
Cukup lama mengingat akhirnya wajah elang seketika berubah "apa anda wanita itu?
"benar" *ucap Moza membuat elang kaget.
Wajah elang seketika berubah antara malu dan tidak enak.
Moza terkekeh melihat wajah elang yang tiba-tiba berubah, dia paham dengan apa yang elang rasakan saat ini, Moza mengalihkan obrolan mereka dengan proyek yang akan mereka lakukan mulai Minggu ini.
Moza hanya tidak mau membuat elang menjadi tidak nyaman dengannya dan nantinya akan menjaga jarak dengannya, anggap saja kejadian-kejadian di antara elang dan Moza sebelumnya tidak pernah terjadi.
"sudah pak elang, tidak usah dibahas lagi, lebih baik kita bahas garis besar proyek yang Minggu ini mulai kita jalankan"
"Baik Bu Moza" *mereka bertigapun kembali mengobrol dengan santai, obrolan mereka juga diselingi dengan obrolan pribadi mereka masing-masing.
Hingga waktu menunjukan pukul 11 siang, elang dan Kevin pamit undur diri, karena masih ada meeting selanjutnya dengan klien lain.
Selesai mengantarkan elang dan asistennya Kevin sampai depan pintu ruangan, Moza kembali masuk dan duduk dikursi kebesarannya.
Baru beberapa menit Moza duduk di kursinya, suara ponsel miliknya berdering, Moza mengambil ponsel tersebut dan mengangkat telepon dari kakaknya ramon.
"hallo bang"
"hallo dek, kamu lagi sibuk ngga?
"ngga kok bang, ini baru saja selesai meeting"
"Abang bisa minta tolong ngga dek?
"minta tolong apa bang?
"tolong gantiin Abang meeting dengan perusahaan TERUS MAJU JAYA sekarang bisa ngga dek, soalnya Abang mau jemput queena.
"loh tumben Abang yang jemput, biasanya supir kalau ngga Kakak"
"Kakak kamu lagi tanggung nyelesein desainnya, sedangkan supir rumah ijin pulang cepet soalnya istriny mau lahiran"
"ohh kalau begitu, Moza aja yang jemput queena bang abang meeting aja, serahin queena sama Moza"
"yaudah kalau begitu, makasih ya dek"
"sama-sama bang"
Mozapun pergi menuju sekolah queena.
Disekolah Queena
Queena sedang duduk dikursi yang berada didepan kelasnya, dia sedari tadi sedang menunggu jemputan yang tumben sekali terlambat, padahal biasanya sebelum queena keluar kelas, supirnya pasti sudah menunggunya didepan.
__ADS_1
Cukup lama queena menunggu, membuatnya takut karena disana sudah tidak ada orang lagi kecuali,
Tiba-tiba mata queena menangkap seorang anak kecil yang tidak lain adalah Sasa teman satu kelasnya yang ternyata juga masih berada disana.
queena berjalan menghampiri Sasa yang sedang diam dan menundukkan kepalanya bermain dengan semut kecil yang berjalan melewati sepatunya.
"Sasa" *panggil queena dan sasapun menoleh
"queena, kamu belum dijemput?
"iya nih, ngga tau supir aku, padahal biasanya udah nunggu diluar kalau aku pulang"
"aku juga iya queen, padahal biasanya Oma aku selalu ikut dan menungguku sampai pulang"
"iya, aku juga sering lihat Oma kamu, memang tadi kenapa Oma kamu ngga nungguin kamu sa?
"Oma sedang mempersiapkan makanan untuk acara arisan keluarga nanti malam, katanya supir Oma yang bakal jemput, tapi sampai sekarang belum datang-datang"
Saat mereka berdua sedang asyik mengobrol tiba-tiba datang seorang wanita yang sangat cantik mendekati mereka berdua, siapa lagi kalau bukan Moza.
"queena" *panggil Moza.
"ante, ante * queena berlari dan memeluk tantenya.
"sayang, maaf ya ante telat jemput, soalnya tadi macet banget"
"," Moza tersenyum dan mengacak rambut keponakannya, lalu menoleh kearah gadis kecil yang sangat cantik yang tadi Moza lihat sedang mengobrol dengan queena saat dirinya baru saja datang.
"gadis cantik ini siapa namanya?" *tanya moza pada Sasa yang sedari tadi terus memperhatikan Moza.
"Sasa ante" *jawab Sasa mengikuti panggilan queena pada Moza
"nama yang cantik kaya anaknya" *Moza mengelus rambut Sasa juga, membuat Sasa lagi-lagi memperhatikan Moza.
Sasa terdiam menatap wajah cantik Moza dan suara lembutnya, membuat Sasa rindu dengan sosok ibu yang tidak pernah dia temui sejak baru lahir.
Moza yang melihat Sasa terus memperhatikan dirinya, mengerutkan keningnya "ini anak kenapa ya liat aku kok kaya gitu banget? *ucap Moza dalam hati.
"sayang, kmu kenapa kok liatin ante terus" *Mozapun menanyakan pada Sasa
"ante,, hiks hiks *belum sempat Sasa berbicara dirinya malah menangis membuat queena dan Moza bingung.
"sayang kmu kenapa, kok nangis?
"Sasa kamu kenapa nangis sa?
"," Sasa menggelengkan kepalanya "ngga papa quuen, ante"
__ADS_1
"kamu belum dijemput juga?
"iy ante"
"ante antar kamu pulang saja ya, disini ngga aman kalau sendirian"
"iya sa, kita antar kamu pulang aja ya"
"," sasapun mengangguk karena dia memang takut jika ditinggal disana sendirian"
Mereka bertigapun berjalan menuju parkiran dimana Moza tadi memarkirkan mobilnya.
Baru saja Sasa mau menaiki mobil Moza, supir Oma Niken datang dan memanggilnya " nona muda"
Sasa menoleh dan melihat mang Diman yang berjalan kearahnya "mang Diman, kenapa baru datang, Sasa udah nunggu lama banget tau ngga mang?
"maaf non, soalnya tadi ada kecelakaan dijalan, jadi jalanannya macet total, mang Diman tidak bisa menggerakkan mobilnya"
"yaudah, sebentar ya mang, Sasa mau bilang ante Moza sama queena dulu"
"baik nona"
"ante, queena aku pulang sama mang Diman aja ya"
"iya sayang, hati-hati dijalan ya"
"dadah Sasa"
"dadah queena dadah ante"
"dadah"
Merekapun pulang kerumah masing-masing.
Didalam perjalanan pulang Sasa terus saja diam, tidak seperti biasanya.
mang Diman hanya diam dengan sesekali melirik kearah Sasa, dalam pikiran mang Diman, Sasa sedang marah padanya.
Padahal Sasa sedang membayangkan jika ante Moza menjadi ibunya.
Sampai dirumah Sasa langsung berlari ke kamar nya dan menutup pintunya keras.
Oma Niken dan kakek buyut yang melihat tingkah Sasa segera berlari menghampirinya.
Hai READERS maaf ya author baru up lagi, semoga kalian masih tetep setia baca novel ini.
Terimakasih untuk yang sudah like dan yang belum like jangan lupa like karya author ya, biar author tambah semangat nulisnya.
__ADS_1