BOSKU MANTANKU

BOSKU MANTANKU
MASA LALU TASYA II


__ADS_3

coba kamu pikirkan dulu besok mami tunggu keputusan kamu disini, kamu cantik pasti bisa dapetin uang banyak"


Tasya mengangguk tanpa menjawab ucapan Stevani, dia memutuskan untuk pulang dan merenungi perkataan mami Stevani padanya tadi.


"kak Tasya baru pulang?" *Rio berdiri dari kursi yang berada diteras kontrakan mereka, ketika melihat kakaknya baru saja sampai dirumah larut malam seperti ini.


",," Tasya mengangguk dan terus berjalan masuk kedalam dengan tubuh sempoyongan, tanpa menghiraukan adik laki-lakinya.


"kak Tasya tunggu dulu, CK" Rio berdecak melihat tingkah kakaknya.


Tasya menghentikan langkahnya ketika mendengar rio memanggilnya "kakak ngga papa kok dek kamu ngga usah khawatirin kakak, kamu mending tidur aja besok harus kan kamu sekolah"


"Kakak kenapa bisa mabuk kak? *Rio tidak menghiraukan ucapan kakaknya.


Bukannya menjawab, Tasya kembali berjalan menuju kamarnya, Tasya malas jika harus berdebat dengan adiknya, ini bukan waktu yang tepat untuk mereka berdebat, yang ingin Tasya lakukan saat ini hanyalah tidur dan melupakan masalah hidupnya sejenak.


Sedangkan Rio kembali berdecak, Rio sangat kesal dengan kakak perempuannya, bayangkan saja rio sudah menunggu Tasya sedari pukul 9 malam sedangkan Tasya baru saja pulang dijam 12 lewat 30 menit dan itupun dalam keadaan mabuk, bagaimana Rio tidak khawatir melihat kakak perempuannya seperti ini.


Rio akhirnya kembali ke kamarnya sendiri untuk beristirahat, karena jujur saja hari ini dia juga sangat lelah dengan kegiatan disekolahkan ditambah dia yang sekarang berjalan kaki dari dan menuju sekolahnya.


walaupun jaraknya tidak terlalu jauh, namun bagi Rio yang tidak pernah merasakan berjalan kaki ke sekolah pasti akan sangat berat.


Pagi harinya Rio berangkat ke sekolah seperti biasa sedangkan Tasya masih belum ada tanda-tanda akan bangun dri tidurnya.


waktu terus berjalan hingga pukul 10 pagi dan Tasya masih belum membuka matanya.


drt..drt..drt..


Suara getaran yang berasal dari ponsel Tasya, akhirnya bisa membuat pemiliknya terbangun dari tidurnya.


"CK, siapa si pagi-pagi udah ganggu aja" * Tasya berdecak namun tangannya terus bergerak mencari ponsel miliknya.


Setelah ponselnya sudah dia pegang, Tasya langsung memencet tombol berwarna hijau dan mengangkat teleponnya "hallo mami"


Ya, yang menelpon Tasya adalah mami Stevani pemilik klub yang tadi semalam Tasya datangi.


"hallo sayang?apa kamu masih pusing karena efek dari mabuk semalam?


"lumayan si mih, bentar lagi juga baikan, kebetulan Tasya punya obat buat ngilangin efek mabuk"


"Tasya gimana tawaran mamih?


"Tasya masih bingung mih, mungkin untuk saat ini Tasya belum bisa menerima tawaran mamih"


"iya ngga papa kok sayang, tapi inget kalau suatu saat kamu butuh uang, cari mamih ya"


"iya mih"


"yaudah mamih tutup teleponnya ya"

__ADS_1


Telepon ditutup, Tasya beranjak dari kasurnya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


selesai membersihkan dirinya, Tasya berganti baju lalu keluar dari kamar dan berjalan menuju meja makan, disana telihat ada sebungkus nasi uduk yang dibeli oleh Rio tadi pagi sebelum dirinya berangkat sekolah,


tasya duduk dikursi dan memakan sarapannya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang, disaat Tasya sedang menonton film dihp nya, telepon nya bergetar memperlihatkan Panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.


"hallo, dengan siapa ya"


"Hallo selamat siang, apa benar ini kakaknya Rio?


"iya benar saya"


"begini mba, saya dokter disekolah Rio, saya mau memberitahukan kepada anda baru saja Rio pingsan disekolah dan saat ini dia sedang dibawa kerumah sakit karena dia sempat kejang-kejang.


"apa? dirumah sakit mana ya dok?


"rumah sakit sehat sentosa mba"


"makasih informasinya ya dok, saya langsung kesana"


"sama-sama mba semoga, Rio tidak kenapa-kenapa"


"amin"


Sesampainya di rumah sakit Tasya diminta untuk menemui dokter yang menangani Rio,


tok.tok.tok


"masuk" *jawab dokter dari dalam ruangannya


Tasya membuka pintu ruangan tersebut lalu masuk kedalam, dan duduk dikursi yang berada didepan dokter tersebut.


"saya kakaknya pasien bernama Rio dok"


dokter mengangguk "begini mbak, mengenai kondisi adik anda,"


" kenapa dengan adik saya dok"


"dia mengidap penyakit kanker lambung stadium 3"


"apa?? *air mata Tasya menetes deras tanpa bisa dia tahan, "hancur" hanya itu yang saat ini dia rasakan.


"terus, apa adik saya bisa sembuh dok?


"kemungkinan sembuh ada mbak, tapi untuk saat kita harus melakukan tindakan operasi, agar kankernya tidak menyebar ke bagian tubuh lainnya"


"lakukan dok, saya mohon lakukan yang terbaik untu adik saya"

__ADS_1


"sebagai dokter kami akan melakukannya sebaik mungkin, lebih baik anda segera pergi kebagian administrasi untuk membayar biaya operasi adik anda, agar kami bisa segera melakukan tindakan.


"kira-kira berapa biayanya ya dok?


"biasanya biaya untuk Opera pengangkatan kanker sekitar 100 sampai 150 juta mba.


"apa? *lagi-lagi Tasya dibuat syok dengan ucapan dokter didepannya " baik dok saya akan segera melakukan pembayaran untuk operasi adik saya"


"baik mba silahkan"


Tasya keluar dengan perasaan campur aduk, lagi-lagi ujian datang padanya, Tasya menangis tersedu-sedu di kursi yang berada di taman rumah sakit.


Darimana Tasya harus mendapatkan uang sebanyak itu, bagaimana caranya agar dia bisa mendapatkan uang sebesar 150juta dalam waktu satu malam, Tasya sudah tidak bisa berfikir.


Karena sudah cukup larut Tasya kembali kekamar Rio dan mendapati adiknya masih memejamkan mata, Tasya mendekat dan memandangi wajah adiknya.


Tasya kembali menangis "Kakak harus cari uang dimana dek?Kakak bingung, kakak ngga tau harus berbuat apa.


Disela tangisnya tiba-tiba Tasya teringat dengan mamih Stevani.


"ohh iya benar aku harus menemui mamih Stevani"


Tasya keluar dari ruangan adiknya mencari taksi dan menuju ke klub untuk menemui Stevani.


Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit Tasya sampai diklub dan langsung menemui stevani.


"mamih" *ucap Tasya yang berada dibelakang Stevani.


Stevani berbalik dan melihat Tasya dengan wajah yang sangat berantakan "sayang kamu kenapa?


"Mih, Tasya butuh bantuan mamih"


"Bantuan bagaimana sayang, coba cerita ke mamih, kenapa kamu bisa seperti ini"


"begini mih ...* Tasya menceritakan semuanya.


"kamu yang sabar ya sayang, tapi apa kamu sudah yakin mau menerima pekerjaan yang mamih kasih ke kamu"


"apapun mih, yang Tasya pikirkan saat ini adalah uang sebesar 150 juta untuk biaya operasi adik Tasya"


"," Stevani mengangguk dan mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Kamu siap-siap ikut mamih ya sayang, kamu akan didandani sama bagian makeup diklub ini, lalu kita pergi"


"ba,,baik mih"


Tasya pergi bersama Stevani dan inilah awal dari sebuah perubahan besar untuk kehidupan Tasya selanjutnya.


***FLASHBACK OFF***

__ADS_1


__ADS_2