Bukan Untukku

Bukan Untukku
BAB 32 - PENYESALAN RIKO


__ADS_3

"Om, Rey kemana Om?" Fiona bertanya kepada Surya.


"lagi ke Batam, mau ada project baru disana. Lumayan kalau bisa tembus, nilainya trilyunan." ucap Surya.


Fiona yang mendengarnya semakin senang karena sebentar lagi ia akan menjadi menantu orang kaya. Orang tua Fiona memang sudah kaya, tapi jika Fiona berhasil mendapatkan kekayaan Suryadiningrat, hidupnya akan semakin senang.


"Kapan Rey balik Om?" tanya Fiona


"Hari Jumat. Soalnya Om sudah wanti-wanti dia harus pulang sebelum Sabtu. Om nggak mau acara lamaran sampai batal." ucap Surya


"thank you ya Om. Fiona seneng banget." ucap Fiona senang.


----------


Riko langsung berlari menuju kamar hotel. Ia bingung, ia lelah. Sebagai lelaki memang tidak masalah baginya tentang yang semalam terjadi, hanya saja ia masih tidak persis ingat apa yang terjadi.


Riko duduk di sofa, memegangi kepalanya dengan kedua tangannya sambil tertunduk.


dasar lo bodoh banget sih ko. Apa yang lo lakuin semalem. Kalo itu Erika mungkin lo nggak akan sepusing ini ko, karena lo mau Erika jadi milik lo. Tapi sekarang masalahnya itu Mila. Lo ngehancurin hidup dia sekarang.


Riko tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia membersihkan diri dan berbaring di kasur, menunggu jam makan malam.


Setelah Angga selesai membersihkan diri...


"bro, yuk turun, makan." ajak Angga


"iya." Riko bangun dari tempat tidurnya dan berjalan mengikuti Angga keluar dari kamar.


Riko melihat Erika keluar sendiri dari kamar. Kemana Mila? apa dia nggak ikut makan? atau ia memang nggak mau ketemu?

__ADS_1


"ka, mau makan juga?" tanya Angga.


"iya ni, laper...hehe, kebetulan tadi Pak Reyhan juga ngajak makan bareng rame-rame." jawab Erika


"loh Mila mana?" tanya Angga, diikuti dengan tatapan Riko yang seakan ingin tahu juga.


"Kak Mila balik Jakarta tadi sekitar jam 3. Udah minta izin Pak Reyhan juga.


Riko yang mendengarnya tiba-tiba merasa lemas. Dia semakin menyesal dengan apa yang telah dilakukannya. Riko yang biasanya berusaha mendekati Erika, kini diam saja dan tidak berani berbicara pada Erika.


Selesai makan, mereka kembali ke kamar masing-masing, beristirahat karena besok ada tugas lain yang harus mereka selesaikan.


----------


Riko memegangi handphonenya. Ia membuka whatsapp, mencari nama Mila disana. Ia ingin menghubunginya, mengatakan kalau ia menyesal.


Apalagi setelah kejadian tadi, bukannya dia menemani Mila, ia malah berlari mengejar Erika. Berharap Erika memakluminya.


Riko memejamkan matanya, tiba-tiba ia memikirkan kejadian semalam. Memang ia berada di antara sadar dan tidak, tapi ia masih bisa merasakan bagaimana kenikmatan yang diberikan Mila, meskipun Riko memaksanya saat itu.


Apa yang sekarang sedang Mila pikirkan, Riko hanya bisa berangan-angan di dalam pikirannya. Mungkin gadis itu akan berkata bahwa dia adalah lelaki brengsek yang mencoba mengambil kesempatan.


Riko tidak tahan dengan semua hal yang muncul dalam pikirannya. Ia berusaha memejamkan matanya, berharap ia bisa terlelap dan melupakan ini sementara waktu.


----------


Erika sendirian di dalam kamar. Ia memikirkan keadaan orang tuanya. Ia ingin menelepon mereka, tapi saat ini ia tidak punya handphone. Kalau ia pakai telepon hotel, tagihan hotel pasti akan besar.


Jadi sementara ini dia menahan diri untuk tidak menelepon. Nanti waktu pulang Jakarta, ia akan meminjam handphone Linda. Linda pasti akan mengerti keadaannya.

__ADS_1


Terdengar suara pintu diketuk. Erika melangkahkan kakinya menuju pintu, lalu membukanya. Ia melihat Reyhan disana, berdiri di depan pintunya.


"boleh masuk nggak nih?" tanya Reyhan


"silakan." jawab Erika.


"kamu masih murung, kenapa? nggak mau cerita? atau aku harus cari tahu sendiri?" ucap Reyhan sambil memegang handphone nya.


"Nggak apa-apa kok, cuma masalah keluarga aja." ucap Erika.


"Ngomong-ngomong, nomor handphone kamu kok nggak bisa ditelpon ya ka. Udah dari tadi aku coba." Ucap Reyhan


"Memang udah nggak ada nomornya, sama handphone-handphone nya juga udah nggak ada." Erika berkata sambil tertawa sedikit.


"Nggak ada? hilang?" tanya Reyhan


"iya." jawab Erika


"Kalo gitu nih, kamu pakai handphone aku. Jadi kalo aku mau hubungin kamu gampang." Reyhan menyodorkan handphone nya kepada Erika.


"Nanti kamu pakai apa?"


"ada kok. Ini handphone pribadi, nggak banyak yang tahu. Kalo yang satu lagi, itu banyak yang tahu, kebanyakan client."


"makasih ya. Kalo nggak dikasih pinjam sama kamu, nggak tahu deh kapan bisa kebeli lagi." Erika tersenyum ke arah Reyhan.


Reyhan membalas senyuman Erika dan menatapnya. Reyhan mendekatinya dan mengecup bibir Erika. Erika yang kaget langsung mundur dengan wajah kemerahan.


"handphone nya buat kamu, bukan dikasih pinjam. Bayarannya cuma ciuman yang tadi aja." ucap Reyhan nakal.

__ADS_1


Erika tidak tahu mengapa laki-laki di depannya ini menjadi begitu membuat dirinya kagum.


__ADS_2