BRAVE $ MAN

BRAVE $ MAN
Bab. 66. Pelakunya ternyata..


__ADS_3

Beberapa dokter mendapat surat ancaman dari si pelaku. Bahkan kepala rumah sakit meminta bantuan secara pribadi ke Jaksa Lee untuk mengusut tuntas hal tersebut.


"Tolonglah Lee, bantu aku kitakan dulu sahabatan. "


"Sekarang mah engk, lu ingat dulu waktu gue dibully sama anak yang lainnya mana ada lu bantuin, " ucap Jaksa Lee.


"Janganlah ingat negatifnya ingat hal positifnya kaya aku bantuin kamu lamar si Santi sampai sekarang masih langgengkan? " ucap Arjuna.


"Lu benar-benar bahkan pasangan sahabatnya pun kaga tauu. Gue sudah lama bercerai dengan santi."


"Tenang nanti aku kenalin dengan seorang wanita cantik di tempatku bekerja namanya Maya dia masih melajang hingga sekarang umurnya pun sebelas dua belas dengan kamu," bisik kepala rumah sakit itu.


Robert dan lainnya datang mengunjungi Jaksa Lee karena permintaannya.


"Jaksa Lee ada kasus lagikah? " tanya Haikal langsung nyelonong duduk sambil mengambil kue di meja panjang.


Keterkejutan Pak Arjuna si kepala rumah sakit kala melihat Robert disana.


"Lohh Robert anak buahmu juga Lee? " ucap Arjuna.


"Kalian saling kenal? " tanya Lee.


Setelah Robert menceritakan jika ia sering mengunjungi rumah sakit citra alam untuk membantu dokter forensik bernama Maya kemudian Jaksa Lee begitu penasaran seperti apa sosok Maya ia langsung meminta Robert tinggal sementara untuk berbicara empat mata dengannya.


"Bert bisakah membantuku dulu? "


"Baiklah Pak. "


Jaksa Lee langsung merangkul Robert pergi ke sudut ruang untuk berbicara. Tubuhnya yang tak tinggi sampai terjengkal merangkul pria setinggi Robert sebenarnya Jaksa Lee juga tingginya termaksud ideal hanya saja tinggi badan lawannya yang kelebihan.


"Lu kenal dokter forensik itu darimana? " tanyanya.


"Emang kenapa Pak Lee," jawabnya.


Tak terima balasan Robert seperti itu Jaksa Lee meninju perut Robert.


"Auwwhh" (Robert meringis)


"Gue bertanya serius cepat sebelum orang lain datang," sunggut Lee.


"Aku bertemu dengannya pertama kali di pemakaman orangtuaku lalu setelah itu aku tak mendengar kabarnya pas engk sengaja bertemu di rumah sakit ia meminta bantuan ku karena aku seorang penyidik utusanmu," ucap Robert masih menahan sakit.


"Ohh begitu okelahh, jadi bagaimana apa dia menawan? " ucapnya membuat Robert berlaga pura-pura tuli.


"Bisakah lepaskan rangkulanmu aku begitu pegal dengan gaya seperti ini."


"Lengan gue juga sakit rangkul lu. Jadi bagaimana rupanya? " tanya Lee lagi.


"Emang kenapa anda ingin menikah lagi? " tanya Robert.


"Sudah cukup lama menduda diriku jadi salahkah aku menikah." katanya dengan nada yang amat menyedihkan.


"Agak jijik ku dengarnya pak."


"Ahh sudahlah pergi sana aku tak butuh informasimu," pinta Lee.


"Besok aku akan mengunjunginya lagi kalau mau ikut silahkan saja," ucap Robert.


"Okey ku hubungi lagi nanti," seruan Jaksa Lee saat Robert telah hilang dari ambang pintu.


******


Di kontrakan Lukas.


"Bang kaga ke kantor kah?"


"Libur hoaammm, mungkin aku akan ke rumah sakit sih. "


"Aku sudah masak sarapan gihh, hari ini bakalan bersih-bersih rumah juga, " balas Lukas.


Robert bangun setelah meregangkan semua badannya lalu pergi mandi.


"Emang kamu engk kerja Kas? " tanyanya.


"engk, lagi cuti."


Setelah pamit, Robert pergi menuju rumah sakit menemui Maya mereka akan melakukan investigasi mendalam dengan bantuan teamnya juga.


Memasuki halaman rumah sakit terlihat mobil Juan dan Jaksa Lee bersama penyidik nya.


" Robert. " lambaian tangan Juan memanggil nama kawannya itu.


"Lama kah nunggu? " tanya Robert.


"Kita baru sampai juga," sahut Haikal.


"Yok masuk, " ujar pak Zaenal.


sepasang mata memandang rombongan itu dari lantai atas gedung rumah sakit terlihat senyum tipis diwajahnya.


"Rupanya mereka sudah tidak sabar bertemu denganku. " Suara yang tampak samar-samar darinya lalu menutup kepalanya dengan hoodie berwarna navy.


"Misi dokk, " sapa Robert yang ternyata dari tadi ia mengetok pintunya tak ada respon dari dalam.

__ADS_1


"Kemana dia Bert? " tanya Jaksa Lee. Lalu di balas dengan gerakan bahu.


"Itu bukan Bert? " ucap Tono yang melihat seorang dokter dari arah belakang Robert.


"Dokter Maya," panggil Robert lalu dibalas lambaian tangan dari dokter Maya. Jaksa Lee yang sejak tadi bengong memperhatikan Maya datang.


Dari penglihatannya Maya tersenyum manis di sekitarnya terlihat banyak bunga-bunga cantik menambah kecantikan Maya saat berjalan.


"Sudah lama yaa? sorry tadi abis meeting," balasnya.


"Gapapa dok, kenalin mereka dari team ku, namanya Juan, Tono dan Haikal lalu ada... "


"Kenalin nama saya Lee ( tiba-tiba menyerobot tempat Robert berdiri) saya seorang Jaksa di kejaksaan yang bertanggung jawab atas team J, salam kenal dokter Maya," sapaan Jaksa Lee membuat Maya tampak canggung.


"Ohh iyaa salam kenal juga Jaksa Lee, Robert bercerita banyak tentang anda. ( langsung melepaskan jabatan tangan lee) ayo semuanya silahkan masuk," ucapnya tampak bergesa-gesa kedalam.


"Sepertinya dokter Maya takut sama tatapan maut Jaksa Lee," bisik Haikal ke Tono yang membuat mereka tertawa geli.


"Saya sangat senang jika banyak yang membantu bahkan setiap malam saya engk bisa tidur dengan tenang jika pelakunya belum tertangkap. "


"Tenang saja kami akan segera mencari tau siapa dalang di balik itu semua," serga Lee.


******


Seharian mereka berjaga di banyak tempat di dalam maupun luar rumah sakit tapi hasilnya tetap nihil. Kadang rekan lain melihat orang mencurigakan sesuai pinta Pak Zaenal kalau si pelaku memakai jaket dan masker tapi ternyata bukan.


Hingga waktu tengah malam semuanya tetap terjaga bergantian istirahat lalu gantian lagi sampai keesokan paginya tak mendapat hasil sehingga semua petugas balik karena memiliki tugas lainnya. Hanya Robert dan Juan masih bersikukuh tinggal disana.


"Juan mau sarapan engk? tadi dokter Maya suruh aku kesana ambil kalau mau sekalian ku ambilin punyamu."


"Boleh deh semalam gue kaga makan juga sih," jawabnya.


Robert meninggalkan Juan sendirian di ruangan Maya menuju kantin selang beberapa menit di pintu yang tidak terlalu rapat muncul seperti bayangan hitam beberapa kali lewat. Kali ini sepasang mata muncul saat Juan fokus dengan ponselnya. Dengan perasaan aneh seperti ada yang memerhatikannya lirikannya mampu menangkap sesuatu di luar sana.


Deg!


Kegesitan lari Juan benar-benar tak terduga dia sudah berada di ambang pintu untuk keluar mengecek keberadaan orang misterius itu tapi yang didapatinya hanya angin yang berhembus kala memang malam itu hawanya berbeda seperti akan turun hujan.


Jlgeeerr!


Suara petir disertai hujan turun di malam hari angin kencang juga tak dapat di hindari bahkan Tono dan Haikal akan sedikit terhambat menuju ke rumah sakit karena ruas jalan begitu macet akibat ada sebuah kecelakaan di simpang lampu merah.


"Sepertinya Tono dan Haikal telat datang karena macet," gumam Robert membaca pesan dari Haikal.


Robert bersama dokter Maya menuju lantai 2 menghampiri Juan yang sudah berada di sofa dengan kepalanya menyender ke bahu sofa.


"Juan ini kotakan untukmu segera makan,"


"thank's,, kenapa kalian begitu lama? "


"Ohh gitu yaa kukira elu kaga ingat gue."


"Tangkap! dia."


Suara dari arah luar ruangan terdengar membuat Robert, Juan dan Maya ikut keluar.


"Ada apa ini pak? " sanggahan Robert memberhentikan petugas yang entah mengejar siapa.


" Orang itu adalah pelakunya."


"Kamprett" ucap Juan yang mulai mengejarnya.


"Dokter Maya segera hubungi Pak Zaenal agar cepat kesini sementara Juan dan aku akan mengejarnya," tukas Robert menyodorkan handphonenya ke tangan Maya.


"Baiklah Robert hati-hati."


Lebih dulu Juan sudah mengejar si pelaku lalu di susulin Robert yang ikut tapi mengarah ke bagian berlawanan untuk mencegat si pelaku.


Sesampainya di taman lantai 2 rumah sakit tampak hujan telah berhenti petugas juga kehilangan jejak si pelaku. Di berbagai tempat telah di lakukan penggeledahan tapi tak menemukannya disana.


"Bagaimana? " tanya Juan datang sambil mengatur nafasnya.


"Fuhh gue sampai engk bisa bernafas karena lari tadi," sambungnya.


"Tidak ada."


"Sama disini juga tidak ada," jawab petugas polisi.


Mata Juan tampak mengarah ke arah kubin yang sangat tinggi disudut kiri ia menyuruh salah seorang petugas keatas untuk mengeceknya.


"Bagaimana ada sesuatu diatas sana? " teriak Juan. Di balas tanda silang dari petugas itu.


"Disini hanya ada jalan pintas menuju atap," ucap petugas itu.


"Pasti dia pergi kesana."


"Ayo kita ke atap sapa tau dia disana," ajak Juan.


30 menit yang lalu....


Memang saat pelaku menuju taman ia memanjat kubin itu untuk mengarah ke atap dan bersembunyi disana. Rumah sakit seperti tempat baginya ia tau setiap jalan pintas disana kadang juga ia berpindah-pindah tempat berlindung.


"gue harus sembunyi dari mereka gara-gara ngintip malah membuat gue ketahuan" gumamnya.

__ADS_1


Robert sebenarnya telah menunggu di sana lebih awal dari si pelaku itu dia merasa jika tempat ternyaman di semua tempat adalah rooftop disana ada sebuah gudang kecil yang sudah lama di gembok.


Saat Robert sering kali mengunjungi atap kala menghilangkan rasa bosen setiap kali berkunjung ke rumah sakit ia tampak melihat rantai di pintu yang selalu berubah disitulah ia mulai curiga dan benar saja firasatnya jika pelaku itu menuju ke gudang itu untuk bersembunyi. Setelah cukup lama Robert mengamati ia berjalan kearah di pelaku sampai dia menyadari kedatangannya.


"Mau kubantu engk? " tanya Robert. Lalu mendapat serangan tak terduga dari si pelaku yang telah merasakan ada yang mengamatinya sejak ia datang.


"Auwwh, kau cukup hebat juga rupanya."


Tak ada balasan kata dari lawannya membuatnya semakin menyerang Robert terus menerus.


Plakk!


"Sorry aku engk sengaja," ucapnya yang tak sengaja menampar si pelaku hingga terjatuh.


"Elu engk akan menang melawan gue. "


Akhirnya suara keluar dari mulut lawannya itu membuat Robert tersenyum hingga mengeluarkan semua kekuatannya mendorong lawannya hingga terjungkal. Saat ingin melihat wajah dibalik hoodie dan masker tiba-tiba si pelaku itu melemparkan serbuk pasir mengenai mata Robert.


"Arghhhhh"


"Rasakan itu."


Dengan sekali pukulan dari balok membuat Robert jatuh pingsan.


Dengan sedikit meringis di bahunya akibatnya pukul keras membuat Robert belum sadar sepenuhnya saat melihat kearah bawah begitu tinggi ia sangat ketakutan.


"Apa yang kau lakukan? " tanya Robert.


"Gue akan membuat elu mati dengan tenang jadi anggap saja ini sebagai balasan kebaikan dari gue."


"Ngomong apa sih, jangan harap saya mati di tangan iblis seperti kau," pinta Robert.


"Hahahahaha elu begitu lucu yaa."


Juan telah sampai disana untuk bertemu si pelaku tak disangka Robert berada di ambang kematian atas perbuatan pelaku itu.


"Dasar psikopat."


Juan mengeluarkan pukulan tepat mengenai punggung si pelaku saat berhadapan dengan Robert.


Bug!


"Bert elu gapapa kan? " tanya Juan.


"Bantuin lepaskan ikatan ini," ucap Robert.


Juan tampak melihat kebawah ketinggian yang membuatnya merinding tapi ia harus menyelamatkan rekannya agar bisa melawan sosok iblis yang masih pingsan di sana.


Setelah berhasil melepas tali yang mengikat, giliran Juan yang mendapatkan hantaman kursi dari si pelaku.


"****, punggungku sakit sekali, " ucap Juan.


"Laila? "


"Ehh gue ketahuan," jawabnya sambil tertawa geli.


"Sepertinya elu kaga bisa keluar dari sini sebelum langkahi mayat gue," ucapnya sambil mengarahkan pisau ke Robert untuk menusuknya tapi tidak berhasil karena Robert menendang perutnya Laila. Dengan sisa kekuatannya ia masih mampu menyikut Robert agar terjatuh ke bawah gedung.


" Sebenarnya gue engk berencana untuk membunuh elu, tapi karena elu tau wajah asli gue jadi dengan terpaksa elu harus mati! " ucap Laila.


"Sebelum saya mati, ada yang ingin ku tanyakan. Apa yang telah kau perbuat terhadap korban sebelumnya," tanya Robert.


Laila tampak berdecit. "Mereka layak mati karena ke penasaran mereka sama sepertimu."


"Jadi mereka bukan masuk dalam listmu."


"We'll sebenarnya orang yang selalu duduk santai dalam ruangan dingin tapi hanya memberi arahan dan kritikan yang sebenarnya harus ada diposisi elu sekarang," tukas Laila.


"Siapa? "


"Arjuna harus mati. "


"Kenapa kau ingin membunuhnya? " tanya Robert.


"Kau begitu penasaran disaat ambang kematianmu di depan mata, baiklah dia salah satu kunci saksi pembunuhan di desa yang menewaskan seorang mantan detektif yang terbakar hangus di jurang. Pasti kau tau kan berita yang cukup menghebohkan itu," ucapnya.


"Siapa dalangnya? "


"Elu begitu gigih ternyata baiklah akan kukasih tau lagi karena setelah gue membunuh elu gue juga akan bunuh diri. dia adalah Pak Ba____"


Dorr!!


Dorr!!


"Tunggu kalian menembakinnya sudah cukup! "


Dor!


Tembakan di punggung Robert juga terkena membuatnya jatuh bersama Laila ke lantai. Ternyata orang yang menembaki keduanya bukan dari pihak kepolisian melainkan orang lain yang tak mau si Laila mengungkap siapa sebenarnya dalang dibalik ini semua.


.


.

__ADS_1


.


...Bersambung dulu yaa.......


__ADS_2