BRAVE $ MAN

BRAVE $ MAN
Bab. 22. Maria Membunuh Edi


__ADS_3

Sebulan bekerja di toko pak Edi membuat Maria semakin risau karena belum ada kesempatan mendekatinya.


"Bagaimana cara agar gue bisa punya kesempatan. " ucap Maria secara Monolog.


"Mba tolong ambil alih layanin bapa itu saya mau ke toilet dulu, " ucap Agus rekannya.


Maria hanya menganggukkan kepalanya.


Dengan teliti Maria mendengar dan menulis di kertas apa yang diinginkan orang didepannya lalu mengambilkannya. Tampak ada orang di tengah-tengah rak barang yang ingin ia ambil.


Maria berada disebelah Edi. "Ehh Mar. "


"Loh ternyata mas Edi disini, " lirih nya.


"Iya btw kamu ngapain disini? bukannya dikasir. "


"Si Agus ke toilet jadi saya yang layani customer. "


"Semangat yaa, " ucap Edi segera pergi dari sana.


"Kenapa dia terlihat buru-buru begitu. "


Jam dinding menunjukkan pukul 5 sore tandanya mereka akan pulang tetapi dari arah ruangan, Edi menghampiri karyawannya.


"Semuanya kumpul dulu, " ucap Edi.


" Ada apa pak, " tanya karyawan lain.


"Begini karena sudah sebulan kita engk adakan rapat jadi hari ini harus kita laksanakan," jawabnya membuat beberapa karyawan sedikit sedih.


"Tolong Mar ambilkan makanan di mobil yaa untuk rapat kita, " sambungnya.


"Baik Pak, " jawab Maria.


Saat mengambil plastik berisikan kotakan ia kaget melihat foto seorang wanita dan anak kecil di depan kemudi.


" Jangan-jangan itu foto istri dan anaknya pak Edi. "


Maria masuk dengan wajah kusut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Permisi ada orang didalam? "


Tiba-tiba dari atas ada yang jatuh tepat didepan wanita itu.


"Mas gapapa? " menghampiri Juan yang tergeletak di lantai.


"Iya bu hehe"


"Bagaimana Juan dapat? "


"Yess, duh encok gue, " lirih nya.


"Benar-benar orang aneh, " batinnya.


"Ada yang bisa dibantu bu? " ucap Pak Zaenal dari belakang ibu itu.


Ibu itu kaget dan pingsan...


Matanya mulai buka pelan-pelan dilihatnya Pak Zaenal duduk didepannya.


" Bagaimana bu agak baikan? " ucap pak Zaenal saat melihat wanita itu telah siuman.


" Iya Pak. " Ia meraih air minum pemberian Juan.


Beberapa menit kemudian ibu itu mulai menjelaskan kedatangannya. "Saya datang kesini ingin minta tolong, saya dengar dari orang-orang di pengadilan untuk menemui team J, saat masuk saya kira salah soalnya, " ucapnya sambil melirik keadaan tempat tersebut.


"Ohh begini bu tempat ini belum mencerminkan kantor team J tapi jika melewati tempat rahasia kami anda akan tau. "


"Lewati apa? " tanyanya lagi.


"Tono, Haikal"


"Siapp pak"


"Bu silahkan ikutin kami, " ajak Haikal.


"Engk mau saya takut diapa-apain. "


"Terserah sih bu kami engk akan menangani masalah ibu kalau begitu, " ucap Robert yang datang entah darimana.


" Begini bu agar aman ruang rahasia team J tidak terungkap dan ibunya nyaman begitulah prosedur yang harus dijalani saat bekerjasama dengan team J" ucap Haikal.


"Baiklah kalau begitu, " ucap wanita itu.


Setelah menaati peraturan yang ada akhirnya wanita itu masuk melewati tangga bawah lantai kantor itu pelan-pelan Tono menuntun ibu itu jalan Sesampainya di tempat yang dituju akhirnya bisa dilihat semua peralatan & perlengkapan team J maupun interiornya hitam dominan coklat ketuaan mencerminkan team J.


"Jadi begini mas saya sudah lama menikah dan suami saya membawa kabur uang saya tidak masalah tapi anak saya juga dibawah kabur sebelumnya ia pernah dilecehkan oleh teman karyawan suami saya karena perihal hutang saya takut anak saya dijadikan pekerja ****. "


"Kemarin juga saya dilaporkan suami atas pencemaran nama baik, itu membuat saya frustasi tapi untung saja ditangguhkan oleh kejaksaan karena tidak bersalah lalu saya dengar bahwa kejaksaan mempunyai team penyidik khusus menangani masalah, jadi saya langsung bertanya dengan pak Jaksa Lee beliau bilang bisa datangin langsung, " sambungnya sambil menangis sejadi-jadinya.


"Kalau begitu kami akan menyelidikinya. "


"Terima kasih Pak. "


Usai wanita itu pulang bersiaplah Robert dan Juan berangkat mencari informasi terkait keberadaan suami ibu itu.


Di perjalanan Juan mendapat pesan dari klien mereka, Robert mengendarai motor menuju alamat yang dituju. Petunjuk mengarah ke sebuah gedung yang disinyalir tempat suaminya bermain judi.


"Bagaimana Juan? " tanya Robert.


"Kayanya ini deh tempatnya, " ucap Juan sambil turun dari motor.


Mereka mulai masuk kedalam gedung mencari keberadaan tempat perjudian yang dimaksud.


"Banyak juga ruko di dalamnya. "


"Namanya flowers room, " ucap Robert mulai mencari ruko disekitaran pandangannya.


Tiba-tiba tidak sengaja menyenggol seseorang sampai jatuh.


"Duhh mas hati-hati kalau jalan, " ucap Maria mengusap lengannya.


"Maaf mba kami engk sengaja, " jawab Juan.


"Kamu bukannya wanita di bank itu, " tanya Robert saat menelisik wanita itu.


"Bukannya minta maaf malah bicara yang tidak-tidak, " ucap Maria meninggalkan mereka.


perasaan kaya pernah lihat deh


"Bert emang lu kenal? "


"Kamu engk ingat pas kita mau ke bank xxxx kita ada bertemu wanita di halte waktu itu sempat ditegur Pak Zaenal."


"Gue ingat tempatnya tapi engk ingat wajahnya, salah orang mungkin, dia aja engk merasa. "


"Masa sihhh"


"Buruann woyy, " tegas Juan.


Maria berjalan sangat cepat sampai ke depan loker miliknya. "Huft untung aja mereka engk ngikutin, mereka ngapain ada di daerah sini sih, "ucapnya sangat kesal.

__ADS_1


Flashback...


"Om siapa mereka. "


"Engk tau mereka lagi nyari orang katanya jadi penumpang travel om kan banyak engk tau siapa, "


"Emang engk ada bukti foto atau semacamnya? "


"Engk ada sih mereka kasih tau cuman nama doang, " jawab Om Hansel.


"Ohhh"


Beberapa hari berikutnya setelah kejadian itu Maria melihat team J di saluran TV.


"Bukannya itu orang yang pernah datang kesini yaa, " ucap Maria.


Tiba-tiba ingatan masalah lalu menghilang saat ia kena tegur atasannya.


"Mar saya panggil kamu daritadi loh," ucap Edi.


"Maaf mas. " lamunannya buyar.


"Itu tolong yaa pindahin barang konsumen ke depan biar enak langsung diangkut, " dengan nada lembut.


"Baik mas. "


Saat Maria sedang bersih-bersih firasatnya seperti di perhatikan seseorang pas dia nengok kearah belakang ternyata sembunyi-sembunyi Edi memandanginya.


Jam dinding menujukan pukul lima sore lewat empat lima.


"Mar kamu pulang dengan siapa, " tanya Edi.


"Saya naik ojek online mas, " jawabnya.


" Yasudah bareng aja kebetulan saya mau kesuatu tempat juga. "


"Boleh mas. "


Saat sudah sampai didepan rumah. Maria mulai menawarkan singgah ke bosnya. "Mas engk mampir dulu? "


"Engk saya mau langsung jalan aja. "


"Hati-hati mas, " ucap Maria sambil melambaikan kepergian Edi.


Langsung ekspresi wajahnya berubah setelah mobil Edi tak lagi di depan mata.


Keesokannya Maria harus bergerak cepat untuk menggoda bosnya agar masuk ke perangkapnya. Dengan mencoba merayunya, mendekat terus hingga apa-apa selalu ada untuk Edi. Hingga disaat semua karyawan tidak datang karena tanggal merah Maria masuk ketoko membuat Edi kaget.


"Mar kamu kok masuk kerja, kan libur. "


Sambil menunjukkan pesan grup, disitu Edi meminta siapapun bisa tolong dia mengangkat barang digudang.


"Ohh iya benar. "


"saya bantu mas, " ucap Maria.


Edi sempat meragukan kekuatan Maria tapi saat melihat langsung membuatnya terpukau. "Wahh kamu hebat sekali Mar tak saya sangka loh, " ucapnya sambil menawarkan minuman kepada Maria.


"Makasih pak minumannya. "


"sama-sama."


Mereka pelan-pelan mulai dekat kadang di tempat kerja mereka profesional tapi diluar mereka sangat dekat bahkan tak jarang Edi berkunjung ke rumah Maria.


"Silahkan masuk mas, maaf kalau agak jelek rumahnya."


"Apasih Mar yang penting nyaman kan. "


Mereka menikmati cemilan sambil mengobrol di ruang tamu semakin dekat hingga mata Edi tidak ingin lepas dari Maria.


"Mar saya mulai suka sama kamu, " ucap Edi terus terang membuat Maria kesedak.


"Mas? "


"Ini mungkin gila sih karena saya sudah punya istri tapi kamu membuat saya nyaman, " ucapnya sambil memegang tangan Maria ke dadanya.


"Kayanya saya juga sama deh suka sama mas Edi."


"Benarkah? "


"Iya mas. "


Mereka mulai menjalin hubungan, saat Edi mengajak tidur bareng Maria. Ia selalu membuat alasan tidak masuk akal sampai ditempat kerja pun mereka hampir kepergok bermesraan oleh karyawan lainnya.


"Mas kita harus hati-hati ini masih tempat kerja, " ucapnya saat Edi mencium pipinya secara tiba-tiba.


"Daya sangat senang mempunyai kekasih seperti kamu, maaf yaa hubungan kita jadi seperti ini. "


"iss kamu ini. "


Di hari berikutnya Edi mengajak Maria untuk datang disebuah pertunangan temannya.


"Mas kamu yakin nanti teman kamu kaget lihat aku bukan istri kamu gimana. "


"Ini bukan teman akrab jadi dia tidak tau rupa istriku, percuma pernikahan kami hasil perjodohan aku tidak benar-benar mencintai istriku."


"Beneran aku senang banget kalau begitu, " jawab Maria.


"Besok kamu harus tampil cantik yaa, " pinta Edi.


"Iya mas" ucapnya sambil memeluk Edi.


akan kuberikan penampilan menawan untukmu yang terakhir kali dasar cowo selingkuh dan mesum.


"Selamat datang di butik xxxx ada yang bisa kami bantu," ucap Pegawai butik.


"saya lagi cari dress," pinta Maria.


"Kalau begitu ada beberapa yang datang hari ini, " ucap karyawannya memperlihatkan beberapa dress kepada Maria.


"heemm mba ada yang warna hitam engk? "


"Ada mbak di lantai 2."


Maria sendirian naik melihat beberapa rancangan di lemari kaca disepanjang tangga. Ia mulai tertarik dengan dress hitam belah samping terpajang ditengah-tengah ruang membuatnya sangat terpesona.


"Mba saya mau dress itu. "


Selesai mengesek kartunya Maria keluar dari butik itu dengan perasaan senang karena mendapatkan keinginannya.


"Besok gue harus tampil cantik disana, " ucapnya dengan ekspresi kejam.


...----------------...


Acara yang ditunggu-tunggu Maria telah tiba, Edi datang kerumah Maria tiba-tiba menerima telepon dari istrinya.


"mas kamu tadi kemana segala pakai stelan formal"


"aku mau hadirin pertunangan temanku kenapa? "


"engk mas cuman aku sedih kamu engk ngajak aku"


"kamu dirumah aja aku pergi sama teman-teman ku sekalian reunian"

__ADS_1


"iya mas hati-hati"


telepon terputus....


"Mas lama yaa. "


"Engk kok sa-yang, " balasnya saat melihat kecantikan Maria.


Mereka berangkat menuju tempat yang dituju tidak jauh butuh 20 menit dari rumah Maria.


Saat masuk kedalaman pesta tersebut Maria melihat ke sekeliling tempat.


"Yangg " ucap edi.


"Iya kenapa" ucap Maria.


"Gapapa cuman mau panggil kesayanganku aja, " gombal Edi.


"Hehe kamu bisa aja, ohh iya aku mau ke toilet dulu. "


"Mau kutemanin? "


"Engk usah. "


Maria masuk dengan cepat mengunci agar tidak ada yang masuk ke kamar mandi, dibagian wastafel dan cermin didepannya ia menyiap persiapan seperti pisau lipat, suntikan bius dan sabu diselipkan di dress nya.


Tok.. tokk


"Ada orangg didalam?"


"Maaf saya engk sengaja kunci. " ucapnya langsung membuka pintu saat selesai memakainya.


Di dalam acara Maria menyelipkan sabu ke minuman untuk Edi dengan disuruhnya pelayan untuk diberikan ke Edi.


"Mas tolong kasihkan ke pria itu. "


"Baik mbak. "


Maria pergi lagi kebagian aliran listrik disitu iya menggoda salah satu petugas agar bisa menolongnya.


"Pak boleh tolong saya engk." Ia membuat suaranya agak di lemaskan agar orang didepannya kepincut.


"Tolong apa neng cantik. "


"Cincin saya terjatuh kedalam sela-sela ruangan itu. "


"Ya ampun neng. "


Maria mengeluarkan jarum suntik setelah dilihat tidak ada orang lain ia langsung menyuntikan bius ke bagian leher petugas itu hingga pingsan.


"Kurasa disini aman, " ucap Maria menyeret petugas itu masuk ke ruang disebelahnya.


Maria langsung memotong kabel aliran listrik hingga padam lalu berjalan ditengah kerumunan banyaknya orang yang panik.


"Maria kamu dimana? " tanya Edi memanggilnya namanya.


"Aku ada disini sayang. "


"Kita harus pergi dari sini, " ucap Edi.


"Aku tau tempat yang aman sayang dilewati sekalian bermesraan, " ajak Maria.


"Sayang jangan sekarang, kan bisa dirumah kamu, " bisik Edi.


"Sebentar saja nanti baru dilanjutkan dirumah aku, gimana? " ucap Maria yang langsung di setujui Edi.


Sesampainya mereka di rooftop gedung itu tiba-tiba handphone Edi berbunyi dilayar nama istrinya muncul.


"Siapa yang menghubungimu terusan, "tanya Maria.


"Istriku."


"Di matikan aja, " ucap Maria.


"Iya."


Maria berjalan kebagian pinggir atap. "Udara disini sangat adem yaa. "


Istri Edi selalu meneleponnya hingga ia terpaksa mengangkatnya.


"ada apa? "


"mas kamu belum pulang? "


"emang kenapa sih"


"aku punya firasat engk enak"


"aduhh kamu ini mikir aneh-aneh simpan aja kekhawatiranmu segera tidur sana "


Telepon terputus...


Maria merentangkan tangannya agar mendapat pelukan dari Edi.


"Kamu kenapa sayang? " ucap Edi memeluk Maria.


"Gapapa hanya aja aku sangat senang banget, " ucap Maria.


"Sama aku juga. "


Maria mengeluarkan pisau lipatnya bersiap menusuk Edi tapi gagal karena Edi merasa berhalusinasi berjalan kearah depan.


"Sayang kamu lihat ada emas, " ucapnya.


"Apa yang dia lakukan. " batin Maria.


"Kita kaya haha yes kita kaya, " ucap Edi.


"Apa gue berlebihan masukan ke minumannya yaa. "


Edi sudah berdiri di ujung atap, tanpa pikir panjang Maria langsung mendorong Edi hingga tewas di tempat.


Polisi yang berada di tempat menemukan tubuh Edi diatas mobil jatuh dari gedung tinggi itu.


" Bagaimana hasilnya? "


"Forensik mengatakan jika kemungkinan kasus bunuh diri karena tidak ditemukan pembunuhan, dari tesnya juga mengatakan jika korban menggunakan narkoba, " ucap polisi.


Maria yang berada di lokasi tersebut tersenyum, tiba-tiba masuk pesan dari handphonenya membuatnya kaget hingga tergesa-gesa keluar dari tempat itu.


"Taksii... Pak antar saya ke lokasi ini. "


"Baik mbak. "


Mobil taxi plat B 1234 NN melaju dengan sangat cepat usai Maria menyuruh ngebut. Sesampainya didepan tempat bernuansa putih itu membuat Maria pelan-pelan menarik nafas dan masuk kedalam melihat daftar ruang nama yang akan ia masuki, matanya tertuju kesebuah nama yang masih samar-samar ia langsung segera menuju ketempat itu lalu menaiki lift dan berlari di lorong yang masih menggunakan dress pestanya.


Maria terjatuh karena heels nya, ia langsung melepaskannya dan mulai berlari tanpa alas kaki. Di depan ruang yang ditujunya, Maria masih mengatur nafasnya sebelum masuk kedalam tempat itu, disamping dinding ruang tertulis rumah duka XXXX.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2