BRAVE $ MAN

BRAVE $ MAN
Bab. 80. Villain sesungguhnya...


__ADS_3

Maria sempat di culik tapi berhasil kabur mengarah ke kantor polisi.


"Syukurlah gue berhasil kabur, " ucapnya.


Ia segera masuk ke dalam kantor polisi bersamaan dengan Haikal dan Tono yang mencari keberadaan Juan.


Di dekat tempat Tono dan Haikal duduk terdengar suara yang tak asing tersedu berbicara dengan polisi.


Beberapa kali Haikal penasaran dengan orang disebelahnya yang begitu tersedu-sedu menceritakan kejadian yang di alami.


"Loh Maria? "


"Hah. Mana Kal? " tanya Tono.


Maria yang kaget langsung menoleh Kearah sumber suara tersebut.


"Haikal, Tono. "


Mereka nampak berpelukan melepas sedih masing-masing.


"Aduh-aduh wajahku sakit banget nih," sunggutnya.


"Gue baru sadar Mar kenapa wajah lo? " tanya Haikal.


*****


Di mobil tampak Robert memukul stir karena emosi. Sedangkan Haikal sedang mengobati memar pada wajah dan tangan Maria di kursi belakang.


"Siapa sebenarnya mereka sih, " ucap Robert.


"Sampai sekarang Juan belum di temukan, " balas Tono di sebelah Robert.


"Sorry gess, gue benaran kaga ingat wajahnya soalnya tiba-tiba sudah di ikat dan gue saja berhasil kabur karena mereka lagi lengah, " ucap Maria bohong.


Sebenarnya Maria tidak ingin melibatkan teman-temannya atas perbuatannya, dia ingin membalaskan kejahatan orang tersebut dengan tangannya.


"Besok gue kayanya belum bisa kerja, " ucap Maria.


"Iya Gapapa Mar, " jawab Tono.


*****


Pertemuan ditengah malam di kejaksaan yang dihadiri team J dan Saeron, Jackson, Clara, Jojo, team dari kejaksaan.


"Hari ini kita akan mulai menyusun rencana besar-besaran untuk menemukan Juan, dipastikan lokasi yang telah di temukan berada di tempat yang susah dilalui kami juga telah meminta bantuan dari banyak pihak untuk bekerjasama.


Sementara Maria tertidur pulas di dalam kamarnya, sehingga tak mendengarkan seseorang menyelinap masuk ke rumahnya.


Pintu kamar berdecit, mata Maria langsung terbuka dengan cepat ia menuruni kasur untuk bersembunyi di bawah kasurnya.


"Kenapa tidak ada orang," ucap orang itu yang menutupi wajahnya dengan kain dan pakaiannya serba hitam berjalan mengitari ruang gelap.


Maria yang telah mempersiapkan sesuatu untuk berjaga-jaga langsung melempar sebuah paku payung Kearah penjahat itu.


"Aduh... aduh, " ucapnya dengan bisik-bisik.


"Kemarilah akan kutendang kau dari sini ban*sat," ujar Maria berdiri di ambang pintu.


"Sialannn," pekik penjahat itu.


Mereka kejar-kejaran hingga Maria mengambil pisau dapur dan memainkannya di depan si penjahat itu.


Tak berlangsung lama Maria berhasil menusuk penjahat itu dengan segala bela dirinya di kerahkan.


"Mari kita lihat siapa orang dibalik tudung ini. "


Saat Maria mendekat untuk membuka kain penutup dari penjahat itu, segeralah lawannya merangkul badan Maria dan menyuntikan bius ke leher belakang Maria. Saat rangkulan maut pria itu melemah membuat Maria terkapar.


"Sial, gue lupa kalau elu suruhannya..."


(Blekk)


Maria terjatuh dan pingsan. Membuat pria itu langsung membuka penutup wajahnya.


"Wanita yang begitu cantik, tapi sayang kau akan mati sebentar lagi, " ucapnya.


.


.


Robert dan lainnya berangkat menuju lokasi yang dituju sedangkan sisanya memilih untuk mengambil peralatan lainnya.


"Bert nanti belok kanan, " seruan Tono.


"Pokoknya kita tidak boleh lengah takutnya di tempat itu banyak sekokolan mereka, " ucapnya Pak Zaenal.


Keesokan paginya.


Di mobil yang melaju di jalan, Maria duduk di kursi belakang dengan tangan yang diborgol sedangkan penjahat itu tampak bernyanyi riang sambil mengendarai.


"Ehh kau sudah sadar rupanya," ucapnya pada Maria.


"Mau dibawa kemana gue. "


"Tenang, kita akan pergi ke tempat peristilahan terakhirmu," ucapnya lalu terkekeh.


"Dengar yaa, gue engk akan bisa mati, sampai kapanpun kalau mata gue telah melihat wajahmu, hidupmu bakalan dalam bahaya, " tukasnya.


"Sudah mengomelnya, btw kita sudah sampai sekarang bersiaplah menjadi makanan ikan-ikan dibawa sana. "


"Apa maksudmu, " sunggut Maria.


"Kan engk dengar lagi, gue malas jelaskan nanti kalau sudah ke ujung baru elu lihat sendiri," ucapnya lalu membawa Maria ketebing.


Di sana tampak ombak laut yang menderu-deru menampakkan keganasan tempat itu. Daerah itu jalan menuju pulau tengkorak disana banyak ikan-ikan hiu kelaparan menunggu santapan dari atas.


Membuat Maria menelan salivanya. "Elu seriusan harus kesini? " tanya Maria.


"Jadi mau bagaimana. cepat lompat atau gue dorong nih, " ucapnya membuat Maria memohon ampunan pria itu tapi telat Maria sudah di dorong kebawah sana.


"Aaaaa"


Teriakan Maria begitu keras sehingga ia juga berusaha meraih sesuatu di bebatuan untuk menyelamatkannya. Untungnya ia berhasil mengapainya, hingga ia melihat begitu banyak hiu berada dibawah sana sangat kelaparan.


"ihh Ngerinya kalau dilihat-lihat, memang berengsek tuh orang lihat saja akan ku bunuh dia, " pintanya memaki-maki ke atas yang jauh disana.


Pria itu membalikan badannya untuk menelepon seseorang.


"Bos saya sudah berhasil membunuhnya, "

__ADS_1


"Bagus, tapi apa benar jika wanita itu sudah mati? "


"Saya pastikan sudah, seperti wanita tua yang kemarin juga sudah mati di makan hiu bahkan sisa bajunya terdampar di pantai. "


"Baik Pak, " balas nya dan langsung menutup telepon dari bosnya.


Pria itu masuk kedalam mobil karena tiba-tiba hujan datang menampilkan wajahnya di spion tengah, ia memeriksa lalu tersenyum menyeringai.


"Ternyata elu cakep juga, Willy. " Ia seakan berbicara sendiri memuji dirinya.


Maria dibawah sana dengan cepat berteduh dari hujan karena angin yang keras membuatnya hampir jatuh sehingga ia memegang keras batuan itu.


******


Robert dan lainnya sampai ketempat yang dituju disana nampak pabrik besar dengan halaman yang begitu luas, lokasi Juan menunjukkan letak titik di gedung kosong itu.


Pabrik bekas produksi tekstil itu saat dimasuki aromannya begitu menyengat, saat kesana pun Haikal beberapa kali mual karena bau tak sedap yang menganggu penciumannya.


"Semuanya segera cari sapa tau Juan ada disini," pinta Robert.


Beberapa kali menyelusuri tempat itu sekitar setengah jam, barulah salah satu dari mereka menerima telepon dari si penculik Juan.


"Bert, ada nomor tak dikenal, " ucap Tono.


"Kalian tak perlu khawatir karena Juan sudah aman bersamaku, " jawabnya orang yang menghubungi Tono.


"Dengar, kami tidak akan menyerah untuk menangkap orang seperti anda. "


"Coba saja, akan sangat menyenangkan jika kita bertemu, " balasnya lalu mematikan teleponnya.


Robert begitu kesal.


"Sudah dipastikan jika Juan tak ada disini Bert, " ujar Haikal menenangkannya.


"Ya sudahlah kita keluar saja. "


Baru berjalan beberapa langkah keluar pabrik tiba-tiba tercium bau seperti api, seketika orang di depan memeriksa ada segumpal asap merambat kedalam.


Nampak dari luar si pelaku menelepon yang menyuruhnya.


"Aman Pak sudah saya lakukan, " jawab Willy.


Di Seberang pun ia langsung menutup sambungannya.


"Tuan, beberapa menit lagi api akan melahap pabrik itu, " ucap Wawan kepada bosnya.


"Bagus, rencanamu berjalan baik juga."


Ternyata ada seseorang yang berada bersama team J yang menginformasikan keadaan disana tapi juga mengalami nasib buruk terperangkap disana.


"Tidak, gue engk bisa mati disini....tidak, " sunggutnya.


"Pak saya bersalah, saya yang memberitahukan keadaan disini, saya terpengaruh dengan orang itu," sambungnya.


"Apa maksudmu? "


"Sebenarnya orang itu tiba-tiba mendatangiku, dan memberikan sejumlah uang untuk pengobatan ibuku, jadi aku menukarnya dengan informasi misi penyelamatan kita, " ucapnya yang membuat petugas polisi itu terkena pukulan dari seniornya sehingga Robert melerah perkelahian itu.


"Sudahlah, tidak ada gunanya kita bertengkar, mari cari jalan keluarnya agar api ini tak semakin besar. "


"Segera jauhkan bahan muda terbakar ketengah-tengah, aku akan mencoba menerobosnya, " tukasnya yang langsung mendapat penolakan dari Haikal.


"Mending satu orang mati daripada semuanya ikut, membuat pelaku merajalelah disana, " jawab Robert.


"Baiklah Bert, gue juga harus ikut. "


"Gue juga, " balas Tono.


"Kalian disini saja bantu yang lainnya," jawabnya.


"Tidak, kita adalah team. "


Dubrukk


Sebuah mobil menembus kobaran api membuat Robert menyelamatkan Haikal dan Tono.


"Awass. "


"Hook... hook, bagaimana keadaan kalian? " ucap Pak Zaenal keluar dari mobil.


Robert dan semua orang disana begitu senang.


Setelah api terpadam barulah mereka melepas lega, dengan duduk menekuk air yang banyak.


"Kita harus segera menangkap mereka apapun caranya. "


******


"Aargh, akhirnya gue berhasil juga," ucap Maria yang sudah terbaring lemas di atas tebing karena berhasil memanjatnya.


Sebuah mobil lewat sehingga Maria menghentikannya.


"Tolong, Pak saya tersesat disini. "


"Mbaknya mau kemana? "


"Saya mau pulang ke kota. "


"Ya sudah ikut kami saja kebetulan mau ke kota juga, " jawab si bapa.


.


.


Dengan banyaknya percobaan akhirnya Robert dan lainnya berhasil menemukan titik terang lagi keberadaan Juan di salah satu tempat di tengah kota.


Basuki memasuki gedung untuk bertemu banyaknya menteri disana, ia juga tak ingin terburu-buru memengaruhi para pejabat untuk ikut kebijakannya.


Presiden tahun ini agak sedikit keras dalam memimpin sehingga beberapa media pun mempertanyakan kehidupan pribadi Basuki yang tak pernah bersama istri maupun anaknya, setiap di wawancarai selalu menghindar menjawabnya.


Selesai menuntaskan rapatnya Basuki segera keluar dengan menggunakan mobil mewahnya.


"Tuan, schedule hari ini anda akan pergi ke kota seberang karena menjadi tamu pada festival tahunan," tukas asistennya.


"Kita pergi kesuatu tempat dulu baru kita kesana."


"Baik tuan. "


******

__ADS_1


Juan memberontak ingin keluar tapi para pengawal bersikeras menahannya hingga tangannya sangat terluka hebat.


"Akan kuhancurkan kalian semua, " ujarnya. Tiba-tiba sosok orang yang memasuki tempat itu nampak terkekeh.


"Kau tidak akan bisa keluar dari tempat ini," ucapnya.


"Elu? " tanya Juan.


"Bagaimana kabarmu, akhirnya aku bisa memperlihatkan wajahku kepadamu," ucap Basuki.


Dengan cepat Robert dan lainnya melakukan misi penyelamatan untuk Juan di tempat itu sementara Basuki sudah pergi.


"Bert di dalam banyak sekali pengawalnya, apa kita bisa? "


"Kita akan dapat jawaban setelah memasukinya," jawab Robert.


Robert, Haikal, Tono mengendap masuk ke tempat itu, tak disangka ia ketahuan sehingga harus berkelahi dengan banyaknya penjaga itu.


Karena kewalahan melawan banyaknya orang, dari belakang Saeron datang dengan menendang salah satu dari penjaga itu.


"Apa kami baru saja melewatkan kesempatan? " tanyanya dengan senyum menyeringai.


"Bu Saeron, Jojo, kalian datang juga, " tukas Haikal penuh sujud syukur.


"Engk mungkin kami melupakan kalian, " ucap Pak Zaenal.


"Kalian segeralah membebaskan Juan, masalah ini serahkan pada kami, " ucap Jackson.


Dalam perjalanan mencari Juan banyak penjaga di lorong yang mereka hajar, saat berhasil menemukan tempat Juan segeralah mereka selamatkan.


"Juan...."


"Kal-ian akh-irnya data_ "


"Jangan ngomong dulu, kita harus segera keluar dari sini, " tukas Robert melepaskan ikatannya.


Setelah berhasil keluar, Juan menyuruh Robert untuk segera menangkap Basuki sebelum ia pingsan.


"Bert pel-akunya Ba-basu-ki," jawabnya lalu pingsan.


"Apaa pak Basuki? presiden kita Bert, " balas Haikal di sebelah Robert.


"Jadi selama ini perbuatannya dia. "


"Bert elu mau kemana? " tanya Tono.


"Bawa Juan ke rumah sakit, aku akan membuat perhitungan dengan orang itu, " ucapnya lalu pergi.


Basuki yang tengah menyantap makanannya mendapat telepon dari asistensi jika Robert membuat kerusuhan di rumahnya.


"Sialan," pekiknya lalu pergi dari acara itu.


Tak sampai disitu ia menemukan fakta mencengangkan di ruang pribadi milik Basuki atas perbuatannya selama ini.


"Persetan, jadi selama ini dia hanya ingin mementingkan dirinya sendiri ia ingin menguras kota ini rupanya akan hancurkan segera, " ucapnya lalu pergi.


"Pak gawat, orang tersebut menuju tambang milik anda, " balas ART nya memberikan surat dari Robert.


"Kurang ajar, " pekiknya.


Sesampainya disana sekitar 2 jam perjalanan Robert segera memasukinya, untung saja tidak ada orang sehingga ia dengan leluasa akan menghancurkan tambang ilegal itu, dengan granat milik Juan ia letakan di berbagai titik dan akan bersiap di ledakan, tetapi Basuki datang menghentikannya tapi terlambat Robert mulai menekannya sehingga Basuki masuk kedalam niat menyelamatkan sebagian miliknya.


Naas saat masuk dan tombol itu di pencet Basuki langsung tertimpa reruntuhan tambang. Sehingga ia meninggal disana, butuh waktu beberapa team sar menemukan jasadnya hingga hari malam tak kunjung berhasil.


Menjelang 2 hari berada disana akhirnya jasadnya di temukan dan perpecahan kasusnya selesai karena pelaku telah meninggal.


Di rumah sakit nampak Juan di rawat dan tepat dua hari ia siuman.


"Semuanya Juan telah sadar, " pekik Haikal.


"Akhirnya Juan kamu sadar juga, " ucap Robert.


Mereka semua begitu bahagia melihat Juan telah sadar.


Sebulan kemudian....


"Ayo cepat kesini, kita foto dulu, " ujar Haikal yang sudah bersiap tinggal menunggu rekan lainnya di depan kantor mereka.


Cekrekk...


Senyuman terukir disana selain team J ada Jaksa Lee, Saeron, Jojo, Jackson, Clara.


.


.


Di hari berikutnya mereka juga akan menghadiri pernikahan kenalan mereka. Yaitu Jaksa Lee dan dokter Maya yang di selenggarakan di hotel bintang 5 di kota Nusantara.


Selain itu beberapa rekan team J juga sudah mempunyai pasangan seperti Juan dengan kekasih barunya yang bertemu saat kekasihnya membuka usaha di sebelah kantor, lalu Tono dengan Clara, kemudian Haikal masih pdkt-annya dengan seorang juniornya di tempatnya dulu bekerja.


"Ayo semuanya kita sesi foto bersama dulu, " tukas fotografer.


Usai menghadiri pernikahan Jaksa Lee, Robert bersama Maria berjalan-jalan di taman dekat jembatan sekedar menghirup udara segar.


"Mereka semua malah asik sendiri dengan pasangannya masing-masing bukannya ngadakan makan bersama," kata Robert begitu kesal.


"Ya udah kamu cari pasangan juga dong biar bisa menghabiskan waktu bareng pacar kamu, " balas Maria.


"Kalau kamu sendiri kenapa engk cari pacar? "


"Gimana yaa kalau aku sih_"


"Pacaran yuk," pinta Robert tiba-tiba membuat Maria menoleh.


"Bert, kamu engk sedang mabuk kan? "


Dengan menatap lekat gadis di sebelahnya, membuat Robert langsung menciumnya. Tersadar akan perbuatannya membuatnya perlahan melepas ciumannya.


Tak ingin cepat selesai Maria langsung mencekram kerah jas Robert sehingga keduanya menikmati ciuman mereka yang begitu lama.


"Aku mencintaimu, " ucap Robert memeluknya.


"Aku juga sama mencintaimu, " balas Maria tampak malu-malu di dekapan Robert.


.


.


.

__ADS_1


...~TAMAT~...


__ADS_2