
Sosok pria ber hoodie masuk tanpa ijin kedalam ruang berlatar seperti ruang kerja dokter. Ia mengeledeh seluruh rak, laci meja entah mencari apa, ketika telah menemukannya ia segera keluar melalui jendela lalu melompati ruang itu yang sangat tinggi.
Keesokan paginya Adit bersama rekan polisinya menanyakan beberapa saksi. Lalu melihat CCTV di lorong menuju ruangan dokter Arjuna itu.
Tampak raut wajah dari Arjuna begitu takut akan sesuatu hal, membuat Adit begitu penasaran.
Di sebuah ruang hadir pria ber hoodie sedang menampakkan dirinya di dalam pantulan cermin.
"Tuan telah menunggumu di dalam, " sahut Wawan.
Kepada sosok pria yang masih membelakanginya ia meminta agar laki-laki itu mendekat.
"Apa kau sudah mendapatkannya? " tanya pria itu yang tetap dengan posisinya.
"Saya menemukannya seperti yang anda suruh, " ucapnya.
"Bagus… kamu memang bisa diandalkan, "
"Terima kasih tuan, " sahutnya saat menerima sebuah amplop berisikan uang cukup banyak sesuai janji mereka untuk memberikan kepada Willy jika berhasil melakukan pekerjaan.
"Masih banyak pekerjaan lainnya jadi pulang dan istirahatlah dan persiapkan dirimu, " ucap pria yang di hadapannya.
Willy menjawab dengan menangguk.
Jam 01.00 malam Willy bergegas pulang dan melihat adiknya menunggunya di ruang depan sehingga ia bergegas membukakannya.
"Loh dek belum bobo, " ucapnya panik yang segera menyembunyikan amplop kuning di dalam jaketnya.
"Kaka darimana saja jam segini baru balik, " ucap Sara.
"Kaka tadi-- anu lagi- " ucapnya begitu gugup.
"Kaka engk pergi ke tempat yang aneh-anehkan? "
"Hahaha engk lah dek tadi ada hansip di depan sana minta tolong jadi sambil ngobrol kebablasan sampai jam segini, " ucapnya.
"Ya udah… awas aja kaka macam-macam, " ancam Sara.
"Iya bawel…"
Willy segera menuju kamarnya lalu menganti pakaian dan menyembunyikan uangnya di atas lemarinya, rencana ia besok akan berjudi dengan uang itu.
******
Berada di Desa Sukahati Juan telah sampai di depan kediaman Sasa kekasihnya.
"Permisi "
Tok…tok
"Cari siapa yaa? "
"Permisi Bu saya Juan, " ucapnya yang langsung menyalami punggung tangan wanita itu.
"Ohh iya ada keperluan apa yaa? "
"Saya ingin bertemu Sasa Bu, " pinta Juan.
"Ohh kamu pacarnya yaa? "
"Iya Bu hehe. "
"Sebentar yaa saya panggilin dulu, ayo silahkan masuk dulu kebetulan ayahnya sedang ke ladang. "
"Iya Bu Terima kasih. "
Beberapa menit kemudian Sasa terlihat buru-buru menghampiri Juan di ruang tamu. Dengan memasang wajah panik ia langsung mengajak Juan berbicara keluar rumah.
__ADS_1
"Ada apa Saa… kamu kaya engk senang abang kesini? "
"Iya Sasa engk senang abang kesini. " lontaran kata kekasihnya membuat Juan sedikit membatu.
"Ehh ada tamu yaa, " ucap ayah Sasa yang tiba-tiba pulang membuat mereka berdua yang sedang berada di teras langsung kaget, segeralah keduanya menyalaminya.
"Saya Juan om. "
Mata ayahnya sedikit melotot kala mendengar nama Juan ia segera menyuruh anaknya membawa barangnya yang habis dari ladang. Juan dan ayah duduk di ruang tamu sambil berbincang-bincang.
"Bu gimana ini? " ujar Sasa di dapur bersama dengan ibunya yang sedang membuatkan minuman untuk Juan dan ayahnya di ruang depan.
"Kamu berasal darimana nak? " tanya ayahnya Sasa.
"Saya dari kota Nusantara pak. "
"Ohh berarti engk terlalu jauh yaa? "
"Iya Pak. "
"Kenapa engk pernah kesini, padahal engk jauh loh, " ujar si ayah.
"Saya banyak pekerjaan di kota yang susah di tinggalin pak, " jawab Juan terkekeh.
"Emang kerjaan apaan bisa sampai engk bisa ditinggalin begitu, " sahutnya dengan kata yang begitu menohok.
" ihh ayah kenapa begitu sih ngomongnya, " balas ibunya yang datang bersama dengan putrinya.
"Loh apa salahnya ayah bicara, "
"Apa kabar nak Juan, " tanya ibunya Sasa.
"Baik Bu. "
"Ohh iya kalau boleh tau nak Juan kesini mau ngapain yaa? "
Juan yang sedang meneguk kopi langsung tersedak.
"Ini bang tissu nya, " ucap Sasa.
"Gapapa om saya emang suka gitu…kagetan, " jawabnya dengan nada becanda. hingga ayah dan ibunya terkekeh.
"Jadi kedatangan saya kesini berniat ingin melamar Putri Ibu dan bapa, " ucap Juan dengan penuh semangat.
Tidak dengan orangtua Sasa yang gantian langsung tersedak mendengar ucapan Juan.
Setelah cukup lama Juan di sana ia keluar dari rumah dengan wajah sedih bersamaan dengan Sasa yang berada di sampingnya.
"Mas…maafkan aku jika membuatmu sedih, " lirih nya.
"Kenapa engk pernah bilang kalau kamu sudah tunangan dengan laki-laki lain? "
"Aku ingin bilang saat kita teleponan waktu itu tapi kamu malah sibuk sendiri jadi aku engk tega kalau langsung bilang disaat kamu sedang kerja, " jawabnya.
"Aku balik dulu yaa, kuucapkan selamat atas pertunangan kamu Sasa Terima kasih untuk kebersamaan kita selama setahun… aku pamit, " balasnya.
Sasa menahan lengan Juan. "Mas engk nginap disini dulu, besok baru balik ini sudah hampir menjelang magrib loh. "
"Lepas Saa kamu sudah jadi milik orang aku engk enak dengan calon suamimu, " ucapnya berlalu pergi menuju motornya.
Juan tampak tak bisa mengendalikan tangisnya saat mendengar ucapan ayahnya Sasa, jika wanita yang ia cintai selama setahun itu akan menikah dengan pria lain, dia begitu terpukul tiba-tiba saat melewati gubangan air yang cukup dalam sehingga terjatuh pakaian yang ia pakai pun sangat kotor.
Hujan turun membersamai tangisan Juan yang makin deras karena riuhnya air yang turun dari langit begitu keras.
"Lihat yang tuh orang pasti abis diputusin sampai nangis kejer gitu, " ledek pria itu membuat pasangannya ikut menertawakannya Juan.
"Dia mah masih ganteng kalau nangis, lah kamu kaya-- "
__ADS_1
"iih kok malah ngeledek aku sih, yang pacar kamu aku atau dia sih, " sungutnya.
Juan langsung tancap gas kala melihat pasangan disampingnya semakin bertengkar.
" Wanita mana lagi yang harus kupercayaan Tuhan. " Teriakannya membuat gemuruh mengeluarkan suara yang sangat besar.
"Ampun… engk lagi ngeluh deh, " ucapnya langsung meminta maaf keatas.
*****
Sara mengintip dari jendela saat melihat seseorang diluar terus mengetok pintunya.
"Pagi begini sudah ada tamu, apa kenalannya kak Willy ? " ucapnya lalu membuka pintunya.
"Maaf lagi cari kak Willy yaa, dianya pagi-pagi buta sudah pergi, " sambungnya.
"Ohh yaa emang kemana? " tanya Wawan yang memang sudah tau kemana perginya Willy.
Sara membalas dengan membusungkan bahunya tanda tidak tau.
"Saya pulang dulu, tapi Willy suruh saya buat nitipin ini untukmu. "
"Apa ini kak? "
Tanpa menjawab pertanyaan Sara, Wawan langsung pergi begitu saja dari sana.
"Orang yang aneh! "
Willy menuju kesebuah ruko kosong yang memang merupakan persembunyian banyak orang-orang kelas bawah untuk melakukan judi. Mereka semua mempertaruhkan gaji maupun hasil curiannya untuk bisa kaya lewat jalur instan tapi juga membutuhkan teknik dalam bermain.
"Bang, gue mau mempertaruhkan semua uang ini, " ucap Willy memberikan amplop kuning.
"Wihh banyak juga uangmu. "
"Iya dong, cepatan join kan gue. "
"Sabar napa. "
Drubakk!
Penjaga yang berada di pintu tiba-tiba terlempar kala dua orang bertubuh besar mendobrak masuk.
Wawan masuk di sela-sela dua pria besar itu, ia nampak menyeringai kearah Willy yang terpaku atas apa yang terjadi.
.
.
Setelah cukup lama ternyata Willy diseret kesalah satu jembatan terbengkalai disana ia terus mendapatkan pukulan dari dua pria kekar itu.
"Tolong tuan, saya hanya ingin memenangkan judi itu agar dapat melipat gandakan uangnya, " ucap Willy yang tak terlalu jelas perkataannya karena mendapat memar di wajahnya.
"Sudah lepaskan dia, " perintah Wawan.
"Tuan saya mohon jangan laporkan ke bos, " lirih nya sambil merangkak kearah Wawan.
"Kau ingat engk ucapanmu saat meminta bantuan kepada bos? " tanya Wawan.
"Iya Tuan. "
"Kenapa malah pakai uangnya untuk judi, emang sangat kurang uang sebanyak itu. "
"Sa-ya khilaf tuan, saya janji tidak akan berbuat seperti itu lagi, " ucap Willy begitu memohon ampun di bawah kaki Wawan.
"Segera pulang dan berikan uang itu untuk kebutuhan obat adikmu. "
"Baik tuan." Ia segera beranjak dari sana dengan jalan terseok-seok.
__ADS_1
"Tuntun dia sampai rumah karena dia tidak tau arah jalan, " pintanya kepada salah satu suruhannya.
...Bersambung dulu yaa...