
Elangpun bangun dan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, namun sebelum itu dia terlebih dahulu mencium kedua pipi istrinya dan tidak lupa mencium perut buncit istrinya.
Nana turun kebawah untuk menemui ibunya.
"sayang kamu sudah bangun" *ucap Rima saat melihat putrinya datang.
"iya Bu, ibu masak apa? Nana sudah lapar Bu"
"SOP buntut kesukaan kamu sayang"
"Yee, ibu memang terbaik"
"suami kamu mama sayang?
"lagi mandi Bu"
"yaudah, kalau kamu lapar kamu boleh makan dulu nanti biar ibu yang nemenin suami kamu sarapan"
"oke" *Nana langsung melahap makanan favorit nya hingga tandas"
Elang datang dan melihat Nana yang baru saja menghabiskan makanannya "istri aku kelaparan ya?
"bukan aku by, tapi anak kamu ini yang lapar"*kilah Nana dengan wajah yang memerah karena malu.
"ohh anak aku ya, kirain ibunya" *elang tersenyum dan terus menggoda istrinya.
"ihh, nyebelin" *ucap Nana dengan wajah yang cemberut
Elang dan Rima tertawa melihat wajah Nana yang sangat lucu.
"sayang nanti ibu ketoko ya, soalnya lagi banyak pesanan"
"iya Bu, ngga papa kok"
"sayang, aku juga berangkat ya, kamu kalau ada apa-apa langsung telepon aku, ngga boleh ngga!
"iya by"
"ibu berangkat bareng elang saja Bu, sekalian elang berangkat ke kantor"
"," Rima mengangguk dan merekapun berangkat menyisakan Nana dan pembantunya.
Setelah kepergian elang dan ibunya Nana pergi kekamar untuk mandi.
Setengah jam kemudian Nana baru saja selesai mandi dan memakai bajunya, Nana melihat tubuhnya dicermin "ya tuhan kok aku jadi gendut banget begini ya? untung aja elang masih cinta sama aku" *gumam Nana.
Sedangkan elang yang baru saja berangkat kerja, langsung diberi begitu banyak tumpukan dokumen yang harus dia tandatangani.
Kevin akhirnya bisa bernafas dengan lega, setelah kemarin seharian dia sangat sibuk karena harus menghandle pekerjaan bosnya dan juga dirinya.
Elang sibuk berkutat dengan pekerjaannya, hingga suara ponsel dimejanya tidak terdengar.
"kok ngga diangkat si by, aduh" *Nana merasa perutnya sangat sakit dan kepalanya sangat pusing.
Nana keluar dari kamarnya untuk mencari mbok Yati pembantu baru rumahnya.
"mbok" *panggila Nana
__ADS_1
"iya nyonya" *mbok Yati yang mendengar panggilan nyonya mudanya berlari menghampiri Nana.
"mbok perut Nana sakit mbok" *ucap Nana dengan suara yang sangat lemah dan wajah yang sudah sangat pucat
"nyonya kenapa nyonya"
"sakit mbok"
Mbok Yati sangat panik melihat nyonya mudanya yang sangat pucat sedang terduduk lemas dilantai tangga rumah tuannya.
Mbok Yati menuntut Nana untuk duduk disofa ruang tengah yang cukup dekat dengan tangga tersebut.
"nyonya tunggu disini dulu ya nya, biar simbok telepon tuan elang dulu"
"," Nana mengangguk
Mbok yatipun mencoba menelpon elang, namun tidak ada jawaban, hingga telepon yang ke 5 tetap saja tidak ada jawaban.
Nana sudah semakin lemas dan kali ini dikakinya terlihat darah segar mengalir membuat mbok Yati semakin panik dan menangis karena takut.
Nana terus saja memegang perutnya dan mengeluh kesakitan.
Mbok Yati mencari nomor mamahnya elang dan akhirnya diangkat oleh beliau.
"hallo selamat siang" *ucap mbok Yati saat telephonnya sudah diangkat niken
"iya hallo, kenapa mbok?
"anu ini nyonya besar, nyonya muda, nyonya muda "* ucap mbok Yati terbata-bata karena menangis.
"Nana kenapa mbok, jawab Nana kenapa? "kali ini Niken sudah sangat panik
"astaghfirullah, yasudah saya kesana sekarang"
"baik nyonya besar"
Niken mematikan teleponnya dan mencari suaminya " pah, papah" *panggil Niken pada suaminya
"iya mah ada apa? *jawab papahnya elang.
"kamu kenapa nak? *kakek elangpun ikut bertanya melihat wajah Niken yang panik.
"nana pah, kek, Nana pendarahan ayo kita kerumah mereka sekarang"
"ya Tuhan, ayo cepat kita kesana"
Mereka bertigapun berangkat menuju rumah elang dan Nana .
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit akhirnya mereka sampai, Niken langsung berlari kedalam dan mendapati Nana yang sudah sangat lemah dan mbok suku yang berada disamping Nana dengan keadaan menagis
"sayang" *Niken memeluk tubuh Nana "papah ayo kita bawa Nana kerumah sakit' pah ayo pah
Papah elang menggotong tubuh Nana, sedangkan Niken berlari untuk membukakan pintu mobil mereka, setelah Nana masuk papah elang berlari kekursi depan untuk menyetir mobilnya, kakek elang duduk didepan disamping papahnya elang, sedangkan Niken duduk dikursi belakang bersama dengan Nana.
Sepanjang perjalanan mereka menuju rumah sakit, kakek berusaha menghubungi elang yang sedari tadi tidak mengangkat teleponnya.
"sakit banget perut Nana mah" *rengek nana membuat Niken semakin panik.
__ADS_1
"sabar sayang sebentar lagi sampai, kamu yang kuat ya"
"Nana udah ngga kuat mah" *ucap Nana sangat lemah
"ngga boleh ngomong kaya gitu sayang"
Sedangkan dikursi depan akhirnya elang sudah bisa dihubungi dan saat ini elang sedang menuju kerumah sakit juga .
Sampai dirumah sakit, Nana langsung dibawa keruang UGD untuk mendapatkan penanganan.
Kondisi Nana sudah sangat memprihatikan, elang yang baru saja sampai langsung terduduk lemas saat mamah Niken menceritakan kondisi Nana.
Elang menangis dan merutuki kebodohannya karena tidak becus menjaga Nana.
Papah dan kakek elang terus memberikan semangat untuk elang.
Tidak lama mereka sampai dirumah sakit, Rima juga sampai disana, Rima yang perasaan sangat tidak tenang, langsung pulang dari toko dan berniat menemui putri satu-satunya.
Namun baru saja sampai disana, mbok Yati dengan kondisi menangis menceritakan kondisi Nana dan dengan segera Rima menyusul kerumah sakit.
"bagaimana keadaan Nana Bu? tanya Rima dengan wajah panik pada Niken
"Nana sedang mendapat perawatan didalam Bu, kita doakan agar Nana dan bayinya baik-baik saja Bu"
Rima terduduk lemas dikursi yang berada didepan ruang UGD dan menangis disana.
Niken duduk disebelah niken dan mencoba menenangkan Rima
Pintu ruang UGD dibuka, dokter yang menangani Nana keluar "suami dari pasien"
"saya dokter"
"bisa bicara sebentar"
"baik dokter"
"begini pak, kondisi istri anda kritis, dan kita harus segera memutuskan untuk melakukan operasi pengangkatan bayi anda, namun resikonya istri anda tidak bisa tertolong"
"apa dok? elang seketika terhuyung dan hampir terjatuh kalau saja papahnya tidak menangkap tubuh elang.
"pendarahan yang dialami oleh pasien sangat banyak, jika kita tidak memutuskan tindakan sekarang yang kami takutkan bayinya juga tidak akan terselamatkan"
#jeder# seperti disambar petir, hati elang saat ini sudah sangat remuk berkeping-keping "apa tidak ada cara lain dok untuk menyelamatkan istri saya" *ucap elang dengan menangis
"maaf pak itu cara terakhir yang bisa kami lakukan"
Elang terduduk lemas dilantai " bagaimana bisa dia hidup tanpa Nana"
"Bagaimana pak? *tanya dokter sekali lagi.
Namun elang tetap saja tidak bisa memutuskan pilihan yang sangat besar itu hingga suara Rima membuat elang terkejut begitu juga dengan keluarga besar elang
"lakukan dok, jika memang cara itu yang bisa dokter ambil, walaupun anak saya tidak terselamatkan yang penting cucu saya bisa selamat"
"bagaimana pak elang?*tanya dokter tersebut sekali lagi dan dengan berat hari elang mengangguk.
Dokterpun kembali masuk keruang penanganan.
__ADS_1
Tidak lama setelah itu Rima jatuh dan tidak sadarkan diri.