
"Mau apa kamu kesini lagi, hah! sudah cukup uang yang kuberikan waktu itu saat anakku dan kamu telah putus, " ucap ayah dari mantan kekasih Willy jaman sekolah.
"Tenang om, gue hanya ingin mengunjungi pemakamanmu yang paling pertama dari orang lain. "
"Apa maksudmu. "
Willy bergerak cepat menghampiri korbannya, kali ini ia begitu cepat menghindari sebanyak barang yang dilempar kearahnya.
"Etss…tidak kena," ledek nya.
"Harusnya aku tidak memberikan uangku, tapi langsung membunuhmu saja. "
Ucapannya membuat Willy berhenti sejenak lalu berlari menghampirinya dan memukulnya hingga terjatuh, Willy berniat akan menyakitinya dengan tinjunya dulu lalu menguliti hingga ia merasa sakit sampai meninggal.
"Om tau engk Elma dimana? " tanya sambil berjongkok melihat kearah korbannya.
"Apa maksudmu, dia sudah ku suruh ke luar kota agar tak bisa membuatmu menemuinya, " ucapnya.
Willy tertawa. "Om anakmu yang begitu cantik itu sudah meninggal…bahkan kunikmati dulu tubuhnya baru…cus Mati di tanganku ini, " ucapnya sambil memperlihatkan tangannya kepada korbannya.
"Tidak mungkin… Elma engk meninggal, tidakkkk. "
Willy membuat Pria itu pingsan lalu menarik kakinya dan mengikatnya di kursi kayu jati. Saat dia terbangun barulah Willy mulai menguliti nya sampai mati.
"Aaaaaaa…tolong Wil saya sangat bersalah padamu, jangan siksa om seperti ini… atau engk bunuh saja tapi tidak dengan disiksa seperti ini…kumohon." Rintihan kesakitan yang keluar dari mulut Pria bertubuh gemuk itu sangat menderita sekali.
Hingga Willy berhenti melakukannya saat korbannya tak lagi terdengar suaranya.
Willy segera membersihkan lantai yang dipenuhi darah. Beberapa kulit tubuh yang terkelupas memperlihatkan dagingnya ikut diangkut Willy menggunakan kantong plastik mayat.
Tubuh pria malang itu akan dikuburkan entah dimana karena bagian urusan itu ditangani Wawan. Sedangkan Willy fokus dalam membersihkan darah yang masih menempel di pakaiannya maupun lantai rumah pria itu.
Diketahui rumah itu langsung dibeli Wawan untuk hadiah Willy dan adik-adiknya. Sementara seluruh urusan mayat sang pemilik rumah dilimpahkan oleh suruhan Wawan di kepolisian.
"Wahh… kak ini beneran kita tinggal disini? " tanya Sara.
"Iya dek ini hadiah dari atasan kaka. "
"Apa jangan-jangan, atasan kak Willy itu yang waktu pagi-pagi kerumah, kok baik banget yaa" Batin Sara.
"Kenapa bengong itu ajak Sekar ke kamarnya kasihan mau bobo, " ucap Willy begitu berdecak kesal. Entah apa yang membuat kakanya cepat berganti suasana hati yang kadang-kadang marah, senang bahkan sedih.
"Iya ini loh mau keatas, " jawab Sara.
******
Robert dan Haikal tetap mengawal Arjuna sementara rekan yang lainnya juga sibuk mencari tahu tentang siapa sosok yang selalu membuat dokter Arjuna begitu ketakutan dan berhasil mencuri kepunyaannya yang sebenarnya tak berarti.
"Saya yakin sekali kalau orang itu adalah suruhan seseorang atas kasus di tahun 1999," tuturan nya membuat Robert dan Haikal menginap di kediaman dokter Arjuna melirik satu sama lain.
"Emang buku itu begitu penting yaa? " tanya Haikal.
"Iya sangat penting, soalnya sudah pernah sekali mau di curi berkas ini pas saya harus pergi keluar negeri untuk belajar. Tapi karena lupa mengambil kunci mobil, ada penyusup memasuki ruang kerja di rumahku sehingga kemana-mana buku itu harus kubawa. "
"Pasti sangat melelahkan menyimpan berkas penting itu, " sahut Robert.
Mereka begitu mabuk saat meminum arak milik dokter Arjuna yang puluhan tahun di fermentasi di dalam gudangnya sehingga ia mengajak Robert dan Haikal mencicipinya.
Robert yang sebenarnya kuat dalam meminum jenis alkohol kalah saat meminum arak milik Arjuna. Mereka terkapar tapi beberapa menit dokter Arjuna tidak lupa memeluk tas yang berisikan salinan miliknya ia takut di curi lagi.
******
"Selamat pagi para pengawal ku, " sapa Dokter Arjuna di hadapan Robert yang tampak segar.
"Kenapa kepalaku sakit sekali, " sahut Haikal yang juga ikut bangun.
"Saya sudah membuatkan sup penyegar agar tingkat alkoholnya cepat hilang, ayo segera bangun lalu sarapan dan kita pergi. " Arjuna membantu Haikal dan Robert bangun dari sofa miliknya.
"Emang di hari weekend seperti ini tetap kerja? " tanya Haikal.
"Ya tentu tapi nanti siang baru ke rumah sakit karena hari ini saya mau jalan-jalan dulu, " ucapnya segera menuju ruang makan sambil memanggil-manggil keduanya yang masih pelanga-pelongo.
Tiba di meja makan, Robert dan Haikal sudah segar lagi sehabis cuci muka. Mereka begitu lahap mengambil lauk di meja karena bukan hanya sup saja tapi beberapa ada ayam kecap, telur dadar maupun tumisan kacang panjang.
"Kalian sehabis ini temanin saya belanja di supermarket lalu kita pergi…"
"Banyak banget schedulenya sampai pusing kudengar, " bisik Haikal.
"Demi kerja Kal, disabarkan saja. "
Selesai sarapan mereka segera berangkat menuju ketempat yang diinginkan Arjuna, salah satunya market untuk belanja bulanan. Haikal dan Robert siap siaga jika ada sesuatu hal yang mengancam Arjuna, sehingga membuat yang dikawal merasa risih karena tatapan mereka.
__ADS_1
"Kalian jagain nya biasanya saja dong orang lain lihatnya kaya saya pejabat gitu di kawal, " ucapnya.
"Ini Bert kamu beli minuman berenergi disana itu ada tempatnya sekalian belikan saya dan Haikal, " sambungnya.
"Oke"
Sedangkan Haikal dan Arjuna melanjutkan menyelusuri lorong lalu bergegas menghampiri Robert yang tengah bersantai di tempat seperti cafe.
"Kok engk ngabarin Bert, gue sama tuh dokter sampai haus, " tukas Haikal yang langsung duduk disamping Robert.
"Sorry, tadi Maria nelepon katanya mereka menemukan sesuatu di rumah sakit, "
"Apa yang lagi kalian bicarakan? " tanya Arjuna.
"Engk dok, ini saya lihat sesuatu menarik di ponsel jadi lihatkan ke Haikal, " jawabnya.
"Lebih baik kita jangan kasih tau Pak Arjuna dulu nanti setelah sampai di rumahnya baru kita susulin ke rumah sakit, " sambungnya.
Robert menatap arlojinya ia segera menyerga Haikal jalan mengikuti Arjuna.
"Pak kami sepertinya harus balik ke kantor sebentar, soalnya ada sesuatu hal yang harus di diskusikan, " ucap Robert bohong.
"Ohh iya kalau begitu cepatlah tapi jangan lama-lama soalnya saya mau kalian bantuin saya cicipin masakan, " ujarnya sambil terkekeh.
"Siap dok, tapi ini gapapa kami tinggalin sebentar? "
"Iya tenang saja rumah ini sistemnya sangat canggih, dia bakalan memberi peringatan kalau ada hal berbahaya mengancamku, " ucapnya begitu yakin.
"Kalau ada apa-apa Pak dokter langsung hubungi saya atau engk Haikal. "
"Iya sana sudah. "
Mereka segera berlari menuju mobil yang terparkir di garasi rumah cukup lama.
Sesampainya di rumah sakit mereka menuju ke ruang dokter Maya atas perintah pesan Maria.
"Kok rame banget ini, " ucap Robert.
"Bert sorry tadi engk angkat teleponmu, soalnya dokter maya merasa shock karena bertemu orang yang selama ini kita cari. "
"Maksudnya bagaimana Mar? " tanya Robert lagi.
"Iya tadi gue shock banget karena staf kebersihan datang dan menyuruh kami menuju tangga darurat dan melihat dokter Maya sampai begitu terdiam duduk di tangga, " ucap Maria sambil mengusap punggung Maya.
"Perasaan typingnya Maria engk kaya gini deh, " sahut Juan yang ikut melihat.
"Si Juan malah memperkeruh suasana lagi sok-sok an paling tau" batin Robert.
Rob segera kesini kami menemukan titik terang mengenai pencurinya. tertanda pesan dari Maria.
"Bert ini benar kata Juan typing gue engk kaya gini, gue selalu manggil nama elu Bert bukan awalan nama elu kok bisa dia chat begini. " Ia langsung mengecek ponselnya dan terbukti jika isi pesannya tak ada jika Maria mengirim pesan itu.
"Kayanya handphonemu di sadap Mar, " ucap Haikal.
"Engk paham gue soal ginian tapi kalau diingat-ingat tadi gue engk sengaja naruh di meja sini pas mau ke toilet lalu malah berpindah di kursi, apa jangan-jangan ada yang masuk terus ngirim Robert begitu yaa. "
"Mungkin saja tuh, " sahut yang lainnya.
"Ya sudah gue sama Robert mau balik lagi ke rumah dokter Arjuna kasihan kelamaan nunggu, " ucap Haikal.
"Bert…jangan pergi! " teriak Maya membuat orang di dalam begitu terkejut.
"Kenapa dokter Maya tuh. "
"Kal kamu duluan saja nanti aku nyusul, " ucap Robert.
Maya dan Robert duduk di sofa sementara yang lainnya keluar agar Robert bisa menenangkan Maya yang dari tadi masih sangat gelisah.
Maya teringat akan ucapan orang yang dia temuin di tangga, saat dia akan mencari signal karena sedang menelpon kerabatnya.
"Bentar tante ini aku cari signal nih sampai ke tangga darurat. "
Tiba-tiba dari belakang datang seseorang menyergap nya tangan di taruh di belakangnya seperti hendak di ringkus polisi. Lalu mengatakan sesuatu mengerikan. "Saat laki-laki bernama Robert datang buatlah dia merasa tak bisa pergi kemana-mana atau kalau tidak elu dan seluruh keluarga mu akan mati termaksud Robert juga. " ucapnya lalu pergi menghilang di ambang pintu tanpa Maya nengok.
"Dokter Maya sadarlah, " ucapan Robert membuat Maya kembali dari lamunannya.
"Bert kamu jangan sekali-kali ninggalin saya takut, " ucapnya begitu takut.
"Iya dok saya bakalan disini. "
Sejam kemudian Clara masuk dengan wajah sedih mengabarkan sesuatu menimpa Haikal dan Arjuna. Segera pergilah dia tanpa memperdulikan Maya yang meronta-ronta agar Robert tak pergi.
__ADS_1
"Sialan bisa-bisanya aku tak curiga dengan hal semacam itu ternyata orang itu sangat licik menyakiti orang lain demi keinginannya, " ucapnya berdecap kesal di hatinya.
Ia tak berpikir panjang langsung menghentikan taksi yang sedang berhenti menunggu pengemudi yang menghubungi jasanya.
"Maaf Pak bisa jalan engk soalnya keluarga saya sedang kritis, " ucapnya begitu gelisah.
"Duh mas saya lagi nunggu penumpang saya. "
"Nanti di bayar 2 kali lipat deh. "
Mobil itu segera jalan lalu berhenti di depan gerbang Arjuna yang terbuka lebar.
"Ini mas uangnya, "
"Mas uangnya kelebihan, " sahutnya lalu ikut masuk mengejar Robert.
Di dalam rumah tampak sangat berantakan, terlihat Haikal tergeletak di lantai dengan bersimpa darah membuat Robert begitu takut.
"Mas " ucap Pak supir taksi yang ternyata mengikuti Robert masuk.
"Loh Pak? uangnya kurang yaa, " tanya Robert.
"Engk mas ini malah lebih, tapi itu temannya kenapa? "
"Bisa bantuin saya tekan bagian perutnya engk nanti saya yang nyetirin. "
"Iya mas. "
Mereka segera membawa Haikal ke rumah sakit tidak sampai 20 menit. Mereka meminta suster menangani Haikal, dengan kepanikan Robert mengirim pesan ke seluruh rekannya di grup chat agar ke ruang UGD.
"Bert bagaimana keadaan Haikal? " tanya Pak Zaenal yang terlihat menghampiri Robert. Sebenarnya dia ingin menuju ke suatu tempat tapi malah memilih pindah aluhan ke rumah sakit karena membaca pesan Robert.
Semua orang sudah berada disana menunggu Haikal, tapi Robert harus juga mencari keberadaan Arjuna.
Ia mengendarai tanpa arah tiba-tiba pesan muncul di layar handphonenya.
"Cepatlah kesini lelaki ini akan mati di tanganku." Lalu ia juga mengirim lokasinya keberadaannya.
Di lokasinya tepat di gedung bekas hotel bintang 5 yang tak terpakai lagi, Arjuna hendak akan di jatuhkan dari atas atap.
"Tolong mas saya tidak ingin mati, akan saya berikan apa yang anda mau, " lirih nya meminta kasihani.
"Dimana salinan itu. "
Sejenak Arjuna berpikir jika ia berikan apakah hidupnya akan aman atau malah sebaliknya.
"Aku tak akan memberikannya padamu. "
"Hahaha apa susahnya berikan salinan itu, ngapain harus terus di pertahankan, " ucapnya.
"Kau tidak akan bisa memilikinya atau orang itu yang memerintahkanmu, " jawabnya menohok.
"Gue sudah sangat frustasi rasanya ingin kubunuh saja kau. "
"Lebih baik saya mati daripada harus menyerahkan salinan itu. " Ia menatap tajam ke arah orang dihadapannya yang hanya terlihat matanya karena memakai perlindung mulut.
"Argggh, tunggu sebentar gue ngangkat telepon dulu, " ucapnya lalu membelakangi Arjuna.
Arjuna yang tubuhnya terikat di dekat tebing gedung, pelan-pelan mundur mengecek seberapa ngeriknya tempat itu.
"Ya Tuhan jika ini akhirku, tolong semoga dosa-dosaku terhadap orang-orang bisa terbayarkan dengan pengorbananku ini" batinnya sambil menatap langit malam. Lalu ia melompat menyerahkan seluruh raganya kemaha kuasa.
"Woyy, sialan dia malah bunuh diri, " pekiknya lalu menutup telepon dari adiknya Sara.
"Hah, apa maksud kaka siapa yang bunuh diri, " ucap Sara dari sebrang mendengar tuturan kakanya lalu terputus.
Willy tampak frustasi dengan kejadian yang diluar prediksinya.
Robert yang telah sampai dan segera memarkirkan mobilnya. Baru menginjak lantai gedung tiba-tiba suara seperti dentuman keras mengenai kap atas mobilnya.
Tubuh seseorang telah terkapar disana dengan darah segar mengalir dan bunyi suara yang dihasilkan mobil, tak disangka dengan ketinggian dari atas membuat mobilnya rusak parah seperti di hantam alat berat.
Robert begitu shock menutup mulut saat tau siapa tubuh orang itu.
"Dokter Arjunaaa"
.
.
.
__ADS_1
...Bersambung...