
Malam semakin larut, Bunga hanya berdiam diri duduk di atas ranjang dengan bersandar.
Sudah berusaha memejamkan matanya namun tetap saja Bunga terus terjaga. Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini Bunga sedang kepikiran ucapan Ibu Erasa.
Tentang Gea yang bekerja di perusahaan Ayah Ciko, membuat Bunga jadi kepikiran, padahal sudah berusaha berpikir positif, tapi tetap saja perasaan seorang istri, Bunga merasa was-was.
Tapi Bunga juga tidak tahu mau berbuat apa? Bunga hanya mampu menyimpannya dalam hati, tidak mungkin berani berkomentar untuk melarang Gea supaya tidak bekerja di sana.
Apa lagi di hari pertama Gea bekerja, Rex sampai lembur sekarang belum pulang, jadi banyak pertanyaan-pertanyaan di pikiran Bunga.
Apa kah sekarang Rex sedang sendiri? atau sedang bersama Gea? atau mereka sedang apa? Aaaa! Bunga dibuat pusing dan lelah dengan pikiran-pikiran buruknya.
Bunga kembali mengecek ponselnya, melihat pesan yang ia kirim ke nomor Rex, masih centang satu, itu artinya hp Rex tidak aktif.
Bunga menghela nafas panjang, tangannya yang memegang hp terkulai lemas di atas ranjang, Bunga bersandar melihat atap rumah.
Bunga menangis, air matanya lolos begitu saja, apa kah ini hal yang wajar dirasakan seorang istri? atau kah ini berlebihan? Bunga tidak tahu, dirinya hanya wanita biasa, takut itu yang dirasakan sekarang, tapi tidak berani berbuat apa-apa.
Ingin lebih tenang tapi tetap kepikiran, Bunga menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan.
Ahirnya Bunga memaksa diri untuk tidur, membawa tubuhnya berbaring di atas ranjang, membenahi selimut yang menutup tubuhnya, Bunga berusaha memejamkan matanya.
Bunga tidak langsung tertidur, masih cukup lama dalam keadaan terjaga, namun matanya tetap ia pejamkan, dan entah di jam berapa Bunga baru masuk ke alam mimpi.
Ketika pagi datang, suara-suara burung berkicau di luar sana, Bunga mulai membuka matanya.
Namun saat matanya terbuka, bukan ruangan kamarnya yang Bunga lihat, tapi sebuah dada yang tidak pakai baju.
Mata Bunga mendelik, ingin menjauh tapi pinggangnya ditarik lagi oleh pria yang saat ini tidur sambil memeluknya.
Bunga masih terkejut campur bingung, kesadarannya sehabis bangun tidur belum terkumpul sepenuhnya.
Bunga mulai mengingat bahwa tadi malam ia tertidur saat menunggu Rex pulang, ingat suaminya adalah Rex, ingat tidak ada pria yang bisa masuk ke dalam kamarnya selain Rex.
Bunga mulai mendongakkan kepalanya melihat wajah orang yang saat tidur bersamanya.
Lega, itulah yang Bunga rasakan saat ini, setelah matanya melihat wajah pria yang dicintainya yang ternyata tengah memeluknya saat ini.
__ADS_1
Jam berapa semalam dia pulang? mengapa aku tidak tahu, bahkan aku tidur nyaman di dadanya, batin Bunga senyum-senyum sendiri.
"Kamu sudah bangun?"
Suara serak khas bangun tidur Bunga dengar, Bunga tersenyum. "Iya, maaf bila aku mengusik Kak Rex tidur."
Mata Rex masih terpejam, masih enggan mau membuka mata, pasalnya ia baru saja tidur dua jam yang lalu, sampai rumah setengah tiga dini hari, jadi wajar bila matanya masih terasa lengket.
Emm.
Hanya kalimat itu yang kembali Bunga dengar, Bunga tahu mungkin saat ini Rex masih benar-benar mengantuk, Bunga diam tetap membiarkan Rex memeluknya.
Perasaan gundah yang semalam Bunga rasakan pagi ini sirna, Bunga bahagia saat bangun tidur mendapati dirinya sedang di peluk suaminya, hal yang tidak Bunga bayangkan.
Rex yang saat ini tidur dengan telanjang dada, Bunga jadi gemas melihatnya, apa lagi aroma tubuh yang wangi ini, Bunga merasa begitu nyaman.
Entah mendapat dorongan dari mana, Bunga mengecup-ngecup dada Rex, sentuhan bibir lembut Bunga di dada Rex, membuat sang pemilik tubuh merasakan gelenyar aneh.
Namun Bunga terus melakukan aksinya itu tanpa sadar bahwa perbuatannya itu membangunkan sesuatu di bawah sana.
Bersamaan Bunga mengecup dan sedikit menggigit dada Rex, tangan Rex meremat pantat Bunga.
Bunga ingin menjauhkan sedikit tubuhnya namun Rex dengan cepat menariknya kembali sampai Bunga membentur dadanya.
"Lanjutkan kecupannya."
Wajah Bunga yang mendongak menatap Rex sampai memerah pipinya mendengar ucapan Rex barusan, padahal satu menit yang lalu dirinya melakukan tanpa diminta.
Rex membuka mata, pandangan mereka langsung bertemu. "Kenapa diam, ayo."
"Em aku-."
Mmm.
Bibir Bunga di bungkam dengan bibir Rex membuat Bunga tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
Rex memulainya dengan lembut, ini bukan yang pertama bagi mereka, tapi ini yang kedua kalinya mereka berciuman sedalam ini setelah menikah.
__ADS_1
Lidah keduanya saling membelit dan menyesap di dalam sana, mata keduanya terpejam menikmati.
Tubuh keduanya saling menempel, namun masih terhalang baju, tangan Rex tidak diam saja, merayap ke punggung Bunga turun merayap sampai bawah.
Ciuman mereka terhenti saat merasakan oksigen sama-sama habis, Bunga dan Rex sama-sama mengambil nafas, dan kemudian memulainya ciuman lagi.
Selimut yang tadi mereka gunakan untuk menyelimuti tubuh kini sudah tersibak di pinggir ranjang, satu kaki Rex menindih paha Bunga, tanpa melepas ciuman, tangan Rex melepas kancing kemeja tidur bunga satu per satu sampai terlepas semua.
Tangan Rex mulai menyusup ke belakang punggung Bunga, melepaskan pengait di sana, tanpa melihat matanya masih terpejam merasakan ciuman.
Bunga sudah merasakan tubuhnya terbakar hanya mendapat sentuhan-sentuhan jemari Rex yang merayap di tubuhnya.
Di menit selanjutnya, Rex melepas semua pakaian Bunga, dan juga celana yang ia pakai.
Bunga saat ini merasakan malu yang luar biasa, apa lagi di tatap intens seperti itu oleh Rex, pria itu masih berdiri di dekat ranjang, matanya melihat tubuh Bunga yang sudah polos berbaring di atas ranjang.
Bunga melihat sesuatu senjata yang sudah tegap sempurna, aaaa! Bunga menjerit dalam hati, ngilu bayangin nya.
Rex membungkuk, tangannya menyentuh wajah Bunga, membelai wajah Bunga. "Apa aku boleh, kamu sedang hamil aku takut menyakiti kamu."
Rex bicara lembut, Bunga malah meneteskan air mata saat mendengarnya, Bunga membalas menggenggam tangan Rex yang menyentuh wajahnya.
"Aku tidak apa-apa, lakukanlah dengan lembut dan pelan." Bunga tersenyum.
Rex mencium dalam kening Bunga, selanjutnya yang mereka lakukan adalah mengejar kepuasan yang dirasakan keduanya.
Rex benar-benar melakukannya dengan lembut dan pelan-pelan, tidak ingin sampai menyakiti Bunga dan anaknya.
Ahk ahk ahk.
Desah Bunga saat merasakan sesuatu yang dimainkan keluar masuk di bawah sana. Sudah lama keduanya tidak melakukan permainan ini, membuat keduanya sama rindu.
Jika tidak mengingat Bunga sedang hamil, Rex rasanya gemas ingin membuat ritmenya cepat, apa lagi saat mendengar suara ******* Bunga, Rex ingin melakukannya.
Dan di detik berikutnya Rex mempercepat permainannya, ahk ahk ahk! desah Bunga semakin kuat, bersahutan dengan suara desah yang hebat Rex terus melanjutkan permainannya sampai titik puncak.
Ahk ....
__ADS_1
Rex berguling di samping Bunga, memeluk wanitanya.
"Terimakasih, aku mencintaimu" bisik Rex, namun Bunga hanya samar-samar mendengarnya.