
Setelah di rumah, sehabis mandi, Rex dan Bunga sama-sama duduk bersantai di atas ranjang, Rex membawa Bunga bersandar di bahunya, seraya tangannya mengusap-usap rahang Bunga.
Keduanya hanya saling diam, tidak ada yang bicara, hanya terdengar nafas yang saling berhembus.
Tiba-tiba Rex kepingin bercerita tentang Zee yang tadi pagi sakit.
"Tadi pagi, Zee sakit perut dan aku tidak tahu sebabnya itu apa."
Ucapan Rex barusan seketika mengingatkan foto yang tadi Bunga dapat dari nomor hp yang tidak Bunga kenal.
"Lalu bagaimana keadaan, Zee?"
"Zee baik-baik saja, sekarang sudah sembuh."
Bunga mengangguk paham, kemudian berniat menunjukan sebuah foto yang ada di galeri hp nya, Rex bingung saat tiba-tiba Bunga turun dari ranjang dan mengambil hp nya.
"Ada apa?" tanya Rex setelah Bunga kembali duduk di atas ranjang sebelahnya.
Bunga membuka galeri fotonya kemudian menunjukan foto yang tadi ia dapat ke hadapan Rex.
Seketika mata Rex terbelalak lebar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya ini.
"Mengapa ada foto aku dan Gea, kamu dapet dari mana?" tanya Rex sembari meraih hp Bunga dan Rex lihat lebih memastikan lagi.
Rex langsung melihat wajah Bunga dengan tatapan memohon seolah bicara itu semua tidak benar.
Bunga melihat Rex yang menatapnya dengan menggelengkan kepala. "Kejadian yang sebenarnya seperti apa, Kak?"
Rex meraih tangan Bunga. "Semua berasal dari Zee yang tiba-tiba sakit, kemudian Gea datang menawarkan diri mau ikut aku meeting, karena ya memang aku tidak mungkin melakukannya sendiri, jadi aku ijinkan dia ikut."
"Dan kita-."
Ah! Rex membuang nafas berat saat teringat bahwa tadi saat mau keluar restoran Gea mau jatuh dan Rex menolongnya.
"Dan kita apa Kak?" tanya Bunga yang semakin penasaran seraya membalas menggenggam tangan Rex.
"Aku menolong Gea saat dia hampir jatuh, serius seperti itu kejadiannya tidak ada lebih, aku mohon percayalah sama ucapan aku." Rex menatap dalam mata Bunga.
Bunga bisa melihat kejujuran yang terpancar dari bola mata Rex, perlahan Bunga mengangguk, Rex memeluk Bunga seraya menciumi rambut Bunga.
__ADS_1
"Aku senang kamu mau percaya sama aku, tadinya aku khawatir bila kamu akan marah sama aku," ucap Rex dalam pelukan Bunga.
Bunga tersenyum. "Aku percaya sama kamu, Kak."
"Sekarang kita telpon Gea, kita tanya sama-sama ke Gea," ucap Rex setelah melerai pelukannya kemudian langsung melakukan panggilan telepon ke Gea.
Cukup sekali dering di seberang sana sudah Gea angkat karena bahagia melihat nama yang tertera di layar ponsel adalah Rex.
"Hai, Kak?" tanya Gea di sambungan telepon.
Bunga juga ikut mendengarnya, suara Gea terdengar sangat bahagia dan semangat, tangan Rex yang satunya menggenggam tangan Bunga, bibirnya tersenyum ke arah Bunga.
"Gea, kamu yang ngirim foto itu ya, sudah aku kirim ke ponsel kamu, sekarang kamu lihat."
"Foto, foto apa Kak?" tanya Gea di sambungan telepon yang pura-pura tidak tahu bahkan suaranya terdengar terkejut.
Gea di seberang sana langsung membuka pesan masuk, seketika matanya melihat foto dirinya bersama Rex tadi saat di restoran, Gea tersenyum bahwa itu artinya Bunga sudah melihat foto itu, dan berpikir bila Rex dan Bunga saat ini sedang berantem.
Perfek, gumamnya.
"Ah, Kak sum-sumpah Gea tidak tahu apa-apa masalah foto itu, lagian kan kita tadi terus bersama-sama Kak, Kak Rex tahu lah tidak mungkin Gea bisa melakukan itu semua," suara Gea di sambungan telepon terdengar terkejut, Gea berusaha menyangkal pura-pura tidak tahu.
Karena tidak mendapatkan jawaban pengakuan dari Gea, ahirnya Rex mematikan sambungan telepon itu, di seberang sana Gea mengumpat kesal karena Rex tiba-tiba matikan sambungan telepon.
Aku bahagia melihat kamu mau mengucapkan maaf, kesalahan yang tidak sepenuhnya kamu lakukan.
"Iya, aku maafkan Kak." Bunga tersenyum.
Rex lega setelah mendapat kata maaf dari Bunga, Rex mau lebih hati-hati lagi sekarang, tidak ingin kejadian ini terulang lagi, tidak mau membuat Bunga bersedih.
"Em ... Aku akan memberimu hadiah."
"Hadiah apa Kak?" Bunga mengerutkan keningnya.
"Berbaringlah, aku mau pijit kaki kamu."
Ucapan Rex seketika membuat Bunga tersenyum, tau saja kalo istri kakinya sedang pegal-pegal batin Bunga.
Bunga perlahan berbaring, Rex mulai memijit kaki Bunga, berawal dari betis Rex pijit, Bunga merasakan pijitan Rex enak tidak begitu kerasa sakit.
__ADS_1
"Kak Rex cocok jadi dukun pijat." Bunga tertawa mencandai Rex.
"Jadi dukun pijat buat istri aja ya," ucap Rex seraya mengedipkan sebelah matanya.
Bunga semakin tertawa, karena Rex terlihat genit. "Iya lah kalo pijit orang lain nanti suami tampan aku diambil orang."
Hehehe, Bunga tertawa.
Rex tersenyum melihat Bunga sekilas, kini memijitnya sudah sampai paha, Bunga merasa kegelian saat Rex memijit pahanya.
"Kak," suara Bunga malah terdengar aneh di telinga Rex, pria itu menatap dalam mata Bunga. Tiba-tiba bibir merah Bunga menjadi perhatiannya saat ini.
"Kak cukup ini geli," ucap Bunga namun baru saja berhenti bicara, bibirnya sudah dibungkam dengan bibir Rex.
Rex menciumnya penuh menuntut, tangan keduanya saling bertaut, suara decappan memenuhi seisi ruangan.
Setelah mencium bibir Bunga, Rex beralih mengecup-ngecup leher Bunga meninggalkan tanda kepemilikan.
Puas mengecup leher Bunga, Rex menatap wajah Bunga penuh harap, setelah mendapat anggukan kecil dari Bunga, Rex segera mematikan lampu, menyisakan lampu penerangan tidur malam, malam ini keduanya kembali memadu kasih, mengejar kenikmatan.
Keesokan paginya.
Gea yang saat ini sudah berpakaian rapi dan sudah berdandan cantik, tersenyum di depan cermin, senyum angkuh karena kemarin rencananya berhasil, dan hari ini juga Gea mau memulai rencana lagi, dan harus berhasil juga.
"Perlahan aku pasti bisa memilikimu kak Rex." Gea tersenyum penuh arti dengan segala rencana dalam pikirannya.
Gea tidak mau kalah sama Bunga, meski harus melakukan seribu cara akan Gea lakukan demi bisa bersama Rex.
Karena cintanya untuk Rex sudah lama, Gea tidak mau cintanya tidak berbalas begitu saja, Gea akan terus berusaha untuk mendekati Rex.
"Walaupun saat ini kak Rex masih membuat jarak antara dengan aku, tapi aku yakin sebentar lagi kami bisa akan dekat."
"Seperti lem dan prangko," lanjut ucapnya kemudian disusul tawa.
Hahaha.
Gea percaya diri bahwa bisa mendapatkan Rex, berdiri dari duduknya, menyambar tasnya kemudian berjalan keluar dari kamar, menuju lantai satu.
Sampainya di meja ruang makan, di sana sudah ada Ayah Ciko, Rosi, juga Ibu Erasa, kini semuanya siap untuk sarapan pagi.
__ADS_1
Secepatnya aku pasti bisa segera makan bersama di meja makan, dengan kak Rex dalam status suami istri.
Gea tersenyum-senyum dengan ucapan batinnya.