BOS Sombong Suamiku

BOS Sombong Suamiku
BAB 57. Berubah galak.


__ADS_3

Bunga ahirnya membungkus tubuhnya dengan selimut, tidur meringkuk.


Bunga jangan berpikir negatif, percayalah bahwa Kak Rex di sana tidak mengkhianatimu, semua akan baik-baik saja, batin Bunga yang mensupport diri sendiri.


Meski malam ini Bunga susah tidur tapi berusaha untuk tidur hingga entah di pukul berapa, Bunga baru terlelap.


Pagi tiba.


Saat Bunga membuka mata dan mendapati sebelahnya tidur tidak ada Rex, rasa sepi itu seketika menyerang. Bunga mengulurkan tangannya mengusap tempat sebelahnya, yang biasa Rex tempati, tidak terasa air matanya menetes. Rindu? Itulah yang saat ini Bunga rasakan.


Apa lagi pagi yang terasa hening, waktu masih menunjuk pukul lima subuh, dalam keadaan seperti ini ketika merasa sedih akan terasa sangat sedih, tanpa diminta air mata jatuh bercucuran, seperti sedang mendengarkan sebuah renungan.


Bunga menangis terisak di sana sampai puas sampai rasa sesaknya mereda.


Setelah pukul setengah delapan pagi, Bunga keluar kamar matanya terlihat sembap, tapi pelayan yang melihatnya tidak menegur karena apa, hanya membatin dalam hati bahwa Nyonya seperti sehabis sedang menangis.


Saat Bunga mau ke dapur hampir tabrakan dengan Ayu yang berjalan cepat.


"Ayu! Hati-hati," ucap salah satu pelayan yang melihat kejadian itu.


"Iya iya!" jawab Ayu ketus.


"Aku berangkat kuliah dulu ya, hari ini aku harus masuk pagi," ucap Ayu berpamitan dengan Bunga, padahal anak itu tidak pernah melakukan hal tersebut meski selma ini sudah lama tinggal bersama.


Tapi ada apa dengan hari ini? Apa kepala anak itu sedang kepentok tembok? begitulah pernyataan dalam benak Bunga dalam diamnya, yang terus menatap Ayu sampai anak itu melenggang pergi.


Bunga menghela nafas panjang yang kemudian mau melanjutkan jalannya ke dapur, namun belum sampai melangkah Bunga kembali mengurungkan niatnya saat tiba-tiba Ayu kembali berjalan mendekatinya.


Bunga tidak mengerti saat Ayu menengadahkan tangannya di depannya, Bunga menatap dengan kening berkerut. Sampai ahirnya Ayu bersuara.


"Minta uang jajan dong, kamu kan duitnya banyak," ucap Ayu disertai senyum meringis.


Bibi Eka yang melihat tingkah Ayu meminta uang jajan sama Bunga langsung mendekati anaknya itu dan memukul lengan Ayu.


"Ayu! Keteraluan sekali kamu minta uang jajan sama Bunga! Apa uang yang Ibu beri masih kurang," Marah Bibi Eka sembari bertolak pinggang.

__ADS_1


Sementara itu Bunga mengambil uang di dalam kamar.


"Bu, sudahlah. Bunga saja tidak keberatan," jawab Ayu yang merasa tidak masalah, benar-benar tidak mengerti bahwa saat ini ibunya sedang malu.


"Ayu-," ucapan Bibi Eka terhenti saat Bunga sudah kembali.


"Ini, cukup kan?" Bunga memberikan dua ratus ribu lembar uang ke Ayu.


Ayu menerima dengan suka cita bahkan senyumnya langsung mengembang. "Lebih dari cukup, thanks you." Langsung berlari cepat sebelum mendengar ocehan ibunya untuk mengembalikan uangnya ke Bunga lagi.


"Ayu ..." teriak Bibi Eka dengan geram, anak itu benar-benar malu-maluin batinnya.


Sementara Bunga langsung berjalan saja melewati Bibi Eka, tidak mau ikut campur urusan Mereka.


Bunga mengambil air minum di dalam lemari es kemudian membawanya duduk di kursi ruang makan.


Bunga mengabiskan minuman itu dengan wajah terlihat sendu, entah apa yang sedang Bunga pikirkan, Bibi Eka yang melihatnya jadi kasihan.


Saat pelayan lain mau mengantar sarapan untuk Bunga, nampan itu Bibi Eka ambil alih, sekalian mengantar sarapan untuk Bunga, Bibi Eka ingin bicara.


Setelah sampai di samping Bunga, Bibi Eka segera meletakkan sarapan itu di meja tepat depan Bunga. Semangkuk sup ayam dan sepiring nasi. Ada buah juga segelas susu hamil.


"Bunga silahkan dimakan sarapannya," titah Bibi Eka setelah semua tersaji dengan rapi.


Bunga mengangguk dan mulai menyuap. Bibi Eka belum beranjak pergi masih berdiri sedikit di belakang Bunga.


Bunga yang merasa Bibi Eka masih berdiri di belakangnya, kemudian menoleh. "Apa ada yang ingin Bibi mau bicarakan?"


Bunga bertanya seperti itu bukan tanpa alasan, karena pelayan yang lain apa bila mau bicara dengan majikannya selalu melakukan hal seperti itu, tidak segera beranjak pergi.


Bibi Eka yang mendapat pertanyaan dari Bunga langsung berdehhem, kemudian mendekati Bunga yang masih kunyah-kunyah makanannya.


"Bunga, maaf apa bila Bibi ikut campur, hanya saja Bibi tidak tega melihat kamu yang bersedih seperti itu. Jika kamu mau Bibi ingin mengajak kamu membuat kue kering, saat kamu masih kecil dulu kan sangat menyukai kue kering buatan Bibi."


Bunga tersenyum kecil mendengar ucapan Bibi Eka yang panjang lebar, tapi setelah dipikir-pikir ada benarnya juga, bahwa saat ini Bunga butuh sesuatu yang bisa untuk mengalihkan rasa sedihnya.

__ADS_1


Ahirnya Bunga menyetujui usul Bibi Eka, setelah sarapan selesai Bunga dan Bibi Eka langsung membuat kue kering.


Semua bahan untuk membuat kue kering sudah disiapkan, karena memang niat hati Bibi Eka mau membuat kue kering sendirian, tapi saat melihat Bunga sedih, Bibi Eka mutusin mengajak Bunga untuk menghibur wanita itu.


Kini mereka mulai membuat adonan kue.


"Bunga kamu masih ingat tidak waktu Bibi membuat kue kering rasa coklat sebanyak satu toples kamu umpetin di almari bajumu, sampai Ayu nangis."


Bunga tertawa mendengar cerita masa kecilnya dari Bibi Eka. Dan semua itu memang benar.


"Maaf ya apa bila dulu Bibi galak sama kamu," ucapnya lagi dengan sendu.


"Sudah masala lalu Bibi, maka lupa kan lah." Bunga tersenyum.


Hah Bunga kamu baik sekali, batin Bibi Eka.


Ahirnya di hari ini Bunga terhibur dengan acara membuat kue kering bersama Bibi Eka. Setelah tiba malam hari Bunga duduk bersantai di atas ranjang sembari membaca komik.


Pukul delapan malam Rex pulang. Bibirnya langsung menarik garis lengkung setelah membuka pintu kamar dan matanya melihat sosok yang dirindukan.


Saat pintu kamar terbuka Bunga mendengar bahkan saat yang membuka pintu berjalan masuk, Bunga juga tahu tapi malas menyapa.


Setelah Rex berdiri di samping ranjang dan dari jarak sedekat ini Rex bisa melihat wajah Bunga yang terlihat masam.


"Sayang." Rex mau menyentuh lengan Bunga, namun dengan kasar Bunga menepisnya.


"Jangan pegang-pegang aku," bicara ketus, memalingkan wajah membunga muka.


"Oh Tuhan, kenapa dia berubah galak seperti ini," gumam Rex lirih begitu terkejut, tapi Bunga masih mampu mendengar, dan langsung melayangkan kata-kata pedas lagi.


"Kenapa! tidak suka! Aku punya suami seperti tidak punya suami!" bersungut kesal membuang muka lagi.


Oh Tuhan, sepertinya dia butuh dipeluk, batin Rex, tidak mau Bunga membalas ucapannya jadi lebih baik bicara dalam batin.


Dengan gerakan cepat Rex langsung memeluk Bunga, seketika Bunga memberontak namun malah membuat Rex tertawa, dan lama-kelamaan mereka berdua jadi tertawa bersama, tapi Bunga tertawa campur nangis. Rex menciumi air mata itu.

__ADS_1


__ADS_2