
Oma Niken dan kakek buyut yang melihat tingkah Sasa segera berlari menghampirinya "Sasa, sayang kamu kenapa nak?
"," Sasa hanya diam tidak menjawab pertanyaan Omanya.
"sayangnya uyut kenapa? sini bicara sama uyut, apa ada yang nakalin kamu disekolah? atau mang Diman nakal sama kamu? *kali ini kakek buyut ikut bertanya.
"," tetap tidak ada jawaban dari Sasa.
Oma Niken dan kakek buyutpun masuk kedalam kamar Sasa dan kaget ketika melihat Sasa sedang menangis sesenggukan.
Oma Niken berlari dan memeluk tubuh mungil Sasa "sayang kamu kenapa? bilang sama Oma?
"Oma, hiks,hiks "
"kamu kenapa sayang apa disekolah ada yang nakal sama kamu, maafin Oma ya karena Oma hari ini ngga jagain Sasa"
"bukan Oma, hiks, hiks
"terus kenapa sayang, kenapa kamu nangis sampai kaya gini?
"Sasa pengin punya ibu Oma"
#jleb#
hati Oma Niken dan kakek buyut terasa ditusuk pisau yang sangat tajam mendengar penuturan Sasa, ketakutan mereka selama ini akhirnya terjadi.
Oma Niken memeluk Sasa semakin erat seolah meminta Sasa untuk menyalurkan kesedihannya kepada Niken.
Sedangkan kakek buyut memilih keluar dari kamar Sasa karena tidak kuat melihat Sasa yang menangis sampai seperti itu.
Sedangkan ditempat lain tepatnya ditoko roti milik Rima, elang sedang duduk berdua dengan mertuanya sambil menikmati kopi dan potongan kue favoritnya.
"nak, apa kamu tidak ingin menikah lagi "* ucap Rima membuat elang tersedak dan segera meminum kopinya.
"ibu bilang apa si?
"ibu serius nak, apa kamu tidak ingin menikah lagi?
"elang belum memikirkan itu Bu, elang masih belum bisa melupakan Nana"
"tapi apa kamu tidak kasian dengan Sasa Lang? dia masih sangat kecil, dia butuh sosok ibu didekatnya"
"tapi selama ini elang lihat, Sasa bahagia Bu, karena dia mempunyai dua Oma, opa dan kakek buyut serta ada elang"
"tapi tetap saja tidak lengkap tanpa kehadiran ibu Lang, coba kamu renungkan lagi, dan tolong lupakan Nana pelan-pelan, belajar membuka hati kamu untuk wanita lain"
"," elang menggeleng "bahkan sedetik tidak memikirkan Nana saja elang tidak bisa Bu"
"kamu tidak boleh egois seperti itu Lang, kasihan Sasa"
__ADS_1
"," lihat nanti Bu.
"yasudah itu hak kamu, ibu hanya meminta untuk kamu memikirkannya hati Sasa yang pasti suatu saat akan membutuhkan sosok ibu"
"iya Bu, akan elang pikirkan saran ibu"
Merekapun kembali memakan dan membahas obrolan lain.
dua jam elang berada ditoko kue milik mertuanya, dia pamit untuk pulang karena mamahnya sudah menelepon elang sedari tadi.
Elang menjalankan mobilnya cukup kencang, bukan tanpa alasan, elang melakukan itu karena didalam telepon tadi Niken berbicara sambil menangis.
Perjalanan yang biasanya memakan waktu 25 menit saat ini elang sampai hanya dalam waktu 15 menit
Elang masuk kedalam rumah dengan terburu-buru mencari Niken "mah, mamah *panggil elang.
"mamah disini nak" *jawab Rima yang sedari tadi sedang menunggunya di ruang keluarga bersama dengan kakek buyut.
"mah, ada apa sebenarnya?
"begini Lang, tadi pulang dari sekolah Sasa langsung lari kekamar dan menutup pintunya dengan sangat kencang"
"apa?
"dengerin mamah dulu, terus mamah sama kakek yang bingung dengan sikap sasapun lari kekamar Sasa dan saat kita sudah didalam, hiks hiks" *Niken menangis tidak sanggup menceritakan keadaan Sasa yang sangat menyedihkan itu.
"Sasa sedang menangis karena dirinya ingin memiliki sosok ibu seperti teman-teman disekolahnya Lang" *kali ini kakek yang menjawab.
Elangpun terdiam, baru saja dirinya membahas itu dengan mertuanya, sekarang terjadi juga.
"Lang, kamu coba buka hati kamu untuk wanita lain Lang?
"," elang diam begitupun juga kakeknya yang tidak ingin ikut campur jika membahas masalah pasangan elang Sekarang.
"mamah mohon sama kamu Lang, demi Sasa buka hati kamu untuk perempuan lain"
"tapi siapa mah, mamah kan tau sendiri selama ini elang tidak pernah dekat dengan satupun wanita"
"," Nikenpun terdiam, memang benar apa yang dikatakan elang, bahkan menurut Niken hanya Nana satu-satunya wanita yang ada dihati elang sejak elang kecil.
"sasa punya calon ibu untuk Sasa yah" *tiba-tiba berbicara dari tangga.
Sasa yang akan turun dari kamarnya menghentikan langkahnya dan mendengarkan obrolan ayah, Oma dan buyutnya.
Mereka bertiga menoleh kearah Sasa "Sasa"
"Sasa punya calon ibu untuk Sasa yah, tadi Sasa baru bertemu dengan dia"
"Sasa sayang, sini sama ayah" *elang meregangkan tangannya dan Sasa berlari kepelukanya.
__ADS_1
"ayah, Sasa pengin ibu yah ,hiks,hiks" *Sasa kembali menangis.
"iya sayang ayah tau, tapi tidak mudah mencari sosok ibu"
"tapi Sasa tadi ketemu sama wanita yang cantik dan sangat baik yah, Sasa pengin dia jadi ibu Sasa"
"kamu kan baru pertama kali bertemu dengan dia sa, mungkin saja dia hanya pura-pura baik"
"tidak ayah dia itu antenya queena teman Sasa, queena juga sayang banget sama antenya itu"
Elang kembali terdiam, bagaimana bisa mengikuti keinginan Sasa, sedangkan dirinya sendiri tidak mengenali wanita yang dimaksud oleh putrinya.
"yasudah biar besok mamah yang cari tau lang"
"iya mah"
"yasudah besok kenalin Oma sama antenya queena teman Sasa yah"
"tapi Sasa ngga tau besok antenya queen yang jemput lagi atau bukan Oma"
"yasudah kita langsung tanya sama queen saja, sudah ya cucu Oma jangan sedih lagi"
"," Sasa akhirnya tersenyum dan berlari memeluk Oma Niken.
Elang pamit kekamarnya untuk berendam dengan air hangat, agar pikirannya sedikit rileks.
"sayang lihatlah aku, apa kamu tidak kasihan melihatku seperti ini" *gumam elang sambil memejamkan matanya, membayangkan sosok mendiang istrinya.
Hingga elangpun terlelap didalam bathtub dan dia bermimpi.
Didalam mimpinya, elang bertemu dengan Nana yang sedang tersenyum melihatnya "sayang" *panggil elang ketika melihat Nana.
"by, aku mohon lupakan aku by, bukanhati kamu untuk wanita lain"
"ngga, ngga segampang itu sayang, aku sangat mencintai kamu"
"lihat anak kita by, dia butuh sosok seorang ibu, jangan membuatku sedih disini by, tolong buka hati kamu dan carilah penggantiku, aku ikhlas by"
"tapi sayang" *belum selesai elang berbicara bayangan Nana sudah menghilang dan elang bangun dari tidurnya.
Elang segera beranjak dari kamar mandi dan memakai baju, lalu berjalan kekamar Sasa.
Saat elang baru sampai didepan pintu kamarnya dia mendengar suara tangisan anaknya, Elangpun membuka pintu kamar Sasa dan mendekatinya.
"sayang, kamu kok nangis lagi"
"yah, janji ya ayah mau sama antenya queena"
"sayang, bukannya ayah tidak mau, tapi Sasa kan tau sendiri ayah belum pernah bertemu dengan tantenya teman Sasa dan juga Sasa tidak bisa memaksa perasaan ayah sayang, kalaupun nantinya ayah akan mencari ibu untuk Sasa, itu juga harus wanita yang ayah pilih sa"
__ADS_1