Bukan Untukku

Bukan Untukku
BAB 16 - KETIGA KALINYA


__ADS_3

Erika terus fokus pada pekerjaannya, sampai-sampai ia melewatkan jam makan siang. Reyhan sendiri tidak meneleponnya lagi, karena akhirnya Reyhan mau bersifat jaim aja, maklum namanya juga bos ya kan....


Jam menunjukkan pukul 3, akhirnya Erika menuju pantry untuk makan disana. Riko melihat Erika ke arah pantry, ia pun mengikutinya.


Erika meletakkan makanannya di atas meja, tiba-tiba Riko memeluknya dari belakang. Tapi, mengapa pelukannya terasa ikatan keras bagi Erika.


"kak, lepas kak. Kak Riko!!" ucap Erika


"biarkan aku begini sebentar saja. Apa kamu nggak bisa menerima aku?" tanya Riko.


"maaf kak, aku nggak bisa." sambil berusaha melepaska pelukan Riko yang semakin lama terasa semakin kencang.


"ka, aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu. Aku nggak bisa memendam perasaan ini terus-menerus, apalagi ngeliat kamu jalan sama cowok lain." terang Riko.


"tapi kak, aku nggak bisa....kak, lepas kak, sakitt." air mata Erika mulai mengalir di pipinya yang putih kemerahan, sambil terus berusaha melepaskan diri.


Riko membalikkan tubuh Erika dan menggiringnya ke dinding. Erika memalingkan wajahnya sambil menangis.


"kak, tolong.... aku nggak bisa. Aku nggak mau." Riko mulai memegang dagu Erika dan menghadapkan wajahnya ke arahnya.

__ADS_1


Erika semakin takut. Tangannya masi terasa sakit karena ditahan oleh Riko dengan cukup keras.


Akhirnya Riko mendaratkan bibirnya di bibir Erika, berusaha melumatnya. Tapi Erika terus mengatupkan bibirnya dan menangis. Riko mulai mencium ke arah leher Erika. Perlahan-lahan membuka kancing kemeja Erika yang paling atas, dan mulai menyusuri area dada.


Erika ingin berteriak, tapi ia tidak sanggup. Ia menahan rasa sakit di tangannya dan juga di hatinya. Ia berusaha sebisa mungkin melepaskan diri. Akhirnyaaa....ia berhasil mendorong Riko dengan segenap tenaganya yang tersisa, mengancing kemejanya dan segera keluar dari pantry.


*ya Tuhan, aku udah nggak kuat lagi disini, apalagi harus menghadapi Riko di rumah dan di kantor. Bawa aku pergi ya Tuhan, kemana saja. Aku tidak ingin melihatnya lagi.


Kuhanya ingin hidup tenang. Meski sekarang hidupku sedang banyak masalah, setidaknya aku bisa hidup tenang dan bahagia. Apakah aku tidak bisa dan tidak layak? Apa kebahagiaan itu bukan untukku*?


Erika lari ke bagian administrasi, meminta izin untuk pulang cepat kepada Cecil, mengambil tas nya dan lari keluar dari kantor. Ia sudah tidak sanggup lagi berlama-lama dekat dengan Riko.


----------


Erika tidak ingin menambah beban kedua orang tuanya. Ia kerja disini juga atas kemauannya, jadi mungkin ini adalah konsekuensi yang harus ia hadapi.


Erika berjalan sendiri, duduk di bangku taman, memandang sekelilingnya, hatinya hampa. Ia membuka handphone nya, mencari telepon sahabatnya, Linda.


"Lin, lo lagi dimana?" tanya Erika.

__ADS_1


"di kost lha ka, mau kemana lagi gue. Maklum anak rantau, apalagi nanggung bulan gini, stay at kost lha." jawab Linda sembari tertawa.


"gue mampir sana ya.?"


"lo dimana emangnya? gue jemput aja. Daripada motor gue nganggur noh." tanya Linda.


"gue di taman kota, di seberang mall XX." jawab Erika.


"lo tunggu situ ya, gue meluncur, bentaran juga nyampe."


"iya, thanks ya Lin." ucap Erika.


----------


Riko yang masih terdiam di pantry, melihat ke arah bekal yang dibawa Erika. Rupanya Erika belum makan pikirnya. Riko merasa selalu terbawa nafsu. Ia tidak sanggup melihat Erika bersama laki-laki manapun, ia ingin memilikinya.


Pintu pantry terbuka.....


"bro, lo dicariin Pak Adam tuh." ucap Angga.

__ADS_1


"iya bro, ntar gue ke ruangannya. Gue mau ngopi dulu, ngantuk." jawab Riko berbohong.


"ok deh." Angga meninggalkan Riko sendiri lagi.


__ADS_2