
Maria bersiap untuk pergi dengan mengenakan hoodie lengkap dengan kacamata hitam dan masker agar tidak ketahuan pengawal dan supirnya.
"Untung mereka masih tertidur kalau sampai tau mereka pasti lapor Pak Jack, " ucapnya.
Maria menaiki angkutan umum untuk sampai kegubuk sebelum kemarin meninggalkan tempat tersebut, ia menyuruh salah satu warga setempat membantunya menjaga Juan dan Robert.
"Bagaimana keadaan mereka? " tanya Maria sampai disana.
"Aman bu. "
"Ini gaji anda. "
"Terima kasih bu, " balasnya kemudian pergi dari gubuk.
Maria langsung menguyur wajah Juan dan Robert agar bangun.
"Apa kalian mengenaliku? " tanya saat keduanya sudah mulai sadar.
"Aku tidak tau. " jawab Robert sambil mengucek matanya.
"Wanita yang di bank, ingat engk. "
"Ohh gue ingat, " teriak Juan.
"Akhirnya tau juga,, gue mau nanya kalian ngapain di kota ini. "
"Bukan urusan anda, " ucap Robert langsung bangun dari tempatnya.
"Ehh sembarangan pergi begitu saja, lo kemarin hampir mati ditangan orang-orang itu untung ada gue nyelamatin, " ujar Maria.
"Makasih sudah nolongin tapi anda ngapain ada di bar itu. " Ia balik menanyakan ke Maria.
"Engk kok, orang gue engk sengaja lewat pas kalian di bawah kesana jadi masih sempat panggil warga, " ujar Maria.
Robert mendekat. "Anda jangan bohong saya lihat dan sedang tidak pingsan saat itu. "
"Mending kita bicara 4 mata diluar, " tukas Maria.
Robert dan Maria keluar untuk berbicara. "Gue sebenarnya bekerja jadi penasehat seorang bandar judi dan itu salah satu miliknya, " ucap Maria.
"Nah benar, berarti tadi anda bohong dong. "
"Iya gue ngaku salah, sekarang giliran elu ngapain disini. "
"Saya sedang kerja kebetulan dapat kasus salah satunya menangkap bosmu, " ucap Robert.
"Ternyata bertolak belakang, " pekiknya.
"Jadi bagaimana? " tanya Robert.
"Apanya yang bagaimana. "
"Kamu tetap di jalur yang salah atau bantuin kami. "
"Bukan begitu, kalau sekarang nyari kerja itu susah bahkan tidak ada yang di bidang gue apalagi gue mantan pemb- "
"Apa katamu? "
"Engk bukan apa-apa kok, " jawab Maria hampir keceplosan.
"Sekarang gue antar kalian berdua ke stasiun jangan kesini lagi berbahaya, " sambungnya.
"Engk, kami tidak akan kemana-mana sampai kasus ini tuntas, " tukas Robert pergi.
"Benar-benar keras kepala, " seru Maria mendekati punggung Robert.
"Aauww." rintihannya saat tersandung sebuah selang air membuatnya terjatuh seketika Robert membantunya.
Mata keduanya saling menatap sangat dekat.
"Kalian gapapa. " tanya Juan.
"Menjauhlah dariku, " pekik Maria.
"Siapa juga yang mendekatimu yang ada anda yang jatuh kearah saya, " ucap Robert.
Maria langsung pergi begitu saja dari gubuk itu. "Pak tolong usir mereka jika sudah membaik, saya malas lihat wajah mereka."
"Diapa wanita itu seenaknya berkata seperti itu, " sunggut Robert.
"Sudahlah Bert mending kita segera menuntaskan kasus ini dan segera pergi dari tempat ini, " balas Juan.
*****
Pergerakan Robert dan Juan di lakukan pada malam hari agar tidak banyak di ketahui musuh.
"Bert, pokoknya gue akan terus mantau melalui monitor jangan sampai alat ini lu jatuhkan atau ke injak ini sangat mahal, " ujar Juan.
"Iya Juan."
Dengan hati-hati Robert melewati ventilasi dibantu arahan Juan.
"Bert belok terus lurus lagi. "
"Santai woy pelan-pelan napa. "
"Ehh di bawah ada orang cuy, " pinta Juan.
__ADS_1
"Berapa orang? "
"Dua orang. "
"Serahkan padaku. "
Robert turun dari atas ventilasi dengan setengah badan mengayunkan kaki agar mendarat dengan baik.
"Siapa lo. " tanya penjaga.
"Gue Robert, " ucapnya sambil menghajar kedua orang tersebut.
"Bert gawat banyak orang dibalik pintu, hati-hati. "
"Sepertinya aku harus menggunakan sesuatu untuk menghajar mereka,, nah ini dia, " ucapnya sambil meraih pemukul bola golf.
"Oke bersiap mendapat pukulanku ini. "
Ia membuka pintu lebar-lebar untuk bersiap menghajar semua penjahat itu.
Plakk,,, plakkk huss plakk
Tiap jalan ada aja yang datang mendapat giliran kena hajar Robert.
Plakk,,,,huss,,,,plakk
Robert sambil berpose layaknya pendekar kesatria selesai mengundus pedangnya.
"Masih ada lagi Bert, " ucap Juan dari dalam alat pendengarnya.
Robert menghela nafas dan bersiap bertarung lagi.
"Semangat Bert nanti dapat reward, " ucap Juan terkekeh.
"Hmmm"
Hingga sampai di depan ruang paling pojok di tempat itu. Ia membuka pintu mendapatin bos mereka sedang bersenang-senang meminum alkohol bersama para wanita.
"Kuberikan waktu 5 detik untuk para gadis keluar 1...2...3 " ucap Robert membuat empat wanita penghibur keluar.
Robert berjalan mendekati orang yang dikatakan pemimpin di tempat itu. "Mau ikut ke kota dengan mandiri atau di tarik paksa? "
"Hahahhaha elu tidak akan bisa menangkapku karena..."
"Karena apa? " tanya Robert.
"Bosku akan datang besok. "
"Okey akan kutunggu, sekalian membawa pemimpinmu ke penjara, " ucap Robert sambil menaruh alat penyadap di bawah meja dan menyentuh kerah jas milik lawannya agar memudahkannya melacak.
***
"Bagaimana Juan? "
"Ini lagi gue tunggu. "
Setelah mendapat gertakan dari Robert laki-laki yang Robert dan Juan amati dari CCTV sangat gelisah sehingga mulai menghubungi seseorang.
"Pak apa anda besok datang,, saya mendapat ancaman dari kepolisian,, "
"Baiklah pak."
Setelah semua beres laki-laki itu menghilang dari monitor menuju luar bar.
"Gue penasaran kenapa elu memilih taruh pelacak itu di kerahnya, " tanya Juan.
" Saat kuperhatikan jika jas yang dikenakannya selalu tak diganti kecuali dalamnya, " ucapnya membuat ekspresi Juan sedikit ilfeel.
Mereka mengikuti mobil yang dikendarai orang yang berada di bar ke tempat penyimpanan narkoba dan minuman keras. "Kau tau ini bernilai sekali jangan sampai polisi tau ada ini segera selundupkan ke negara xxx"
"Baik bos. "
"Saatnya kita beraksi Juan," ujar Robert sambil tertawa jahat.
Dengan mengenakan topeng, Robert berhasil membuat mereka ingin menangkapnya sementara Juan beraksi untuk memotret barang bukti.
Pesan terkirim ke kejaksaan dan kantor team J disana ada Haikal dan Tono yang akan menghandel, salah satunya mengabarkan kesemua sistem keberangkatan jalur laut, udara atau darat agar tidak beroperasi jika muatan berasal dari gambar yang dikirim.
Cekrekk... cekrekk...
"Okey mampus kalian semua bakalan membusuk di penjara, " ucapnya monolog.
Juan segera masuk kedalam mobilnya untuk menolong Robert.
"Menunda waktu akan membuat polisi cepat kesini harus segera dimasukkan barang-barang ini... woyy sisanya kemari angkat box ini, " ucap bos itu di balik penyimpanan lainnya.
.
.
"Ayo kejar kalau berani mlewww, " ledek Juan.
titt tittt
"Cepatan naik Juan."
Mereka segera pergi dari sana sementara Maria datang ke lokasi bar terlihat heels yang dikenakan tak terlalu tinggi keluar menampak tanah, terlihat disekitar bar sangat sepi.
__ADS_1
"Kemana semua orang ini, " lirihnya.
Maria bertanya kepada orang di dekat meja. "Woy kamu... kemana semua orang? " tanyanya.
"Semuanya sudah pulang karena sudah sangat malam, " jawabnya.
"Masa ini masih jam delapan."
Orang itu celengak-celinguk dan pergi begitu saja dari hadapan Maria.
"ihh ini orang engk punya sopan santun banget, " sunggut Maria.
Mantel yang dilingkarkan di pundaknya langsung ditutupi kesemua kepala karena suara yang dia kenal mulai mendekat.
"Ada apa bu? "
"Kayanya gue harus menutupi wajahku dari orang itu kalau elu kemana kek sembunyi aja, cepatan, " lirih nya.
Sontak supirnya juga bersembunyi di bawa meja karena suruhan Maria.
Robert yang lewat langsung mengetahui ada orang di sampingnya. "Juan kamu kedalam duluan aku mau perbaiki sepatuku. "
"Ya udah cepatan yaa sebelum orang bar datang. "
Robert sambil cengegesan mulai iseng. "Kemana semua orang disini aku tidak melihat satupun bisa-bisa yang datang hantu lagi,, ehh apa itu merayap di dinding, " serunya.
Maria yang mendengar hal itu ikut panik tapi masih ditahan untuk tidak bergerak.
"Hantuuuu disana. "
"Mana hantunya manaa..." balas Maria ketakutan yang bersembunyi di belakang Robert.
"Perasaan tadi ada deh. "
"Kampret lu mana ada hantu merayapp, " jawabnya sambil mengeplak punggung Robert.
"Ini hantunya, " ucap Robert menunjuk kearah Maria.
"anj*ngg lu, " ucapnya lalu keseimbangan kakinya oleng hingga jatuh ke badan Robert membuat mereka saling mengecup bibir.
.
.
"Suara apa itu, " ucap Juan.
"iuhhh jangan dekat-dekat guee, " ucapnya begitu kesel dan langsung menjauhi Robert.
"Siapa juga yang mau dekat-dekat kamu yang jatuh menimpa saya duluan. "
Terdengar dari luar suara orang-orang bar, pupil Robert membesar mereka segera mencari tempat bersembunyi. Bersamaan masuk kedalam ruangan Maria dan Robert masih aja berdebat hingga perlahan bos bar itu melewati ruang tempat sembunyi mereka.
Ganggang pintu di turunkan pintu perlahan terbuka membuat keduanya panik dan memutuskan masuk kedalam lemari yang sama. Terlihat tidak ada orang disana pria itu memutuskan tidak masuk semakin dalam dan langsung menutupnya.
"Tadi kaya dengar suara dari sini deh. "
"Pak bos, " ucap bawahannya.
"Bikin kaget saja kamu. "
"Mobil dari nona Maria ada diluar pas dicek tidak ada orang. "
"Jangan-jangan sudah masuk ke dalam ruang ku lagi." Sontak ia bergegas ke ruangannya.
Sial ada Juan disana.
Juan bersembunyi dibelakang rak sebelum pria itu masuk lebih dalam. Kemudian Maria membuka pintunya tiba-tiba.
"Nona Maria apa yang membuatmu sangat panik, " pekiknya.
"Ehh tidak! gue sudah lama ingin mengajakmu minum bersama, " ucapnya sambil mengerakan postur tubuh.
"Hmmm akhir-akhir ini saya engk minum tapi karena nona meminta akan saya lakukan, " ucapnya mendekati rak susun.
"Mau kemana sih" tanya Maria.
"Saya hanya ingin mengambil wink di atas rak ku saja. "
"Perlu orang tinggi yang mengambilnya, " ucap Maria.
"Enak saja saya juga tinggi tau, " ujarnya lalu menarik botol wink dari tangan Maria.
"Kan beda 5 sentimeter doang, " gumam Maria.
"Ayo kita pergi, " sambungnya sambil menuntun pria itu dari belakang.
"Cepat segera temui Robert di gubuk, " bisik Maria ke Juan.
"Apa nona tadi ngomong? " tanya pria di depannya.
"Eh tidak apa-apa gue melihat kecoa ayo kita segera keluar. "
"Di ruanganku mana ada kecoa bahkan semut sekalipun bakalan ku hancurkan," gumamnya.
"Ada loh tadiii. "
Volume suaranya semakin menghilang meninggalkan tempat. Segeralah Juan keluar dari sana menemui Robert.
__ADS_1