
Keesokan harinya.
Bibi Eka hari ini mendapat perintah dari Bunga diminta untuk belanja kebutuhan rumah, yang sudah mulai habis.
Bibi Eka hanya pergi sendiri, karena tiga pelayan yang lain harus menyelesaikan pekerjaannya.
Sekarang Bibi Eka sudah berada di supermarket, bibirnya ngoceh terus sedari tadi tidak henti-henti.
Mentang-mentang sudah kaya blagu! beraninya menyuruh aku untuk belanja, memangnya aku pembantu! batin kesal Bibi Eka.
"Awas saja kamu Bunga!"
Gea yang ternyata juga berada di tempat tersebut, mendengar nama Bunga di sebut-sebut, dan saat menoleh ternyata ibu-ibu tua yang sedang belanja.
Gea membiarkan karena berpikir mungkin Bunga orang lain, karena nama Bunga itu tidak cuma satu.
"Tuan Rex juga, bisa-bisanya nyuruh aku jadi pembantu, kan aku tantenya Bunga!"
Gea yang mendengar nama Rex disebut-sebut kembali menoleh ke arah Bibi Eka, Gea penasaran lalu mendekati Bibi Eka, karena ingin tahu.
"Kamu mengenal kak Rex?"
Bibi Eka yang merasa ada suara wanita yang bertanya, langsung menoleh melihat Gea. Bibi Eka melihat penampilan Gea dari bawah sampai atas.
Dia sepertinya wanita kaya, tapi kenapa dia kenal dengan Tuan Rex? atau jangan-jangan, batin Bibi Eka yang merasa curiga.
"Benar apa kah yang kamu maksud tadi adalah Rex suami Bunga?" tanya Gea lagi yang langsung mendapatkan anggukan kepala Bibi Eka.
"Kamu siapa, kenapa kenal sama mereka!" ucap Bibi Eka sengit.
Gea tertawa mendengar pertanyaan Bibi Eka. "Saya mendengar tadi sepertinya kamu sedang kesal dengan mereka, bagaimana jika kita bekerja sama," tawar Gea.
"Apa maksudmu." Bibi Eka tampak bingung.
Gea tertawa lagi, setelah berhenti tertawa Gea merubah auranya menjadi dingin. "Aku menyukai kak Rex, dan aku butuh bantuan kamu untuk memberi informasi semua tentang mereka yang kamu dapat!"
Ternyata kami satu server, yang sama-sama membenci Bunga, batin Bibi Eka.
"Tapi semua itu tidak gratis." Bibi Eka bicara angkuh, rumayan kan bila di bayar mahal bisa buat melunasi hutang pikirnya.
__ADS_1
Gea tersenyum sinis.
Memang ya orang miskin pikirannya selalu duit, hina Gea dalam hati untuk Bibi Eka.
"Jangan khawatir, aku akan memberimu uang dua puluh lima juta, cukup?"
Bibi Eka langsung mengangguk cepat. "Cukup, tapi bayaran dimuka harus ada."
Gea berdecak sembari mengeluarkan kartu ATM, kemudian mengajak Bibi Eka untuk mengikutinya ke ATM yang berada di luar supermarket ini.
Wah jika cari uang yang semudah ini aku mau ah terus-menerus, lagian aku tidak peduli rumah tangga Bunga, sekalian saja aku bantu wanita ini untuk mendapatkan Rex, batin Bibi Eka yang licik, sembari berjalan mengikuti di belakang Gea.
Setelah sampai di mesin ATM, mereka berdua menunggu beberapa saat, dan setelah uang tunai yang Gea tarik keluar semua, langsung memberikan uang senilai sepuluh juta itu ketangan Bibi Eka.
"Ingat kamu harus berhasil, kasih info setiap hari tentang mereka padaku, dan ini nomor ponsel aku," ucap Gea seraya memberikan kartu nama miliknya yang ada nomor ponsel.
"Siap, pasti aku akan membantumu."
Gea tersenyum penuh arti, hatinya bangga dengan begini Gea akan lebih mudah menghancurkan rumah tangga Bunga dan Rex.
Gea kemudian pergi dari hadapan Bibi Eka menuju parkiran mobil, tidak jadi melanjutkan niatnya yang tadi mau belanja.
Setelah semua belanjaan sudah kebeli, Bibi Eka saatnya menyelesaikan transaksi pembayaran.
Setelah menunggu beberapa saat kini semua belanjaan sudah di total, Bibi Eka membawa ke mobil, sopir mobil juga karyawan toko membantu memasukkan ke dalam mobil.
Setelah semua beres tidak ada yang tertinggal, mobil pun melaju menuju apartemen, dalam perjalanan Bibi Eka terus memikirkan uang yang baru diterimanya itu, bingung mau digunakan untuk apa.
Apa sebaiknya aku tabung saja ya uangnya? sayang saja kalo buat bayar hutang, aku saja nyarinya susah, batin Bibi Eka mencari solusi.
Setelah tiga puluh menit, mobil yang membawa Bibi Eka kini sudah sampai di basement parkiran mobil di apartemen.
Bibi Eka dengan dibantu sopir, membawa semua belanjaan tersebut naik ke lantai tempat ruang apartemen Bunga berada.
Namun saat sudah sampai di depan pintu apartemen Bunga, tiba-tiba Bibi Eka mendapat telepon dari Ayu.
Bibi Eka minta tolong ke supir untuk membawakan semua barang belanjaan masuk ke dalam.
Bibi Eka menerima telepon Ayu dengan tempat sedikit menjauh dari depan pintu apartemen Bunga.
__ADS_1
"Ibu, Ayu sudah berada di bawah, ibu lama sekali angkatnya, ibu buruan turun ke bawah!" suara Ayu yang mengomel dalam sambungan telepon.
"Iya, iya! Ibu akan turun ke bawah," ucap Bibi Eka sedikit kesal, pasalnya ia sudah capek dan malah diminta balik-balik turun.
Sementara itu Bunga yang baru keluar kamar dan menuju dapur, melihat semua belanjaan masih berada di lantai, ada beberapa yang sedang mau di simpan ke almari kulkas oleh Sri yang dibantu dua teman pelayan lainnya.
Bunga heran saat tidak melihat Bibi Eka, karena wanita itu yang tadi pagi ia pinta untuk belanja.
"Bibi Eka dimana?" tanya Bunga yang seketika mendapat gelengan kepala mereka bertiga. Pelayan itu beneran tidak tahu karena tadi yang membawa masuk adalah sopir.
Sementara itu Bibi Eka yang saat ini sudah bertemu Ayu, langsung memukul pelan lengan Ayu, karena putrinya itu tidak sabaran sekali.
"Ibu kita akan tinggal di sini, wah mewah sekali tempatnya," ucap Ayu dengan pandangan kagum melihat gedung apartemen, dalam hatinya sudah tidak sabar mau pamer sama temannya.
"Iya mewah! tapi kita tinggal di sini sebagai pembantu!" jawab ketus Bibi Eka.
Apa!
Ayu langsung terkejut, senyum merekah di bibir langsung hilang mendengar ucapan ibunya.
"Ibu bagaimana bisa! kita juga kan masih keluarganya!" tanya Ayu dengan begitu terkejut.
Bibi Eka langsung menarik tangan Ayu. "Sudahlah tidak usah banyak tanya," jawab kesal Bibi Eka seraya menarik tangan Ayu untuk mengikutinya berjalan.
"Ibu jangan tarik-tarik sakit!" gerutu Ayu, dan seketika Bibi Eka melepas tangan Ayu.
hah percuma saja tinggal di tempat bagus bila ujungnya cuma dijadikan pembantu, dengus kesal dalam hati Ayu.
Setelah lift yang membawa mereka sampai di lantai tujuan, mereka berdua keluar dari sana menuju ruang apartemen Bunga.
Saat mereka sudah masuk ke dalam, Bunga langsung berdiri dari duduknya, berjalan menghampiri mereka berdua.
Dari pandangan mata Bunga itu penuh tanda tanya, Bibi Eka langsung menjelaskan.
"Maaf Bunga tadi Bibi Eka menjemput Ayu di bawah."
Bunga beralih menatap Ayu yang berdiri di samping Bibi Eka, wanita itu tersenyum sinis ke arah Bunga.
Ternyata Ayu belum berubah, batin Bunga, yang kemudian mempersilahkan Bibi Eka untuk lanjutin pekerjaannya.
__ADS_1