BRAVE $ MAN

BRAVE $ MAN
Bab. 58. Tidak menyangka!


__ADS_3

Robert menceritakan semuanya kepada orangtua yang telah merawat adiknya selama ini ia tak menyangka sosok yang pernah ia temui adalah adiknya.


"Namanya Lukas kami berniat tidak mengadopsi anak setelah kepergian anak kandung kami, saat datang ke panti dan melihat sosok Lukas yang periang membuat hati kami tergerak dan membawanya, hingga tumbuh menjadi anak yang sangat tampan. Setelah lulus ayahnya memberi wewenang agar ia bisa kerja di kota sapa tau dia bertemu keluarganya yang asli sampai sekarang kami tidak mendengar kabarnya lagi," jawab istrinya.


"Apa saya boleh melihat wajahnya yang sekarang? " tanya Robert.


"Sebentar saya ambilkan album foto."


"Dia sangat periang bahkan setelah dewasa wajahnya tidak berubah," ucap ibunya memperlihatkan foto Lukas dari kecil hingga SMA.


"Dia sejak kecil memang wajahnya dominan barat karena mengikuti almarhum ibuku," ucap Robert yang tak sadar meneteskan air matanya.


Terlihat Sintia di sampingnya sangat mengagumi sosok Robert yang penyayang. "Dia aja sangat menyayangi adiknya apalagi istrinya nanti, " lontaran pikirannya membuatnya salah tingkah karena makin ngelantur.


"Sebelum pulang menginap lah disini nak, agar kami bisa mengobati rasa rindunya kami ke Lukas."


"Baiklah kalau begitu bahkan jika aku telah bertemu dengan adikku tak mungkin untuk menjauhkannya dari kalian," pinta Robert.


"Kalau begitu saya pulang dulu," ucap Sintia yang menyadari ketiga orang itu.


"Astaga bapa lupa ada nak Sintia."


"Tidak apa-apa pak, " Sintia terkekeh. "sudah biasa kok," ucapnya dalam benaknya.


"Bawakan ini untuk kakekmu yaa."


"wahh hatur nuhun bu."


Robert membiasakan diri saat merebahkan diri di kamar adiknya itu sambil membaca beberapa buku di meja dan melihat apa saja yang ada disana.


" Lukas sangat menyukai komik bahkan selalu mengantri lama jika pergi ke kota untuk membeli komik baru kesukaannya " ungkap ibu Lukas masuk melihat Robert sedang berada di meja anaknya.


"Lalu makanan kesukaannya? " tanya Robert.


"Dia tipe anak yang tidak pemilih soal makanan kecuali durian mungkin dia hanya mencicipi tapi tidak dengan aromanya bahkan pergi ke kebun membantu ayahnya memanen sudah gelisah, " pukasnya.


"Begitu yaa, ternyata banyak yang tidak kutau tentangnya, sejak kecil kami kurang akrab satu dengan yang lain."


"Semoga saat bertemu kalian menjadi akrab yaa."


"Iya bu, saya mau nanya lagi? kenapa desa ini dinamain desa mawar soalnya saat mendengar nama mawar selalu terngiang dikepala untuk menanyakannya."


"Owalah yang itu sama ibu dulu juga pas datang kesini penasaran dengan nama desa ini, ternyata mawar itu diambil dari nama seorang anak kecil yang meninggal karena mencegah prajurit belanda yang ingin menjajah daerah ini waktu dulu katanya sih belum ada perkampungan hanya 3 kepala keluarga yang mendiami di dalam hutan karena merasa terancam anak itu berhasil menganggu mobil prajurit tapi malah meninggal di tembak," pungkas si ibu.


"Terima kasih bu akhirnya ke penasaran saya terpenuhi juga."


Keesokannya Robert akan kembali ke kota.


"Nak Robet bawa ini yaa makan di atas kapal. "


"Duh saya ngerepotin ibu dan bapa jadinya."


"Tidak masalah kamu adalah kaka Lukas jadi anggaplah kami orangtua kamu juga," seru pak Jemo.


"Terima kasih banyak pak, ibu sudah menganggap saya anak juga."


"Iya hati-hati di jalan."


Robert berangkat meninggalkan desa mawar tak sengaja mendengar suara dari sudut samping memanggil.


"Bang Robertt. " Lambaian tangan dari seorang gadis yang di temui kemarin. Lantas ia memutar kearah rumah menghampiri gadis tersebut.


"Maaf Sintia saya baru sekarang mampir untuk pamit."

__ADS_1


"Lah sudah mau pulang aja kenapa engk netap disini aja? " tanyanya.


"Engk bisa sin kaka juga punya pekerjaan disana," jawabnya.


"Kalau begitu bawa ini bang untuk menyemil di jalan."


"Wahh dapat makanan lagi makasih dek."


"Sama-sama, tadi kakek sudah ke sawah jadi aku yang harus sambut kaka."


"Kalau begitu saya pamit dulu."


"Iya bang"


Melewati gapura desa Robert melajukan kendaraannya agar bisa tepat waktu sampai ke pelabuhan. Ditempat lain Maria sedang merasa enakan kala kemarin banyak sekali minum hingga ditempat kerja terus saja bersendawa.


"Apa gue masuk angin dari pagi sendawa terus."


"Misi mbak."


"Iya ada yang bisa dibantu."


"Saya baru disini mau tau tempat ini apa aja yang ada didalamnya? " tanya salah satu pelanggan.


"Ohh ada warnet sebelah kiri terus yang lurus keatas ruang membaca kemudian di atas ada cafe nanti bisa lewat di tangga yang disamping gedung."


"Ohh saya lihat makasih mba."


Maria menelisik gerak-gerik pria berjubah coklat dengan memakai kacamata dengan tatapan serius Maria mengikuti kemana pria itu melangkah.


"Kamu segera cari tau gedung bernama hitam-putih menurutku ada sebuah rahasia di dalamnya yang bisa kita jadikan berita hot," ucapnya kesebuah alat yang merekam di bagian kerahasiaan jubahnya.


"Dia siapa? mencurigakan sekali."


"Oke Mar"


"Permisi mas, saya mau pesan coffe late satu," pintanya.


"Baik mas ditunggu."


Dengan mata terbuka melihat sosok pria berjubah didepannya membuat Haikal harus berhati-hati bicara kadang ia gampang sekali keceplosan saat gugup.


"Ini mas pesanannya."


"Ohh iya makasihh, eh mas saya boleh tanya engk? "


"Iya boleh mau nanya apa? "


Dengan mengenggam sebuah perekam di bawah mejanya ia mulai menginterogasi Haikal.


"Mas tau engk akhir-akhir ini banyak sekali kejadian aneh."


"Aneh bagaimana? "


"Yaa kaya ada aja pembunuhan terus yang baru-baru ini digedung pemerintah ada pengeboman juga."


"Iya terus kan tiap negara pasti ada kejadian seperti itu bahkan tea-m ehh bahkan kepolisian juga pada hebat untuk memecahkan perihal itu kan? " tukas Haikal hampir keceplosan.


"Iya maksud saya mas engk sadar di kota kita ini pasti ada sekelompok orang yang bisa di andalkan untuk kasus terberat apalagi mereka hebat bahkan saya yang berada di lokasi aja tampak takjub."


"apa dia melihat wajah kami, " seruan batin Haikal.


"Gue kaga tau, disini cuman jadi pekerja untuk dapat uang jadi jangan bertanya yang membuat kepala saya puyeng," ucapnya sambil memegang kepalanya yang tidak berdenyut.

__ADS_1


Tampak Maria mendapat pesan dari Haikal terkait pria yang selalu menatapnya di meja sambil meminum kopinya.


"Mas kok natap saya terus," ucap Haikal yang sedang membersihkan meja yang kosong.


"Engk saya cuman mandang angin."


"orang aneh." batin Haikal.


Istirahat siang akhirnya datang maria menaiki tangga menuju cafe. Terlihat pria itu masih saja berada disana dengan wajah lelah terus-terusan menguap.


"Kal itu orang masih disitu? " bisik ke Haikal.


"Iya masih, kayanya dia bakalan datang terus untuk mendapat informasi mengenai kita deh."


"Terus kayamana pak Zae aja masih belum ke kantor, terus Juan belum pulih total."


"Kita bujuk biar pulang bagaimana? "


"Engk yakin dia bakalan pulang, emang dia siapa sih? " lirikan maut Maria terhadap pria misterius itu.


Robert sudah berada di atas kapal menikmati angin diluar yang terbang melewati wajahnya. Bungkus cemilan dari Sintia dibuka sambil mengunyak ia menoleh kearah 2 orang yang duduk sambil bersandar di pembatas kapal.


"Mang" tawarnya.


"Makasih bang."


"Kalian mau kemana," tanyanya.


"Kami mau pulang ke kota libu," ucap si bapak dan disampingnya anaknya yang berumur 7 tahun.


"Ohh berarti singgah di Nusantara yaa? "


"Iya mas"


*****


Malam sudah datang pria berjubah itu masih duduk di cafe sendirian.


"Mas cafe sudah tutup, mau ngapain lagi disini? " tanya Haikal.


"Saya boleh nginap engk? "


"Hah! engk punya tempat tinggal? " celetuk Haikal.


Setelah mendapat telepon dari Haikal Maria bergegas naik ke atas.


"Ada apa Kal? ini orang kok kaga pulang-pulang sih," sunggut Maria melihat tingkah pria aneh itu.


"Saya seorang wartawan majalah terkenal kalau engk dapat berita tidak bisa pulang," ucapnya memelas sambil membaringkan kepalanya di meja.


Maria berkecap pinggang mendengar tuturan pria itu. Akhirnya mereka terpaksa bopong pria itu keluar dari cafe dan meletakkannya di luar.


"Kalau mau ke cafe lagi besok aja, ohiya apa yang ingin anda dapatkan disini? tidak ada keanehan di tempat ini cuman gedung biasa yang berisi warnet, cafe dan buku," pungkas Maria.


"Yok Mar kalau kelamaan disini bisa-bisa kita tertular aneh," ucap Haikal.


.


.


.


...Bersambung dulu yaa!...

__ADS_1


__ADS_2