BRAVE $ MAN

BRAVE $ MAN
Bab. 71. Perkara 100 Juta


__ADS_3

Mobil sedan hitam terperosok ke tepi laut saat melintasi jalanan kota, diduga supirnya oleng akibat dipaksa masuk kerja dalam keadaan sakit.


Sebuah berita stasiun televisi mengabarkan kondisi yang dialami Pak Menteri keuangan kala melakukan perjalanan melintasi antar kota Nusantara dan kota Chilli.


Pak menteri yang mengalami luka ringan begitu frustasi karena uang yang akan disetor ke kas negara lenyap ia bahkan terekam memaki-maki supirnya, viral di media sosial atas unggahan salah satu perawat di dalam ruang perawatan.


" Parah banget orang yang tinggi jabatan kalau sudah berkuasa bahkan supirnya lagi sakit disuruh kerja, " ujar Juan yang sedang menonton cuplikan berita di layar besar di pencakar gedung tinggi.


Hari ini mereka mulai bekerja seperti sediakala, Maria di meja repsesonis sedang melayani banyaknya pelanggan yang datang. Ada yang baru pertama kali kesana karena reviewnya seorang selegram terkenal bernama Andina louis.


"Besok mau kesini lagi deh pekerjanya ramah, cantik dan ganteng, " ucap sekelompok anak kuliahan yang jaraknya ketempat itu hampir dua kilometer.


Haikal yang sedang membantu Robert di cafe menjadi cengegesan sepanjang mengepel karena mendengar pujian mereka.


"Elu kenapa senyum-senyum begitu Kal, lagi kesambet, " ujar Tono yang datang membawa sekotak stok bahan cafe.


"Suttt jangan menganggu ketenangan pelanggan engk baik, " pintanya.


Robert yang berada di bagian kasir hanya mengelengkan kepalanya atas perseteruan dua kawannya itu.


"Iya sama-sama, nanti langsung saja naik keatas, " ucap Maria kepada dua tamu yang akan menuju ruang baca.


"ehm lumayan padat juga anak kuliahan kesini, " gumamnya.


"Kak Maria apa kabar, " sapa seorang yang sangat familiar.


"Sari…" tutur kata Maria begitu lekat saat melihat seseorang yang cukup ia rindukan di hadapannya. Membuat keduanya melompat-lompat kegirangan lalu berpelukan.


*****


Hari semakin siang bahkan pelanggan begitu membludak datang tanpa henti. Di cafe yang banyak dipadati sehingga Robert membutuhkan banyak rekan untuk membantunya.


"Selamat datang di cafe jingga, " sapa Haikal begitu ramah kepada pelanggan wanita yang datang cukup jauh jaraknya.


Tak kalah ramahnya juga saat Robert menyapa dan tersenyum di kasir saat mereka akan membayar.


"Terima kasih ganteng, " ucap ibu-ibu yang mencubit pipi Robert karena gemasnya usai melayani pembayaran di kasir. Tono yang kembali setelah mengantar pesanan begitu terkekeh saat melihat Robert sudah membatu.


Juan nampak keluar dari ruangannya untuk meregangkan badan sekaligus berniat mencari udara segar setelah beberapa jam bekerja di dalam.


Alangkah kagetnya ia mendapati seorang nenek berdiri di hadapannya. "Anjirtt…nek ngapain disini? " pekik Juan.


"Nak dimana toilet disini yaa? " tanya si nenek dengan tongkat yang ia pegang menepuk-nepuk kaki Juan.


"Mari saya antar, kamar mandinya di ujung tangga nek, " ucap Juan membantu nenek itu melangkah.


Setelah Juan mengantar si nenek ke toilet dan kembali ia terkejut pintu ruangannya terbuka entah siapa yang masuk kesana membuat beberapa barang berantakan.


"Robotku…sialan siapa berani masuk sembarangan, " ucapnya begitu keras.


Terlihat anak kecil keluar dari bawah meja menghampiri Juan seraya tertawa.


"Ohh elu rupanya biangnya. " Suaranya menjadi lembut saat melihat dihadapannya balita begitu lucu meminta sesuatu.


"Kemana lagi ini ibunya sudah tau anaknya hilang malah kaga dicari, " ucap Juan begitu kesal pergi kesegala tempat mengendong si anak kecil itu, beberapa orang ditemuinya menaruh kegemasan akan mereka berdua seperti ayah dan anak.


Loh ini kok ramai sekali tumben aja.


"Anakku… kamu mau nyulik yaa? "


"Enak saja…gue nemuin dia masuk ke ruangan kerja gue, makanya kalau punya anak tuh di jaga mbak, keasikan selfie aja sih, " ucapnya begitu kesal lalu pergi.


"Mas tunggu, saya minta maaf telah berburuk sangka dengan anda sebagai gantinya saya kasih uang yaa, " tuturnya sambil mengeledah isi dompetnya.


"Engk usah mba saya sudah memaafkan, lainkali hati-hati aja, " balasnya kemudian pergi menurunin tangga.


Maria nampak selalu tersenyum sepanjang hari padahal sambil berdiri untuk menyapa semua pelanggan yang datang, Juan yang turun dari tangga melihat kearahnya.


"Mar elu engk ada istirahat, dari tadi gue lihat dari kaya kecapean gitu mana senyum terus lagi, " terka Juan.


"Cape sih sebenarnya tapi mau bagaimana lagi pelanggan terus berdatangan, " ucapnya sambil mengoyang-goyangkan kakinya yang pegal.


"Yaa sudah elu duduk, gue yang layanin." ucapnya mengeser tubuh Maria agar menepi.


"Engk usah Juan ini mah tugas gue, " pintanya.


Dengan tatapan tajam Juan memberi kode agar Maria duduk sementara beberapa pelanggan ada yang sudah mendekat.


"Ada yang bisa dibantu bu, " sapa Juan.


"Saya menonton reviewnya Andina katanya disini sangat bagus sekali cafe nya, " tanya si ibu yang perawakannya seperti ibu sosialita.


"Iya benar bu disini tempatnya, mari saya antar ke cafe nya, " pinta Juan.


"Duh baiknya si mas-nya, " puji nya sambil tertawa kecil.

__ADS_1


******


Pak Zaenal yang memantau dari CCTV di ruangan agak sedikit waspada dari beberapa pergerakan di setiap sudut tempat yang sangat banyak orang.


"Kenapa makin siang orang-orang pada berdatangan, semoga diantara mereka tidak ada yang mencurigakan deh, " tukasnya sembari menyeruput kopi miliknya yang masih panas lalu mengibaskan bibirnya yang tampak pedih akibat kepanasan.


Tak terasa jam lima sore masih tetap sama, beberapa orang masih duduk manis di cafe menikmati waktunya dengan teman maupun pasangannya. Tapi tidak dengan dua orang yang duduk di pojokan meminum banyak sekali air es karena kelelahan melayani pelanggan.


"Baru kali ini kita benar-benar bekerja keras, padahal kan ini tempat cuman sampingan dalam kasus kita, " pungkas Tono.


"Bagaimana keadaan di cafe? " tanya Juan yang datang bersama Maria.


"Tuh mereka kelelahan, " jawab Robert.


"Kasihannya kalian, " ujar Maria.


"Elu kemana saja Juan baru sekarang nonggol, " sentak Haikal.


"Gue mah bantuin Maria dibawah dari siang kasihan dia sampai bengkak betisnya, " ledek Juan.


"Sembarangan kamu Jun, betis gue memang begini tau, " tukas Maria menoyor kepala Juan.


"Hahahaha ampun Mar. "


Handphone Maria nampak berbunyi ia segera menjauh mengangkatnya.


"Nanti mau makan apa, tidak jauh dari sini ada restaurant yang baru buka loh, " pungkas Juan membuat Tono dan Haikal kesenangan.


"Tapi elu yang teraktir yaa, " pinta Haikal.


"Mana mau gue kan cuman ngajak, kalau bayar mah sendiri-sendiri, " pekik Juan.


"Gue duluan yaa sudah janjian sama teman, "


"Pacar? " tanya Juan.


"Engk lah gue mau pergi sama Sari, " balasnya.


"Hati-hati Mar, " sahut Juan.


*****


Hari semakin malam waktunya cafe tutup. Robert, Tono dan Haikal membersihkan cafe selesai semua pekerjaan mereka segera menuju ke bawah untuk pulang bareng.


"Kalian sudah mau balik? " tanya Pak Zaenal.


"Lah terus kamu kira saya dimana, " balasnya.


"Bukan gitu, biasanya kan bapa di rumah jarang ke kantor, " ucap Haikal yang tak mau kalah berdebat dengan bosnya.


"Wih pada ngumpul, nungguin yaa? " ucap Juan.


"Engk… lagi tonton, " jawab Pak Zaenal dan Haikal barengan.


"Pakai nanya lagi si Juan, " gumam Tono.


"Saya padahal mau teraktir kalian, tapi karena Haikal terus membuatku kesal jadi tidak usah saja, " ucap Pak Zaenal.


"Ehh Pak jangan gitu, ayolah pergi ke restaurant yang baru di buka disana enak loh, " ucap Juan.


"Benar tuh Pak. "


"Baiklah tapi Haikal minta maaf dulu, " ujar Pak Zaenal.


"Dih seenaknya, " ucap haikal.


"Haikal……"


"Iya deh, Pak Zaenal yang begitu tampan saya minta maaf yaa, " ucap Haikal.


"Belum tulus, ulang lagi, " titah Pak Zaenal.


Dasar Pak tua


"Tuan yang baik hatinya, saya minta maaf atas kesalahan saya yang membuat anda kesal, " ucap Haikal begitu merendah.


"Nah… saya memaafkanmu, " ucap Zaenal.


Mobil mereka telah sampai di depan restaurant yang baru seminggu buka itu tampak dari dinding kaca menampilkan sudut estetik dari dalam membuat siapa saja penasaran ingin masuk.


Mereka memesan meja di lantai 2 agar bisa menikmati hembusan angin dan spot yang dipilih pun menghadap ke jembatan besar milik kota Nusantara.


"Ehh pesankan Maria juga dia juga mau mampir kesini nanti, " ucap Juan.


"Oke"

__ADS_1


******


Sari dan Maria menikmati kebersamaan menaiki beberapa permainan di pasar malam di dekat rumah Sari lalu setelah menyelesaikan lempar tangkap ikan dan berakhir dapat boneka besar mereka memutuskan untuk pulang.


Karena rumah Sari dan pasar berdekatan Setelah mengantar Maria sampai ke halte untuk menunggu taksi, Sari pamit pulang.


"Makasih Sar sudah sampai diantar, " ucap Maria.


"Iya kak hati-hati pulangnya, " balas Sari dengan lambaian perpisahan.


"Ternyata disini lumayan sepi juga, " gumam Maria memandang kesegala arah daerah itu.


Dari arah belakang sesuatu seperti mendekatinya dengan cepat Maria memalingkan pandangannya tapi tak ada orang disana.


"Hello siapa disana, please jangan ganggu gue, " ucapnya begitu takut.


Meonggg…meongg…


"Ohh cuman kucing rupanya, bikin kaget saja. "


*******


"Gawatt…"


"Kenapa sih Ton, pagi-pagi berisik, " tanya Haikal teman sekamarnya.


"Elu harus lihat berita ini, " ucapnya sambil menyodorkan sesuatu di dalam handphonenya.


"Omaygat mereka harus tau ini. "


Keduanya membuat keributan di grup chat maupun di dalam rumah. Seketika Juan nampak keluar memarahi kedua kawannya itu.


" Kalian bisa engk pagi-pagi itu kaga usah berisik… ya ampun gue masih mau bobo tau, " pekik Juan.


"Engk bisa, elu harus lihat berita ini. "


"Whattt"


Sebuah artikel memperlihatkan Pak menteri keuangan meminta bantuan kepada awak media untuk memberitakan ke seluruh masyarakat kota Nusantara untuk membantunya mencarikan sebuah tas kulit berbentuk segi empat yang terjatuh kedalam laut yang belum diketahui apa isi di dalamnya. Ia berjanji akan memberikan uang 100 juta jika berhasil menemukannya.


Kalau gue berhasil dapat bisa buat jalan-jalan sampai puas. batin Haikal.


Kalau gue berhasil dapat bakalan bisa beli alat-alat hebat dan juga bisa lamar sasa juga. batin Juan.


Kalau aku berhasil dapat, bakalan kuajak Lukas nih kesegala tempat di seluruh dunia. batin Robert.


"Pasti kalian sedang menyusun rencana yaa dalam hati makanya dari tadi senyum-senyum kaga jelas, " tanya Tono kepada ketiga temannya itu.


Mulai hari itu mereka saling bersaing untuk mendapatkan tas kulit milik si Pak menteri. Bahkan hingga malam pun mereka tetap mencari tak hanya berempat tapi seluruh masyarakat yang berbondong-bondong terjun kelaut melakukan segala cara hingga ada yang masuk rumah sakit akibat kelamaan berenang di laut.


Sebulan kemudian perkara 100 juta itu kadang tanggung jawab di kantor tak terselesaikan akibat keseringan pergi kelaut. Pak Zaenal mulai geram akan tingkah laku anggotanya.


"Mar kemana mereka? "


"Biasa Pak Ke jembatan, " tukas Maria.


"Benar-benar mereka itu yaa, mau saya potong gajinya itu, " pinta Pak Zaenal langsung pergi ke ruangannya.


Di apartemen pun mereka berempat semakin licik satu sama lain mengagalkan rencana diantaranya seperti sepatu milik Robert disembunyikan, lalu alat pendeteksi buatan Juan disembunyikan, barang Tono dan Haikal juga.


Sehingga salah satu dari mereka berhasil mendapatkan tas menteri keuangan.


"Horee gue dapat nih, " ucap Juan.


"Woahh keren, " ucap seluruh orang disana.


Pak menteri datang mengunjungi mereka lalu memberikan hadiah yang ditunggu-tunggu. Uang 100 juta cash di dalam koper hitam.


"Engk nyangka gue beneran pegang uang sebanyak ini, " ucap Juan.


"Selamat bro elu benar-benar beruntung, " tukas Robert.


Tono dan Haikal begitu terharu melihat Juan yang mendapatkan itu.


"Gue akan melamar pacar gue, " ucap Juan begitu bahagia.


Keesokannya ia langsung berangkat menemui kekasihnya yang selama setahun ia pacari dengan hubungan jarak jauh.


Juan akan memberi kejutan untuk langsung datang kesana bermodalkan alamat yang pernah ia minta beberapa bulan lalu karena ingin mengirim kado anniversary mereka.


"Gue pergi dulu yaa do'ain semoga dilancarkan, " pamit Juan kepada seluruh rekannya di depan kantor.


"Hati-hati Juan, semoga sukses selalu, " pinta Maria.


"Baik-baik disana jangan lupa kasih kabar kami kalau berhasil, " ucap Pak Zaenal.

__ADS_1


Juan menarik nafas lalu menaiki mobil untuk menuju kampung halaman kekasihnya itu.


"Sasa tungguin abang yaa."


__ADS_2