
Sebulan yang lalu....
Pertemuan seorang gadis muda bernama Sandrina yang baru saja dinobatkan award aktris young the year di sebuah cafe yang telah di pesan Long cho dengan managernya si Sandrina.
Sekertaris Cho meyakinkan managernya untuk mengontrak si gadis muda umur 15 tahun dengan bayaran cukup mahal yang pastinya manager tersebut tak akan menolaknya karena Reno tau jika orang tersebut sangat menyukai uang.
"Aduhh tuan saya sangat senang jika kami bertemu denganmu," ucapnya sambil meraih tangan Long cho namun di tepisnya.
"Mana anaknya? kok engk ada."
"Lagi di mobil pak saya panggil kan dulu," ucap manajernya.
Beberapa menit kemudian Sandrina yang menawan datang menghampiri mereka.
"Ayo dek salim mereka," pungkasnya menyuruh Sandrina menghormati Long cho.
"Hai! anak manis," sapa Long cho.
Dengan senyuman manis Sandrina menyalim punggung tangan Long cho. "Saya Sandrina salam kenal."
"Panggil om Cho saja," sahutnya.
Dengan beberapa penjelasan dari Reno mereka akhirnya memulai kontrak diatas kertas kemudian Reno menyuruh agar mereka sudah mulai menjalin kerja 2 hari lagi untuk syuting iklan.
"Terima kasih Pak," hormatnya membungkuk kepada Reno.
Hari yang sudah ditentukan mereka telah tiba Sandrina menjalani syuting pertamanya di studio yang cukup luas.
"San kamu baru makan manisan kemarin loh jangan bikin kaka marah lagi yaa," tegurannya membuat Sandrina memasang wajah cemberut.
Awalnya masih sangat biasa saja namun di minggu berikutnya benar-benar kejadian menjangkalkan terjadi, bermula dari Reno menyuruh manager Sandrina tidak perlu ikut ke lokasi syuting yang dilakukan di sebuah bukit yang cukup indah saat di masuki.
"Tidak bisa! saya harus ikut dengan artis yang saya asuh."
"Saya sudah mengirimkan sejumlah uang ke rekening kamu dan saya pastikan Sandrina aman," tukasnya ke manager yang tampak tak bergeming menerima notifikasi bank. Lela si manager ternyata juga masih memiliki hubungan keluarga dengan aktris yang ia jaga. Dengan wajah Sumbringan keluar dari ruang sutradara ia menghampiri Sandrina.
"Dek kita makan besar hari ini, " pukasnya tampak bahagia.
"Emang dananya sudah cair tante? " ucapnya dengan pelan karena Lela tak mau keponakannya itu menyebutkan kata tante di depan umum melainkan panggilan kaka.
Selain beberapa orang di agensi yang tau mereka keluarga, Reno juga mengetahui diam-diam kala meminta bantuan kenalannya di agensi agar melancarkan proses kerjasama perusahaan dengan pihak Sandrina atas permintaan Long cho yang memberi ide agar gadis cantik itu sebagai amassador produknya saat melihat sebuah acara award di televisinya.
Setelah mengenyangkan perut Lela menidurkan Sandrina di kamarnya yang bernuasa princess walau umur keponakannya masih sangat belia tapi rasa sayang tantenya itu amat besar ia rela menerima makian dari sutradara series pertama yang dibintangi Sandrina kala terjun di dunia akting. Bahkan dengan kesabarannya ia tidak memarahi Sandrina balik ia justru membayar mahal guru privat untuk melatih keponakannya. Minusnya di kehidupan Lela sekarang ia sangat bermata uang dipikirannya hanya benda kertas berwarna yang membuatnya bahagia bahkan jika ia diberi pilihan antara uang 1 miliyar dengan keponakannya pasti dia memilih uang. Sama juga bagaimana ia memperlakukan keponakannya agar tetap bekerja dan tak memperdulikan kesehatan aktrisnya.
Memasuki bukit tak bernama yang berada jauh dari permukiman, di sekelilingnya juga di batasi pagar yang menjulang tinggi. Terlintas dipikirannya jika hal yang menyenangkan akan dimulai karena managernya atau tantenya itu tidak ada disisinya walau agak sedih tapi jujur gadis itu merasa ingin sekali-kali pergi tanpa wanita itu yang tiap saat selalu mengomelinnya tentang makanan yang ia inginkan di lokasi syuting seperti tempo hari.
"Sandrina kemarilah," ujar Reno.
"Kenalin dia asisten pribadi kamu selama bekerja dengan perusahaan geuning long," sambungnya.
"Salam kenal Sandrina aku Ros asisten baru kamu."
"Salam kenal juga kak Ros."
"Saya tinggal dulu, " sahut Reno meninggalkan mereka.
__ADS_1
Dengan celingak-celinguk Ros memperhatikan kesegala arah yang tampak mencurigakan.
"Kaka baru disini? " tanya Sandrina.
"Ehh iya San kamu mau apa? makanan? "
Sandrina menangguk.
Setelah Ros membawakan sebuah brownies, Sandrina hanya memandanginya teringat wejangan tantenya sebelum berangkat ke lokasi.
"San, jangan makan berlebihan disana aku tau kamu akan langsung melahapnya! ingat tubuhmu bisa saja semakin besar dan dihujat lagi karena hal itu." Wejangan Lela mampu membuat Sandrina ketakutan apalagi dengan beberapa komentar jahat yang menghujani nya waktu ia memerani series pertamanya berjudul first love Karina.
"Duh kak Ros kayanya aku makannya nanti aja deh selesai syuting soalnya engk biasa makan pagi," ucapnya berbohong.
"Yaa udah kita segera dandan aja yuk," ajak Ros.
"Iya kak"
Beberapa take scene akhirnya mereka beristirahat sebentar Sandrina kembali ke ruang yang disediakan staf untuknya.
"Kak Ros kemana sih ku cariin engk ada, aku juga lupa tadi minta nomor HPnya," lirihnya keluar dari ruang menuju ke arah anak tangga mencari keberadaan Ros beberapa orang ia tanyain tapi tak satupun mereka tau keberadaan asistennya itu.
"Aduhhh! ihh jijikkk," gerutunya saat ia jatuh di genangan air yang ada lumpurnya. Ia sama sekali tak bergeming jalan menyelusuri lokasi menuju ruang ganti dan berpapasan dengan orang yang dicarinya.
"Loh Sandrina kamu kemana aja pak sutradara mencarimu. Dan kenapa pakaian kotor sekali," ucapnya yang awal tadi serius menjadi terkekeh melihat penampilan gadis itu.
"Ini semua karena kaka! kenapa juga menghilang dari tadi kucariin, kalau sampai Pak Reno tau kaka bisa di pecat tau, " kesalnya.
"Duh! ini anak...bisa gagal rencanaku kalau sampai ketahuan orang-orang itu."
"Kenapa diam saja."
hmmmm
******
"Maria," panggil Robert.
"Ada apa Bert? "
"Saya mau ngomong empat mata sama kamu."
Belum Maria mengiyakan Robert sudah menariknya kesuatu ruangan.
"Kamu ingat laki-laki bernama Lukas? kurasa pas itu kamu mengenalnya, " ucap Robert.
"Memangnya kenapa? " tanya Maria.
"Jawab aja iya apa engk? "
"Iya gue mengenalnya tapi cuman sebatas kenal doang engk dekat banget sih. "
"Aku mau minta alamat rumahnya dong, " balas Robert.
"Gue engk tau rumahnya dimana. Tapi dia pernah bilang dia tinggal dengan dokter tempat dia bekerja. Rumah sakit apa yaa namanya... ohh rumah sakit citra alam gue baru ingat hehe."
__ADS_1
"Oke thank's" ucapnya langsung pergi.
"Sama-sama"
Motor moge melaju dikecepatan tinggi menuju rumah sakit citra alam. Sesampainya disana ia berusaha mencari keberadaan Lukas sampai bertanya kesemua staf rumah sakit tetapi tak melihat keberadaannya.
"Misi mbak tau dimana Lukas engk? " tanya Robert.
"Lukas office boy? "
"Iya mungkin soalnya saya tidak tau."
"Kalau para pembersih sedang bekerja di ruang kerja dokter nanti jam 12 mereka bakalan berada di ruang ganti tungguin aja mas."
"Yaa sudah jika bertemu dengannya bilang abangnya mencari," pinta Robert ke staf kebersihan itu.
"Oke deh," ucapnya meninggalkan Robert.
Sejam lebih sangat lama sekali untuk Robert menunggu hingga bertemu dokter forensik kenalannya.
"Loh Robert kamu disini? "
"Dokter maya."
.
.
"Jadi adik kamu bekerja disini yaa, sangat mengesankan jadi dia dokter atau perawat? " tanya Maya.
"Katanya dia bekerja jadi office boy."
"Dokter do'ain semoga dimudahkan yaa," ucapnya.
Setelah dokter Maya pergi dari belakangnya seseorang memanggilnya.
"Misi katanya anda mencari saya? " ujarnya.
Robert terdiam perlahan membalikan badannya. Sosok dihadapkan berubah menjadi adiknya waktu kecil ia tersenyum kearahnya walau mereka kurang akrab Robert benar-benar sangat menyayanginya.
Robert berlari untuk memeluk adiknya itu wajahnya sudah berubah menjadi versi dewasa.
"Aku sangat merindukanmu Aleksander," tukas Lukas.
"Namaku Lukas," ucapnya melepaskan pelukan Robert.
"Iya waktu dulu namamu Alex diberikan oleh ayah dan ibu tapi sekarang walau namamu berubah aku akan tetap memanggilmu Alex," pinta Robert kembali memeluknya.
"Bang lepasin, saya harus kerja lagi mending anda pulang saja," ucapnya langsung mendorong bahu Robert lalu pergi.
Robert tetap menunggu hingga adiknya itu pulang kerja. Di jam 10 malam waktunya Lukas untuk pulang ke kost dekat rumah sakit karena ia tidak tinggal lagi dengan dokter yang membantunya dulu.
"Anda ngapain disitu bukannya pulang, " ujarnya tapi malah Robert kembali memeluknya.
"Lepasin engk."
__ADS_1
"Engk mau! "
Akhirnya karena tekad Robert mendekati terus, adiknya luluh juga. Tak lupa untuk mengantarnya pulang setiap waktu luang. Kadang Lukas memasang wajah cemberut nya jika Robert selalu memperlakunya sangat baik.