
Malam ini setelah Ayah Ciko pulang dari tempat kerja, dan setelah selesai makan malam juga tentunya.
Mengajak Ibu Erasa juga Gea duduk di kursi ruang keluarga, ada yang ingin Ayah Ciko bicarakan.
"Gea, beneran kamu ingin bekerja?" Ayah Ciko menatap lekat ke arah Gea.
Gea mengangguk mantap. "Benar, Paman."
"Jika memang benar kamu ingin bekerja maka akan Paman terima kerja di perusahaan, Paman."
"Gea mau jadi sekertaris, kak Rex. Paman."
Ayah Ciko menghela nafas panjang setelah mendengar ucapan Gea, yang sejak obrolan kemarin sangat ingin jadi sekertaris Rex, padahal Ayah Ciko sudah jelasin.
"Gea, maafkan Paman. Tadi sudah Paman tanyakan sama Rex, bahwa Rex tidak bisa menerima kamu sebagai sekertarisnya, karena dia sudah miliki sekertaris."
Senyum di wajah Gea seketika meredup, Ayah Ciko memperhatikan hal itu, namun mau bagaimana lagi, ini adalah keputusan sang putra.
Ibu Erasa mengusap lengan Gea. "Sudah tidak apa-apa? kan kamu masih bisa bekerja menempati posisi yang lain sayang."
Gea menoleh ke arah Ibu Erasa. "Gea maunya jadi sekertaris kak Rex, Tante. Kan Gea masih baru mau kerja, jadi mudah untuk bertanya sama kak Rex jika Gea yang menjadi sekertarisnya," ucap Gea dengan suara memelas bahkan wajahnya dibuat sesedih mungkin.
Ibu Erasa memeluk Gea. "Dengar sayang, jika nanti dalam bekerja kamu merasa kesulitan, tidak harus menjadi sekertaris Rex, kamu juga bisa bertanya dengannya dan juga bisa langsung bertanya dengan Paman kamu."
"Benar Gea tidak usah khawatir," timpal Ayah Ciko yang ikut membenarkan ucapan istrinya.
Gea tidak ada pilihan selain menerima saran mereka berdua, dengan lesu Gea menganggukkan kepalanya.
"Jika begitu Gea masuk ke kamar ya Tante, Paman."
Setelah bicara Gea langsung berjalan pergi, Ibu Erasa melihat Gea berjalan tanpa semangat, lalu menoleh ke arah Ayah Ciko.
"Ayah, kasih tahu Ibu apa alasan Rex tidak mau menjadikan Gea sebagai sekertarisnya?" tanya Ibu Erasa penuh tuntut.
"Tauk lah Bu, tanya saja sendiri sama putramu itu." Ayah Ciko terkekeh, sengaja tidak mau memberi tahu Ibu Erasa.
"His Ayah menyebalkan." Ibu Erasa bersungut kesal seraya bangkit dari duduknya berjalan menuju kamar.
__ADS_1
Ayah Ciko menyusul Ibu Erasa yang masuk ke dalam kamar, namun saat mau membuka pintu, ternyata dikunci dari dalam.
Tok. Tok.
"Ibu ... Ibu!"
Ayah Ciko mengetuk pintu sembari memanggil istrinya, Ibu Erasa yang duduk bersandar di ranjang, tidak pedulikan Ayah Ciko yang terus mengetuk pintu.
Hukuman buat orang yang main rahasia-rahasiaan, batin kesal Ibu Erasa, yang kini asyik dengan membaca majalah di tangannya.
Berkali-kali mengetuk pintu tapi tetap tidak di buka oleh istrinya, ahirnya Ayah Ciko milih kembali duduk di kursi ruang keluarga sembari nonton TV, untungnya sekali menyalakan TV channel nya pas yaitu permainan sepak bola, yang tadinya gelisah tidak dibukakan pintu kamar, sekarang tidak jadi galau, lupa seketika, fokus dengan bola.
Satu jam berlalu, Ayah Ciko masih menonton bola di TV, Rosi pulang dari tempat syuting, mau menuju kamar, saat melewati ruang keluarga melihat sang Ayah sedang tertawa sendiri sembari nonton bola.
"Gol ...."
Teriak Ayah Ciko dengan semangat, tidak peduli hanya nonton sendirian yang penting happy.
Rosi yang melihat tingkah Ayahnya hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Ayah tumben sendiri, dimana ibu?" Rosi duduk di sebelah Ayah Ciko.
"Ih Ayah sudah tua-tua masih saja berantem sama ibu," ucap Rosi sembari berdiri berjalan meninggalkan Ayah Ciko yang masih asyik nonton bola.
Sampainya Rosi menapaki anak tangga, kembali mendengar Ayah Ciko berteriak gol, Rosi menggelengkan kepala sembari terus berjalan menuju kamarnya berada.
Di dalam salah satu kamar, sang pemilik wanita ternyata sedang menangis, hatinya begitu sedih, hal yang membuat dirinya bahagia dan semangat untuk kembali ke Indonesia seketika sirna, saat keinginannya bisa bersama pria yang diam-diam adalah pria pujaan hatinya, tidak terwujud.
Tujuannya kembali ke Indonesia untuk menjadi sekertaris Rex, sebagai awal mula dirinya akan mendekati pria itu, tapi semua gagal karena Rex menolak.
"Kak Rex, aku sudah lama mencintaimu, dahulu mungkin aku masih kecil, tapi sekarang aku kembali sudah dewasa kak."
Hiks hiks.
Gea menangis sampai bantalnya basah, karena saat ini posisinya tengkurap di atas ranjang, dengan bantal di bawah kepalanya.
Gea terpaksa harus menerima pekerjaan dengan ditempatkan di jabatan lain, semua itu Gea lakukan hanya ingin bisa bertemu Rex, dan harapannya dengan pelan-pelan bisa akan mengetuk hati Rex.
__ADS_1
"Aku tidak peduli kak Rex sudah miliki istri, aku hanya peduli dengan perasaanku yang sudah lama untuk kak Rex, dan aku akan perjuangkan karena aku tidak mau kepulangan aku ke Indonesia sia-sia." Gea bicara penuh mantap sembari menyeka air matanya.
Gea mengubah posisinya menjadi telentang, melihat langit-langit atap kamar, lelah dengan pikirannya sendiri, ahirnya Gea tertidur entah dipukul berapa.
Keesokan harinya.
Setelah selesai sarapan pagi, Bunga dan Rex pergi ke rumah sakit, rencana hari ini mau mengecek kesehatan Bunga dan buah hati.
Jalan pagi hari sangat macet, harusnya tiga puluh menit sudah sampai, kini empat puluh menit baru tiba di rumah sakit.
Rex mengandeng tangan Bunga untuk masuk ke dalam rumah sakit bersama-sama.
Setelah berada di dalam rumah sakit, Rex langsung bertemu dokter obgyn, mengajak Bunga masuk ke ruangan pemeriksaan.
"Nyonya Bunga apa kabar?" tanya ramah Dokter Nisa.
"Baik Dokter," jawab Bunga tersenyum.
"Kita periksa dulu, ya?"
Bunga mulai berbaring di atas ranjang pasien, Dokter Nisa mulai mengecek dari tensi darah, dan kesehatan Bunga, serta kehamilan. Semua hasilnya bagus.
"Sekarang kita tengokin adek ya?"
Bunga dan Rex sudah tidak sabar ingin melihat wajah buah hati di layar USG, dokter mulai menggerakkan alat di perut Bunga, seketika sang buah hati terekam di layar dan bisa dilihat bersama-sama.
Menggeser alat lagi, memperlihatkan tangan serta kaki, babynya sedang nyesep jari, Rex dan Bunga tersenyum melihat itu semua.
Menggeser alat lagi, melihat semua organ tubuh normal, penjelasan Dokter Nisa bahwa pertumbuhan bayi sangat baik.
"Dokter jenis kelaminnya, perempuan atau laki-laki ya, Dok?" Bukan Bunga yang bertanya, melainkan Rex, pria itu lebih antusias ingin segera mengetahui jenis kelamin anaknya.
"Oh, iya kelupaan belum mengecek kelaminnya, mari kita lihat ya." Dokter Nisa terkekeh, sembari menggeser-geser alat di perut Bunga, sampai menunjukan gambar jenis kelaminnya.
"Alhamdulillah adeknya perempuan."
Rex dan Bunga ber genggaman tangan, sangat bahagia mendengar kabar ini.
__ADS_1
"Anak perempuan akan menjadi kesayangan Daddy," ucap Dokter Nisa lagi, kini pemeriksaan untuk hari ini sudah selesai sampai di sini, akan ada pemeriksaan lagi untuk bulan depan.
Rex dan Bunga keluar dari rumah sakit sama-sama tersenyum bahagia, Rex merangkul pundak Bunga, sedangkan Bunga memeluk foto hasil USG bayinya, mereka berjalan menuju parkiran mobil.