
Tono meraih piring dari dalam lemari untuk menuangkan sate yang ia beli diperjalanan ke rumah Maria.
"Mar lu kaga pernah bersih-bersih, kah?" selidiknya.
"Bersihin kok cuman engk terlalu rapi, " ucapnya memberi pembelaan.
"Pantesan hidung gue gatal karena debu. "
"Hidung lu aja yang sensitif sekata-katanya bilang rumah gue kotor, " gerutu Maria.
"sorry deh, yuk makan gue lapar nih, " ajak Tono.
"Bentar gue mau mandi dulu."
Sekembalinya dari kamar, Maria tak menyangka pria yang sangat menyebalkan seperti Tono membersihkan rumahnya begitu bersih daripada dia.
"Ton ini beneran elu yang bersihkan? "
"Iyalah gue, sebegitunya ekspresi wajah lo. Kaget yaa? "
"Iyalah kaget, kata Juan elu sama Haikal di apartemen kaga pernah bersih-bersih bahkan sampah berserakan di lantai aja kaga lu buang, " sahut Maria.
"Elah si Juan mulutnya lemes bener." Batinnya.
Tono mengambil sate yang dia taruh di dalam tudung nasi kemudian Maria ikut duduk di dekat Tono untuk menyantap sate yang dibeli rekannya itu.
"Ton bagaimana keadaan Robert? " tanya Maria.
"Sudah semakin membaik besok dia sudah bisa pulang. "
"Syukurlah kalau begitu, " balas Maria.
*******
"Lepaskan gue! …kalian mau bawa gue kemana. " Seorang anak laki-laki berusia 19 tahun dibawa masuk kedalam sebuah gedung.
"Letakan dia sini. "
Setelah beberapa lama ia duduk dengan mata tertutup dengan pakaian hitam putih seperti ingin melamar pekerjaan.
Suara pintu terbuka membuat laki-laki itu semakin waspada kala penutup matanya dibuka dan ikatan di tangan dan kakinya juga. Dengan beberapa kedipan untuk menetralkan pandangannya ia baru menyadari siapa orang yang ada di depannya.
"Kamu pasti adiknya Laila… tapi siapa yaa namanya saya lupa. " ucapnya sambil mengaruk kepala yang tak gatal.
"Willy Tuan, " jawab Wawan.
"Ohh iya Willy bagaimana keadaan keluargamu, kudengar adikmu ada yang sakit. " Pria itu menyodorkan tangannya terlebih dahulu lalu di tepis nya oleh Willy.
"Gue kaga tau maksud elu bawa gue kesini karena apa, " tukasnya.
"Wan bawa koper itu kesini. " Dengan sigap Wawan menarik koper untuk di hadapkan ke arah Willy.
"Apa ini kalian ingin membunuhku lalu menaruh tubuhku disini, " terka Willy.
"Benar sekali tapi belum saatnya… saya ingin kamu menerima hadiah itu untuk sebuah perintah. " ujarnya lalu menyuruh Wawan membuka, didalamnya ada uang 50 juta dan emas batangan sebanyak 10 batang. "Sisanya akan saya kasih setelah kamu menyelesaikan beberapa kerjaan, " sambungnya.
__ADS_1
"Ini be-beneran uang? " Willy tak bisa berkata-kata lagi atas apa yang dia lihat bahkan beberapa kali ia menyentuh lembaran uang di depannya, sesekali dia membayangkan rencana yang akan dia lakukan dengan uang itu.
"Kamu harus melakukannya terlebih dulu baru bisa mendapatkannya, " timpal pria itu membuyarkan keinginan Willy.
"Tidak… uangku, " seruan nya. "Akan kulakukan tapi bisakah aku minta beberapa lembar karena aku tidak punya uang lagi."
" Wan berikan uang padanya. "
"Baik Tuan. " Ia memberikan uang senilai 2 juta kepada Willy.
"Pulanglah akan ku hubungi saat waktunya tiba, " ucap pria itu meninggalkan tempat, lalu Wawan membuat laki-laki itu pingsan agar tidak diketahui orang sekitar jika tempat itu adalah pertemuan mereka.
Willy berada di lapangan hijau di dekat jembatan kota setelah ia bangun dan mengecek semua saku baju terdapat uang dua juta didalam amplop kuning ia segera pergi membeli makan malam untuk kedua adiknya dan langsung membayar sewaan kontrakan untuk sebulan.
"Kak uang dari mana dapat beli makanan cepat bukannya baru cari kerja tadi. apa jangan-jangan uang curian lagi, " tanya adiknya bernama Sara.
"Sar ini uang halal kaka engk pernah mencuri lagi semenjak kak Laila engk ada kabar"
"Syukurlah kalau begitu kak. "
Di kontrakan sempit itu mereka tinggal bertiga semenjak orangtua mereka meninggal lalu Laila jarang pulang tapi rutin mengirim uang tapi semenjak dua bulan belakangan tak ada kabar lagi dari Laila sehingga uang yang sering diambil Willy untuk kegiatan mabuk-mabukan dan berjudi tak bersisa lagi untuk keperluan mereka bahkan adik bungsunya mengidap penyakit asma bawahan yang harus dibelikan alat Inhaler asma yang cukup mahal di daerah nya.
"Kak belum tidur? " ucap Sara membuat Willy langsung mematikan rokoknya.
"Belum Sar kaka belum ngantuk, " balasnya.
"Kaka beneran sudah dapat kerjaan? " tanya Sara.
"Kenapa bertanya seperti itu."
"Sara takut kaka terjerumus dengan obat terlarang sekarang di negeri ini yang paling tinggi kasus narkoba. " tukas Sara meyakinkan kakanya.
"Masuk yuk dingin diluar kaka juga besok mau pergi kerja, " Sambungnya. Lalu mendapat anggukkan dari Sara.
Keesokannya pagi-pagi Sara sudah bangun lebih awal untuk membuat beberapa donat gula, donat coklat dan kacang untuk di jual kan di sekolahnya dulu karena Sara sudah lulus Smp tapi tidak punya biaya untuk lanjut ke SMA sehingga ia tak sekolah lagi.
"Dek kamu masih jualan? " tanya Willy.
"Iya kak lagi pula belum tentu juga, kan kaka cepat gajian jadi hasil tabunganku dipakai beli alat asma untuk Sekar."
Willy menaruh kesedihan diwajahnya saat melihat jerih payah adiknya itu apalagi ia belum tau kapan dipanggil kerja oleh orang yang menculiknya kemarin.
Butuh 1 km untuk Sara sampai ke SMP nya dahulu untuk menaruh jualannya.
"Aduhh." Semua donat hasil buatannya terjatuh saat tidak sengaja ditabrak segerombolan murid SMP berlarian di depan gerbang.
"Bagaimana ini donatnya kotor semuanya. " Isak tangis tak dapat dibendung lagi melihat semua keinginan untuk membeli alat inhaler asma untuk adiknya pupus. Bahkan salah seorang satpam memberi sedekah uang untuknya tapi tetap saja belum cukup untuk membelinya.
"Dimana lagi toko bunga yang dibilang Haikal kok engk ada sih, awas aja tuh orang kalau coba menipuku, " ucapnya sambil memeriksa handphonenya tak diduga ada Sara menyebrang begitu saja.
Dengan cepat Juan langsung mengerem mendadak dan langsung keluar mengecek keadaan anak itu.
"Bagaimana bisa kamu menyebrang tanpa melihat kiri kananmu apa kau tidak punya mata! " ucapnya begitu kesal lalu menjadi diam saat melihat Sara hanya menatap kosong ke depan lalu diajaknya menepi kesalah satu warung untuk membelikannya minuman.
"Ini untukmu…dimana rumahmu biar ku antar. " ucapnya sambil meneguk minuman dingin lalu tersendak saat mendengar tutur kata anak itu yang ingin Juan menabraknya saja tadi.
__ADS_1
"Ini anak kenapa sih bawa-bawa kematian." Batinnya.
"Dek kalau punya masalah cerita sama kaka sapa tau saya bisa bantu, " pinta Juan.
Sara menghela nafas ia memandang kearah Juan berniat bercerita saja tanpa mendapat sesuatu tapi malah Juan berkeinginan membeli alat yang dimaksud Sara.
Dengan ekspresi senang tapi juga sedih ia tak mengenal siapa orang didepannya ia takut jika Juan akan meminta imbalan atas kebaikannya apalagi Sara parnoan takut di jadikan baby sugar.
"Hahahaha… saya orang baik kok kamu bisa menjaminkannya dengan melaporkan saya langsung ke kantor polisi karena mereka pasti mengenali siapa saya, " jawab Juan begitu mengeliat.
"Emang abang seorang polisi? " tanya Sara.
"Hmmm bisa dibilang begitu. "
Mereka langsung pergi menuju tempat yang ditujukan Sara tapi malah menjadi salah paham untuk Willy saat mendapat kabar dari kenalannya yang melihat jika Sara adiknya dibawa seorang pria tak dikenal kedalam mobil sehingga menimbulkan pikiran aneh Willy.
"Apa jangan-jangan orang yang waktu itu nyulik gue lagi." Batinnya.
Setelah sampai di warung tempat adiknya tadi singgah dan menanyakan ke penjaga warung.
"Ohh tadi ada disini mereka kalau dilihat-lihat pria tampan itu kelihatannya baik kok soalnya anak itu hampir tertabrak karena melamun jadi mungkin diantar pulang kerumahnya, " ujar si penjaga warung.
"Mungkin saja Sara sudah dirumah."
Saat pulang pintu kontrakan terbuka tanda adiknya sudah pulang. "Sar kamu dari tadi kemana? "
"Aku ju-alan kak, " jawabnya sedikit gugup.
"Bohong kata si Suherman elu di bawa sama laki-laki iyakan? "
Duh gimana ini kalau aku jujur nanti malah marahin.
"Harusnya elu mintain banyak uang kudengar kau hampir ditabrak. "
"Astagfirullah kak bisa-bisanya berpikir begitu, itu juga salah Sara engk hati-hati menyebrang untung ketemu orang baik tadi juga kakanya belikan alat Inhaler asma untuk Sekar dan makanan juga aku jadi engk enak sama abang itu, " ucap Sara terharu.
"Kalau gue jadi elu mah sekalian kuporotin aja, " ucapnya sambil meraih nasi bungkus di meja, tiba-tiba sebuah nomor tanpa nama tertera di layar ponselnya segeralah ia pergi kedapur untuk mengangkatnya.
"Willy bagaimana kabarmu" suara yang begitu familiar ditelinga Willy.
"Anda yang waktu itu kan"
" Benar sekali jika kamu membutuhkan pekerjaan ini datang lah nanti malam ketempat terakhir kamu pingsan lalu ada mobil yang akan menjemputmu" ucap Wawan dari seberang telepon.
"Baiklah akan saya lakukan."
Sara yang mengintip dari balik gorden langsung segera pergi masuk ke kamar setelah kakanya menuju ruang depan baru ia beranjak mengikuti kakanya.
"Kak tadi siapa yang nelpon? "
"Gue ada panggilan kerja jadi nanti malam kalian duluan saja tidur, " ucapnya lalu melanjutkan makannya yang tertunda.
.
.
__ADS_1
.
...Bersambung dulu yaa...