BRAVE $ MAN

BRAVE $ MAN
Bab. 73. Ketakutan dokter Arjuna


__ADS_3

"Bagaimana Pak Adit soal penyusup masuk kedalam kantorku? " tanya dokter Arjuna selaku kepala rumah sakit.


"Masih diselidiki Pak, pokoknya secepatnya akan segera kami beritahukan jika pelakunya berhasil ditangkap, " ujarnya.


"Aku sampai was-was kalau pulang malam, takut tuh orang ikutin sampai rumah atau engk jangan-jangan bersengkokol lagi sama orang yang kemarin. "


"Engk mungkin, kan Laila sudah di hukum seberat-beratnya dan dia engk akan pernah kembali, " ucapnya meyakinkan Arjuna.


"Yaa kan sapa tau. " Ia tetap mengelak dan sangat yakin kalau dia masih dalam bahaya.


Arjuna tampak kurang percaya dengan Kepolisian sehingga ia meminta bantuan lagi ke temannya si Jaksa Lee.


"Tolonglah Lee… mau kau merasa menyesal kalau benar saya yang diincar, " ucap Arjuna sangat yakin jika semuanya itu memang untuknya.


"Iya…iya nanti gue suruh anak-anak buat nyelidiki sekalian jadi bodyguard elu. " Ia langsung mematikan teleponnya.


"Kenapa Lee? " tanya Pak Zaenal yang memang berada di ruangannya.


"Besok saja sekalian gue bicarakan dengan anggotamu malas mengulang berkali-kali. "


Keesokannya sekiranya pukul sepuluh pagi mereka sudah berkumpul di ruang rapat tempat team J selalu merapatkan kasus, disana hanya belum terlihat Jaksa Lee.


"Mana nih yang katanya berkumpul dari jam sembilan kaga nonggol, " ucap Tono sangat ketus.


"Mungkin Jaksa Lee lagi dalam perjalanan, " balas Maria.


"Pagi semua, " sapa Jaksa Lee.


"Ini mah sudah menjelang siang, " bisiknya ke rekan disampingnya.


"Ton bicarain saya kamu? " tanya Jaksa Lee.


"Engk Pak. " jawab spontan Tono.


"Saya lagi cape karena harus mengurus banyak pekerjaan di kejaksaan terkait ilegal tambang emas jadi saya mohon kalian sebagai rekan kerja saya juga harus menerima apapun yang akan saya lontarkan, " tukas Jaksa Lee.


"Baik Pak. " jawab mereka serempak.


Seorang asisten maju untuk menyerahkan sebuah lembar kasus.


"Loh kok ini ada nama saya dan Haikal untuk mengawal dokter Arjuna? " tanya Robert.


"Iya karena kalian lumayan jago bela diri jadi saya limpahkan ke kalian bagian itu, tapi tenang saja ada gaji yang cukup besar diberikan oleh beliau, " jawab Jaksa Lee menjelaskan kepada mereka.


"Pak kalau saya bagiannya apa, soalnya bisa bela diri juga kok, " ucap Maria.


"Kamu terserah saja mau ikut Robert atau Juan itu saja, " ucap Jaksa Lee kembali menjelaskan dengan memijit kepalanya.


"Jika sudah jelas saya harus pergi lagi ke kantor, mohon kerjasamanya yaa, " sambungnya lagi.


"Baik Pak. "


"Jadi mau ikut siapa Mar? kami mau langsung menuju ke rumah dokter Arjuna, " ucap Robert.


"Kayanya ikut Juan aja deh, " jawab Maria.


"Yaa sudah hati-hati kabarin saja kalau ada hal mencurigakan disanalah, " ucap Robert dengan ekspresi sedikit sedih karena Maria milih Juan.


Apalagi saat Juan pulang dari desa Sasa kekasihnya dengan pakaian kotor dan tangisan seseguk membuat Maria selalu menemaninya.

__ADS_1


Haikal dan Robert segera menuju rumah dokter Arjuna, diperjalanan Haikal melirik kearah Robert yang sedang fokus menyetir mobil.


"Bert dari kantor, wajah elu masam banget apalagi pas Maria milih kerja bareng Juan daripada elu, " selidiknya.


"Hahaha wajahku memang begini kali dari orok masa nyetir sambil ketawa nanti disangka gila dong, " jawab Robert.


"Bukan bro tapi wajah elu it-tu. " Belum selesai bicara Robert sudah membungkam mulut Haikal dengan sapu tangan yang di ambil di laci mobil.


"Sialan elu! inikan sapu tangan kotor bisanya sumpel mulut gue, " ucap Haikal begitu kesal.


"Dari tadi ngomong terus engk ada rem-nya napa sakit kupingku tau…"


"Sakit kuping apa sakit hati elu, " ledek nya membuat Robert menatap tajam kearahnya.


"Ampun Bert engk lagi bicara kok. " Dengan mengerakan mulutnya seperti mengunci.


******


"Juan kapan kita ke rumah sakit? "


"Entahlah tanya saja Tono, " lirihnya sambil menatap jendela di ruang baca.


iss nyesal gue ngomong sama orang yang lagi patah hati.


"Biarkan saja dia Mar kita berdua aja yang kesana nanti sore lah, soalnya gue juga sudah suruh orang duluan kesana untuk mata-matain. "


"Okelah Ton, kabarin aja gue ada di meja repsesonis. "


Dengan melangkah beberapa tangga sebuah pesan masuk di handphone Maria membuatnya melongo.


Tono yang keluar menuju meja repsesonis untuk memanggil Maria naik mempersiapkan rencana.


Ping…


Pesan dari Maria yang meminta Tono untuk duluan saja ke rumah sakit karena dia harus menemui seseorang dulu.


"Kebiasaan banget sih orang-orang di kantor ini ijinnya pas sudah pergi, " ucap Tono berdecap kesal.


Dirumah sakit Tono dan Juan sudah berada di lobby rumah sakit untuk menerima informasi dari Clara suruhan Tono yang memang orang kejaksaan yang bertugas di kota lain, tapi sering mengunjungi Kota Nusantara.


"Aman Ton tadi aku juga keliling nanya-nanya juga tapi belum ada tanda-tanda orang yang kamu kasihkan fotonya, " ucap Clara.


"Okelah Cla, makasih yaa nanti kapan-kapan kita jalan deh gue yang teraktir, " goda Tono.


"iss kamu mah gitu dari kemarin janji-janji terus, " ucapnya sambil menampol pelan lengan Tono.


"Besok malam deh mau kan. " Clara langsung mengangguk dan pergi dari sana saat melihat Juan menatap kesal kepada tindakan Tono dan Clara.


"Sumpah Ton, sejak kapan kalian dekat? " tanya Juan dengan tatapan tajam.


"Yaa semenjak kita nanganin Geuning long, tapi disitu masih sebatas lirik-lirikan doang soalnya gue kira Jojo pacarnya ternyata kerabatnya.


" Benar-benar teman-teman gue sudah pada punya tambatan hati sedangkan gue malah patah hati. "


"Duh mulai lagi… ayo Juan move on atau gue bantuin carikan? "


"Engk segampang itu Ton, " bentaknya lalu pergi.


"Hadehh omongannya kaya lagu saja, " ucapnya sambil mengikuti Juan dengan bernyanyi.

__ADS_1


Tak segampang itu… ku mencari pengantimu tak segampang itu…


"Cepatan Ton…"


Di tempat lain Haikal dan Robert sudah berada di kediaman dokter Arjuna. Menurutnya jika akan ada seseorang menjadi bodyguard nya sehingga Arjuna begitu lama menunggu kedatangan yang dimaksud Jaksa Lee di teleponnya tadi beberapa menit lalu menghubunginya.


"Mana sih orang yang diminta jadi bodyguard kok lama banget…mana ada jadwal operasi juga lagi sejam, " ucapnya begitu cemas.


Ding…dong


Bel rumahnya berbunyi membuat Arjuna melihat kebagian sistem keamanan di sebelah pintu seperti kamera setelah tau jika orang yang ditunggu datang, Arjuna segera membukakan pintunya.


"Robert ternyata kamu yang diutus Lee, syukurlah…" ucap Arjuna penuh syukur.


"Iya Pak saya dan teman akan selalu mengawal dokter kemana pun sampai pelakunya di tangkap. "


"Terima kasih, mari kita segera ke rumah sakit soalnya saya ada jadwal operasi, " pinta Arjuna.


"Ayo Pak nanti saya saja yang menyetir, " ucap Haikal.


Mereka segera ke rumah sakit menggunakan mobil Arjuna sedangkan mobil Robert dan Haikal di taruh di garasi Arjuna.


"Ayo mas segera jalan, " ujar Arjuna.


"Siap laksanakan. "


Beberapa menit kemudian ada yang mengawasi mereka di balik pohon.


Ternyata orang yang sama pada waktu tempo hari menyelinap masuk ke ruang dokter Arjuna mengambil sebuah berkas miliknya. Wawan menyuruh adik Laila yaitu Willy untuk mencuri sebuah berkas salinan bukti pembunuhan di rumah sakit itu yang adalah suruhan bos Wawan.


Di dalamnya juga ternyata ada sebuah salinan bukti beberapa hasil operasi Arjuna kepada pasiennya dari tahun 1999 tapi belum sangat lengkap sehingga Willy harus terus mencarinya kalau perlu jalan satu-satunya dengan membunuh.


******


Permintaan Wawan lagi-lagi harus Willy ikuti beberapa kali ia diajari teknik pembunuh, sekarang ia harus memprakterkannya.


Tak ada kemampuan jiwa pembunuh di dalamnya dirinya sehingga Willy masih sangat takut melakukannya tapi karena terus diancam dan diperlihatkan uang dari Wawan membuatnya sangat mengilai kertas-kertas itu di dalam koper genggaman Wawan.


"Sekarang cobalah bunuh dia dengan tanganmu, lalu akan kuberikan uang sepuluh juta di dalam koper ini, " pintanya.


Dengan tangan gemeteran Willy meraih pisau di bawah lantai yang ia jatuhkan lalu mendekati wanita yang kaki dan tangannya diikat.


"Wil jangan macam-macam atau aku akan…"


"Apa… yang mau elu bicarakan, hah! sudah cukup saat kita berpacaran elu selalu menghinaku dan ayahmu itu, sekarang gue punya kuasa disini jadi kalau elu terus bicara benda tajam ini akan menancap di lehermu, " pungkasnya terselubung emosi.


"Will elu engk akan bisa membuat gu- "


Darah terkucur mengenai wajah Willy saat ia berhasil menancapkan sebilah pisau ke leher mantan kekasihnya itu, membuatnya langsung meninggal seketika.


Wawan yang menyaksikannya begitu senang karena apa yang ia ajarin berhasil dilakukan oleh Willy karena dengan memanfaatkan emosi masa lalu bisa membuat seorang Willy yang takut darah begitu menikmati aksinya.


"Bagaimana Wil? "


"Apa yang anda jelaskan memang benar, salah satu orang yang kubenci telah pergi dan saat membunuhnya ada kepuasan tersendiri, " ucapnya begitu antusias.


"Oke… apa ada lagi orang yang ingin kamu bunuh biar hatimu puas? " tanya Wawan.


Willy tersenyum ia tau siapa korban selanjutnya…

__ADS_1


__ADS_2