
Kapal telah sampai di pelabuhan kota ligil banyak sekali orang yang memakai rompi hijau menawarkan jasa ke penumpang untuk mengangkut barang bawaan. Mereka juga mendapat gaji melalui hasil jasa tersebut.
"Mas mau dibawahin tasnya? "
"Engk mas, saya sudah milih bapa itu," ucap Robert yang telah menargetkan seorang pria tua untuk membawakan tasnya yang sudah menunggu diujung jembatan.
"Pak bisa bawakan tas saya? " ucap Robert yang langsung direspon gembira oleh si bapa.
Karena pengambilan motor maupun mobil agak lama jadi Robert berteduh sementara di warung sambil menunggu operator memberi pengumuman.
"Ini pak uangnya,"
"engk kebanyakan mas? " sembari Robert memberi selembar uang sepuluh ribu.
"Semoga berkah pak."
"Makasih mas, saya do'ain dapat jodoh yang cantik dan baik," pintanya.
"Haha do'ain saya cepat bertemu adik saya aja kalau soal jodoh masih lama pak."
"Oke mass semoga cepat berkumpul kembali bersama adiknya, Amin."
"Hati-hati pakk."
Bekal pemberian Maria sudah ia habiskan di kapal sebelum memulai perjalanan lagi ia harus mengenyangkan perut terlebih dahulu, jika dari penuturan kakek yang ia temui dikapal jika ingin menuju desa mawar jika menemukan warung wajib singgah untuk mengisi bensin maupun membeli makanan agar tidak kelaparan dijalan karena jika tetap menunggu kembali bertemu warung lagi maka itu sia-sia karena konon yang akan ia temui bukan rumah melainkan hutan belantara.
"Bu soto nya satu dan teh panas."
Operator memberi pengumuman untuk para penumpang yang membawa kendaraan harap mengambil di samping kapal. Segeralah Robert pergi karena selesai mengisi perutnya.
30 menit menunggu motor moge miliknya. Robert sekalian langsung menancap gas untuk menuju ke desa mawar. 5 jam akan ia tempuh karena kondisi jalan yang sudah diaspal disemua bagian sehingga butuh kurang 4 jam bisa ia lalui dengan cepat.
Sesuai perkataan si kakek Robert singgah di warung pertama untuk beristirahat sejenak dan membeli bensin maupun jajan.
"Bu didepan sana masih ada warung engk? "
"Engk ada mas hutan semua, emang mau kemana? " tanya si ibu.
"Ke desa mawar."
"Ohh nanti kalau sudah di persimpangan jangan ambil jalan kiri tapi kanan biasanya orang baru yang mau kesana ketipu maps jadinya malah nyasar makin jauh."
" Makasih bu informasinya, bensin berapa? " tanyanya.
"inggeh,, bensinnya harganya sepuluh ribuu."
Selesai beristirahat Robert melanjutkan perjalanannya di waktu pukul dua siang yang lumayan bagus karena cuacanya mendung.
Perjalanan yang melewati hutan belantara jika tidak fokus bisa membuat kita jatuh karena biasanya ada hewan yang suka masuk ke tengah jalan seperti ular, monyet maupun babi hutan. Yaa baru saja diomongin di depan sebuah mobil pick up mendadak ngerem untung saja jarak dengan motor Robert tidak terlalu dekat.
"Sialaann ini monyett masuk ke jalan sembarangan untung kaga penyet lu," ngedumel si supir.
"Kenapa ini mobil? owalah ada monyett," pungkas Robert dengan terkekeh.
Setelah si monyet di klaksoni akhirnya monyet dan 2 lainnya segera menyingkir.
Sesuai arahan pemilik warung ada sebuah perempatan lalu menuju ke kanan tapi si maps malah mengarah ke arah kiri jadi Robert mengikuti omongan yang paling tau daerah sini yaitu kanan.
Dua jam lebih setelah melewati perempatan tadi terlihat gapura bertuliskan desa mawar akhirnya Robert sampai disana ia lantas menuju sebuah penginapan di sekitaran desa tersebut.
Di dalamnya cukup modern sekali tidak seperti desa yang lainnya sebelum menuju penginapan Robert masuk ke sebuah warung yang besar namanya mart mawar yang penuh dengan kelengkapan didalamnya bahkan terdapat penyenduh air panas disana.
"Misi mbak saya ini alatnya bisa digunakan? " ucapnya sambil menunjuk ke arah penyenduh air panas.
__ADS_1
"Iya mas bisa."
"Oke makasih." Robert menyenduh pop m*e dan kopi susu yang dibelinya terdapat juga wadah gelas maupun piring, alat makan disana juga. Iya lantas menikmati makanannya di luar warung.
"Masnya orang mana? saya baru lihat disini, " ucap si mbak warung.
"Saya dari kota Nusantara."
"Woahh jauh sekalii, emang mau ngapain kesini? " tanyanya.
"Saya sedang mencari adik saya mbak, ohh iya tau alamat ini engk? " ucapnya sambil memberikan sebuah alamat rumah.
"Ohh si pak Jemo."
"Anda mengenalnya? " tanya Robert.
"Siapa sih yang engk tau, keluarga mereka lumayan terpandang bahkan pak Jemo mantan kades yang menjabat 2 kali, tapi apa hubungannya pak Jemo dengan mencari adikmu? "
"Aku ingin menanyakan sesuatu kepadanya."
"Nanti kamu lurus saja terus bisa tanyain lagi sama orang yang ada di pos kamling minta arahkan rumah keluarga pak Jemo gitu. "
"Oke deh makasih infonya," ucap Robert lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Sampai di sebuah pos kamling terlihat beberapa orang sedang bersantai bermain catur ada juga yang sedang bernyanyi ria. Robert mendekat untuk menanyakan alamat rumah pak Jemo.
"Misi bang," tegur Robert ke salah satu pemuda yang bermain catur.
"Kenapa mas? "
"Saya datang untuk mencari pak Jemo, dimana rumahnya yaa? "
"Ohh nanti lurus saja terus ada belokan lurus terus disebelah kiri ada sawah yang luas nah di depannya ada rumah warna coklat itu sudah rumahnya," pungkasnya.
"Sama-sama."
Robert mengingat ucapan pemuda tadi dan mengikuti arahannya setelah sampai di sebuah sawah yang sangat luas dan melirik ke arah rumah bercat coklat dengan pekarangan lumayan luas.
Mendekatlah Robert pelan-pelan agar tidak ketahuan setelah Robert memandang dari kejauhan ia memutuskan untuk pulang akan kembali esoknya. Kali ini ia mencari penginapan disekitar desa dan menemukan sebuah kost-kostan untuk beristirahat beberapa malam.
Di hari pertama Robert di desa mawar pagi-pagi sudah berkeliling menyelusuri desa dan bertemu seorang pria paruh baya berumur 80 tahun yang sedang kesulitan mengangkat jerami ke gerobaknya.
"Kek saya bantuin yaa."
"Inggehh"
Sampai dirumah si kakek Robert disuguhi segelas teh hangat dan singkong rebus.
"Ini nak untuk kamu."
"Terima kasih kek,, ohiya itu jerami untuk apa sebanyak itu? "
"Untuk tempat ayam bertelur," tukas si kakek.
"Ohh gitu yaa"
"Ini nak siapa namanya soalnya kaya baru lihat? "
"Saya belum perkenalkan diri rupanya, nama saya Robert kek," lirihnya sambil mencium punggung tangan.
"Baru disini yaa? "
"Kebetulan saya sedang mencari adik saya."
__ADS_1
"Emang hilang kesini? " tanya si kakek.
"Tidak kek" balas Robert terkekeh.
Lalu melanjutkan bicaranya. "Saya dapat informasi kalau adik saya di adopsi salah satu orang di desa mawar."
"Kalau begitu nanti suruh aja cucu saya bantuin yaa, gantian saya bantuin kamu."
"Tidak perlu kek," ujarnya sambil berdiri.
"Sintia kemarilah."
"Iya kek"
"Bantuin anak ini mencari adiknya."
"Engk usah kek, ya ampunn, " ucap Robert menolak tetapi malah di paksa si kakek agar cucunya ikut bersamanya dalam mencari adiknya.
"Mas ini kita nyarinya dimana? " tanya Sintia.
"Saya akan ke rumah pak Jemo."
"Oke deh kalau begituu"
Sintia yang masih berumur 18 tahun dengan pikiran sudah sangat dewasa melihat beberapa pasangan yang tengah memadu mesra di dekat sawah. "Mereka selalu saja disana, tidak tamat sekolah malah lebih suka bercocok tanam."
Robert yang mendengar hal itu sangat kaget. "Kamu masih kecil sudah mengerti hal begituan? " ucapnya.
"Emang kenapa kan aku sudah besar juga, kalau kaka sudah menikah? " tanyanya.
Robert tersedak es krim yang mereka beli di warung seperjalanan tadi. " Hook hook kamu ini bicara yang tidak-tidak. "
"Kan aku cuman nanya emang engk bolehh," sungut Sintia.
"Pertanyaan kamu emang kaga jelas," jawab Robert mengelus kepala Sintia yang sudah ia anggap adiknya sendiri.
"Misi pak/bu."
Mereka tiba didepan rumah pak Jemo.
"Iya ada apa yaa? " jawab istri dari pak Jemo.
"Saya Robert datang dari kota untuk bertemu pak Jemo."
"Ohh iya nanti saya telepon bapa dulu soalnya lagi di gedung serbaguna,silahkan masuk, " pinta si ibu.
Robert dan Sintia masuk. Sejam kemudian pak Jemo datang setelah rapatnya di gedung serbaguna.
"Ada apa bu? tadi nelepon."
"Ada tamu yang mencari bapa," lirih istrinya menunjuk ke arah Robert.
Senyum Robert menyambut kedatangan seorang pria bernama Pak Jemo itu. Dari wajahnya terlihat lelah karena tadi terburu-buru untuk sampai kerumah saat melihat panggilan tak terjawab dari istrinya.
"Bapa kira Lukas yang datang bu," pukasnya lalu duduk di sofa diikuti Robert dan Sintia.
"Lukas??,,, sepertinya nama itu tidak asing ditelingaku" batinnya bergejolak saat mendengar nama yang diucapkan pak Jemo.
.
.
...Bersambung dulu yaa.......
__ADS_1