
Hari ini Reyhan berencana mengikuti Erika sepulang bekerja, karena besok ia sudah harus kembali ke Jakarta.
Ia segera menyelesaikan pertemuan dengan Mr. Mark. Selanjutnya mereka akan mempersiapkan proses pengukuran lahan untuk memulai proses pembangunan.
Mereka sudah sampai di depan lobby hotel,
"Pak, sudah sampai." Riko memegang pundak Reyhan untuk menyadarkannya dari lamunan.
"Ohh....nggak ko, saya mau keluar sebentar. Biar saya yang bawa mobil, kamu boleh turun." ucap Reyhan
Riko akhirnya turun dari mobil dan mempersilahkan Reyhan duduk di kursi pengemudi. Riko pun masuk ke hotel.
Reyhan memarkir mobilnya tidak jauh dari pintu hotel, agar ia bisa melihat saat Erika pulang nanti.
----------
"ka, tumben Nicho ikut ke hotel." tanya Steven
"iya Pak. lisa baru lahiran kemarin. Jadi mama ke RS temenin lisa. Nggak mungkin aku minta papa jagain Nicho. Jadi sementara ini aku bawa dulu ke hotel." jawab Erika
"Om Stipen, siniii temenin Nic gambar." Nicho memanggil Steven.
"Ya udah, ntar pulang bareng saya aja ya. Sekalian mau mampir ke RS temuin lisa." ucap Steven sambil memghampiri Nicho.
"Baik Pak." Erika tersenyum
Erika segera mengerjakan laporan-laporan housekeeping dan menyerahkannya pada Bu Ella, kemudian ia minta izin untuk menjenguk adiknya di rumah sakit.
"yuk Pak, saya sudah selesai. Pak Steven lagi nggak ada kerjaan?"
"Hari ini nggak banyak, tadi sudah saya selesaikan." ucap Steven
Mereka pun langsung beranjak pergi. Steven adalah seorang Manajer Marketing, tapi ia tidak pernah merasa bossy. Ia selalu dekat dengan seluruh staf yang ada di lingkungan hotel. Bisa dibilang Erika dan Steven sama-sama menjadi idola karena keramahan mereka.
----------
Reyhan masih memperhatikan pintu utama hotel dari dalam mobil. Ia sedikit mengantuk karena ia terlalu pagi tadi.
Ia langsung sigap memegang setir mobilnya saat ia melihat Erika keluar bersama seorang laki-laki dan juga anaknya.
Reyhan melihat mereka memasuki sebuah mobil sedan. Reyhan pun mulai mengikuti mereka dari belakang saat mobil itu mulai meninggalkan area hotel.
Reyhan bisa melihat mereka berbincang-bincang dan kadang tertawa di dalam mobil. Hatinya panas, ia kesal karena Erika bersama laki-laki lain lagi. Kemarin saja ia sudah kesal melihat Erika bersama seorang laki-laki, yang menurutnya adalah suami Erika.
__ADS_1
Reyhan menggebrak setir mobil di hadapannya, melampiaskan kekesalannya, dan tak sengaja ia malah menekan klakson. Orang-orang di sekitar menjadi kaget, dan Reyhan menjadi salah tingkah sendiri.
Reyhan terus mengikuti mobil yang dinaiki Erika, tapi akhirnya Reyhan terhambat oleh lampu merah. Ia kehilangan mobil tersebut.
Reyhan kesal dan akhirnya berbalik arah menuju hotel. Ia tidak tahu kapan bisa bertemu Erika lagi. Besok ia akan segera kembali ke Jakarta, karena lusa dia sudah ada jadwal meeting lagi dengan beberapa klien.
----------
"kapan kamu boleh pulang lis?" tanya Erika
"besok sudah boleh kok kak, lagian aku sudah nggak apa-apa, sudah bisa jalan." jawab Elisa
"kamu dirumah mama saja dulu, jadi kita bisa bantu-bantu kamu. ndri, kamu nginep dirumah aja dulu. Kasihan kalau lisa sendirian pas kamu kerja." ucap Erika
"iya kak. Tadi Mas Andri juga sudah nyaranin seperti itu. Mudah-mudahan mama nggak keberatan." ucap Lisa tersenyum
"Nggak donk sayang. Mama senang sekali bisa mendengar suara cucu mama. Keluarga kita semakin besar." ucap Widya
"Mas Steven kapan ngelamar kak ika?" lisa menimpali sambil tertawa dan disambut cubitan kecil oleh Erika.
"Hahaha....saya mah siap kapan aja, asal Erikanya siap." Steven tersenyum
Erika yang mendengarnya jadi memerah mukanya. Ia malu sekali. Apalagi selama ini ia hanya menganggap Steven seperti saudaranya dan teman baik di tempatnya bekerja.
Erika ingin berteman dengan siapapun, tapi untuk menjalin hubungan yang lebih, ia rasa itu bukan bagiannya. Sekarang ini ia hanya fokus pada Nicholas dan ayah ibunya.
----------
Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Reyhan sudah berada di lobby menunggu mobil jemputan. Reyhan memang anak seorang pengusaha, namun untuk beberapa hal ia selalu melakukan semua sendiri.
Ia merasa hidupnya lebih nyaman tanpa pengawalan. Apalagi ia tahu ayahnya seperti itu, semakin ia tidak ingin diawasi.
Riko dan Mila sudah turun ke lobby. Reyhan menyapa mereka,
"Mobil sudah didepan lobby Pak, kita harus segera berangkat, pesawat jam 11." ucap Riko
Mereka pun bergegas untuk segera berangkat. Reyhan memakai kacamata hitamnya, dan meletakkan kopi yang sudah selesai ia minum.
Riko yang berlari menuju pintu lobby tanpa sengaja menabrak seseorang, hingga ia menjatuhkan tas ransel yang digenggamnya.
"aduhhh maaf. Saya buru-buru, nggak sengaja." ujar Riko sambil mengangkat tas ranselnya.
"Eh nggak apa-apa, saya yang salah." Erika mengangkat wajahnya, ia kaget.
__ADS_1
"Kak Riko?"
"ikaaa...."
Mila yang berada disampingnya langsung bergelayut di tangan Riko.
"ini ka, suami yang mau aku kenalin." ucap Mila.
Erika tersenyum melihat keduanya bersatu dan berbahagia.
"Kita mau balik Jakarta dulu ka, pesawat jam 11. Tuh bareng sama Pak Reyhan." Riko menunjuk ke arah Reyhan yang sudah berjalan di belakangnya.
Reyhan membuka kacamata hitamnya. Ia dan Erika saling menatap satu sama lain. Erika melihat Reyhan yang berbeda, terlihat dewasa tapi dengan tatapan yang agak sinis. Erika merasa canggung. Ia pun permisi dan meninggalkan mereka.
"Kalau gitu, aku permisi dulu ya. Udah telat." ucap Erika sembari berlari ke arah backoffice.
Reyhan melihat Erika pergi. Pandangannya tak lepas dari Erika, sampai bayangan gadis itu tak terlihat.
Reyhan memakai kacamata hitamnya kembali, berjalan mengikuti Riko ke arah mobil yang sudah menunggu.
----------
Di dalam mobil, Riko dan Mila memperbincangkan Erika.
"bener kan aku bilang aku ketemu ika." ucap Mila
"iya, makin cantik aja dia." ucap Riko diikuti dengan tempelengan Mila
"Masih ngebayangin ika ya kamu?" Mila memanyunkan bibirnya dan menyilangkan tangannya.
"udah udah, nggak enak didenger Pak Reyhan." Riko membelai rambut Mila.
Sementara itu Reyhan tidak terlalu mempedulikan pembicaraan antara Riko dan Mila. Ia masih terbayang tatapan Erika tadi.
Tatapan yang sangat ia rindukan, tapi kini ia tak bisa memilikinya. Ia sudah menjadi milik orang lain, sudah memiliki sebuah keluarga. Sementara dirinya menunggu wanitanya itu kembali.
Sepanjang perjalanan menuju bandara, Reyhan hanya diam. Riko dan Mila pun tidak banyak bicara setelah perbincangan tadi.
Mereka sampai di bandara pukul 10 lebih 15, langsung menuju ruang tunggu pesawat. Riko dan Mila duduk di economy class, sementara Reyhan duduk di executive class.
Pesawat pun akhirnya tiba di Jakarta.
----------
__ADS_1
*terima kasih buat semua pembaca yang udah setia ngebaca novel sampai bab ini. Mudah-mudahan biaa update tiap hari ya, maklum kadang sinyal dan kuota tidak bersahabat....hehe
jangan lupa untuk like dan komen ya. Pengen kenalan juga sama para readers disini. thank you*