
Setelah Rex dan Bunga selesai makan, tiba-tiba ada telpon dari Ibu Erasa yang mengatakan bahwa akan datang ke apartemen.
Bunga dan Rex segera kembali ke apartemennya untuk bersiap menunggu kedatangan Ibu Erasa.
"Apa kamu lelah?" tanya Rex pada Bunga saat ini mereka sudah berada di dalam lift.
"Tidak, aku happy," jawab Bunga dengan antusias.
"Lain waktu, nanti kita jalan-jalan kamu mau?"
"Iya aku mau," jawab Bunga cepat.
Rex mengacak rambut Bunga dengan gemas.
Kemudian pintu lift terbuka, Rex dan Bunga keluar bersama dari sana menuju kamar apartemennya berada.
Bunga masuk ke dalam lebih dulu setelah pintu terbuka, Rex kembali menutupnya setelah masuk ke dalam.
Bunga mandi lagi, karena tadi belum mandi setelah selesai berenang. Rex menunggu diluar karena harus gantian, tiba-tiba mendengar suara bel apartemennya bunyi.
Rex keluar menuju pintu apartemen namun baru sampai sana sudah dibukakan oleh pelayan, ternyata Ibu Erasa yang datang.
"Rex dimana Bunga?" tanya Ibu Erasa sembari berjalan masuk tangannya membawa barang-barang.
"Ibu bawa apa?" Rex bukannya menjawab malah balik tanya.
Ibu Erasa meletakkannya di atas meja barang-barang yang ia bawa, kemudian Ibu Erasa duduk. "Ini perlengkapan untuk calon cucu Ibu."
Rex menghela nafas panjang sembari duduk di sebelah ibunya.
"Ayo kita susun," ajak Ibu Erasa namun dengan segera Rex berbisik.
Entah apa yang mereka bicarakan, Ibu Erasa ahirnya mengalah.
Tidak lama kemudian Bunga datang, sudah berganti baju bersih, rambutnya masih sedikit nampak basah, Bunga duduk di sebelah Ibu Erasa.
Sekarang bergantian Rex mandi.
__ADS_1
Ibu Erasa menayangkan keadaan Bunga hari ini, dari selera Bunga makan juga waktu istirahat Bunga, Ibu Erasa tanyakan.
Bunga menjawab bahwa semua baik-baik saja, tidak ada yang merasa terganggu. Ibu Erasa senang mendengar jawaban Bunga, itu artinya cucu dan menantunya sehat, dan harapannya selalu sehat sampai tiba lahiran nanti.
Bunga menanyakan Ayah Ciko, namun kata Ibu Erasa Ayah Ciko lagi sibuk kerja hingga tidak bisa ikut datang.
Ibu Erasa juga bercerita sebenarnya Ayah Ciko ingin menemui Bunga tapi karena pekerjaan banyak belum ada waktu untuk main.
Bunga mengerti bahwa Ayah Ciko sedang sibuk, menjadi pemimpin utama di perusahaan tentu memiliki pekerjaan banyak dan waktu padat.
Bunga yang akan berniat datang ke rumah Ibu Erasa, karena Bunga yang tidak sibuk, kasihan Ayah Ciko yang sibuk tapi ingin mau menjenguk.
Ayah Ciko terakhir kemari memang sudah lama, terakhir saat Bunga tujuh bulanan waktu itu.
Bunga menanyakan kesehatan Ayah Ciko, yang dijawab sehat oleh Ibu Erasa, Bunga jadi lega mendengarnya.
Terkadang yang dikhawatirkan itu sudah kerja sibuk lalu tiba-tiba sakit, tapi bersyukur apa bila Ayah Ciko sehat.
Niat hati tadi Ibu Erasa datang kesini mau menyusun kamar untuk calon baby, tapi dilarang oleh Rex.
Ahirnya Ibu Erasa mengajak Bunga untuk memasak, Bunga mau-mau saja karena sudah lama tidak masak bersama Ibu Erasa, semenjak tidak lagi tinggal bersama, sudah tidak pernah lagi masak bersama, Bunga jadi rindu.
Bunga menyetujui Ibu Erasa yang mau membuat masakan rawon, pelayan mengambilkan bumbu rempah-rempahnya.
Setiap kali melihat masakan rawon, Bunga selalu teringat ayahnya yang sudah meninggal, meski dahulu Bunga masih kecil saat ditinggal ayahnya, sekitar usia lima tahun tapi Bunga masih ingat masakan kesukaan ayahnya.
Karena dahulu ayahnya sering mengatakan apa bila sangat menyukai masakan rawon. Tidak terasa air mata Bunga menetes dan Bunga segera menghapusnya sebelum dilihat Ibu Erasa.
Bunga membantu memotong daging untuk mengalihkan rasa sedihnya. pelayan memblender bumbu rempah-rempahnya.
Setelah daging selesai di potong-potong kecil kemudian dimasukan ke dalam alat presto. Pengaturan waktu selama tiga puluh menit, sembari menunggu dagingnya empuk, mengerjakan yang lainnya.
Selain masak rawon juga mau membuat bakwan udang, salah satu lauk kesukaan Rex, Bunga belum pernah membuatnya, Ibu Erasa memberitahu resep yang enak untuk membuat bakwan udang.
Setelah bumbu di gerus kemudian di campur air dicampur tepung diaduk hingga merata, setelah bakwan udang siap digoreng, Bunga yang akan menggorengnya.
Bunga mulai menggoreng bakwan udang, setelah sudah ada yang matang Bunga mencicipinya yang ternyata rasanya sangat enak.
__ADS_1
Sementara itu daging sapi yang tadi sudah empuk, kemudian segera di masak oleh Ibu Erasa.
Bunga memperhatikan cara Ibu Erasa memasak, Bunga mengakui bahwa masakan Ibu Erasa memang lezat rasanya.
Setelah satu jam kemudian, semua hasil masakan sudah tersaji di atas meja makan, sudah siap saatnya makan siang bersama.
Rex sudah dipanggil Bunga untuk makan bersama, kini sudah duduk di kursi, namun makan belum dimulai, karena menunggu Rosi yang sebentar lagi mau datang.
Dan benar saja lima menit kemudian Rosi telah sampai, setelah pintu dibukakan Rosi langsung duduk berkumpul bersama mereka.
Melihat masakan rawon juga ada bakwan udang dan ada sayuran hijau lainnya, Rosi jadi semangat mau makan.
Karena makanan kesukaan Rosi dan Rex hampir sama.
Setelah makanan siap di dalam piring mereka semua, setelah membaca doa, bersama-sama mereka makan.
Selama makan berlangsung deselangi canda tawa, saat Ibu Erasa melakukan video call Ayah Ciko yang sedang di perusahaan, langsung ngiler dipamerin makan bersama.
Sudah lama Ayah Ciko tidak makan bersama keluarganya yang utuh, karena Rex sudah tinggal sendiri tentu akan jarang untuk bisa makan bersama.
Karena Ayah Ciko mau lanjut kerja lagi, Ibu Erasa mematikan sambungan telepon dan lanjut menyelesaikan makannya.
Bibi Eka yang mengintip keluarga baru Bunga yang begitu menyayangi Bunga, merasa pantas dalam hatinya apa bila Bunga mendapatkan perlakukan baik dari mereka.
Dari Bunga kecil Bibi Eka sudah menyiksa Bunga, untung saja Bunga masih bisa berkembang tumbuh dengan baik.
"Maafkan perlakuan Bibi dulu terhadap kamu ya Bunga," ucap Bibi Eka lirih.
Bibi Eka dan dua pelayan lainnya mendekati meja makan untuk membereskan karena mereka sudah pada selesai makan.
Saat ini Bunga dan Rex juga Rosi dan Ibu Erasa duduk di ruang tengah. Mereka berempat sembari mengobrol.
Ngobrolin Rosi yang belum menikah masih sibuk dengan karirnya sebagai artis.
Ayu yang ikut membersihkan meja makan kesal hatinya saat mendengar suara tawa Bunga, Ayu hanya bisa iri tidak bisa melakukan apa pun.
Dengan wajah cemberut Ayu membantu pelayan yang lain, tanpa Ayu sadari sebenarnya Bibi Eka memperhatikan Ayu sedari tadi.
__ADS_1
Bibi Eka tahu bila Ayu sedang menahan kekesalan, Ayu dan Bunga memang tidak pernah akur sejak dulu. Bukan Bunga yang tidak mau akur, tapi Ayu.