
Masa perkabungan untuk dokter Arjuna kepala rumah sakit citra alam yang begitu dihormati. Tepat di ruang duka banyak sekali orang yang datang, aktivitas pelayanan rumah sakit terhenti sehari untuk mengenang kepergian Arjuna.
Disana terlihat istri dan anaknya yang datang dari luar kota untuk mengantar kepergian suami dan ayah mereka. Istrinya bahkan bercerita kepada beberapa orang disana jika suaminya begitu baik.
"Banyak sekali musuh yang ingin menghancurkan dia hingga beliau menyuruh saya dan anak-anak pergi ke kota lain untuk bersembunyi, aku sangat menyesal tidak ada di dekatnya, pasti dia begitu kesepian, " lirih nya.
"Iya bu, beliau adalah dokter yang baik bahkan saya di terima untuk bekerja disini karena rekomendasinya, " jawab Maya.
Tiba waktunya peti dokter Arjuna di bawah menuju peristirahatan terakhir diantar oleh sejumlah bnyak orang. Disana Robert adalah orang terakhir yang masih berdiri menghadap nisan dokter Arjuna jika diingat kejadian ia yang pertama kali menemukan tubuh Arjuna, ia cukup terpukul karena langsung tersambung penglihatan nya dengan mendiang ayah dan ibunya saat di kubur.
"Bert yuk balik, mereka semua sudah menunggu kita, " ucap Maria mengusap punggung Robert.
Di jalan menuju kebawah parkiran, Robert menghentikan langkahnya lalu Maria menyadarinya.
"Bert ada apa? "
"Aku masih kepikiran soal kejadian yang menimpa dokter Arjuna. "
"Dibalik ketegasannya dia juga punya hati yang cukup lemah" batin Maria.
Maria lalu merentangkan tangannya agar Robert memeluknya, tapi malah dibuat Robert bingung.
"Kamu ngapain begitu? " tanyanya.
Maria terkekeh. "Kemarilah banyak pria ingin mendapat pelukanku, jarang loh gue begini, " celetuknya.
"Engk ah, malu tau noh dilihat banyak kuburan, " ucap Robert.
"Ya udah kalau engk mau, " jawab Maria.
Robert langsung memeluk Maria sebelum tangannya yang sudah pegal di rentangkan, turun.
"Duh Bert badan kekar lu bikin gue sesak, " ucap Maria.
"Sorry Mar. " Ia langsung melonggarkan pelukannya agar Maria tak sesak.
"Juan bagaimana? " tanya Tono.
"Nanti mereka sebentar lagi turun kok, " jawabnya lalu masuk ke mobil.
Maria dan Robert sudah berada di mobil mereka segera menuju rumah sakit karena Haikal telah siuman.
"Syukurlah Kal elu sudah siuman, " ucap Pak Zaenal.
"Maaf semuanya saya harus mengecek kondisi pasien, mohon untuk keluar sebentar, " ucap perawat yang menutupi wajahnya dengan masker.
"Baik suster. "
Setelah semuanya keluar barulah perawat itu memeriksa keadaan Haikal.
"Bagaimana keadaan nya suster? " tanya Tono.
"Pasien sebentar lagi akan benar-benar membaik jadi saya harap mas-nya tidak menanyakan yang membuatnya sedikit cemas. "
"Baik sus, makasih. "
Cukup lama Robert, Juan, Maria dan Tono menunggu di dalam ruangan VIP untuk Haikal atas pinta Jaksa Lee, agar semuanya dapat membesuk tanpa menganggu pasien lain dan ada penjagaan juga dari beberapa polisi.
Televisi di nyalakan Tono untuk menjadi hiburan tetapi malah hal yang membuat mereka terkejut yang disiarkan.
******
Berita datangnya dari dunia maya. Seorang selegram terkenal bernama Andina louis meninggal dunia di kediamannya, kepolisian masih mendalami kasus tersebut dan meminta keterangan dari beberapa saksi.
Dikabarkan jika Andina sehari sesudah menerima penghargaan Selegram paling debest mengalami cekcok dengan rekan sesama profesi bernama Dessy muti.
__ADS_1
Beredar juga di jagat maya video yang menampilkan Dessy duluan yang menjambak rambut Andina di belakang panggung sehingga beberapa orang disana merekam pergeludtan mereka. Banyak juga netijen yang menyayangkan perilaku Dessy sehingga ia dihujat abis-abisan di laman sosial medianya.
"Dessy elu gila? " tanya managernya.
"Persetan, gue sudah gila di dunia ini, masa dia yang baru saja terjun kalahkan gue yang lebih dulu berada di sini. "
Ucapan dari Dessy diduga bocor ke media yang tak sengaja di rekam oleh orang yang tak dikenal.
"Kok semakin seram yaa dunia ini, " ujar Maria yang ikut memperhatikan ke layar televisi.
"Ehh, tapi kok namanya kaga asing yaa? " ucap Tono.
"Bukannya Andina yang pernah review cafe jingga, " jawab Robert.
"Ohh iya benar kok sampai lupa sih. " Ia menepuk jidatnya.
Malam sudah datang walau Haikal tadi cuman sekedar membuka mata itu sudah cukup membuat team merasa lega. Kali ini penjagaan tetap di lakukan, Robert dan lainnya pergi untuk mencari makan kecuali Tono yang setia menunggu di ruang perawatan.
"Kita mau makan apa? " tanya Maria.
"Gimana kalau didekat sini aja, ada warung yang cukup enak, " jawab Juan.
"Wihh Juan elu update juga soal semuanya, kaga sangka gue biasanya orang type kaya elu cuman anak rumahan doang, " balas Maria.
"Yee gimana sih, kan gue punya alat teknologi engk mungkin kalau kaga tau, " ucapnya terkekeh.
Mereka berjalan bertiga melewati trotoar untuk menuju warung makan dekat rumah sakit.
"Bang pesan 3 nasi lalapannya sama teh hangat 2 dan es jeruk 1."
Abang yang punya warung mengangguk.
"Bert lu kenapa sejak tadi di jalan nengok handphone terus? "
"Kenapa engk dibawa kesini ketempat kita saja? " tanya Maria.
"Saya cuman mancing pelakunya biar masuk dan melihat siapa dibalik ini semua, " jawabnya begitu serius menatap layar ponselnya.
"Mar handphone mu getar, " ucap Juan membuat Maria langsung mengambilnya.
"Sorry gue angkat dulu. "
"Kenapa harus menjauh, kan gue bakal engk dengar juga, " sunggut Juan.
"Mungkin rahasia, kamu juga pasti menjauh, kan kalau orang penting nelepon, " balas Robert.
"Iya sih, ta-p. "
"Aku kesana dulu mau belikan sate untuk adikku dulu, " ucap Robert segera meninggalkan Juan.
"Kan... gue ditinggal, " ucapnya kesal.
Robert segera menghubungi seseorang jika ia melihat ada orang mencurigakan di depan kediaman Arjuna.
Makanan telah datang Juan yang cukup lapar langsung mulai menyantap dahulu, diikuti Maria yang baru saja selesai teleponan.
"Sudah datang yaa, gue jadi lapar nih. "
"ehm, segera makan Mar takut dingin. "
"Mana Robert? "
"Katanya cari sate untuk adiknya, " jawab Juan.
"Kenapa engk sama-sama saja, kan mau belikan untuk Tono juga, " pekik Maria.
__ADS_1
"Tenang kalau Tono sudah gue pesan kan lalapan jadi pas mau pulang baru abangnya kemas. "
"Sorry ges, makanannya sudah datang yaa, " serga Robert ketika Juan dan Maria hampir selesai makan.
"Kemana saja Bert, makanan elu sudah dingin noh, " jawab Juan.
"Tadi abang satenya lama jadi baru kesini. "
Juan mendapat panggilan dari Pak Zaenal.
"Ges cepatan ini Pak Zaenal telepon disuruh cepat ke rumah sakit. "
Zaenal tampak gelisah saat mendapat kabar Haikal menghilang, dia langsung menghubungi Juan karena handphone Robert dan Maria tampak berada di panggilan lain.
"Kalian kemana saja lama banget lihat mereka, " ucap Pak Zaenal sambil menunjuk ke dua orang polisi pingsan dan Tono entah pergi kemana.
"Tono kemana kok engk ada? " tanya Robert saat mengecek ruangan.
"Haikal juga hilang, " ujar Maria juga melihat di kasur tampak kosong.
"Saya tidak tau pas sampai kesini sudah melihat kejadian ini, " ucap Pak Zaenal memencet dahinya.
"Kita cari dulu sapa tau belum jauh. "
Mereka mencari kemana-mana sampai bertanya kebanyak orang hingga beberapa teman Lukas ikut membantu.
Di kursi roda tampak Haikal duduk menatap langit malam dibantu Tono.
"Bagaimana Ton kalau anak lainnya balik terus dapati kedua polisi itu pingsan? " tanya Haikal.
"Yaa terus bagaimana sekali-kali kita kerjain mereka, " jawab Tono terkekeh.
Kepanikan masih melanda Pak Zaenal dan lainnya mencari keberadaan Haikal takut diculik.
"Pak coba lihat itu bukannya punggung Tono, " ucap Maria tampak ragu.
"Coba kita kesana. "
Robert dan Juan mencari ke atas atap rumah sakit pun tidak ada hasilnya hingga Maria menghubungi Robert.
"Bert Haikal nya sudah ketemu di taman belakang nih, " ucap Maria.
"Oke Mar. "
Panggilan terputus...
"Kenapa Bert? "
"Mereka di taman belakang, Haikal sudah ketemu. "
Mereka segera menuju kesana tapi malah melihat Pak Zaenal menjewer telinga Tono terus-menerus.
"Kenapa ini? "
Maria sejak tadi tertawa melihat kelakuan bos dan rekannya. "Itu Bert ulahnya Tono ternyata yang membuat polisi pingsan hanya untuk membuat Haikal bisa menghirup udara malam, " jawabnya yang masih terkekeh.
Robert dan Juan menghela nafas tanda lega dan mengelengkan kepalanya bersamaan terhadap kelakuan Tono.
.
.
.
...Bersambung...
__ADS_1