
Tok...tok...
Sebelum Maria membuka pintu apartemennya terlebih dahulu ia mengintip dari balik lobang agar tau siapa yang bertamu di jam istirahatnya.
Seorang perwira polisi datang menemuinya menanyakan tentang rumah nyonya yang dibunuhnya.
"Kami kesini bertanya soal rekaman anda yang ini, " ucapnya di balik pintu yang telah dibuka Maria.
Maria sudah mulai takut ia merasa di tipu oleh Pak Kora sewaktu-waktu ia akan dibuang jika keinginan pria tersebut sudah selesai.
"Ini berada dirumah nyonya Wila, kami mengidentifikasi jika pelaku yang sedang berada di rumah korban bukan tersangka. "
"Jadi anda menuduh saya? "
"Bukan begitu mbak. "
"Anda tau Pak Kora yang sebentar lagi naik jabatan, itu saya bekerja dengan beliau setelah saya dikeluarkan dari rumah nyonya Wila, kalian bisa tanyakan kepada Pak Kora karena pada waktu malam sebelum wanita itu meninggal saya sedang berada di perjalanan menuju kerumah Pak Kora. "
Asisten detektif itu kembali " Pak saat saya mencari bukti dikediaman Pak Kora saya menemukan jika nona ini tidak bersalah dan ada alibinya yang bisa dipertanggungjawabkan jika nona Maria memang datang kerumah beliau. "
"Nona maafkan kami sudah lancang menuduh anda, " ujar perwira tersebut.
"Syukurlah jika bukan saya, " ucapnya lalu menutup pintunya.
Setelah semua pergi Maria menghubungi seseorang. "pak saya ingin bertemu dengan anda"
Sampainya Maria di depan kediaman orang yang ingin ditemuinya terkejut lah ia akan perkarangan rumah yang luas dan bercerita kepada orang dihadapannya jika ia berniat akan menghianati Pak Kora.
"Kamu yakin akan mengkhianatinya? "
"Iya benar karena saat seorang polisi datang kepadaku mengatakan jika salah satu target yang kubunuh mencurigaiku, membuat tingkat kepercayaan mendukung Kora menurun, gue tak mau terus bersamanya, " tukas Maria.
"Itu pilihan yang sangat bagus, anda datang ke orang yang tepat. "
*****
Di kota lain dimana Robert dan Juan berhasil membujuk salah satu warga untuk membantu mereka mencari organisasi mencurigakan dimana itu terdapat perjudian dan pesta narkoba.
"Ada satu tempat dimana saat saudaraku meminjam uang disana sebelum menghembuskan nafas terakhirnya ia mengatakan jika didekat peternakan ada suatu perkumpulan aneh banyak sekali minum keras maupun gadis-gadis malam disana, " ucap pak tua.
"Apa tidak salah, takutnya bukan yang kita cari, " bisik Juan.
"Pak bisa antarkan kami kesana. "
"Kamu gila ini sudah hampir gelap," pekik Juan.
" Kalian bisa menginap di lantai atas karena keluargaku sudah meninggal jadi tidak ada yang tempatin," ucap si Pak tua.
"Terima kasih pak ini sudah lebih cukup untuk kami, " jawab Juan.
Satu persatu anak tangga mereka naikin suara decit lantai papan itu mengeluarkan suara seram seperti ingin roboh.
"Bert lu merasa aneh engk pas sudah berada diatas sini, hawanya dingin banget apa jangan-jangan hantunya... "
"Namanya juga rumah tua Juan jangan nakutin. "
"Tampilan luar sudah begini bagaimana dikamarnya, " pekik Juan.
"Cuman semalam doang jadi sabar aja, " ucap Robert.
Tok... tokkk
"Ini beberapa sprei dan selimut untuk kalian, " ucap Pak tua.
"Terima kasih Pak. "
Lampu di matikan mereka mulai memenjamkan mata tetapi terdengar seperti suara nyamuk dekat telinga.
"Duh bagaimana mau tidur ini. "
__ADS_1
"Cukup penjamkan mata saja karena rasa capek bakalan engk kerasa. "
"Engk kerasa iya besoknya masuk rumah sakit, " sunggut Juan.
Juan menutupi badannya dengan selimutnya tapi karena pengap ia tidak jadi.
"Hoammm segarnyaa. "
"Lu enak yaa bisa bobok gue semalaman terjaga karena nyamuk, " ucap Juan.
"Kamu gapapa kan wajahmu agak seram di lihat, " tanya Robert.
"Gue mau bobo bentar, " ucap Juan.
Tok... tokkk
"Bangunnn disini bukan penginapan seenaknya tidur sampai siang, " ucap pak tua.
Mereka diminta mengambil telur di kandang ayam untuk sarapan mereka.
Tangan pak tua mengisyaratkan untuk mereka pergi ke sebrang rumahnya.
"Katanya ini ayam galak tapi dilihat-lihat lucu aja, " ucap Robert memasukan tangannya ke dalam kandang.
Semenit kemudian teriakan Juan melengking membuat Robert di depannya sangat kencang berlari membawa banyak telur kerumah pak tua dengan penampilan kotor bekas tai ayam.
Setelah membersihkan diri akhirnya mereka berangkat menuju tempat yang mereka tuju. Tak sampai disitu penjaga ditempat itu sangat teliti melihat orang yang masuk, tiba giliran mereka berdua yang langsung diinterogasi.
"Lu berdua baru gue lihat disini. "
"hahaha kan baru yaa pasti baru lihat bang, " pekik Juan.
"Lu berdua mending pergi sebelum gue geprek kalian. "
Robert dengan kesabaran yang tipis menarik kerah orang tersebut. "Jika kami kesini untuk meringkus kalian bagaimana, " jawabnya membuat penjaga itu menatap lekat kearah Robert.
Pria badan besar keluar dari balik pintu. "Cuman segini mah gampang, " ucap Robert.
Keluar lagi pria tangguh lainnya yang makin besar.
"Waduh Bert mati kita. "
Mereka dikejar oleh banyaknya pria besar hingga masuk kesebuah rumah makan merusakin perabotan disana. Di jalan pertigaan terpaksa Robert dan Juan berpisah untuk mengelabuhi orang-orang itu.
"Gue ke kiri lu ke kanan, " ucap Robert.
Semakin lama mereka lari semakin capek yang didapatnya.
"Tubuh mereka dipenuhi apa sih kok kuat banget staminanya," ucap Juan berhenti di pinggir lampu penyebrangan.
"Itu diaa"
Dengan keahlian Robert memanjat membuat mereka yang mengejarnya sedikit memperlambat pergerakannya sehingga ia bisa istirahat sebentar.
"Duh gue sudah mau pingsan, " ucap Juan.
Melihat Juan saat berlari ditembok pembatas yang hampir pingsan membuat obert langsung melompat.
"Juan ngapain baring ayo kita lari. "
"Gue capek butuh minum, gue dehidrasi. "
"Engk ada waktu kita harus pergi, " lirih nya.
"Gue capek tauu malah disuruh lari lagi. "
Dengan terpaksa Robert meminta tolong kepada orang di dekat sana untuk memberikan mereka air minumnya.
"Woyy itu mereka cepat kejar. "
__ADS_1
"Engk ada cape-capenya mereka ngejar kita, " sunggut Juan.
"Tidak ada waktu cepat habiskan minumnya. "
Di depan jalan ada jembatan mereka mengarah kesana dengan menjatuhkan diri kesungai itu.
"Seriusan kita terjun Bert. "
" Juan pegang tanganku aja biar kita aman. "
"Seriusan gue takut. "
"Cepatan engk ada jalan lain lagi. "
Mereka terjun bebas dengan Robert memberi aba-aba.
"Cepat ketepi sungai, " ucap mereka yang mengejar Robert dan Juan.
Semakin cepat mereka berenang mencapai tepi sebelum orang-orang itu.
*****
"Ada apa ini dari dalam terdengar suara kalian ribut. "
"Ada penyusup tuan. "
"Apaa"
Sebuah mobil mewah memasuki halaman bar tersebut. Seorang wanita cantik mengenakan dress diatas lutut tanpa lengan keluar dari mobil.
"Selamat datang nona. "
"Saya Maria penasehat Pak Jack. "
"Ohh iya kemarin saya dapat pesan dari beliau silahkan masuk nona, " ucapnya.
Saat Maria masuk tercium bau nyengat sudut ruang. "Tolong ini semua diberi pengharum ruang baunya sangat busuk sekali dan lihat kenapa sangat minim pencahayaan tambahin lampunya lalu disini engk ada pembantunya apa? " tanya Maria dengan omelannya.
"Tidak ada nona kami sangat kekurangan dana jika harus menambahkan staf kebersihan. "
Ekspresi kecut terlihat dari wajahnya. "Masa.. jangan-jangan kamu korup yaa padahal Pak Jack rutin ngirim deh perasaan. "
"Silahkan nona duduk disini. "
"Kalian kembali bekerja saja tidak usah perdulikan saya disini. "
Tiba-tiba banyak orang datang menimbulkan kericuhan saat masuk kedalam tempat itu membawa 2 orang yang amat babak belur.
Maria dengan aktivitasnya terganggu akan keributan itu membuatnya mendatangi mereka. "Kenapa kalian sangat berisik sekali sih. "
"Maaf nona kami sedang menghukum orang-orang penganggu yang berniat buruk dengan bar ini. "
Maria saat melihat mereka langsung mengenalinya karena wajah Robert yang dia tau. "Tunggu dulu biarkan aku melihatnya, " ucap Maria.
"Apa nona mengenalinya? "
"Ohh tidak, tapi karena mereka merusak lingkungan maupun tempat ini biarkan aku yang akan menghukumnya, " ucap Maria.
"Hah! tidak nona ini sudah ketentuan kami yang melakukannya anda tinggal duduk manis menikmati suasana disini saja. "
"Noo gue yang akan bertanggung jawab okeyy, pengawal bawa mereka ke bagasi mobil. "
"Baik bu"
Sesampainya di sebuah gubuh aneh Robert dan Juan di masukin di dalam oleh pengawal dan supir Maria.
"Kalian tunggu dimobil sisanya urusan saya, " ucap Maria.
Usai mereka pergi tiba waktu Maria melepaskan ikatan di tangan dan membangunkan mereka yang tengah pingsan.
__ADS_1