Bukan Untukku

Bukan Untukku
BAB 44 - ERIKA RESIGN


__ADS_3

"ka, lo kenapa murung banget?" tanya Linda saat melihat Erika duduk di depan kamar kost nya.


"nggak apa-apa kok, cuma lagi mikirin kerjaan aja." jawab Erika


"kerjaan? bukannya lo sekarang udah cukup enak ya?" tanya Linda lagi


"iya sih, cuma....." Erika mulai menitikkan air mata.


"lo kenapa ka? kok nangis." Linda langsung duduk di samping sahabatnya itu.


"Keluarga gue digangguin terus Lin. Sebenarnya gue nggak mau cerita masalah ini, gue nggak mau orang-orang jadi keikut masalah gue." ucap Erika


"ya elah, lo nyantai aja sama gue. Kita ini kan sahabat, lo bisa ngandelin gue. Cerita aja, gue siap jadi pendengar yang baik." ucap Linda sambil tersenyum.


Erika menceritakan apa yang terjadi sejak dirinya sempat diculik. Bagaimana dirinya diancam dengan menggunakan keluarganya. Erika juga menceritakan tentang Reyhan, hanya saja ia tidak menceritakan kisah hubungannya dengan laki-laki tersebut.


"kaaa, emang lo nggak tahu siapa Reyhan?" tanya Linda


"gue tahu, dia itu kan kakak kelas kita. Orang yang sering gangguin gue dulu pas masa perkenalan kampus. Tapi sekarang sih sifatnya nggak kayak gitu lagi." ucap Erika


"bukan, bukan itu maksud gue. Reyhan itu kan anaknya pengusaha tajir. Anak orang yang ngehancurin keluarga lo." Linda langsung menutup mulutnya, ia merasa telah salah bicara.


"maksud lo apa Lin? ngehancurin keluarga gue?" Erika menjadi penasaran dan curiga.


"Sory ka, bukan gue mau nyembunyiin soal ini tapi gue cuma nggak mau lo banyak pikiran aja." ucap Linda


"Kasih tahu gue Lin, gue perlu tahu semua itu." Erika memegang pundak Linda dengan tatapan penuh air mata

__ADS_1


Linda menceritakan bahwa Reyhan adalah anak dari Suryadiningrat, seorang pengusaha properti yang ternama di tanah air, dengan nama lengkap Reyhan Brama Suryadiningrat.


Suryadiningrat adalah pengusaha properti yang suka membeli perusahaan-perusahaan properti ataupun perusahaan-perusahaan konstruksi untuk mengembangkan bisnisnya serta untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.


"Gue dapat info dari Aldo, kalau perusahaan bokap lo itu dibeli sama orang bernama Suryadiningrat ini. Awalnya bokap lo nggak mau ngejual, tapi terpaksa ngejual kan akhirnya karena bokap lo katanya kena penipuan investasi." ucap Linda


"lo tahu semuanya Lin?" tanya Erika.


"iya gue tahu semuanya, meskipun lo nggak cerita detailnya ke gue. Gue juga nggak maksa lo buat cerita karena gue tahu lo tipe orang yang nggak mau minta tolong orang kalau nggak urgent banget." Linda menjawab sambil melihat mata sahabatnya itu.


"iya Lin, semua cerita lo bener, kalau hidup gue jadi kayak begini karena penipuan investasi yang menimpa bokap." Erika mengusap air matanya.


"Nah sekarang ini anaknya yang bernama Reyhan itu mau nikah sama cewe namanya Fiona. Dia anak salah satu pengusaha juga. Jadi pengusaha Suryadiningrat itu cepat-cepat mau menikahkan anaknya karena mereka ketahuan tidur bersama dalam suatu hotel. Suryadiningrat nggak mau nantinya terjadi hal-hal yang mencemarkan nama keluarganya." ucap Linda secara detail


Mendengar penjelasan Linda, Erika merasa ia tak perlu lagi meminta penjelasan dari Reyhan. Berarti yang dibilang Mila pun bukan gosip semata, tapi memang mungkin kenyataan.


gue emang bodoh percaya sama semua kata-kata manis dan indah yang diucapkan oleh Reyhan. Percaya bahwa ia akan bisa bahagia bak cerita-cerita putri dalam dongeng. Percaya bahwa Reyhan akan meyakinkan ayahnya untuk bisa bersamanya.


Erika menghapus air matanya dengan kedua tangannya.


"gue mau balik ke tempat nyokap aja Lin." ucap Erika penuh keyakinan.


"tapi ka, kerjaan lo..."


"gue rasa, setelah gue denger semua cerita lo, nggak ada bagusnya lagi gue kerja disitu. Masa gue kerja di tempat orang yang udah ngehancurin kehidupan keluarga gue." ucap Erika


"Tapi ini mendadak banget ka...." Linda takut kehilangan sahabatnya ini.

__ADS_1


"Besok gue mau minta resign dari kantor. Gue akan bilang kalau gue mau bantuin orangtua gue." Erika tersenyum meski dengan mata yang masih terlihat sendu.


"gue ngerti perasaan lo ka. Berarti lo ke Bandung donk ya?" tanya Linda


"nggak Lin. Keluarga gue mau pindah dari sana, karena teror-teror yang mereka dapatkan gara-gara gue. Gue ngrasa bersalah banget sama mereka."


Linda memegang tangan sahabatnya. Tersenyum sambil memandang dengan tatapan memberi kekuatan dan support. Ia yakin sahabatnya ini akan berhasil suatu hari nanti.


----------


Erika menyerahkan surat pengunduran dirinya ke meja Pak Adam. Ia tahu ini agak terburu-buru dan ia pun tidak punya waktu satu bulan untuk serah terima pekerjaan dan lain-lain.


Erika beralasan kalau orangtuanya sedang sangat membutuhkannya. Ia harus segera pulang.


"Kak Mila, maafin ika ya kalau ika ada salah." Erika bersalaman dengan Mila.


"kamu dadakan banget sih ka. Trus aku ngobrol sama siapa donk kalau bukan sama kamu?" Mila memeluk Erika sebagai tanda perpisahan.


"Tuh sama Kak Riko. Kak Riko pasti mau ngobrol sama Kak Mila, 24 jam kalau perlu." ucap Erika sambil bercanda dan menatap Riko yang agak salah tingkah jadinya.


Mila melihat ke arah Riko, yang diam-diam sedang memandangi dirinya. Ada sekelebat kilat menghampiri jantungnya melihat tatapan Riko. Mila pun langsung memalingkan wajahnya dan kembali memeluk Erika.


Erika menghampiri semua orang di divisinya dan mengucapkan selamat tinggal.


"Jaga Kak Mila ya kak." ucap Erika pada Riko sambil tersenyum. Diikuti dengan sebuah jempol yang muncul dari tangan Riko.


Erika membereskan semua barang-barangnya dan bergegas pergi dari kantor. Ia tidak ingin berlama-lama berada di kantor yang ternyata adalah kantor anak orang yang menghancurkan keluarganya dan mungkin juga telah menghancurkan hidupnya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2