
Peti yang diatasnya terdapat foto seseorang membuat Maria berdiri di dekat pintu terdiam sampai salah satu orang disana mengenalinya.
"Maria?,, benaran Maria kan, " ucap wanita itu.
"Tante Elin, " ucapnya langsung menangis di pundaknya.
Mereka sedang duduk dikursi tempat yang agak jauh dari ruang duka, Maria ditemani anak dari tante Elin tetangganya.
"Kaka kenapa nangis,, bukannya paman sudah bahagia dirumah baru kata mama tempat orang mati lebih bagus dibandingkan disini, " ujarnya dengan senyuman manis.
Hati Maria agak lega mendengar ucapan anak itu. "Iya dek hanya saja om ku pergi tanpa pamit dulu, " jawab Maria sambil melamun.
Malam yang sangat dingin Maria duduk didekat peti omnya. "Om aku dapat pekerjaan tapi.... "ucap Maria tak sanggup melanjutkannya karena ia tau pasti omnya akan membencinya.
Keesokannya tante Elin tetangga Maria datang membawa beberapa pakaian dari rumah Maria. " Maria maaf yaa tante engk bilang-bilang tadi sekalian bersihkan rumah kamu dan sekalian ambil baju juga untuk kamu. "
"Makasih tante, Maria akan balas kebaikan tante suatu saat nanti. "
"Ahh sudahlah. "
Setelah jenazah om Maria dikebumikan Maria pergi untuk menenangkan diri di jembatan. "Sepertinya aku haus. " ucap maria mengambil minuman beralkohol di kresek. Robert yang tengah memacu kendarannya dikagetkan oleh seorang wanita yang hendak manjat pembatas jembatan.
"Hei, you crazy? " ucapnya yang langsung keluar dari mobilnya.
"Lepasin,,, kubilang lepas, " Teriaknya.
"Aku tau kamu engk kuat sama hidup ini tapi pikirkan orang terdekat kamu, " pinta Robert.
"Apaansi gue hanya ingin duduk lebih dekat dengan laut, " ucap Maria melantur.
"Kamu mabuk yaa, " tanya robert membalikkan badan Maria.
Tanpa basa-basi Robert langsung menggendong Maria kedalam mobilnya. "Alamat rumahmu dimana? "
"Gue engk punya rumah lagi. "
"Kasihan banget, jadi kamu hidup di jalanan, " ucap Robert.
"Rumahku sudah pergi, " ucap maria sambil menunjuk langit.
Robert mengikuti jari Maria mengarah. "Wahh benar-benar stress nih cewe,, tapi tunggu kaya kenal mukanya,, lahh si cewe yang di bank itu rupanya."
Begitu lama Robert duduk menghadap ke cewe di sampingnya yang tengah tertidur sekali-kali ngigau membuatnya ikut mengantuk hingga terkaget karena ucapan Maria.
"Tidakk omkuuu huhuuuhu. " Rintihan nangis mendera dalam tidurnya.
"Sudah hampir 2 jam,"ucap Robert sambil melihat arlojinya.
" Alamat rumahku di jalan mawar blok D no. 40," ucap Maria sambil memperbaiki posisi tidurnya.
"Semoga benar apa yang dikatakannya. " Ia langsung menjalankan mobilnya.
Sesampainya dirumah Maria, Robert menggendongnya masuk.
"ehh passwordnya berapa? "
"143256"
"Mudah sekali, " gumam Robert.
Setelah Robert membaringkan Maria di kamarnya ia bergegas pergi, tidak sengaja melihat surat atas nama Maria.
"ohh namanya maria," gumamnya lalu keluar dari rumah Maria.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Paginya Maria bangun. "Kepalaku sakit sekali, " ucap Maria sambil memegang kepalanya.
Maria mengambil minuman bersoda di kulkas, ia masih memikirkan kepergian omnya dia berniat akan menyelidiki kematian omnya.
brakbrukk
Reflek maria sangat kaget dengar suara aneh disamping rumahnya.
Tok.. tokkk
"Siapa? "
Tok.... tokkk
"Jangan membuatku takut yaa, " ucap Maria mengambil balok panjang.
"Ohh tante Elin aku kira siapa. "
"Mar sudah makan? " tanya Elin.
Maria mengelengkan kepalanya.
"Ini buatmu"
Setelah meraih makanan dari tetangganya, ia sudah berada di meja makan bersama tante Elin.
"Kamu harus makan yang banyak badan kamu semakin kurus, " ucap tante Elin.
"Iya tante makasih banyak. " Maria melayangkan senyumnya.
"Semalaman kamu kemana tante kesini engk ada orang, lampu tidak menyala juga. "
"Kamu jangan ikut kaya om kamu suka mabuk-mabukan yaa, " pinta tante Elin.
"Iya tante"
Setiap saat tetangganya selalu menjenguknya dan memberikan makanan hingga pada suatu malam Maria sedang asik menonton acara komedi di televisi tiba-tiba dia terkejut dengan suara seperti perabotan jatuh disebelah rumahnya. Maria sempat menoleh kearah jendela setelah hening ia lanjut menonton lagi.
Paginya ia bangun dari sofa dengan sangat kaget sampai sesak nafas dan berkeringat, suara ketokan sangat awal dipagi hari membuatnya menerka jika itu tetangganya. "Tante ini masih sangat pagi, " ucapnya.
Lagi-lagi maria terkejut ternyata bukan tetangganya melainkan seorang polisi yang berdiri dihadapannya.
Dengan perasaan deg-degan Maria bertanya perihal polisi itu datang kerumahnya. "Maaf pak, ada apa yaa? "
"Begini mbak kami ingin meminta keterangan mengenai kasus pembunuhan. "
"Pembunuhan? "
"Iya atas nama ibu Elin dan anaknya, "
"Hah,, mak-maksudd bapak apa? "
Sontak Maria langsung lari ke tkp melihat sendiri apa yang terjadi, disitu seluruh rumah tetangganya sangat berantakan dan di dinding bagian dapur penuh bercak darah dipastikan tante Elin meregang nyawa dipukul benda tajam dan anaknya meninggal didalam kamar dengan di tusuk di bagian perutnya saat tertidur.
Maria langsung histeris keingat oleh omnya. Polisi langsung menenangkan Maria karena tersungkur ketakutan.
"Mbak saya lihat anda tinggal sendirian apalagi lokasi rumah korban sangat dekat dengan rumah anda, kami akan membawa anda ke tempat lebih aman terlebih dahulu, " ucap seorang polisi wanita saat melihat ketakutan dari Maria.
Maria hanya terdiam tetap dibawah pergi oleh polisi dibantu polisi wanita mengemasi pakaiannya entah berapa lama Maria akan pergi.
Di wisma khusus polwan, Maria hanya melamun didalam kamar sampai seorang wanita berteriak di dekat kamarnya karena salah satu orang membawa senjata tajam. Dengan bergerak cepat polisi wanita lain menghajar orang itu.
__ADS_1
"Mba Maria sedang ngapain disini? " tanya polisi wanita itu.
"Saya mau belajar bela diri, " tekad Maria begitu mengebu saat melihat polisi wanita itu menghajar seorang perampok.
"Ohh boleh tapi ini khusus pelatihan polisi kalau untuk umum ada di tempat lain. "
"Engk, saya mau disini. "
"Ada apa ini" ucap komandan yang datang saat terdengar ada perampokan di wilayah kepolisian.
Polwan itu tidak menjawab hanya terus menghormat kearah komandannya.
"Tadi saya dengar, kalau kamu mau ikut pelatihan? "
"Iya Pak" ucap maria sangat meyakinkan.
"Baiklah, kalau kamu bertekad bisa saja kamu berlatih disini. "
"Apa yang bapa lakukan?, bagaimana jika dia mata-mata, " bisik asistennya.
"Dia hanya warga biasa, biarkan aja pasti sehari ia tidak sanggup karena pelatihan ini. "
...----------------...
Nyatanya hampir 2 bulan Maria berada di pelatihan militer itu untuk meningkatkan skill menembaknya salah satu aparat petinggi menguji keahlian Maria.
Dorr... dorr... dorr
Semua papan berhasil di tembak Maria. Saat komandannya masuk ia menaruh sebuah apel di kepalanya dan menyuruh Maria membidik apel itu.
"Lakukanlah jika kamu berhasil saya akan memberikan sebuah hadiah untukmu, " ucap komandan tersebut.
Dengan pelan-pelan Maria mengarahkan pistolnya kearah apel dan langsung membidik, pertama meleset semua orang disana agak takut termaksud komandannya tetapi dengan tembakan kedua Maria berhasil, membuat semua orang begitu senang.
Maria diajak ke ruang komandannya.
"Apa keinginanmu? "
"Saya tidak mau apa-apa. "
"ohiya? kekuasaan? atau uang, "
"ehmmm mungkin nanti saya akan minta. "
"Okey kalau begitu. "
Maria selesai dari camp pelatihan lalu dia diberi kerjaan oleh komandan untuk mengurus beberapa usaha miliknya salah satunya butik milik mendiang istrinya.
Di hari pertama Maria bekerja di butik itu sebagai atasan semua karyawan lain sangat menghargai Maria, awalnya ia agak susah memahami suatu desain karena tidak ada bidangnya mengarah kesana. Tapi pelan-pelan ia belajar dibantu oleh asistennya.
"Bu saya ingin memberikan beberapa lembar desain silahkan ibu pilih yang mana yang cocok untuk dibuat. "
"Menurut saya yang ini sangat bagus dari unsur warna dan bagian mutiara nya lebih cocok jika warna nude kalau warna ini tidak sesuai, " ucap Maria.
"Baik bu"
Tapi dengan mengandalkan firasatnya, Maria bisa membuat beberapa klien sangat suka dan memujinya walau tidak ahli dalam mendesain.
.
.
.
__ADS_1
...Bersambung...