
Banyaknya atribut kemenangan paslon nomor urut dua terpampang nyata di sudut ibu kota nusantara. Dan besoknya adalah perayaannya untuk presiden baru untuk negera Pertiwi ini.
"Terima kasih semuanya... terima kasih, " ucap Basuki saat memberi lambaian dan tebar senyuman untuk seluruh rakyat di jalanan kota nusantara.
Sesampainya di ruangannya Basuki tampak begitu berubah ekspresinya saat telah menyelesaikan kegiatannya pada hari itu, tak lupa juga asistennya memberikan supleman stamina dan arahan untuk besok.
*****
"Kita sambut Presiden kita yang baru Bapak Basuki Matthew. "
Sorakan para audiens menggelegar di stadion megah Kota Nusantara, banyak sekali yang hadir termaksud Pak Zaenal dan Jaksa Lee juga turut diundang.
"Terima kasih semua pendukung Basuki-dewi yang telah menyempatkan diri hadir di hari kemenangan kita, " Tegasnya sekali lagi sambil menyorakan palson angka dua, diikuti seluruh masyarakat yang hadir.
"Saya berjanji akan membenahi negara ini, Kota Nusantara maupun diberbagai daerah pelosok di tanah pertiwi ini. " ucapnya.
Selesai menghabiskan tenaganya Basuki memasuki ruang untuk istirahat, ia begitu ramah menyapa seluruh orang disana. Tampak menunjukkan ke rautan amarah apalagi ada kejadian tak mengenakan di atas panggung.
******
"Lepasin saya, " ucap seorang pengerak merah kepada orang baju hitam yang mengeluarkan dirinya dari stadion.
"Anda Pak Hardina? " tanya seorang asisten pribadi dari Basuki.
"Iya kamu siapa? "
"Pak Basuki ingin bertemu dengan anda, " jawabnya datar.
Sembari asisten Basuki membawa Hardian menuju ke mobilnya untuk mengantarkannya menuju kediaman Basuki.
"Kalau kayagini tuntutan pengerak merah bakal di dengar sama Pak Basuki, " celetuknya begitu senang membuat asisten Basuki yang duduk di depan tersenyum menyeringai.
Sesampainya di rumah megah milik Basuki.
"Ini beneran rumah, kok seperti istana yaa, " ucap Pak Hardian begitu ceplas-ceplos.
"Selamat datang di rumah megah ku, " balas Basuki datang dari belakang.
"Pak, saya Hardian ketua pengerak merah, " ucapnya sambil menyalaminya.
"Silahkan masuk Pak Hardian, " ajaknya.
"Terima kasih Pak Basuki sudah mempersilahkan saya kesini. "
"Sama-sama, ayo masuk kedalam ruangan saya. "
******
"Bro bagi permen, " pinta Haikal kepada Juan.
Hmmm
"Tumben semuanya berada di ruang baca, " ucap Pak Zaenal masuk.
"Iya Pak lagi ngadem kan di sini yang AC yang paling enak. "
"Dikira makanan enak, " sunggut Zaenal.
Robert, Juan dan Tono fokus dengan gadget maupun laptop di depannya sedangkan Haikal membaca buku karena handphonenya sedang di charger.
Pak Zaenal menoleh ke berbagai tempat sehingga Haikal peka terhadapnya.
"Cariin apa pak? " tanyanya.
"Maria kemana tumben banget belum hadir, " jawabnya.
"Ohh iya yaa kemana dia, " sahut Tono.
"Bert, tau keberadaan Maria? " ujar Juan di sebelahnya sambil menyikut dia.
"Kok nanya ke aku. "
"Kan biasanya elu sering sama dia, gimana sih Bert. "
"Benar kata Tono, gimana sih Robert kalau Maria dengar bisa sakit hatinya loh, " balas Zaenal.
"Dih apaan sih Pak, " sunggut Robert.
__ADS_1
Diam-diam ia mengirim pesan ke Maria yang juga sebenarnya dia sejak tadi menotis tidak ada Maria di kantor.
Terlihat pesan sebelumnya sudah terkirim tapi belum di baca atau di balas oleh Maria sejak beberapa jam yang lalu, kemudian untuk kesekian kali Robert kembali mengirim pesan baru lagi.
Di hadapan Maria tampak ia meneteskan airmatanya sambil memanggil seseorang di balik lemari kaca. Ada foto dia dan kedua orang tuanya yang telah meninggal saat ia masih kecil.
"Papa, mama sekarang mungkin kalian sudah bersenang-senang di sana tanpaku, tolong ingatkan om Hansel untuk selalu datang ke mimpiku seperti kalian yang selalu ada di sebelahku. Bahkan ia tak pamit terlebih dahulu untuk menyusul kalian, " tukas Maria.
Setelah itu Maria pergi menuju taman dengan pakaian serba hitam dan melihat kalender di handphonenya karena hari ini adalah peringatan kepergian ayah dan ibunya ke sisi pencipta.
Sehingga ia akan tetap duduk disana sembari menatap pemandangan danau yang sering ia kunjungi saat sedang stress.
Teringat akan masa lalunya saat ia menginjak usia 7 tahun.
"Papa kenapa danau itu tidak habis-habis airnya padahal kan sekarang musim kemarau, " ucap Maria kecil.
"Nak coba lihat banyak sekali mahkluk hidup yang begitu membutuhkannya, " jawab ayahnya.
Maria menatap berbagai rusa, burung dan tupai yang berada di pinggir danau.
"Iya papa mereka semua begitu bahagia, berarti Tuhan menciptakan danau itu untuk mereka yaa. "
"Benar sayang, makin pintar kamu yaa, " ucap ayahnya mengendong putri manisnya.
Ingatan masa lalunya terhenti, lalu kembali ke masa sekarang.
"Pah, Maria janji akan selalu bahagia disini tolong berikan Maria kekuatan dari atas untuk bisa melewatinya, " lirih nya sambil menatap langit.
Jam menunjuk pukul 8 malam tiba waktunya Maria pulang karena sudah mengunjungi berbagai tempat yang ia inginkan, tak sadar saat mengaktifkan kembali handphonenya banyak sekali pesan maupun panggilan tak terjawab dari team maupun Pak Zaenal.
"Gue lupa minta ijin, pasti mereka begitu kesal nih, " ucapnya.
Saat turun dari bus untuk menuju ke rumahnya, alangkah kagetnya ia saat melihat Robert di hadapannya.
Robert dengan ekspresi datar menghampirinya.
"Bert, sorry kalau gu- "
Tiba-tiba Robert memeluknya. "Syukurlah kalau kamu baik-baik saja, " lirih nya.
"Mar kamu sebenarnya kemana sih semua team begitu khawatir dengan kamu kalau ada apa-apa pasti team yang disalahkan, " ucapnya tanpa henti.
Maria menunduk sembari terkekeh membuat Robert kebingungan. "Maria... kok malah ketawa sih, " jawabnya.
"Sorry kelepasan, gue agak sedikit kaget soalnya selama ini kaga pernah di perhatiin. "
"Yaa sudah sini biar aku peluk lagi, " balas Robert membuat Maria menjauh.
"Sudahlah Bert gue malas di peluk-peluk kaya teletubies aja, " ujarnya.
"Kan aku khawatir Mar. "
******
Ditempat lain Basuki tampak seperti membasuh tangannya di depan wastafel dan merapikan dasinya sebelum keluar dari kamar mandinya.
"Besok siapkan acara untuk pertemuan perdana kita di gedung biru, " tukasnya kepada asistennya.
"Ohh yaa benda itu cepat keluarkan dari ruanganku agar tidak membusuk disana, " sambungnya yang langsung di turutin asistennya.
Keesokannya team J mendapat undangan dari gedung biru yang akan diadakan pada malam hari setelah siangnya pertemuan perdana presiden Basuki kepada awak media.
"Semuanya berkumpul di sini, " ucap Pak Zaenal begitu bersemangat.
"Kenapa sih Pak. "
"Cepatan Haikal kamu engk kebagian nanti, " balas Pak Zaenal lagi.
"Kita dapat undangan pesta dari gedung biru nih karena Pak Basuki terpilih jadi presiden, " sambungnya.
"Kok bisa Pak, bukan kejaksaan yang rekomendasi kita hadir? " tanya Juan.
"Disini tertulis team J aja, mungkin kejaksaan terpisah dengan kita, " jawab Zaenal.
Malamnya Begitu meriah dihadiri banyak sekali rekan kalangan atas maupun pejabat negara untuk memenuhi undangan dari Basuki.
__ADS_1
Di apartemen Robert dan Juan menunggu Tono dan Haikal bersiap-siap.
"Dua bocah itu kok lama sekali apa mereka sekalian berdandan, " sunggut Juan.
"Yok ges sudah kelar nih kita. "
Bergegaslah mereka pergi ke pesta sedangkan Pak Zaenal dan Maria juga baru sampai di sana.
"Pak kayanya mereka telat, " ucap Maria.
"Memang keempat laki-laki itu selalu kayagitu mending kita duluan masuk Mar, " ajak Zaenal.
Sesampainya di dalam Maria terpisah dari Pak Zaenal karena harus menuju kesuatu tempat. Sedangkan Robert dan lainnya sudah memasuki gedung juga.
"Pak Zaenal, " panggil Haikal.
"Lama sekali kalian. "
"Ini Tono sama Haikal dandannya lama kali. "
"Kaya perempuan aja, " ejek Zaenal.
"Mana Maria Pak? " tanya Haikal.
"Loh? perasaan tadi disini. "
"Duh bisa-bisanya hilang, " ujar Juan.
"Terima kasih untuk seluruh tamu pada hari ini yang sudah datang ke acara ini sebagai bentuk silaturahmi, saya sebagai presiden baru di negara Pertiwi, " ucap Basuki kepada seluruh tamunya.
Lalu di sambutan tepuk tangan dari semua tamu di malam itu.
Selesai Basuki mengucapkan banyak sekali sambutannya kali ini semua tamu dipersilahkan menikmati hidangan yang ada. Tono dan Haikal yang memang sudah mengincar dessert lezat di sana langsung menghampirinya membuat Juan, Robert dan Pak Zaenal menggelengkan kepalanya.
"Pak saya mau ke wc dulu, " pinta Juan.
"Iya Juan. "
"Pak, saya cari Maria dulu, " ucap Robert.
"Pergilah sana. "
Saat berjalan Robert sempat melihat punggung Juan yang memang menuju ke toilet sedangkan dia mengarah ke tempat lain untuk mencari Maria.
"Kayanya disini aman gue meretas gedung ini, " ucap Juan masuk kesalah satu bilik kamar mandi.
Mata Robert tampak menelisik kesegala arah hingga bertemu beberapa kumpulan wanita sosialita yang menggodanya.
"Duh ganteng banget sih. "
"Mas, masih single yaa? "
"Maaf bu, saya sedang cari orang, " jawabnya yang langsung mempercepat langkahnya.
"Huff hampir saja di terkam. " Robert tiba-tiba melihat keberadaan Maria yang sedang berbicara dengan seorang pria yang hanya terlihat punggungnya saja.
Maria yang sedang berada di hadapan lawan bicaranya langsung terkejut saat Robert mulai mendekati mereka. Untung saja salah satu pelayan pembawa minuman menyenggol nya sehingga Maria bisa segera menyuruh lawan bicaranya pergi.
"Bert kamu gapapa? " tanya Maria yang tiba-tiba berada di sebelahnya.
"Iya Mar. "
"Syukurlah itu orang sudah pergi, " ucap batinnya.
"Mar tadi siapa? kenalan kamu. "
"E-hh engk Bert kebetulan dia pernah jadi rekan kerjaku di tempat lama, " jawab Maria begitu gelagapan.
"Kenapa dia seperti menyembunyikan sesuatu dariku, " ucap batin Robert.
.
.
.
...Bersambung.... ...
__ADS_1
Para Readers terima kasih sudah memberikan like, koment dan votenya.