mau kembali ke ruang kerjanya malah ke lantai satu, dan sekarang di depan pintu keluar masuk.
His Gea kenapa kamu mendadak bodoh! kebiasaan! umpat Gea pada dirinya sendiri, tentu sangat malu yang dirasa saat ini, dengan langkah cepat Gea kembali menuju lift.
Sementara itu Rex yang baru menyelesaikan semua pekerjaannya, memanggil Zee untuk masuk ke dalam ruangan mengambil semua berkas yang ada di depannya.
Zee berdiri di hadapan Rex, tangannya mulai mengambil tumpukan file-file di atas meja yang baru selesai Rex tandatangani.
"Zee apa kamu mengawasi cara Gea bekerja?"
"Iya, Tuan."
Rex mengibaskan tangannya, Zee boleh pergi dari hadapannya, Rex bersandar di sandaran kursi, menghela nafas panjang seraya memejamkan matanya.
Tanpa sepengetahuan Gea, Rex tahu bila tadi Gea pura-pura tidak bisa, meski Rex tidak melihat wajah wanita itu langsung, tapi dari gerak-gerik Gea, Rex tahu bahwa Gea hanya ingin bertemu dengan Rex.
"Jika kamu melewati batas, maka jangan salahkan aku Gea."
Rex bicara sendiri, saat ini masih ada toleransi untuk Gea, tapi tidak untuk hari-hari selanjutnya bila sampai Gea pura-pura lagi.
Rex melihat jam mewah yang melingkar di pergelangan tangannya, saat ini baru menunjuk pukul dua siang, masih lama untuk waktunya pulang, tiba-tiba Rex merasa rindu dengan Bunga.
Tiba-tiba Zee kembali ke ruang kerja Rex, Zee menyampaikan informasi bahwa pabrik di Bandung ada masalah.
__ADS_1
Rex dan Zee segera berangkat ke sana saat itu juga, Rex mengirim pesan singkat pada Bunga bahwa tidak bisa menjemput, dan setelah itu ponselnya Rex matikan.