Bukan Untukku

Bukan Untukku
BAB 38 - JEBAKAN FIONA


__ADS_3

(ika...)


Terdengar suara Mama diujung telepon.


*iya Ma, kenapa?


(mama mau tanya, boleh?)


Mama mau tanya apa aja boleh, Ma. Emang kenapa, kok mama ngomongnya gitu?


(Kamu ada hubungan sama calon suami orang kah*?)


Erika tersentak, darimana mamanya tahu masalah ini.....atau jangan-jangan....


*Nggak kok, Ma. Memang ada yang deketin ika, tapi ika udah berusaha jauhin kok.


(Iya mama tahu. Mama yakin ika nggak akan melakukan hal seperti itu)


Mama sama Papa baik-baik aja? Mama tau gosip kayak gitu darimana?


(kemarin ada yang datang ke rumah, mereka bilang kalau anak mama ada yang mengganggu calon suami orang. Mereka menghancurkan semua barang-barang kita dan........) ~ mama berhenti berbicara~


dan apa ma?


(Papa kamu sakit jantungnya kambuh, untung obatnya masih ada, kalau tidak, mama tidak tahu apa yang akan terjadi. Mama hanya minta kamu jauh-jauh dengan masalah ya sayang. Mama mendoakanmu selalu dari sini*)

__ADS_1


Setelah itu Mama menutup teleponnya. Erika masih tak bisa mempercayai apa yang terjadi. Ternyata ancaman itu bukan sekedar ancaman. Kejadian seminggu yang lalu di ruang kantor Reyhan sudah berakibat buruk kepada keluarganya.


----------


Reyhan terbangun, kepalanya pusing, seperti habis tertimpa benda berat. Dimana dia? ia tidak mengenali tempat ini, kamar siapa ini pikirnya. Ia bangkit dari tidurnya, dan melihat bahwa ia tidak memakai apa-apa. Apa yang terjadi?


Dia menengok ke kiri, disana ia melihat seorang wanita, tanpa pakaian, yang hanya ditutupi selimut. Fiona???


Ia tidak ingat apa-apa. Apa yang telah mereka lakukan? Yang ia ingat, mereka pergi makan malam bersama, karena dipaksa ayahnya.


[FLASHBACK ON]


"Rey, kamu temani Fiona makan malam. Kamu harus lebih sering bersama-sama." ucap Surya


"Yaa..." jawab Reyhan dengan nada yang malas. Ia malas bertengkar dengan ayahnya.


"Kamu mau pesan apa honey?" tanya Fiona


"Apa saja." jawab Reyhan sambil pura-pura melihat handphone.


Fiona pun memesan yang sama untukknya dan untuk Reyhan, ia juga tidak lupa memesan minuman.


"honey, do you like if i call you like that?" tanya Fiona, sementara Reyhan hanya diam dan terus menatap handphone nya


Fiona kesal dirinya diacuhkan oleh Reyhan. Dalam hatinya sudah tersimpan rencana-rencana untuk membalaskan semua dendam dan sakit hatinya.

__ADS_1


Makanan pun datang. Fiona makan layaknya wanita berkelas, sementara Reyhan makan antara mau dan tidak. Ia masih saja pura-pura sibuk dengan handphone nya.


Reyhan meneguk minumannya, dan melanjutkan kembali makannya. Tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing, apakah ini karena ia terlalu lama melihat layar handphone nya? Reyhan pun hilang kesadaran.


Fiona mencoba membangunkan Reyhan. Ketika ia melihat Reyhan sudah betul-betul tidak sadar, ia memanggil bodyguards nya yang sejak tadi sudah ia suruh menunggu di cafe dan menjalankan rencananya. Mereka membawa Reyhan ke sebuah hotel.


Disana Fiona meminta bodyguards nya untuk membuka semua pakaian yang dikenakan Reyhan, tentu saja Fiona tidak mau melakukannya sendiri.


Ketika obat tidur yang diletakkan Fiona sudah hampir habis masa kerjanya, ia membuka semua pakaiannya dan membuat seolah-olah pakaiannya semua dalam kondisi berantakan.


Ia masuk ke dalam selimut dan pura-pura tertidur di samping Reyhan. Jadi ketika Reyhan terbangun dan melihat keadaan mereka seperti itu, skak mat untuk Reyhan.


[FLASHBACK OFF]


"Fiona!!" teriak Reyhan


Fiona pura-pura terbangun dari tidurnya dan kemudian ia menangis.


"kamu jahat Rey." ucap Fiona sambil pura-pura menangis


"aku...aku...aku tidak melakukan apa-apa." ucap Reyhan kebingungan


"Kamu semalam tiba-tiba seperti orang mabuk dan kesurupan. Aku tidak mungkin membawa kamu pulang dalam keadaan seperti itu, jadi aku membawa kamu kesini. Tapi kamu..." ucap Fiona


"Fi, aku sama sekali nggak ingat. Aku cuma ingat sedang makan malam." Reyhan berusaha menjelaskan.

__ADS_1


"Kamu semalam begitu ganas, kamu memaksa membuka semua yang kukenakan. Aku tidak kuat menghindar dari kamu. Sampai akhirnya kamu sudah...." Fiona pun menangis.


Reyhan yang sedang duduk bersandar ke kepala ranjang menundukkan kepalanya dan menutup dengan kedua tangannya. Melihat hal itu, Fiona tersenyum tanda kemenangan.


__ADS_2