
Robert masih menunggu nyonya Zia datang tapi dia sangat bosen terus berada di ruang itu sampai dilihatnya 2 anak berlarian menuju kesuatu tempat membuat Robert penasaran kemana mereka pergi.
Ia mengikutinya sampai kedepan rumah, melihat anak-anak sedang bermain pandangannya teralihkan saat sekelompok anak laki-laki bermain di lapangan, Robert tergerak melangkah kesana awalnya ia memperhatikan mereka hingga salah satu anak peka dan mengajaknya bermain entah kenapa ada kepuasan tersendiri saat bermain dan mendengar canda tawa anak-anak itu.
Sebenarnya Robert juga waktu kecil kurang merasa bahagia pasca kejadian kebakaran rumahnya yang membuat kedua orangtuanya meninggal dan berpisah dari adiknya hingga dirawat oleh kerabatnya yang jauh. Dia yang ceria berubah menjadi sosok yang pendiam bahkan sering bolak-balik ke psikiater karena mentalnya yang mudah down.
"Paman berikan padaku bolanya, " ucap salah satu anak.
"Bersiaplahh" ucap Robert.
Beberapa staf maupun anak lain mengerumuni lapangan juga memberikan support kepada pemain. Elisabeth yang sangat bahagia melihat anak-anak bermain diikuti nyonya Zia yang datang disampingnya mengatakan sebuah kalimat.
"Kebahagiaan datang di waktu yang tepat kadang kita tidak menyadari jika waktu kecil harus benar-benar mendapat kebahagiaan lebih banyak padahal orang dewasa juga paling banyak membutuhkan agar tetap sehat, " tukasnya.
"Benar nyonya, bahkan melihat mereka bersenang-senang aja membuatku ikut bahagia, " ucap Elisabeth menyadari keberadaan pemilik panti Yen Iman.
"Jika sudah mulai sore panggil anak-anak ke gazebo aku akan membuat cemilan enak. "
"Baik nyonya. "
Pukul 4 sore tidak terasa mereka berlelah-lelah dibawah pohon mangga, Elisabeth memanggil mereka untuk pergi ke gazebo atas pinta nyonya Zia. Mereka segera berlari kearah yang di komandan kan Elisabeth disana sudah terdapat meja panjang lengkap dengan es limau dan beberapa pisang goreng dan cemilan lain seperti risol dan tahu isi.
"Ayo semuanya kesini sebelum mengambil cemilan ada baiknya terlebih dahulu harus? " tanya nyonya Zia.
"cuci tangan. " ucap serentak anak-anak.
"Kemudiann apaa? "
"Duduk dengan rapi. "
"Iya benar,, tolong Elisabeth dan staf lain bagikan minumannya dan taruh wadah kuenya di dekat mereka, " ucap nyonya Zia.
Sembari para anak panti menyemil nyonya Zia mengajak Robert untuk ke ruangannya.
"Ini beberapa album yang saya temukan, semua anak disini dibagi beberapa angkatan dan nama mereka diberikan oleh staf maupun orang yang membawa mereka kesini tapi anak ini kita temukan di jalanan saat hujan-hujanan dia berjalan sambil menangis ada beberapa bekas luka di lengannya kami membawanya ke panti dan menamainya dimas, di kala itu awal dia datang kesini dia terus saja memanggil keluarganya yang saya ingat dia memanggil kakanya Robert. Pas foto ini kamu berikan ke saya langsung teringat olehnya karena dia sangat dekat dengan saya dan pengasuhnya dulu, " ucap nyonya Zia.
Robert kembali melihat foto adiknya usai mendengar perkataan nyonya Zia dan beberapa surat harapan yang adiknya tulis. Semoga dia bisa bertemu keluarga baik yang memberikannya kebahagiaan kelak. membuat Robert hampir meneteskan air matanya.
"Setelah itu kapan dia diadopsi? " tanya Robert.
"Kalau engk salah saat dia berumur 10 tahun dia bertemu orangtua angkat yang sangat baik seperti surat yang ia tuliskan lima tahun yang lalu, kami masih menerima surat dari mereka kemudian surat terakhir jika mereka akan pergi ke sebuah kota yang jauh jadi akan susah untuk mengirim surat lagi. Seperti anak itu sudah sangat dewasa mungkin saja sudah menjadi pemuda tampan yang Digerandungi banyak wanita, " ujar nyonya Zia.
******
Dirumah sakit Lukas mengais beberapa sampah yang jatuh di koridor bahkan tempat sampahnya ikut tertumpah entah manusia jenis apa yang melakukannya.
Hingga salah satu ruang perawatan yang pintunya kebuka menampilkan wujud 2 wanita melihat Lukas dengan tatapan terpanah kala wajah blasteran itu sedang melakukan aktifitasnya.
__ADS_1
"Itu cowo ganteng banget lebih cocok dia jadi dokter kenapa milih cleaning servis yaa, " ucapnya.
"Huss yang penting halal tau, " sahut perempuan lainnya.
"Mas tau dimana ruang lily tidak? " tanya salah satu pembesuk yang hendak mencari ruang yang dituju.
"Mbaknya lurus aja nanti ada diujung ada kok namanya, " ucap Lukas ramah.
"makasih btw masnya ganteng hihi, " ucap wanita itu lalu terkekeh sementara Lukas hanya memberikan senyuman.
Saat Lukas mengunjungi ruang dokter hendak ia bersihkan ia bertemu beberapa dokter senior yang mengenalnya karena dia tinggal dirumah dokter Hunus.
"Ehh ada Lukas."
"Iya Pak dokter, saya mau menyapu dan mengepal. "
"ia silahkan," pintanya.
Di dalam sebenarnya masih ada dokter lainnya yang sedang mengobrol sambil mengerjakan laporan dia melihat kehadiran Lukas disana. " Mas lukas kok mau sih kerja beginian kenapa engk kuliah aja kayanya masih bisa deh, " pinta salah satu dokter wanita.
"Hehe otak saya engk sampai bu dokter. "
"Atau engk jadi model aja kan tampang kamu cakep blasteran gitu, " sahut dokter lain.
"Kalian bukannya ke igd masih disini gangguin orang kerja, " pungkas dokter Luna yang lebih senior dari kedua dokter itu yang kemudian segera berdiri mengikuti perintah dokter Luna.
"Emang kenapa tampang seperti ini kerja office boy, " ucapnya. Lalu disamperin salah satu rekannya yang usianya lebih tua darinya.
"Mas Lukas tolong bantuin aku bawa ini, " ucap pekerja yang sama sepertinya.
"Ini kotak apa bu? "
"Hehe ini pesanannya dokter Maya yang forensik itu. "
"Ohh begitu yaa. "
Di ruangan Maya sudah ada polisi Adit dan Robert duduk di hadapannya yang sedang memeriksa sebuah kertas yang dijilid, disitu terdapat beberapa CT scan milik korban pembunuhan yang pernah terjadi di rumah sakit itu.
"Kalau dilihat dari beberapa scan ini ada kemungkinan mereka sebelumnya pernah berkelahi yaa dok, " tanya Robert.
"Iya benar ada jahitan dan memar yang memudar didekat punggung juga sepertinya pelaku tidak berhasil membunuh korban sehingga yang kesekian kalinya dia berhasil dengan menyuntikkan racun. "
"Jadi ini mereka punya hubungan dekat ?atau tidak, pelaku memiliki dendam sehingga ia berniat membunuh korban, " ucap adit semakin paham.
tok...
tok...
__ADS_1
"Silahkan masuk" seru Maya.
"Misi dok saya bawa pesanan dokter, " ucap wanita yang datang bersama dengan Lukas dibelakangnya.
"Ohhiya taruh aja di dekat meja sana. "
Robert yang sempat melirik kebelakang keberadaan 2 orang itu kaget melihat Lukas, ia seperti pernah melihatnya tapi entah dimana dengan menyipitkan matanya ia juga berpikir.
"Di mana aku pernah melihatnya. "
"Jenapa kamu? " tanya dokter Maya.
"Aku kaya pernah lihat laki-laki itu entah dimana, " ucap Robert kembali membaca kertas dihadapannya lagi.
"Mungkin dirumah sakit ini soalnya dia lumayan lama kerja di sini kan kamu sering kupanggil kesini jadi wajar aja kamu melirik saat jalan. "
"Entahlah" sahut Robert.
Usai membantu Maya, Adit dan Robert pulang ke tempatnya masing-masing.
"Terima kasih sudah datang, kalau ada kabar tentang pelaku segera hubungi aku Adit, " ucap Maya.
"Siap may aku pulang dulu, " ucap Adit.
"Duluan dok" sahut Robert.
"Hati-hati" kemudian Adit dan Robert memberi melambaian tangan ke arah Maya.
"Robert mau bareng denganku? " tanya Adit.
"Engk usah pak polisi saya naik taksi saja. "
"Okelah hati-hati. "
"Siapp"
Robert meninggalkan Adit yang masih menatap punggungnya hingga sudah jauh. "Perasaan aku kaya pernah lihat dia dimana yaa, " pungkas Adit sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
.
.
...Bersambung.......
...See you in the next chapter...
...✧༺♥༻✧...
__ADS_1