
"Rex! minum Rex, minum?" Ibu Erasa menyerahkan gelas berisi air putih untuk Rex, pria itu langsung meminumnya sampai habis.
"Pelan-pelan Rex kalo makan," ucap Ayah Ciko tersenyum kecil melirik Rex, sembari melanjutkan lagi sarapannya.
"Terkejut boleh, tapi tidak usah sampai terbatuk-batuk," imbuhnya lagi, Rex hanya diam tidak mau menjawab, mengusap bibirnya menggunakan tisu, menatap ayahnya kesal.
Dering ponsel milik Rex terdengar, bersaman itu ponsel Ayah Ciko juga berdering. Mereka saling tatap pasalnya yang menelpon manajer yang ada di Bogor.
"Maaf Tuan pabrik yang ada di Bogor kebakaran."
Apa!
Ucap mereka semua yang duduk di kursi ruang makan, setelah mendengar kalimat yang manager sampaikan melalui sambungan telepon. Karena saat ini suaranya di lossepker.
"Bagaimana bisa terbakar!" bentak Rex saat bertanya ucapan manejer di sambungan telepon, Ibu Erasa yang di sampingnya mengusap lengan Rex untuk lebih tenang.
"Belum diketahui asal mulanya datangnya api, Tuan." Terdengar jelas nada suara manajer di sambungan telepon begitu gugup, bahkan orangnya saat ini tengah ketakutan tangannya gemetar memegang hp.
Sialan! umpat Rex, amarahnya semakin membuncah saat manajer ditanya masalahnya apa? tidak memberikan jawaban yang pasti.
"Aku harus ke Bogor sekarang, Ibu Ayah," ucap Rex setelah sambungan telepon ia matikan.
"Perlu Ayah temani Rex?"
"Tidak perlu Ayah, Rex pergi ke sana lebih dulu, bila Rex tidak bisa menangani masalah ini nanti, Rex akan meminta Ayah datang," terangnya yang kemudian langsung bangkit dari duduknya berjalan menuju kamarnya berada.
Bunga yang sudah menyelesaikan sarapannya, menyusul Rex ke dalam kamar, mau membantu pria itu untuk bersiap.
"Biar aku bantu," ucap Bunga setelah berdiri di samping Rex, pria itu terlihat bingung saat mau memasukkan barang-barangnya yang harus dibawa.
"Tidak usah terlalu banyak pakaiannya, jam tangan juga jangan lupa, dua saja." Rex bicara setelah koper di tangannya beralih Bunga yang pegang, sudah siap mau memasukkan pakaian.
Sesuai permintaan pria itu, Bunga tidak banyak membawakan baju untuk Rex, semua lengkap dari pakaian kerja sampai pakaian santai untuk di rumah, jam tangan juga sudah Bunga masukkan, kini koper sudah siap untuk dibawa.
__ADS_1
Bunga mau menarik koper milik Rex untuk dibawa ke bawah, namun langkahnya terhenti saat mendengar sebuah suara.
"Biar aku saja yang membawa," ucapnya seraya mengambil alih koper yang tadi berada di tangan Bunga.
Bunga hanya mampu tersenyum kecil, yang kemudian ikut berjalan di belakang Rex, sampai di halaman rumah, mobil sudah disiapkan.
Di sana sudah ada Ibu Erasa dan Ayah Ciko, menunggu Rex keluar dari dalam rumah.
Koper yang Rex bawa diambil alih oleh sopir untuk dimasukkan bagasi mobil, kali ini Rex pergi bersama sopir, karena perjalanan jauh, Ayah Ciko tidak ingin Rex kelelahan menyetir.
Bersalaman dan meminta doa pada kedua orang tuanya sebelum ahirnya Rex pergi bersama sang sopir, yang kini mobilnya mulai keluar dari gerbang.
Lagi-lagi Bunga hanya mampu tersenyum getir, saat Rex tidak menganggapnya ada, pria itu juga tidak berpamitan dengannya.
Semoga selamat sampai tujuan, dan kumpul lagi bersama kembali, doa Bunga dalam hati.
Setelah kepergian Rex, disusul Ayah Ciko yang juga mau berangkat ke kantor, Bunga dan Ibu Erasa melambaikan tangan ke arah Ayah Ciko sebelum kaca mobil tertutup rapat.
Sekarang semua sudah berangkat kerja, bahkan Bunga juga harus berangkat kerja, hari ini diantar Rosi kembali, karena sekalian Rosi mau berangkat kerja, yang kebetulan tempat kerjanya kali ini melewati jalan yang sama dengan ke arah perusahaan Wijaya Company.
Seperti biasa tepat pukul delapan pagi, pekerjaan Bunga sudah kelar semua, bila sudah begitu Bunga akan membereskan di bagian lantai bawah tempat pantry.
Bunga yang baru saja duduk, sehabis menyelesaikan pekerjaannya, tiba-tiba senior datang.
Bunga beserta dua teman yang lain, harus membuat teh hangat yang akan diantar ke lantai enam belas tempat meeting berada.
Saat sudah berada di dalam lift lantai empat belas, tiba-tiba Bunga merasakan mual yang hebat, namun sebisa mungkin Bunga tahan, karena tidak mungkin muntah di dalam lift.
"Bunga kamu kenapa?" tanya salah satu temannya.
Mmm, Bunga tidak berani membuka mulutnya, dan hanya mampu menggelengkan kepala.
Sampai pintu lift terbuka tepat di lantai enam belas berada, Bunga yang sudah tidak kuat menahan mual, meletakkan nampan yang ia bawa di lantai, kemudian langsung menuju ruang kamar mandi, yang untung saja ada ruang kamar mandi dibuat khusus di luar.
__ADS_1
Sementara dua temannya tadi membawa masuk nampan berisikan teh hangat ke ruang meeting, membagikan di meja setiap di depan para karyawan, membawakan masuk ke dalam juga nampan yang tadi Bunga bawa.
Bunga langsung bernafas lega, setelah selesai memuntahkan isi perutnya, namun yang keluar hanya cairan, meski jarang sekali mual-mual, tapi Bunga juga merasakan karena efek hamil.
Dua temannya yang tadi mengetuk pintu kamar mandi, Bunga yang sudah merasa lebih baik, langsung membuka pintu, seketika wajah pucat Bunga ditangkap dua temannya itu.
"Bunga kamu sakit?"
Bunga menggeleng.
"Lalu?"
"Sudah kita kembali saja ke bawah," ucap teman yang satunya lagi, yang tentu menyelamatkan Bunga dari pertanyaan temannya yang tadi.
Mereka berjalan bersama, masuk ke dalam lift dari lantai enam belas menuju lobby dan keluar dari sana.
Ternyata keadaan Bunga hari ini kurang fit, selain tadi Bunga merasa mual-mual, kini Bunga merasa kepalanya pusing, ahirnya Bunga dikerokin sama temennya, seketika garis-garis merah di punggung Bunga bagai lukisan indah.
"Kok kamu seperti orang hamil saja sih! mual-mual, masuk angin dan wajah pucat," celetuk Senior yang baru tiba dan berdiri di samping Bunga.
Deg!
Bunga terkejut mendengar ucapan senior, yang memang benar adanya, namun Bunga masih merahasiakan kehamilannya itu, Bunga belum siap orang lain tahu bila dirinya tengah hamil.
Apa lagi mereka mengira bahwa Bunga belum menikah, Bunga masih mau merahasiakan kehamilannya sampai dirinya siap kehamilannya diketahui banyak orang.
Karena semakin lama perutnya akan semakin besar, tanpa Bunga bercerita tentu kehamilannya akan terlihat.
Dan tanpa Bunga sadari, gelagat aneh serta wajah gugup Bunga, ditangkap mata senior, wanita itu semakin bertanya-tanya dalam hati.
Tentang dugaan-dugaannya yang benar, bila benar maka akan mudah untuk mengeluarkan Bunga dari perusahaan ini pikirnya, diam-diam membenci Bunga.
"Kalo sampai elo hamil, siap-siap saja." Senior sengaja bicara seperti itu dan menatap wajah Bunga, karena ingin melihat langsung reaksi wajah Bunga.
__ADS_1
Bersikaplah tenang Bunga, batin Bunga seraya membalas tatapan Senior.