BRAVE $ MAN

BRAVE $ MAN
Bab. 65. Siapa dia?


__ADS_3

Hampir 6 bulan lamanya kasus pembunuhan di rumah sakit citra alam belum ada hilalnya. Saat Robert dan Lukas sampai di rumah sakit, di koridor banyak orang berkumpul ada banyak petugas kepolisian disana bahkan dokter Maya menghubungi Robert tapi tak di jawab karena dalam mode silent.


"Bert kenapa tak diangkat teleponnya, " ucap Maya.


"Ada apa ini dok? " tanyanya.


"Ada mayat di temukan di gudang kosong," ujar dokter Maya dengan raut wajah panik.


"Apaa! "


"Warga sipil dilarang masuk," pinta seorang polisi.


"Biarkan. Dia anak buahku," sahut Maya membawa Robert masuk kedalam gudang.


Robert membuka kantong jenazah terlihat beberapa bagian tubuh mayat tersebut rusak, kira-kira sangat lama sekali berada di lemari yang digembok di gudang tak dipakai itu.


"Siapa yang menemukannya? " tanya Robert ke petugas.


"Seorang staf kebersihan " jawabnya.


Maya dan Robert bertemu dengan staf kebersihan bernama Laila.


Terlihat di wajah gadis itu masih sangat shock kala menemukan mayat yang hendak ia bersihkan untuk dipakai sebagai gudang tempat peralatan medis.


"Mbak Laila? "


"Ahh, ia saya sendiri," jawabnya.


"Sepertinya dia masih sangat shock apa kita lakukan dilain waktu? " tanya Maya.


"Tidak dok, kali ini kita harus bergerak cepat." Robert mendekati gadis itu dengan duduk disebelahnya ia juga menyuruh orang disana untuk meninggalkan mereka berdua.


15 menit dilihat gadis itu sudah lebih tenang. "Nama kamu Laila,kan? "


"Iya."


"Aku sangat tertarik dengan gelang yang kamu pakai itu," balas Robert.


"Ohh ini pemberian papaku, dia sebelum meninggal memberikannya sehari setelah masuk rumah sakit," ucapnya begitu lembut perlahan melihat kearah Robert.


"Kalau diperbolehkan apa kau mau mendengar bersamaku instrumen suara ombak di laut? " tanyanya.


Kedengeran aneh tapi cara Robert mampu membuat gadis itu sangat nyaman sambil menyenderkan badannya kebelakang kursi.


Dengan posisi mereka berbagi hedset di sisi telinga masing-masing. Robert mulai bertanya tentang kejadian awal laila masuk ke gudang.


"Laila aku boleh bertanya sesuatu? " tanyanya.


Laila menganggukan kepalanya.


" Bisa ceritakan kegiatan kerjamu hari ini? "


"Aku bertemu perawat wanita di koridor dan menyapaku lalu bertemu seorang pria baik hati yang selalu memberiku snack kemudian kerjaanku diawali dengan mengepal beberapa ruang perawatan tapi salah satu dokter menyuruhku membersihkan gudang yang di-i (ekspresi Laila mulai takut mengatakannya)


" Tidak apa-apa, aku disini," ucap Robert mengenggam tangan Laila.


"Dengan cukup tenang Laila melanjutkan perkataannya.


" Aku bertemu mayat, saat membuka sebuah lemari dengan gembok yang kuncinya tergantung saat kulihat aku begitu takut sampai seorang staf lewat membantuku dan menghubungi pihak rumah sakit... aku begitu takut," rengeknya sambil memeluk tubuh Robert.


"Tidak apa-apa kok aku tau kamu pasti bisa melewatinya."


"Siapaa disana? " ucap Laila mengagetkan Robert.


"Hah,dimana? "


"Dia memakai jaket hitam dan masker aku takut," ujarnya menutup kedua matanya dengan tangan.


Tak berpikir panjang Robert mengejar orang tersebut.


"Kenapa Bert? " tanya Maya.


"Dokter lihat ada orang keluar engk tadi? "


"Engk Bert, dari tadi saya disini nungguin kalian," balas Maya.


"Tadi kata Laila, dia melihat orang pakai jaket hitam dan masker jadi kukira mungkin itu pembunuhnya," jawabnya.


"Mungkin hayalan nya saja itu karena takut, " ucap Maya.


Dokter Maya masuk kedalam lalu memanggil Robert untuk masuk.


"Kenapa dok? "


"Dimana Laila? "


"Tadi dia masih disini pas aku keluar."


"Kayanya dia kabur, " jawab Maya.


"Yaa sudahlah aku juga sudah dapat rekamannya obrolan kami tadi, " jawabnya sambil menunjukkan sebuah alat perekam kecil di kerah bajunya yang lantas di ambil saat Juan masih terlelap tidur di rumah adiknya.


"Keren banget kamu engk salah aku meminta bantuan padamuu," tukas dokter Maya.


Waktu sudah menunjuk pukul 1 siang yang membuat Juan harus bangun.

__ADS_1


Dengan ketenangan dia tak merasa ada keributan seperti di apartemen akibat Tono dan Haikal.


"Sunyinyaaa inilah yang kusukaa hoaaamm, apa gue nginap lagi entar malam," ucapnya sambil melihat wajahnya di cermin. Setelah benar-benar fokus,.Juan keluar dari kontrakan Lukas dan menaruh kuncinya di bawah rak sepatu.


Sampainya di apartemen terlihat 2 rakun berada di sofa, begitu banyaknya sampah berserakan dimana-mana membuatnya tak tahan tinggal disana.


"Kebiasaan banget ini 2 rakun gila rumah seperti kapal pecahh dibuatnya," jawabnya penuhh emosii kala membersihkan semua perbuatan mereka.


"Dalam bekerja mereka itu sangat bisa diandalkan tapi kalau soal tinggal bersama, haduhh jangan coba-coba gue aja stress apalagi wanita yang berkeluarga nantinya sama mereka," sunggutnya.


"Woyy, bangun kalian bukannya semakin tahun membaik malah makin menjengkelkan," pekiknya.


*****


Robert semakin bergelud dengan banyaknya lembar kasus di meja dokter maya lalu sebuah notifikasi pesan dari adiknya muncul di layar ponselnya.


"Bang belum pulang kah? "


"Aku mau pulang nih sama teman aja kalau bang Robert masih sibuk."


"Iya Kas, maaf yaa."


"Gapapa bang."


Sambil melihat jam di layar ponselnya menunjuk pukul 7 malam.


"Cepat banget dia pulang biasanya jam 10. Ohh iya hari ini sabtu rupanya," ucapnya.


"Kenapa kamu pukul-pukul jidatmu? " tanya dokter Maya mengagetkan Robert.


"Engk, tadi ada pesan dari Lukas ternyata ini hari sabtu kan dia pulang cepat."


"Kamu sendiri kenapa engk balik sama adikmu."


"Dia sudah balik sama temannya."


"Ohh, terus kayamana lagi ini? apa kita tunggu konfirmasi dari Adit, " tanya Maya.


"Boleh juga kita gabungkan pemikiran mereka dengan pikiranku apakah sama karena kurasa ini ada kaitannya dengan sesuatu yang berada di rumah sakit ini," pungkasnya.


"Okelah aku mau kebawah dulu mau beli kopi."


"Aku juga kayanya mau pulang aja," ucap Robert.


"Engk nemanin aku dulu kah? nanti ku teraktir deh," pinta Maya.


"Kalau mau di temanin gapapa aja sih dok, engk usah di teraktir," ucap Robert


Dokter Maya dan Robert menuju lantai 1 saat di lift engk sengaja bertemu beberapa anak muda dan di belakangnya ikut seseorang memakai hoodie yang dikira Robert adalah teman dari rombongan anak muda-mudi.


"Bert kamu lihatin siapa? " bisik dokter Maya.


"Engk dok hehe, tadi tanya apa."


"Engk Bert, cuman bicara asal aja aku dari tadi," jawabnya ketus.


"Maapin aku yaa dok tadi emang lagi kurang fokus aja. "


"Iya gapapa."


"Tapi dokter kaya ngambekk gitu, besok mau jalan engk? " ucap Robert.


Langkah dokter Maya terhenti membuat Robert menabrak punggung Maya.


"Ada apa dok? "


"Besok aku engk ada jadwal kalau mau nonton bioskop bagaimana? ada film baru dirilis loh," ucapnya sangat antusias.


"Boleh kok dok besok jam berapa? " tanya Robert.


"Jam 10-an lah. "


"Okelah, besok aku jemput kemana dok? "


"Di halte dekat rumah sakit aja nanti aku tunggu disitu."


"Okelahh"


"Ya sudah sana pulang cepat istirahat nanti telat lagi besok jemputnya." sontak Maya mengusir Robert.


"Beli kopi engk jadi? " tanya Robert.


"Malass, nanti aku engk bisa tidur lagi."


Robert pamit pulang dan meninggalkan Maya di sana. Setelah itu ia balik masuk kedalam rumah sakit sepanjang lorong ia merasakan seperti ada seseorang yang mengikutinya apalagi jam 10 malam lumayan sepi.


"Duhh kebelet lagi, aku tunda dulu deh kerjakan laporan ini mau menuntaskan hajat dulu," ucapnya monolog pergi meninggalkan ruangannya.


Sejam kemudian kepergian Maya ada orang lain masuk kedalam ruangannya terlihat bagian kakinya melangkah masuk lalu mencari sesuatu disana setiap barang di berantakan, kertas yang menumpuk berserakan di lantai lalu dengan tangan mengepal yang di geborkan ke meja, wajah dan bagaimana postur tubuhnya tak ternampak entah siapa orang asing itu yang berani masuk kesana. Setelah tak mendapatkan hasil ia segera keluar karena mendengar suara langkah yang sepertinya adalah Maya.


"Ya ampun ini perbuatannya siapa kurang ajar banget " ucapnya sambil membersihkan.


*******


Keesokannya mobilnya Robert siap berangkat menuju halte dekat rumah sakit citra alam menjemput Maya. Sampainya disana Maya sedang duduk menatap layar ponselnya.

__ADS_1


"Dokter Mayaa," panggilannya. Sepanjang jalan raut wajah Maya begitu datar tak nampak bahagia disana.


"Dok kenapa cemberut? apa saya telat jemput? "


"Engk Bert aku semalaman lambat tidur karena membersihkan banyak barangku yang berantakan," ucap Maya lalu Robert memperlambat lajunya untuk menepi.


"Seriusan dok? kok bisa."


"Engk tau tapi sepulang kita dari bioskop baru kucek CCTV-nya."


Mereka masuk kedalam bioskop disana tidak terlalu ramai padahal hari weekend yang di tonton memang cukup menghibur apalagi Maya menyukai komedi. Tawa semua orang didalam termaksud Maya dan Robert begitu bahagia sejenak melupakan rutinitas yang padat atas kasus pembunuhan di rumah sakit.


Selesai dari bioskop mereka menuju sebuah tempat banyaknya permainan di mall sejenis timezone yang cukup lengkap didalamnya.


"Robert tekan itu terus itu lalu itu," pinta Maya.


"Duh dok berisik tau aku engk fokus nih."


"Kamu ini engk bisa main apa," ucap Maya bersua dengan tatapan ledek ke Robert yang menyipitkan matanya tanda tak percaya. Laganya Maya menantang Robert bermain game bertarung mereka sekarang harus menggunakan semacam pistol untuk membunuh monster di dalam layar jika waktunya habis dan scorenya banyak tandanya ialah pemenangnya.


"Sudah siap? " ujar Maya.


"Siap dong," balas Robert.


Setelah tertera di layar kata let's go mereka segera bermain.


"Kamu engk akan menang Bert," ucap Maya.


"Kita lihat saja nanti," seru Robert.


Tembakan kesekian banyaknya selalu didapatin Robert bahkan dokter Maya mulai melakukan cara licik karena Robert telah mendapatkan banyak score apalagi waktunya mepet.


"Itu curang dok! " seru Robert tampak meringis kesakitan di kakinya karena Maya menyenggolnya.


"Sorry Bert engk sengaja."


Lagi-lagi Maya melakukannya lagi sehingga ia memenangkan permainan.


"Yeahhh, aku menang horee," ucap selebrasi Maya kemenangan nya ia lakukan kemudian menguncang-nguncangkan tubuh Robert.


"Itu curang tauu," ucap kesal Robert pada Maya.


"Maapin deh, tapi kamu itu harusnya peka tau kalau main sama cewek harus ngalahh, bagaimana kalau punya pacar terus dia ngambek gara-gara kegigihanmu untuk menang, padahal itu cuman permainan doang kenapa harus seserius itu sih Bert," tukas Maya mencubit pipi Robert.


"Apa sihh dok, cubit-cubit emangnya aku bakpao," jawab Robert begitu kesal sambil menyentuh pipinya.


Terdengar beberapa kumpulan gadis didekat mereka menaruh gemas atas pasangan Maya dan Robert.


Jika dilihat-lihat walau Maya terpaut usia lebih tua 15 tahun darinya dari kulit putih dan badan mungilnya begitu awet muda jadi orang lain mungkin mengira mereka adalah pasangan bukan seperti ibu dan anak.


"Bagaimana Bert enak es krimnya? " tanya Maya.


Setelah bergelut dengan Robert di mall mereka menuju ke pusat belanja dan menemukan cafe eskrim.


"Hmmm"


"Kau masih marah padaku? " tanya Maya lagi.


"Engk dok hanya kesal aja."


"Kok gitu sih," gumam Maya.


"Setelah makan eskrim aku engk marah lagi kok," jawab Robert.


"Ehh setelah ini temanin aku ke toko baju yaa," pinta Maya.


"Engk lama kan? "


"Palingan sejam doang."


Setelah sampai disana bukannya sejam malah hampir 3 jam Robert menunggu sampai betisnya sangat sakit menunggu Maya tidak kelar-kelar bahkan di luar toko banyak juga kaum lelaki seperti menunggu pasangannya yang berada di dalam.


"Benar-benar, kalau cewe kuat banget tuh kakinya berjalan di dalam, aku sampai pengen rebahan ini gara-gara nunggu," pungkas Robert. Lalu Maya keluar setelah berbelanja banyak pakaian maupun tas, sandal.


"Lumayan ada diskon jadi borong aja," jawab Maya begitu kegirangan disamping setir.


"Dok ini mau diantar kemana? " tanyanya.


"Kebelakang rumah sakit ada perumahan dokter disana."


"Oke"


Setelah mengantar Maya pulang, Robert juga segera balik ke kontrakan adiknya.


.


.


...Bersambung dulu yaa......


.


.


.

__ADS_1


Jika berkenan ingin memberikan like dan votenya.... authornim sangat berterima kasih🌹


__ADS_2