
Robert menuju sebuah rumah terbengkalai ia melewati pagar kayu tingginya 2 meter menjadi pembatas antara jalan dan halaman rumah yang terasa sangat dingin hawanya.
Saat ia membuka pintu terlihat sangat gelap sekali didalamnya tiba-tiba ada orang yang mengejutkannya yang menyentuh pundaknya.
"aaaaaaaa! siapaa disanaa?? " suaranya bergema diseluruh ruangan padahal kakinya belum menginjak lantai dalamnya tapi seseorang dari belakangnya mengagetkan nya.
"Maaf mas anda ngapain masuk kesini? " tanya pria berumur 70 tahun bernama pak Marti.
"Maaf pak saya lagi nyari saudara saya. "
"Emang orangnya kaya apa? "
Lantas Robert memperlihatkan foto adiknya yang sangat agak buram karena termakan usia.
" Kacamata saya ada dirumah, mari ketempat saya ngobrol disana, disini semakin sore sangat seram, " pungkas Pak Marti yang langsung mendapat anggukan Robert.
Di teras rumah pak Marti terdapat kursi yang terbuat dari rotan dan mejanya terbuat dari kayu ulin yang diatasnya terdapat beberapa anyaman rotan bekas pak Marti membuat beberapa kursi, piring, tatakan gelas, tikar hingga baru-baru ini dia bersama istrinya sedang belajar membuat tas rotan juga.
"Ini berapaan pak harganya? tanya Robert saat menunjuk kearah tikar dan kursi.
" Ohh itu sudah ada yang pesan harganya yang kursi 350 ribu sedangkan tikar 100 ribu saja. "
"Murah banget di kampung pamanku segitu sampai 500-an lebih, " ujarnya.
"Yaa disini banyak tanaman rotan jadi masyarakatnya juga kebanyakan pembuat anyaman rotan juga, " pungkas pak Marti.
"Lah bapak sudah balik kenapa tidak panggil mana ada tamu lagi, " ucap istri pak Marti yang keluar dari rumah.
"Bu ambilin minum untuk masnya. "
"Engk usah repot-repot pak, bu. "
"Di sini kalau ada tamu harus dikasih jamuan dek, mau minum apa? teh atau kopi? " tanya istri Pak Marti.
"Teh hangat aja bu. "
"Bentar yaa"
"Bentar saya ambil kacamata dulu, " ucap pak Marti.
Setelah pak marti melihat foto dari Robert ia mengingat-ngingat si pemilik rumah yang didatangi Robert.
"Ohh iya saya baru ingat sudah hampir 6 tahun lebih kayanya mereka pindah tapi engk tau kemana perginya soalnya awal-awal mereka pindah ke desa ini karena suaminya kades disini terus karena sudah pensiun mereka pindah dan anaknya itu buka anak kandung mereka katanya mereka adopsi dari panti di kota, " tukas Pak Marti.
"Jadi mereka sudah pindah, harus mencari kemana lagi keberadaanmu alex ucap Robert di dalam lubuk hatinya.
Berkali-kali ia menghela nafas karena lelahnya medan yang ia tempuh ke desa itu dengan naik bus yang memakan 2 jam kemudian naik mobil angkutan khusus untuk sampai ke desa langsat yang memang jalanya yang rusak dan desa yang sangat terpojok di kabupaten yang didatanginya.
"Dek sudah gelap juga kamu pulang besok aja nanti saya bantu lagi tanyain ke salah satu orang yang masih sekeluarga dengan orang yang kamu cari, " pungkas pak Marti yang membuat Robert kembali tersenyum.
"Terima kasih pak"
Setelah membersihkan badan Robert menuju kamar tamu untuk menganti pakaiannya, untung saja ia selalu membawa pakaian ganti jika pergi jauh.
__ADS_1
"Nak Robet kesini kita makan dulu, " ucap istri pak Marti.
Robert yang tidak mendapatkan kasih sayang setelah pamannya ia merasa seperti melihat ayah dan ibunya waktu masih kecil bahkan kedua orangtuanya tidak membeda-bedakan ia dan adiknya semua diperlakukan sama.
"Ini tahu bacem nya sangat enak disini, " ucap istri pak Marti memberikan lauk kepiring Robert. Diikuti angukan kepalanya yang sopan.
Didalam kamar Robert belum bisa tertidur karena masih belum mengantuk biasanya ia akan bermain game agar matanya lelah. Kali ini baru semenit menatap langit-langit kamar yang banyak sekali sarang Laba-laba dan langsung menampak genteng rumah Robert menguap 2 kali dan memutuskan memenjamkan matanya.
Suara ayam berkokok membangunkan matanya terlihat di layar hpnya masih menunjuk jam 6 pagi. Ia langsung mengusap matanya yang tidak gatal dan menguap berkali-kali, lalu Robert memutuskan keluar dari kamar kemudian menghampiri pak Marti yang sedang membela kayu sedangkan istrinya memasukan kayu kedalam tungu.
"Nak Robett kebangun karena asapnya yaa? " tanya istri pak Marti ke Robert yang berdiri di pintu belakang.
"Engk bu saya emang sering bangun jam segini, " ucap Robert.
Setelah Robert mencuci muka dan sikat gigi ia menuju halaman belakang untuk ikut pak Marti ke sebuah kandang sapi.
"Pak saya bantuin. "
"Ya ampun mas Robet engk usah kamu duduk aja didalam engk boleh tamu melakukan pekerjaan, " ucap pak Marti.
"Ya udah pak saya permisi. "
"Nak Robet mau di buatin minuman apa? "
"Kopi deh bu"
"Oke sebentar yaa. "
Robert ingin mencoba sekali-kali minum kopi hitam karena aroma yang di sangrai ibu istri pak Marti sangat harum membuatnya penasaran walau ia tidak suka kafein.
"Makasih bu"
*****
Setelah sarapan Robert dan pak Marti berangkat ke rumah salah satu warga yang masih memiliki hubungan keluarga dengan orangtua angkat adiknya, jarak antar rumah tetangga dengan tetangga lainnya agak jauh sekitar 1 meter sehingga jarak menuju rumah yang akan didatangi juga sangat jauh harus menggunakan kendaraan.
Motor supra milik pak Marti masih kuat jika melewati tanjakan tinggi dan menerjang. Mayoritas kendaraan penduduk di desa juga kebanyakan motor merk supra, revo maupun motor yang sangat cocok dilalui medan jalan yang sangat menjengkelkan. Sampai dirumah yang dituju mereka masuk bertamu kerumah yang diketahui masih sepupuan dengan mantan kades itu.
"Oohh ada pak Marti tumben kesini, " ucap pak Ucok sepupu jauh dari pak Jemo mantan kades yang dicari Robert.
"Iya kabar baik pak Ucok," balas pak Marti. Siapa yang tak kenal pak Marti didesa itu ia yang pertama kali memperkenalkan kerajinan anyaman rotan sehingga banyak warga desa yang mengikuti jejaknya kadang-kadang pak Marti sering memberikan pelatihan membuat anyaman saat masih muda salah satunya istrinya yang mengikuti pelatihan itu dan menjadi pasangan pak Marti ketika masuk umur senja kadang ia tidak banyak melakukan kerajinan anyaman karena gampang lelah, anaknya yang satu-satunya sudah berkeluarga dan tinggal di kota sehingga jarang mengunjunginya dan istrinya mungkin sekali setahun atau melalui via telepon.
"Jadi kedatangan saya kesini ingin menanyakan soal keberadaan pak Jemo soalnya, " ucap Robert sambil memperlihatkan foto adiknya.
"Ini seperti mirip anaknya pak Jemo tapi saya lupa namanya, " ucap pak Ucok.
"Coba ingat-ingat lagi ucok," seru pak Marti.
"Duh maklum saya sudah pikun ini juga sudah lama sekali mereka pindah, tapi saya ada simpan alamat rumahnya soalnya pernah kesana pas ada acara jadi mampir kerumahnya, " ucap pak Ucok pergi untuk mengambil sepucuk surat yang ia tulis lalu diberikan ke Robert.
"Terima kasih pak. "
"Semoga cepat ketemu yaa. "
__ADS_1
Sorenya Robert memutuskan untuk pulang ke kota. Ia pamit ke pak Marti dan istrinya ia janji akan sering menghubungi kedua orang itu yang sangat baik kepadanya.
Saat mengantri membeli tiket ia nyaris kehabisan karena sangat ramai juga dan Locket tiket tutup jam 6 walau ia berangkat dari desa jam 3 tapi memakan waktu lama dijalan karena rusaknya jalan penghubung antar desa susah dilewati sehingga harus sangat bersabar dilalui.
"Harganya 20 ribu mas tiketnya. "
"Kok mahal mbak perasaan kemarin 15 ribu, " ucap pembeli didepan Robert.
"Iya soalnya hari weekend emang naik. "
"Kaya masuk ke tempat wisata aja ada pemberitahuan begitu, " ucapnya terkekeh yang sekaligus heran.
Di bus Robert merasa sangat mengantuk ia mulai memenjamkan matanya tiba-tiba disampingnya yang tadinya tidak ada orang langsung diisi oleh seorang wanita cantik. Wanita itu memiliki paras yang sangat menawan tapi Robert tidak peduli walau wanita itu beberapa kali menggoda Robert tapi ia tidak tergoda.
Wanita itu menaruh tas ranselnya didepan kemudian mulai meraba badan Robert entah mencari apa hingga ke kantong tas miliknya ia hampir merampas dompetnya. Untung saja Robert menepis tangan wanita itu walau matanya terpenjam.
"Benar-benar nih wanita pasti mau mencopet" ucap Robert di dalam hatinya.
Dengan melayangkan tatapan melotot membuat wanita itu kaget hingga terjatuh. Robert mengisyaratkan jika ia akan menghubungi polisi jika ia bersih keras melakukannya lagi. Kemudian wanita itu pindah ke sisi kursi lain yang nampaknya target laki-laki yang tadinya mengoceh di penjualan tiket.
Saat ia meraba tubuh laki-laki itu malah membuat pria itu keenakan dan tetap memejamkan matanya ia beberapa kali menoleh manja ke arah wanita cantik dan seksi itu. Ia mengira jika wajah bulatnya itu mengundang perempuan menyukainya sehingga di pemberhentian berikutnya ia kehilangan dompet dan handphonenya.
"Waduhh gue kena copett s*al, " pekiknya.
"Tolonggg gue kena copett... "
Beberapa kali berteriak membuat orang lain menoleh kearahnya.
Robert sedang menunggu jemputan. yang datang Haikal dengan mobil milik kantor.
"Woyy broo"
Diperjalanan Haikal dan Robert singgah di sebuah tempat makan sebelum balik ke rumah.
"Malam-malam gini enaknya makan yang angat-angat nih, " ucap Haikal. yang disetujui Robert.
"Bagaimana keadaan kantor? " tanya Robert.
"Baik kok, ehh btw lu sudah ketemu adik lu? " tanya Haikal.
"Belum,, nanti gue samperin desa orangtua angkatnya adikku. "
"Lah pindah lagi? "
"Iya tapi mungkin ini yang terakhir sih. "
"Semoga aja, ehh kita minggu ini bakalan ada kasus jadi kayanya lu agak susah nyari adik lu dulu, " ucap Haikal.
"Iya mungkin engk sekarang aku carinya bisa kapan-kapan kok, " jawab Robert.
.
.
__ADS_1
...Bersambung.......