
Udara panas sudah tak dirasakannya, keringat mengucur di dahinya juga sudah tak dipedulikannya. Gadis itu berlari setelah menerima telepon yang singkat itu.
Dia Erika, anak pengusaha properti yang cukup terkenal, gadis mandiri yang sangat menyayangi kedua orang tua dan adik perempuannya.
Ia berlari menaiki ojek online yang sudah dipesannya sesaat setelah ia menerima telepon. Ya, Erika lebih suka naik kendaraan umum ataupun ojek online jika ia pergi kemana mana. Menurutnya, itu suatu kesenangan tersendiri, karena ia tidak perlu lelah menyetir mobil dan terjebak kemacetan.
"Maaf pak, boleh kebut sedikit, saya buru-buru sekali" ucap Erika pada si bapak ojek.
"iya neng, saya udah cepet ini neng. Nanti ada polisi di perempatan sana, bisa ditilang neng."
__ADS_1
Erika tidak dapat berbuat apa-apa lagi, ia hanya pasrah saja. Ia terus melamun, hingga tiba-tiba BRAKK!! semua terasa gelap dan. kepalanya pusing. Samar-samar ia melihat sebuah mobil sudah ada di depan matanya.
Ia segera berdiri dan menghampiri bapak ojek yang sedari tadi kesakitan dengan kakinya yang tertimpa motor. Beberapa orang sekitar yang melihat langsung menghampiri dan membantu bapak ojek untuk duduk di trotoar dan memberi minum.
Ternyata bapak gojek tidak sengaja menabrak mobil di depannya karena mobil tersebut nge-rem mendadak. Dengan kecepatan motor yang lumayan, itu cukup membuat luka di beberapa bagian tubuhnya.
Sopir mobil tersebut juga turun dan membantu. Namun tak lama terdengar suara dari mobil memanggil. Sopir tersebut menghampiri tuan nya, dan kembali kepada bapak ojek sambil memberi uang, kemudian meninggalkannya.
Setelah memesan ojek online lagi, ia pun sampai dirumah. Erika tidak tega melihat bapak ojek yang sedang terluka, jadi ia membayar dan juga membantu menelepon keluarga dari bapak ojek tersebut, serta meminta izin untuk melanjutkan perjalanannya.
__ADS_1
Ia berlari melewati pagar rumahnya yang tinggi, memasuki pekarangan dan menemukan pintu depan terbuka. Di ruang tamu ia melihat ayah, ibu dan adik perempuannya, Elisa. Ayahnya tengah terbaring di sofa sambil memegang dada kirinya. "Pa, kenapa? siapa yang buat papa jadi begini?" Erika berbicara sambil menghampiri ayahnya dan duduk di sampingnya.
"Papa ditipu rekan bisnisnya ka. Karena bisnis properti sedang turun, papa mencoba investasi yang ditawarkan oleh rekannya. Tapi, semua uangnya dibawa kabur dan ....." Mama bercerita panjang lebar, sambil menangis.
"papa tidak punya apa-apa lagi ka. Papa harus bayar hutang-hutang papa ke bank. Rumah dan mobil juga sudah papa jaminkan ke bank. Belum untuk bayar gaji karyawan di perusahaan." Erika menatap ayahnya yang ia tau sedang berusaha menahan kesedihannya atas semua musibah ini. Ayahnya tipe pria pekerja keras, menyayangi keluarganya dan tidak pernah memecat karyawannya.
Justru karena musibah ini, Erika yakin ayahnya tidak hanya bingung bagaimana memenuhi kebutuhan keluarganya, tapi juga bagaimana nasib karyawan di perusahaan nya.
Akhirnya Erika berhasil membujuk ayahnya untuk istirahat. Ia pikir biarlah masalah ini dipikirkan bagaimana jalan keluarnya setelah ayahnya beristirahat. Sekarang ini, masing-masing dari mereka masih shock, dan mungkin tidak akan berpikir dengan jernih untuk penyelesaiannya.
__ADS_1
Erika pergi ke kamarnya, meletakkan tas nya dan pergi ke kamar mandi, membersihkan dirinya. Beberapa bagian tangannya terasa perih, yaaa akibat ia jatuh dr motor tadi. Ia sengaja tidak akan memberitahu orang tuanya, agar mereka tidak mengkhawatirkannya. Ia berendam di bathtub, merilekskan tubuh sambil berpikir langkah apa yang harus diambilnya.