
Dubrukk.....
"Kenapa dia pingsan disini? " tanya Robert.
Di waktu Maria memutuskan tidak menerima tawaran Juan untuk naik ke mobilnya, Robert diam-diam menghawatirkan Maria saat melihat kearah tujuan Maria pergi ke taman yang sangat sepi dia tau kejadian sebulan yang lalu di tempat itu dia langsung memberhentikan mobil Juan tanpa aba-aba membuat mereka kaget.
"Yaaa! kalau ada kendaraan dibelakang bagaimana?? " sentak Juan. Di ikuti Tono dan Haikal yang marah ke Robert.
"Sorry,, saya kebelet, kalian duluan aja nanti aku naik angkutan umum saja. "
"Emang masih ada bus jam segini heran dehh, " sahut Juan sambil menyalakan kembali mobilnya.
Melihat seorang pria dengan pakaian serba hitam lengkap dengan topi dan maskernya tak jauh dari posisi Maria berada sambil duduk. Robert memperhatikan gerak-gerik pria tersebut saat Maria mulai berjalan Robert siap menghentikan pria itu jika menyakiti Maria. Di mana Maria sudah mulai curiga dan mempercepat langkahnya Robert menarik pria itu sampai terjatuh dan lari karena kaget melihat Robert. Ingin mengejar sosok pria itu tapi tidak jadi karena mendengar suara Maria tersandung saat sampai ditempat malah Maria pingsan.
"Mungkin dia masih shock akan aku gendong saja dia, " ucapnya monolog.
Untung mereka mendapat taxi sesampainya di rumah yang sangat asing, Maria diletakkan di sebuah sofa alas kaki yang masih melekat di kaki Maria dilepas Robert dan membawakan selimut untuknya. Keesokanya Maria terbangun saat mendengar suara riuh di arah dapur ia masih menerka-nerka dinding asing di penglihatannya dan melangkah dengan setengah sadar kesegala penjuru arah, ia kaget melihat sebuah foto 2 pria yang membuatnya berteriak sambil meraba tubuhnya.
Robert yang mendengar suara itu langsung menuju kearah sumber itu. "Ada apa? "
"Kamu? Robert gue dimana ini terus kepalaku masih sangat pusing tempat ini bukan rumahku, " lirih nya.
"Tenang dulu ini bukan hal negatif seperti yang kamu bayangkan kok, " pintanya.
"Hah."
Setelah berpikir tenang Robert menjelaskan semalam ia ingin mengantar Maria pulang tapi ia tidak tau alamatnya jadi ia memutuskan untuk membawanya ke rumah kerabat jauhnya. Jika ia membawanya ke apartemennya bakal jadi canggung karena ada teman-temannya.
"Maafkan saya om, saya tidak tau, " ucap Maria melihat om dari Robert.
"Iya tidak apa-apa ohhiya pasti kalian sudah lapar kita sarapan dulu ayoo, " tukasnya.
Suara burung berkicau, angin yang adem dengan hamparan ladang gandum di depan rumah sangat membuat siapapun akan betah tinggal disini beda di perkotaan.
"Wahh tempat ini sangat menakjubkan, " seru Maria.
"Apa kamu menyukainya, " tanya paman Robert.
__ADS_1
"Iya paman sangat adem sekali. "
"Nanti sekali-kali kalau kamu kesini ajak dia yaa, " ucapnya kepada Robert.
Robert membisu tak menjawab hanya asik menatap kedepan sedangkan Maria melihatnya sudah terbiasa akan sikap Robert.
"Paman boleh aku mengendarainya? " tanya Maria sambil menunjuk sepeda ontel berkeranjang di hadapannya.
"Itu sudah rusak, Robert ambil motor ajak jalan-jalan nona ini, " ucap pamannya.
"Ayoo ikut aku, " ajak Robert menuju garasi samping rumah.
"Di sini sangat adem yaa, " ucap Maria sambil dibonceng Robert dengan motor Yamaha RX King keliling desa.
Tapi tetap saja Robert tak menjawab perkataan Maria ia hanya fokus mengendarai motornya.
"Dia kenapa sih diam terus heran deh kaya ngomong sama batu, " bisik Maria.
"Ehh itu apaan? drainase yaa? " tanya Maria tak digubris Robert hingga ia reflek menepuk punggung Robert sampai mengeringis kesakitan.
"Ini aku lagi fokus nanti jatuh bagaimana? " ucap Robert.
"Berhenti disini aku mau lihat itu, " pinta Maria.
Motor yang dikendarai mereka pun berhenti di dekat drainase membuat Maria ingin duduk di tepi dari drainase untuk melihat aliran air yang sangat deras menuju ke persawahan.
"Ini aliran dari sungai sedang pasang airnya makanya tinggi banget, " ujar Robert.
"Tumben ngomong padahal dari tadi diajak ngobrol engk jawab, " cibir Maria membuat Robert serba salah dibuatnya.
Tidak lupa Maria menanyakan perihal Robert menolongnya saat mereka sedang duduk di sebuah pondok di dekat sawah. "Ohhiya kamu yaa yang bikin aku takut semalam ditaman? " tanyanya.
"Bukan, aku hanya penasaran kenapa kamu ke tempat sepi padahal daerah itu rawan pemerkosaan dan terbukti kamu diikuti pria cabul. "
"Apaa! jadi semalam itu beneran orang jahat, ya ampunn untuk saja lo datang engk kebayang gue mati konyol. "
"Kamu sih sudah tau tempat sepi masih aja kesana, " cibir balik Robert.
__ADS_1
"Yaa kan gue kaga tau kalau pernah kejadian disana, " sahut Maria.
"Sudah hampir gelap kita balik ke rumah pamanku saja. "
"Ehh apa gapapa soalnya kita tidak masuk kerja. "
"Tenang saya sudah jelaskan sedetail nya sama Pak Zaenal, " jawab Robert sambil memberikan tangannya ke Maria.
Maria mendongkrak keatas menerima bantuan Robert.
"Syukurlah, padahal gue mau boong tapi sudah terlanjur lu jujur sih. "
"Mau sepintar apapun kamu boong bakalan gampang ketahuan juga nantinya," ucapnya.
"Iya sih" seru Maria.
*****
Kembalinya mereka ke kota, Robert mengantar Maria ke apartemen kemudian ia pulang, di seperjalanan menuju lift Maria memanggilnya lagi.
"Makasihh bantuannya, " teriak Maria yang tersadar jika posisinya melambaikan tangannya.
"Yaa sudah saya pulang dulu, " jawabnya tanpa ekspresi apapun.
Maria sambil mengerucutkan bibirnya kedepan sampai Robert hilang dari pandangannya.
Robert duduk di halte menunggu bus kemudian membayangkan kejadian yang dia alami bersama Maria membuatnya senyum-senyum sendiri.
"Ehh aku kenapa, kayanya sudah gila, " ucapnya sambil menepuk jidatnya.
.
.
.
...Bersambung...
__ADS_1