Bukan Untukku

Bukan Untukku
BAB 11 - REYHAN DAN ERIKA


__ADS_3

Erika masih terdiam di ruang kantor Reyhan a.k.a. Brama. Ia tidak menyangka sama sekalu bahwa perusahaan ini milik Brama.


"kenapa? kaget ya ketemu disini? seharusnya saya yang kaget kenapa kamu ada disini, bukannya kamu baru tahun kedua seharusnya" ucap Reyhan sambil bangun dari tempat duduknya.


"maaf pak. Saya memang belum lulus. Saya sedang cuti untuk sementara waktu." jawab Erika


"sudah berapa lama kamu kerja disini?" tanya Reyhan.


"sudah dua minggu lebih, pak." jawab Erika


Reyhan berjalan ke belakang Erika. Tiba-tiba ia mendekatkan wajahnya ke telinga Erika dan berkata,"masih mau kerja disini?"


ohhh tidak, ujian apa lagi yang akan Kau berikan padaku. Aku ingin bekerja dengan tenang dan sebaik-baiknya.


"iya, pak." Erika tidak mempunyai pilihan lain. Saat ini, ia sangat membutuhkan pekerjaan


"temani saya makan siang." ucap Reyhan


"tapi pak..." Erika berusaha sebisa mungkin menolak. Ia tak ingin berurusan lebih panjang dengan kakak kelasnya yang satu ini.


"berani menolak? saya bisa pecat kamu sekarang juga."


emang ya, dari dulu nggak pernah berubah. Selalu mengancam dan membuat semua orang mengikuti kemauannya. Tapi, kalo g tolak lagi, gue akan susah cari kerja lagi.


"baik, pak."

__ADS_1


Kebetulan jam memang sudah menunjukkan waktunya makan siang. Riko yang awalnya berencana menemui Erika untuk mengajaknya makan siang, harus rela melihat Erika berjalan bersama Pak Reyhan, entah pergi kemana.


Sementara itu, Mila dan Laura yang sama-sama ingin makan siang bersama Riko, malah adu mulut di sebelahnya. Membuat Riko semakin kesal dan mengajak Angga keluar.


----------


Mereka memasuki sebuah cafe. Reyhan duduk dan melihat buku menu, sementara Erika hanya duduk diam di depannya sambil melihat ke arah lain.


"mau makan apa?" Reyhan menawari Erika.


"nggak usah pak, saya makan di kantor saja nanti. Saya bawa bekal." jawab Erika berbohong.


"apa mau saya pe...." mulai lagi dengan ancaman.


Reyhan menutup buku menu dan memesan makanan yang biasa ia makan jika ke cafe tersebut.


"kamu kenapa cuti kuliah?" tanya Reyhan membuka pembicaraan.


"saya sedang ada masalah keluarga pak." jawab Erika singkat.


Reyhan tidak berani banyak bertanya. Ia tahu sepertinya Erika masih canggung berada bersamanya karena dulu ia sering mengganggu gadis itu. Bukan karena ia suka mengganggu, hanya saja ia ingin mendapatkan perhatian gadis itu.


Betapa senang hatinya bisa bertemu lagi, di kantornya pula. Reyhan memang berencana pergi ke kampus dengan berbagai alasan hanya untuk melihat pujaan hatinya. Hanya saja ia belum memiliki waktu yang tepat.


Reyhan makan sambil terus memandangi Erika yang duduk di hadapannya. Sementara Erika makan dengan diam, tanpa sekalipun memandang ke arahnya.

__ADS_1


"mulai besok kamu temani saya makan siang. Tidak ada bantahan, atau saya akan langsung memanggil bagian HRD untuk memecat kamu." ucap Reyhan.


"iya pak." jawab Erika dengan berat hati.


Ya Tuhan, sehari aja udah mau cepet-cepet selesai acara makan siangnya, masa diancam tiap hari. Bisa gila gue ketemu dia tiap hari.


Reyhan tersenyum penuh kemenangan.


----------


Riko yang gelisah bercampur kesal, menunggu Erika di dekat lift. Ia melihat Erika datang bersama Pak Reyhan. Pak Reyhan berjalan menuju lift, sementara Erika berada tidak jauh di belakangnya.


Saat Pak Reyhan sudah memasuki lift, ia menarik tangan Erika dan membawanya ke pojok. Reyhan hanya melihatnya sekilas karena pintu lift sudah mulai tertutup.


"kamu pergi kemana sama Pak Reyhan?" tanya Riko.


"makan siang." jawab Erika yang mulai ketakutan.


"berdua saja? aku sayang sama kamu Erika, kamu jangan buat aku merasa cemburu seperti ini." Riko mulai mengepalkan tangannya dan membuat Erika semakin terjepit dan ketakutan.


Tiba-tiba bibir Riko sudah menempel di bibir tipis Erika. Riko melakukannya dengan lebih kasar karena ia sedang kesal dan cemburu.


Erika yang merasa risih dan takut, menggunakan segala tenaganya untuk mendorong Riko dan berlari menuju lift. Beruntung lift segera terbuka dan ia segera masuk.


Ia menangis di dalam lift. Menangisi keadaannya. Kenapa dia harus bertemu dengan orang-orang yang tidak ia inginkan. Apa kebahagiaan bukan untukku ya Tuhan, tanyanya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2