
Jam 5 pagi Robert bangun lebih awal untuk jogging subuh. Baru mengelilingi 10 putaran ia mendapat panggilan telepon dari dokter forensik di rumah sakit citra alam.
"Bert nanti jam 8 bisa kesini kah? ada yang ingin saya bicarakan" ucap dokter Maya.
"Baik dok"
Dengan nafas ngos-ngosan tanpa bertanya lebih banyak dari sebrang lalu memutuskan sambungan teleponnya. Setelah melewati 2 putaran Robert pergi dari taman.
Tok
tok
"Iya bentar."
"Robert?"
"Hai,, ini untukmu. " Ia memberikan sebuah kantong plastik hitam, yang isinya obat betadine dan plester cukup besar.
"Ini untuk apaan Bert? "
Tanpa bicara Robert menggerakkan postur tubuhnya lalu menunjuk ke mata kaki sebelah kanan milik Maria yang terluka akibat menyandung akar pohon saat di hutan.
"Ohh kau melihatnya rupanya," jawabnya tertawa kecil.
"Kemarilah biar sekalian kuobati, " balas Robert menyuruh Maria menghampirinya di kursi teras rumah.
"Bert gue bisa sendiri, auuhh pelan-pelan napa." Belum selesai Maria bicara Robert sudah memegang sudut mata kakinya.
"Ini harus segera diobati, pakai air mengalir saja engk cukup, " pungkasnya.
Salah tingkah karena perilaku Robert, Maria bertanya basa-basi agar tak canggung. "Bert lu abis joging? "
"Ehmmm, tadi sekalian lewat di depan rumahmu jadi mampir deh."
"Berarti lo balik lagi ke depan buat beli ini terus balik lagi kesini ? " tanyanya.
"Hmmm"
"Engk usah repot-repot tau kan gue punya utang budi lagi sama elu," ucapnya seraya memutar bola matanya kearah lain saat Robert menoleh kearahnya.
"Jangan merasa terbebani semua team ku perlakuan baik, jadi bersyukurlah ada yang perhatian sama kamu, " ucapnya selesai mengobati kemudian mengucek-ucek rambut Maria lalu pergi melanjutkan jogging nya.
"Issh pagi-pagi bikin kesal saja," gerutunya lalu pergi masuk kedalam rumah karena malu.
Hari ini memang team sedang libur sampai dua hari kedepan sehingga beberapa anggota melakukan aktivitas individunya masing-masing. Tono dan Haikal pergi memancing lalu Juan melakukan survei untuk alat ciptaannya, Pak Zaenal seperti biasa selalu di rumah menghabiskan waktu bersama keluarga.
Situasi menjadi kondusif sesaat setelah masalah kasus Perusahaan Geuning long. Sebuah ruang memperlihatkan tempat yang sangat menawan lengkap dengan ukiran maupun kepala rusa di dinding terdapat sofa panjang yang di duduki oleh seorang lelaki yang tak nampak wajahnya sedang menonton ulang siaran TV kejadian kemarin saat media melaporkan Perusahaan Geuning long.
"Hahaha ini sangat menyenangkan mempermainkan mereka lumayan memberiku semangat ingin rasanya berjumpa secepatnya dengan.... "
"Team J tuan," jawab asistennya di belakang pria itu.
"Ohh iya hahaha, pokoknya awasi terus mereka kalau perlu kirim mata-mata ditengah-tengah mereka. "
"Baik tuan."
*****
Robert memperhatikan arloji miliknya merunjuk pada pukul setengah delapan lewat sudah waktunya ia berangkat ke rumah sakit menemui dokter Maya. Sebelum itu ia mampir untuk membelikan sesuatu untuk adiknya yang bekerja di rumah sakit tersebut.
Selesai mengunjungi sebuah toko roti di dekat rumah sakit, Robert berjalan kaki karena mobilnya ia parkir lebih dulu disana di perjalanan tidak sengaja bertemu dengan Maria yang hendak menuju ke rumah sakit saat diikuti sampai di koridor tiba-tiba menghilang.
"Kemana dia? " tak disangka Maria mengintip dari kejauhan jika ia diikuti oleh orang.
"Ternyata dia Robert, mau ngapain di rumah sakit? " pungkasnya kemudian berhati-hati menuju kesuatu tempat.
Seseorang mengagetkan Robert yang tampak kebingungan.
__ADS_1
"Bert kamu kenapa? " tanya dokter Maya.
"Engk dok, tadi saya lihat rekan kerja saya tapi kayanya salah orang deh, " jawabnya.
"Yaa sudah kita langsung pergi ke ruang ku saja, ada yang harus ku bicarakan,"
Setelah sampai di ruang dokter maya ia tampak sedikit takut dan sekali-kali mengecek keluar ruangan agar tak ada orang yang nguping.
"Dok… kenapa panggil saya kesini apa sudah dapat pelakunya," tanya Robert.
Semenjak Robert sibuk dalam banyak kasus bersama team dan mencari adiknya, ia tak pernah mengunjungi dokter Maya lalu dengan kesempatan yang ia punya sekarang dia akan membantu mencari pembunuh yang pernah terjadi di rumah sakit untuk mengembalikan reputasi rumah sakit citra alam kembali.
"Jadi gini Robert aku menemukan hasil tak terduga dalam penyelidikan, kamu tau lelaki ini engk? " tanya Maya.
"Kok CCTV ini ada perasaan pas kepolisian konfirmasi tidak ada ditemukan kamera di lokasi, bahkan di bagian arah menuju atap rumah sakit, " ujar Robert dengan mengernyitkan dahinya.
"Iya aku engk sengaja jalan ke parkiran dan menemukan sebuah mobil yang cukup lama terparkir milik seniorku jadi kupikir mungkin masih ada dasbor nya pas di cek masih menyala dan pas di lihat aku menemukan ini. Tapi tenang saja aku melakukannya dengan diam-diam, karena aku takut jika banyak orang tau pasti ada yang memberitahu kan ke penjahatnya," tukas dokter Maya. lalu diajungkan jari jempolnya oleh Robert.
Cukup lama mereka berbincang tak terasa waktu sudah siang membuat Robert lupa ingin memberikan roti berlapis keju coklat ke Lukas adiknya.
"Nanti akan kukasih tau lebih dalam di telepon sekarang aku harus meeting dengan para dokter, " ucap Dokter Maya mengakhiri pembicaraan mereka.
"Okelah dok saya tunggu. "
Masuk ke dalam ruang khusus staf rumah sakit Robert bertanya dengan salah satu orang keberadaan adiknya Lukas.
"Misi mbak tau dimana Lukas engk? "
"Ohh ada mas tadi lagi jadi petugas di kantin apa saya panggilkan? "
"Boleh deh mbak, " ucapnya.
"Bang, " panggilannya terdengar familiar di telinganya.
"Lukass." teriaknya langsung memeluk adiknya itu yang begitu ia kangenin.
"Ini buatmu. " Mereka berdua sudah berada di sebuah taman rumah sakit.
"Ini apa bang? "
Lukas membuka bungkusan berwarna cream di dalam sebuah kotak segi empat terdapat delapan buah kue tart mini keju coklat untuknya.
"Bang ini beneran? " tanyanya lagi.
"Iya bagaimana suka."
"Hmmm aku sebenarnya lagi pengen juga Terima kasih kuenya," jawabnya.
"Iya sama-sama," jawab Robert dengan senyum bahagia.
"Nanti aku boleh kan main-main kesini? atau ke kontrakanmu? " tanya Robert.
"Boleh aja tapi ke kontrakan saja kalau terusan kesini engk enak sama rekan kerjaku yang lain. "
"Iya soalnya mulai besok aku mungkin akan terus ke sini karena ada kerjaan,"
"Ohh gitu bang. "
"Tau engk Lukas pertama kali kita bertemu membuatku sangat senang dan bersyukur kamu masih hidup sehat sampai sekarang, " ucap Robert dengan ekspresi bahagia.
" Iya bang, " balas Lukas dengan ekspresi datar.
Lukas sudah mulai terbuka hatinya untuk abangnya dan menyayanginya kadang di malam hari ia dikunjungi kakanya lalu sering menginap bersama.
.
.
__ADS_1
Tono dan Haikal sedang asyik bermain Playstation di ruang tamu dengan suara rusuh menganggu ketenangan Juan di kamar.
"Woyy, engk lihat kah sudah jam 12 ini waktunya istirahat kalian malah nge-game," keluh Juan.
"Kenapa sih Juan, orang lain aja kaga protes, " ungkap Haikal.
"Lah inikan kedap suaranya mau sekenceng apapun elu teriak mantulnya tetap ke dalam engk akan keluar kecuali lu buka tuh jendela, " ucap Juan meluapkan emosinya dengan menepuk-nepuk temboknya.
"Iya iya tapi 1 ronde lagi, " pekik Tono melayangkan senyuman.
*****
"Astaga aku kira siapaa." Raut wajah Robert begitu kaget saat melihat Juan berdiri sambil menyender di tembok kontrakan Lukas.
"Bert gue boleh bobo disini. " ucap Juan.
"Bang dia siapa? " tanya Lukas berada di belakang Robert.
"Sorry Kas aku engk tau dia kesini, " ucap Robert ke adiknya.
"Maaf Lukas, gue boleh tidur engk malam ini disini, di apartemen lagi ada kerusuhan, " ujar Juan.
"Hah, siapa yang buat rusuhh," tanya Robert.
Jika Juan mengingat saat Tono meminta 1 ronde lagi dalam bermain tapi malah makin parah situasinya kedua kawannya itu malah saling bertengkar.
"Aisshhh malas kalau gue ingatt mending bobo, gue capee seharian memandangi layar komputer," ucap Juan langsung membaringkan dirinya di sofa empuk di ruang tamu yang tidak terlalu luas itu.
"Yaa udah, bang tidur denganku saja di kamar temanmu disini," ucap Lukas.
Pagi yang cerah menyudutkan bagian mata juan yang langsung membuatnya memalingkan wajahnya kesudut sofa.
"Woyy bangunn katanya cuman semalam tidurr, ingat jangan kebablasan," pekik Robert.
"Sialann Robertt dia lupaa gue tidurnya selalu bangun siangg."
"Hoaamm, Bert gue masih ngantukk pasti Tono dan Haikal masih nge-game itu kalau hari libur sampai pagi. "
"Jadi mereka yang buat rusuhh disana, awass nantii mereka," ucap Robert.
"Bang aku sudah siapp," sahut Lukas.
"Juan, aku sama Lukas mau keluar jangan lupa kunci pintunya, awass lupa!"
Hmmm
5 menit kemudian....
Suara handphone milik Juan berbunyi.
"Woyyyyyyy jangan lupaa kuncii pintu nyaa." Suara Robert begitu besar di dalam sana membuat mata Juan melotot.
"Santai woyy, " balas Juan.
"Aisshhh dasarr kaparatt sialann," sahut Robert setelah Juan mematikan telepon sepihak.
"Kamu kenapa ketawa kas?"sambungnya menanyakan adiknya.
"Lucu yaa pertemanan kaliann, aku jadi iri, " ungkap Lukas.
"Jangan bicara begituu anggap saja mereka temanmu, anggap kita berbagi kawan lah, " tukas Robert.
Lukas kembali dengan ekspresi serius sambil memalingkan pandangannya ke luar jendela mobil.
"Aku engk butuh teman sejak dulu mereka selalu bersikap buruk dibelakangku," ucap Lukas dengan ekspresi datarnya.
"Kasihan Lukas masa mudanya begitu kelam." Batinnya.
__ADS_1
Robert kembali dengan tatapan mengarah kedepan untuk menyetir, setelah beberapa kali melihat ke adiknya itu masih saja dengan posisi melihat keluar jendela.