BRAVE $ MAN

BRAVE $ MAN
Bab. 40. Pertemuan kembali


__ADS_3

Maria dihubungi untuk memberi keterangan terkait pembunuhan Dewi ia segera bersiap tapi malah terkena macet.


Di depan ada beberapa orang sedang berkerumunan keluar dari kendaraan mereka hingga setengah jam Maria memutuskan ikut keluar juga dan memilih berjalan kaki kedepan untuk melihat situasi yang sedang terjadi.


"Mas rame-rame lagi ada apaan? bansos yaa? "


"Engk mbak itu ada kecelakaan beruntun truk nabrak mobil dan motor. "


"Buset mobil truk sebesar itu beroperasi di siang hari bukannya sudah ada jamnya yaa? " tanya Maria.


"Itulah mbak tuntutan pekerjaan biasanya ada perusahaan yang tidak profesional maunya waktu adalah uang. "


Maria sempat berjalan sangat jauh beberapa kali dihubungi dari kantor polisi atas keberadaannya disangka ia lari dari tanggung jawabnya.


"Iya Pak maaf dijalan ada musibah ini saya sudah effort banget jalan kedepan biar nemu ojek atau taxi, " pungkasnya.


Didepan ada pangkalan ojek jika dibandingkan dengan ia jalan kaki membuat pahanya sakit dan kantor polisi juga hampir dekat ia memilih naik motor aja walau harus mengeluarkan uang lagi.


"Misi bang, ojek ke kantor polisi, " ucap Maria.


"Ya ampun neng itu dikit lagi sampai. "


"lu mau uang kaga, " pintanya.


"Iya mau neng siapa sih yang engk tertarik dengan uang. "


"Cepat gue harus segera kesana. "


Motor bebek warna hitam pelan-pelan di kendarai tinggal menyebrang ke perempat lalu lurus sedikit disebelah kiri tempat yang dituju.


"Berapa bang harganya. "


"10 ribu mbak. "


"Buset mahal amat mending jalan kaki aja gue tadi, " ucap Maria ngedumel.


"Yaa sih eneng harga bensin naik orang juga butuh perjuangan tadi bawa mbaknya. "

__ADS_1


"Yaa itu tugas lu lah begitu aja butuh perjuangan," pungkas Maria sambil masuk kedalam kantor polisi hingga seseorang menegur kedatangan Maria di dekat ruang interogasi.


"Mba Maria,, sebelah sini, " ucap petugas bernama Jaya.


"Maaf Pak saya telat. "


"Iya mbak silahkan duduk. "


Maria menjadi saksi kedua setelah beberapa teman Dewi yang diminta keterangan kemarin, ia menghabiskan hampir tiga jam berada diruang sempit meja kayu ulin di sisi kiri petugas dan kanan maria mereka juga pasti ada istirahat dulu sebelum melanjutkan lagi.


"Terima kasih mba atas keterangannya mungkin jika diperlukan lagi akan kami hubungi lagi. "


"Maaf yaa pak emang begitu prosedurnya? " ucap Maria dan dibalas anggukkan oleh petugasnya.


*****


Robert berjalan sambil melihat keindahan di malam hari karena waktunya pas di malam minggu banyak sekali pasangan-pasangan menghabiskan waktu bersama.


Sementara Maria menunggu di halte bus berikutnya karena sebelumnya ia tertinggal karena harus menolong seorang nenek menyebrang dengan sangat sabar ia sambil berkaca-kaca dengan cermin di halte maupun mengayun-ngayunkan kaki di trotoar saking lamanya menunggu busnya.


Sesampainya di pemberhentian Maria lekas turun bersamaan dengan hujan yang turun kala itu ia sampai menghela nafas berkali-kali karena mendapat kemalangan. Di waktu ia berlari mengangkat tasnya ke kepala untuk menghindar hujan ia bertemu Robert yang lebih dulu meneduh di ruko kosong.


"Duhh karena jadi saksi kunci pembunuhan membuatku mendapat kesialan,, mana besok harus nyari kerjaan lagi, " ucap Maria.


Di sampingnya ada Robert yang belum diketahui Maria, tiba-tiba suara gemuruh dan kilat menyambar reflek Maria menutup wajahnya dengan tangannya kearah samping tepat dekat Robert.


"Mba gapapa? " tanya Robert tak mendapat jawaban dari Maria membuatnya yang tingginya 187 sedikit membungkukan badan kearah Maria yang tingginya 170 yang masih menutup wajahnya dengan tangannya.


"Wuaahhh lu mau ngapain, " tanyanya yang kaget melihat wajah Robert begitu sangat dekat. dengannya.


"Sorry, saya kira kamu mati berdiri. "


"Engk lah gue cuman kaget aja, " ucap Maria berusaha mengipas-ngipasi wajahnya yang sebenarnya agak merah dan jantungnya berdegup kencang.


"Ohhiya kamu apa kabar, " tanya Robert yang sebenarnya sudah mengetahui Maria saat tadi berlari menuju ke ruko.


Maria yang terkejut langsung memperhatikan wajah Robert kala mengingat-ngingat siapa orang yang ada di sebelahnya.

__ADS_1


"Tunggu elu bukannya yang di desa dan beberapa kali kita juga pernah ketemu kan? "


"Iya, terus bagaimana keadaan kamu bukannya anda di panggil sidang yaa. "


"Tau darimana elu. "


"Adalah pokoknya engk perlu tau darimana aku tau, " ucap Robert yang ternyata tidak sengaja melihat amplop bertuliskan nama Maria yang harusnya kena sidang atas tuduhan pembunuhan dari Pak Jack.


"Gue engk tau soalnya gue selalu menghindar. "


"Mau saya tolongin engk, " ucap Robert.


"Tolong yang bagaimana tuh. "


"Begini di kantor saya lagi cari karyawati di posisi repsesonis gitu tapi itu cuman samaran aja dan kalau kamu nerima bakalan di kasih tau apa kerjaan sebenarnya, " tukasnya.


"Bukan jadi t*roris kan? "


"Yaa engk lah masa setampan saya mau meneroris sih. "


"Jadi apaan dong, " ujar Maria.


"Kalau kamu nerima bakalan di kasih tau dan bayarannya sekitar 5 jutaan, bagaimana. "


"Terus apa hubungannya dengan sidang saya. "


"Yaa itu kantornya kerjasama dengan kejaksaan dan kalau kamu nerima bakalan di bebaskan, " pungkas Robert.


"Nantilah saya pikir-pikir dulu, " jawabnya.


"Ini kartu namanya jangan lupa dipikirkan baik-baik, " titah Robert lalu pergi meninggalkan Maria usai hujan berhenti.


.


.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2