
Alangkah terkejutnya saat Maria memasuki rumahnya yang begitu rapi dan bersih.
"Elu pandai juga rupanya, malah lebih bersih daripada gue, " ucapnya memuji Dessy.
"Hmm, mana makanan gue dari siang belum makan. "
"Ini nasi goreng sama sate, " jawab Maria.
Mereka sedang menyantap di meja makan dengan pelan Maria bertanya mengenai latar belakang dari Dessy.
"Des, elu asalnya darimana? "
"Kenapa nanya begitu. "
"Yaa harus dong, gue kaga tau elu orangnya kaya mana gue takut malah nerima mantan narapidana lagi, " celetuknya.
"Tenang aja gue bukan orang jahat kok, " balasnya.
Selesai makan, rutinitas Dessy yang langsung duduk merenung di sofa sambil menatap tayangan televisi. Walau acaranya begitu lucu tapi tidak dengan ekspresi orang yang menonton begitu suram.
Maria yang memperhatikan di atas lantai dua begitu menghela nafasnya melihat Dessy.
Keesokannya Team J mulai bertemu detektif yang menangani kasus tewasnya Andina.
"Ini beberapa berkas kasusnya kalian bisa cermati terlebih dahulu baru bisa menanyakan kepada kami, " ucap salah satu detektifnya.
"Jadi Andina itu ditemukan di apartemennya bersama sebuah surat wasiat dan banyaknya obat? "
"Iya benar sekali kami juga sedang menyelidiki beberapa saksi-saksi seperti CEO dari MCM Group yang cukup dekat dengan korban lalu salah satu rekan sesama yang pernah cekcok dengannya.
" Hmm begitu merumitkan yaa, " ucap Robert.
"Hooh lebih susah memecahkan masalah ini daripada kasus narkoba, " pinta Haikal.
"Ini boleh kami minta data para saksinya? " tanya Robert.
"Nanti bakalan di kirim lewat email, " ucap detektif.
"Oke di tunggu. "
Maria yang memilih untuk keluar duluan dari ruang rapat untuk menuju kamar mandi tak sengaja bertemu dengan seorang pria yang memakai kacamata hitam.
"Permisi maaf cari siapa yaa? "
"Ehh sorry mbak mau nanya apa betul ini tempat cafe jingga, " ucap Gery sambil memperlihatkan foto di handphonenya yang terlihat ada Andina duduk di sebuah cafe.
"Iya betul, tapi cafe nya lagi tutup mas minggu depan baru buka. "
"Ohh gitu yaa oke deh makasih mbak, " ucap Gery pergi.
Jam menujuk pada pukul delapan malam waktunya team J pulang.
"Semuanya sebelum balik mari kita makan-makan dulu sekalian menyambut dua detektif tampan ini, " ucap Pak Zaenal. Yang membuat Haikal misuh-misuh di belakangnya karena waktu dia datang di team tidak di beri sambutan seperti itu.
"Maaf Pak saya kayanya harus balik deh, lagi sakit perut, " keluh Maria.
"Baiklah Mar hati-hati yaa atau engk minta salah satu dar-"
"Tidak perlu pak saya naik ojek online saja, sebentar lagi abangnya datang hehe, " ucap Maria.
"Yaa sudah hati-hati Maria. "
"Iya duluan semuanya, " jawab Maria yang langsung bergegas pulang.
Sesampainya di rumah Dessy begitu kesal karena Maria terlambat pulang tidak seperti kemarin.
"Sorry Des gue banyak kerjaan di kantor jadi terlalu malam pulang, " ucap Maria.
"Kan gue sudah lapar banget mana seharian di suruh kerja lagi kaya babu. "
"Janganlah merajuk Des nanti besok gue gofood tin deh kalau telat pulang yaa, " pinta Maria.
"Yaa sudah terserah, mana makanan gue, "
"Ini gue bawakan ayam bakar. "
Di restaurant team J dan dua detektif lagi makan mereka begitu curiga dengan Maria akhir-akhir ini.
"Ehh Bert elu kaga curiga sama Maria akhir-akhir ini semakin aneh selalu pengen cepat balik padahal kan kalau soal makan beginian dia cukup senang juga, " ucap Haikal.
"Mana kutau yaa kali aku bapanya. "
"Kan elu yang sering barengan sama dia, " tukas Tono.
"Benar kata Haikal tuh, si Maria kenapa sih saya lihat-lihat sering bengong juga, " sahut Pak Zaenal.
Robert tak menggubris atas ucapan rekannya tentang Maria dia begitu positif thinking kalau Maria memang sedang tak enak badan saja.
Dua minggu lamanya Dessy berada di rumah Maria, beberapa kali Maria memergoki Dessy yang selalu menatap keluar jendela.
"Apa dia merasa bosen yaa di rumah terus. "
Karena besoknya Maria libur ia mengajak Dessy jalan ke salah satu pusat perbelanjaan dan festival di salah satu di kota tua namanya.
"Des berhenti bersih-bersih dan siap-siap kita mau jalan-jalan, " ucap Maria.
"Seriusan elu? "
"Iya cepatan sana. "
"Oke deh kalau begitu, "
Mobil Robert sampai di halaman rumah Maria karena ia juga mengajaknya untuk sama-sama pergi. Apalagi ia pada tempo hari terpaksa berkata jujur jika Dessy tinggal di rumahnya dengan dalih untuk membantu membersihkan rumahnya.
"Bagaimana sudah naik kan? "
__ADS_1
"Sudah nih. "
"Cus jalan. "
Sesampainya disana ekspresi Dessy begitu senang menaiki banyaknya wahana maupun tempat yang belum di kunjunginnya di pusat perbelanjaan.
"Mar gue senang banget makasih yaa sudah ngajak jalan, " ucap Dessy.
"Iya Des, "
Beberapa menit kemudian Dessy duduk sendirian menunggu Maria dari toilet dan Robert yang sedang dihubungi seseorang.
Tampak Dessy begitu penasaran dengan salah satu tempat seperti permainan japit di salah satu toko di seberang.
"Ini apa yaa. "
Dessy begitu bahagia melihat banyaknya anak-anak main lalu tak sengaja melihat selembar poster orang hilang, disana anak namanya dan gambar wajahnya.
"Kenapa wajahku ada disini? apa om Gery beneran mencariku. "
"Maria dan Robert mencari-cari keberadaan Dessy hingga melihat keberadaannya sedang duduk di dekat taman.
" Ya ampun Des kamu kemana aja sih di cari-cari malah disini, " ujar Maria.
"Mar bantu gue pulang, " bisik Dessy.
"Kamu sudah siap pulang? "
Dessy mengangguk.
Sebelum mengantar kepulangan Dessy Mereka terlebih dahulu menuju kantor untuk mengantar berkas yang ketinggalan di mobil sementara Dessy yang ditinggalin di dalam mobil begitu penasaran dengan kertas yang terselip di lantai mobil.
"Astaga mereka lupain kertas ini, apa gue masuk aja yaa, " ucapnya yang langsung masuk begitu saja.
Sampai di depan pintu terdengar jika nama Gery dan Andina di bahas sehingga Dessy tak sengaja bersuara membuat detektif itu memeriksa keadaan di luar.
"Loh kamu? " Tampak detektif itu mengetahui Dessy tapi tidak dengan orang disana.
"Kenapa detektif, apa kamu. mengenalnya? " tanya Robert.
"Dia si Dessy orang yang di cari-cari. "
"Maksudnya rekan yang pernah cekcok dengan Andina, " terka Pak Zaenal.
"Benar sekali. "
Dessy tampak ketakutan dengan tuduhan banyak orang lalu ia teringat akan beberapa haters yang membencinya.
"Cukup kalian membuatnya takut, " sahut Maria yang langsung merangkul Dessy.
Setelah Maria menenangkan Dessy barulah dia siap di kunjungi team J dan detektif itu.
"Gue tidak tau tentang kematian Andina, yang kutau yang selalu mengakses kediamannya adalah managernya dan om ku. "
"Maksudmu si Gery? " tanya detektif itu.
"Tapi Gery pas di interogasi memberikan pernyataan jika dia tidak tau mengenai tempat tinggal Andina. "
Dessy senyum menyeringai. "Kalian begitu mudah percaya olehnya tanpa melihat siapa yang kalian hadapi, " ucap Dessy.
"Apa maksudmu Des? " tanya Maria.
"Dia lulusan psikologis engk mungkin ia akan menunjukkan wajah aslinya bahkan dia memiliki beberapa catatan kriminal yang di sembunyikan atas bantuan ayahnya, " tukas Dessy.
"Bedebah... ternyata begitu, pantes susah di akses sial, " cemooh detektif itu.
"Sabar den, syukur kita bertemu dengan gadis ini, " ucap rekannya.
"Gue cuman bisa kasih tau keberadaan ayahnya. "
"Apa bokapnya tau keberadaan Gery? "
"Pasti beliau tau. "
******
Gery bersembunyi di salah satu villa yang sangat jauh yang harus di lewati hutan belantara yang ternyata hutan yang cukup dilindungi oleh negara yang tidak sembarangan bisa di masukin.
Dengan bantuan Ayahnya yang bekerja di bagian kepemerintahan sehingga bisa membangun sebuah villa disana untuk anaknya si Gery yang bisa di pakai untuk bersembunyi dari banyaknya kejahatan yang dilakukannya.
Setelah kepolisian mengetahui keberadaan ayah dari Gery segera mereka datang kesana.
"Mar elu sudah dimana? " tanya Juan.
"Ini gue sudah naik lift, " jawabnya.
"Pokoknya sesuai rencana elu harus tau dimana keberadaan Gery, " ucap Juan.
"Iya aman kok sudah gue pelajari. "
Tiba di depan apartemen ayahnya Gery, Maria menyamar jadi wanita penghibur karena diketahui semenjak ayah Gery pensiun kerjanya hanya memesan wanita untuk memberikan kepuasan untuk dirinya.
"Silahkan masuk sayang anggap saja rumah sendiri, " tukasnya memandang tubuh ideal Maria.
"Dasar, sudah berumur masih saja berbuat dosa. " Seketika beberapa rekan lain yang memantau dari kamera tersembunyi dibalik kancing baju Maria, melirik kearah Robert.
"Jangan peduli aku, " ucapnya karena semua orang melihat kearahnya.
"Ayo kita segera mulai sayang. "
"Duh Pak saya cape baru sampai kalau mau kita minum-minum dulu yaa, " jawab Maria.
"Yaa sudah kamu ambil saja di kulkas aku tunggu di sofa yaa. "
Maria menjawab dengan anggukan. Dengan membalik badannya ia menelisik seluruh tempat sampai pandangannya mengarah ke sebuah lukisan yang miring.
__ADS_1
Setelah Maria mendapatkan gelas dan sebotol alkohol ia segera menghampiri Laki-laki tua itu.
"Ini Pak untuk anda. "
"Makasih sayang. "
"Pak kalau boleh tau anda cuman tinggal sendirian disini? "
"Hmm, istriku sudah meninggal dan anakku engk tau dimana, " balasnya dengan ekspresi sedih.
"Ohh begitu maaf kalau membuat bapa sedih. "
"Jangan panggil bapa, panggil saja mas aja. "
"Hehe iya mas. "
Setelah pria itu meminum banyak sekali alkohol dan terkapar di sofa, Maria mulai memeriksa keadaan pria itu setelah cukup ia segera bangun untuk mencari petunjuk di segala tempat termaksud di dalam kamarnya.
Waktu tiba di dekat lemari pakaian, Maria cukup penasaran dengan isinya.
Puk
Maria tiba-tiba merasa ingin jatuh karena sebuah pukulan di kepala belakangnya terasa sakit.
"Sudah curiga kalau kamu adalah mata-mata, tapi gapapa kita malam ini akan bersenang-senang, " ucap Laki-laki itu lalu meletakkan tubuh Maria di kasur.
"Oh ****, " pekik Juan.
"Bagaimana ini? " tanya Haikal.
Robert tanpa berkata-kata ia segera berlari keluar mobil untuk menolong Maria.
Sebelum pria itu membuka seluruh pakaian Maria, dia langsung mendapat tendangan dari Maria yang kaget melihatnya berada diatasnya.
"Sialann wanita j*lang, " pekiknya yang terjungkal kebelakang terkena tendangan dari Maria.
"Berani-beraninya pria tua sepertimu menyentuhku, " ucap Maria yang terselubung emosi yang begitu besar.
"Hehe sorry sa-ya... "
Bug
Pria itu pingsan seketika saat Maria mengeluarkan tinjuan dasyatnya.
"Itu hadiah untukmu. "
Sorakan Juan dan lainnya saat melihat pria tua itu terjatuh saat mendapat sekali pukulan dari Maria.
"Wahh, keren juga si Maria bisa nih bawa dia buat nagih hutang, " ujar Haikal sambil mengerakan gaya tinju ala Maria ke Tono.
"Woy hati-hati wajah ganteng gue bisa kena, " sunggut Tono.
Robert begitu ngos-ngosan sampai di depan apartemen pria itu karena berlari tergesa-gesa. Tampak pintu terbuka memperlihatkan Maria tersenyum melihat kearah Robert.
"Hai, Bert gu-"
Robert langsung memeluknya. "Syukurlah Mar kamu gapapa, " ucapnya.
"Ehh sorry Mar, " sambungnya.
"It's oke, sorry buat elu khawatir, " jawab Maria.
"Bagaimana Mar? " tanya Juan yang datang.
"Ini alamatnya . " Maria menyodorkan sebuah handphone milik pria itu di sana ada sebuah pesan keberadaan Gery.
"Okey sisanya serahkan kepada kami, " sahut kedua detektif itu.
Dua jam kemudian Gery berhasil di tangkap karena benar-benar melakukan perlawanan saat di ringkus beruntungnya semua polisi tak ada luka berat, apalagi Gery sempat memiliki senjata api.
"Akhirnya Andina bisa istirahat dengan damai, maafkan gue Din sudah berlaku buruk padamu, " lirih Dessy saat menonton berita di televisi.
******
Rekonstruksi pembunuhan Andina oleh Gery CEO MCM Group di kediaman Andina.
Saat Gery tau bahwa Andina hamil anaknya, ia begitu frustasi bahkan niat untuk membunuh Andina terpikirkan olehnya saat mengunjungi apartemen Andina pada tengah malam. Usai membunuhnya Gery langsung kabur begitu saja kesalah satu tempat yang sering dia tempatin untuk bersembunyi.
Keesokannya dia segera diadili, apalagi beberapa kejahatan yang dilakukannya terungkap, seperti dia pernah melecehkan salah satu muridnya pas masih mengajar di salah satu sekolah menengah atas, lalu pernah juga memperkosa kliennya saat membuka ruang konseling di salah satu rumah sakit.
Pernah juga membunuh rekan kerjanya waktu masih kuliah, itu semua tidak bisa di tindaklanjuti karena ayahnya, sekarang usai pensiun dia akan mendapat keadilan yang benar-benar akan menghantuinya seumur hidup.
"Saudara Gery santoso akan dikenai hukuman mati serta semua aset miliknya akan di sita. "
Tuk tuk
Seluruh saksi yang berada di ruang sidang merasa bahagia termaksud Dessy yang tersenyum akan hukuman untuk Gery walau sedikit nyesek.
Setelah dua minggu Dessy mendapat kabar jika pamannya telah di eksekusi ia diminta datang kesana, walau sedikit berat ia meminta Maria menemaninya.
"Makasih Mar sudah menemaniku, " ucapnya.
"Iya Des sama-sama, terus bagaimana kedepannya untukmu? " tanya Maria.
"Mungkin gue bakalan buka bisnis restauran di luar kota, " jawabnya.
"Kok jauh banget Des. "
"Iya soalnya tempatnya sudah ada tinggal di pakai aja, " ucapnya sambil terkekeh.
"Yaa sudah kalau begitu, gue mah dukung aja. "
.
.
__ADS_1
.
...Bersambung...