
Maria bangun lebih awal agar tidak ketinggalan bus pertama biasanya sangat ramai dipenuhi anak sekolah.
"aAkhirnya engk sia-sia gue lari tanpa alas kaki, " ucapnya.
Sesampainya di halte yang dituju ia harus berjalan melewati taman membuatnya sedikit trauma. Jika ia mengingat kejadian itu sangat membuatnya takut jika tidak ada Robert engk tau nasibnya sekarang bagaimana.
"Pagi mbak Maria, " sapa wanita pemilik toko bunga.
"Iya bu pagi juga, " balasnya.
"Anda kok kemarin tidak kerjaa padahal loh lagi ramai-ramainya, " pungkasnya.
"Hehe iya saya sakit. "
"Duh generasi sekarang mudah banget kena penyakit dulu saya tetap masuk walau cuman sakit kepala harus kuat gitu, " ucapnya.
"Bakalan lama ini kalau dia masih nyerocos." Batinnya.
Maria pelan-pelan meninggalkan lawan bicaranya yang masih saja berbicara hingga wanita itu menanyakan lagi ke Maria tapi keberadaannya sudah menghilang.
"Dasar tidak sopan, orangtua masih bicara ditinggal pergi, "gerutunya.
Maria melewati basement untuk sampai ketempatnya dan itu butuh waktu 5 menit apalagi jika lift di basement macet bisa sampai 15 menit. Setelah berlari menuju koridor Maria segera masuk kedalam meja resepsionis untuk menyiapkan diri karena waktu dibuka bentar lagi. Tono yang datang langsung membuka gembok dan rantai yang terpasang di pintu.
"Mbak Maria sudah disini ternyata, " ucapnya.
"Iya, baru aja mas Tono. "
"Bagaimana keadaannya? "
"Baik, keadaan saya sehat bugar sekarang."
"Syukurlah kalau begitu. "
Di jam istirahat Maria berniat menyeduh pop mie di dapur dan tidak sengaja mendengar percakapan yang isinya Robert, Juan, Tono dan Haikal di tengah dapur itu terpasang sebuah bilik pemisah antara meja panjang dan meja masak agar tidak terganggu adanya aktifitas makan dan masak. Maria menguping sangat jelas sembari jongkok ia menyantap mienya.
"Bagaimana Bert lu beneran mau mengungkapkan kebenaran pembunuhan di rumah sakit itu? " tanya Haikal.
"Iya bahkan dokter forensik yang bekerja disana mau membantuku katanya kasus itu hampir sama dengan kasus orangtuaku, " ucap Robert.
"Jika saling terhubung bisa sangat jelas kalau pelakunya sama, " tukas Juan.
"Makanya itu saya bakalan jarang berada di cafe jadi tolong bantu handel yaa, " pintanya.
"Aman aja sih soalnya warnet engk terusan di jaga gue bisa kemana aja kan ada robot ciptaannya Juan, " pungkas Tono.
"Ohh jadi Robert juga yatim piatu sama dong kaya gue, terus mereka bilang mau menyelidiki soal kasus pembunuhan, tapi rumah sakit mana kaya pernah dengar, " ucap Maria merogoh kantongnya mencari handphone untuk melihat berita dan membacanya.
"Yokk kembali bekerja, " ucap Haikal saat melihat jarum jam menunjukan pukul 2 siang. Maria langsung bergegas lari dari sana saat mendengar langkah kaki mereka.
Saat Maria sedang memperbaiki makeupnya ia melamunkan kejadian waktu ia mempergoki miss Lonee di tempat apartemennya membuat ia ingin bertanya langsung tentang kejadian itu.
"Kamu sedang ngapain, " tegur Robert membuat Maria kaget saat mengarahkan pantulan cermin keorang di belakangnya.
__ADS_1
"Astaga bikin kaget saja kamu, " celetuknya.
"Kamu engk kerja? " tanyanya.
"Sembarangan jam segini mana ada pelanggan datang, cuacanya panas poll gini. "
"Justru itu kan ada cafe menyediakan minuman dingin dan eskrim pasti pada datang tuh. "
"Hahaha cafe rooftop begitu malah gerah tau kecuali diruangan ber-AC baru bisa aja mereka kesini, " cibir Maria.
Mendengar cibiran Maria, Robert pergi begitu saja bukan soal ia merasa sakit hati melainkan ia mendapat telepon dari nomor tak dikenal.
" Halloo ini siapa? "
Kembali ke meja resepsionis, Maria sedang melayani pelanggan yang akan pergi untuk membaca ke perpustakaan kemudian Maria menelisik dengan seksama orang yang ada dihadapannya kemudian dia menemukan dari penglihatannya jika orang tersebut adalah mahasiswa tingkat akhir bernama Sari, dan Maria penasaran dengan noda warna merah di dekat kancing kemejanya wanita itu.
"Mbaknya kuliah dimana? "tanya Maria.
"Saya dari universitas swasta zeros mba. "
"Ohh semangat yaa jika ada kendala sesuatu, tanyakan saja kesaya bisa juga, " ucap Maria.
"Iya mbak makasih. "
Maria berpura-pura menjatuhkan pulpen miliknya. "Aduhh"
"Ini mbak pulpennya, " ujar Sari menolong Maria.
Maria tidak sengaja melihat pergelangan tangan gadis itu penuh dengan bekas sayatan silet karena kemeja yang gadis itu gunakan tidak terlalu panjang sehingga dapat ketahuan bagian tangannya.
"Mbak ini khusus untuk perpustakaan ajakah?" tanya Sari.
"Iya mbak sama warnet juga kalau cafe bisa langsung lewat tangga disebelah gedung, " jawab Maria.
"Baiklah mbak"
"Kalau pinjam buku bisa juga? " tanyanya lagi.
"Bisa, ada sebuah kertas panduan di meja baca ada keterangannya cara meminjam lewat aplikasi. "
"Oke mbak makasih informasinya. "
"Iya sama-sama sudah tugas saya kok, ohhiya waktunya cuman sampai jam 4 sore yaa, " ucap Maria sangat ramah.
"Iya mbak"
Robert keluar dari lift terlihat sangat tergesa-gesa.
"Dia mau kemana buru-buru amat, " ucapnya monolog.
*****
Mobil yang dikendarai Robert berhenti di sebuah rumah kayu bertingkat 2 dengan gaya zaman belanda.
__ADS_1
"Mas Robert yaa? " tanya seorang wanita muda bernama Elisabeth.
"Iya mbak"
"Silahkan masuk, lagi sepi soalnya anak-anak lagi sarapan diruang tengah. "
"Mbak kalau boleh tau yang hubungi saya tadi itu siapa? " tanya Robert.
"Selamat datang dipanti asuhan yen iman" ucap seorang wanita berusia 60 tahun bernama nyonya Zia.
"Nyonya Zia yang menghubungi anda tadi, " pungkas Rlisabeth.
"Ayo ikut saya, " ajak nyonya Zia.
Mereka berjalan melewati lorong dimana tiap dinding penuh dengan foto anak-anak tiap tahunnya yang silir berganti pergi maupun datang. Saat menaiki anak tangga nampak beberapa anak makan di ruang tamu di sudut kanan lantai 2 mereka menuju ke ruang yang di namakan kamar utama itu tempat dimana nyonya Zia menerima tamu seperti Robert.
"Elisabeth bawakan minuman untuk tuan Robert," pintanya sangat elegan dan berwibawa.
"Saya masih muda, bu panggil saja Robert saja. "
"Baiklah mas Robert."
"Terserah anda saja, " ucap Robert melayangkan senyuman.
"Kalau boleh tau bisakah saya melihat bukti jika kamu adalah saudara dari anak yang dicari? " tanya nyonya Zia.
"Ada sebentar," ucap Robert sambil merogoh isi tas lempang dan mengeluarkan sebuah map plastik disitu beberapa dokumen seperti foto dan kartu keluarga miliknya.
"Saya benar-benar sangat berharap jika adik saya pernah tinggal disini, saya sudah mencarinya tapi selalu saja tidak membuahkan hasil saya sangat stress memikirkannya, " ucap Robert sambil menyerahkan berkas tersebut.
Nyonya Zia memperhatikan kartu keluarga yang tulisannya sudah agak pudar ia sampai mengerutkan bagian matanya agar terlihat jelas lalu mengambil kacamatanya di dalam laci meja.
"Saya kurang jelas melihatnya tapi kayanya pernah melihat wajah anak ini, " ucapnya sambil menelisik foto hitam putih itu yang disisi atasnya sudah terbakar tapi masih keliatan bagian wajahnya.
"Benarkah? " tanya Robert.
"Saya akan mengambil beberapa album foto dulu diruang sebelah, " pungkas nyonya Zia. kKemudian tidak lama Elisabeth datang membawa teh hangat untuk Robert.
"Maaf mas Robert cuman ada ini, " seru Elisabeth dengan ramah terlihat lesung pipinya yang manis semakin ia tersenyum lebar.
"Iya mbak makasih. "
Sambil Robert menunggu nyonya Zia dia membuka jendela melihat di sebelah panti terdapat beberapa ternak unggas lalu banyaknya tumbuhan pohon mangga maupun rambutan dan tak lupa ia juga menyapa staf panti yang sedang membersihkan kandang ayam. Usai memanjakan matanya Robert memalingkan pandangannya ke foto nyonya Zia memakai pakaian seperti nona belanda.
Diketahui jika Panti Yen Iman di dirikan oleh suaminya ditahun 1987 pasca suaminya meninggal nyonya Zia yang meneruskan panti tersebut dengan hasil usahanya mengelola beberapa peternakan unggas salah satunya di pekarangan panti dan di tempat lain.
.
.
.
...See you in the next chapter...
__ADS_1
...✧・゚: *✧・゚:*...